AS, Nuklir Iran dan Ketundukan Pemerintah
BULETIN AL-ISLAM EDISI- 349

Iran dijatuhi sanksi! Telah diduga sebelumnya, Amerika Serikat (AS) berhasil 
menggalang berbagai kekuatan internasional untuk menjatuhkan sanksi atas Iran 
dengan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) nomor 1747 
pekan lalu. Yang tidak diduga adalah sikap Pemerintah Indonesia di bawah 
kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang secara bulat 
mendukung resolusi tersebut. Dengan resolusi tersebut Iran ditekan untuk 
menghentikan aktivitas program nuklirnya. Selain itu, pelarangan penjualan 
senjata, pembekuan aset perusahaan dan pejabat Iran, pelarangan memberi bantuan 
finansial serta pelarangan bepergian pejabat Iran ke luar negeri merupakan 
tindakan yang sangat diskriminatif. Ungkapan Pemerintah Indonesia baik melalui 
Presiden, Menteri Luar Negeri, maupun Juru Bicara Kepresidenan menunjukkan 
bahwa Pemerintah secara sadar dan sengaja telah menentukan sikap tersebut.


Diskriminatif dan Tidak Adil

Uji coba nuklir untuk kepentingan sipil baru terwujud pada 1951 ketika AS 
berhasil memfungsikan reaktor pembiakan cepat EBR-I. Perkembangan pesat 
program-program nuklir untuk kepentingan sipil dimulai tahun 1953. Sejak itu 
negara-negara lain berlomba mengembangkan energi nuklir. Pada 1 Juli 1968 
terwujudlah perjanjian pembatasan senjata nuklir yang dikenal dengan 
Non-Proliferation Treaty (NPT). Berdasarkan NPT, hanya lima negara yang 
diizinkan menguasai senjata nuklir: AS, Inggris, Prancis, Uni Sovyet (Rusia), 
dan Cina. Kelimanya merupakan anggota tetap DK PBB. Jelaslah, NPT hanyalah 
untuk menjadikan negara-negara besar saja yang dapat menguasai nuklir dalam 
rangka menakut-nakuti negara-negara lain. Memang, ada kebolehan negara untuk 
mengembangkan senjata nuklir. Namun, jika yang melakukannya neger-negeri 
Muslim, mereka selalu dicurigai. Iran adalah salah satunya. Karenanya, tidaklah 
mengherankan jika negara-negara besar berusaha untuk menghentikan program 
nuklir negara lain yang dianggap mengancamnya.

Pemerintah dengan bangga menyampaikan bahwa sejak tahap draft (rancangan), 
Indonesia telah ’berhasil’ memasukkan sikapnya yang dianggap sangat penting, 
seperti mengajukan konsep kawasan bebas senjata nuklir/pemusnah massal di Timur 
Tengah yang tidak boleh diskriminatif. Namun, konsep ini bertentangan dengan 
kenyataan sebenarnya. Sebagai contoh, Israel tidak mau menandatangani NPT. 
Israel telah mengembangkan senjata nuklir di kawasan Dimona, yang terletak di 
Negev, sejak tahun 1958. Penjajah negeri Palestina itu pun diduga kuat memiliki 
simpanan sekitar 100-200 hulu ledak nuklir. Pemerintah Israel menolak untuk 
mengakui ataupun menyangkal pernyataan tersebut.

Belakangan masalah ini terbongkar setelah ilmuwan nuklir Mordechai Vanunu 
membeberkan program nuklir Israel kepada majalah Sunday Times pada 1986. 
Mengapa Israel dibiarkan? Bukankah Israel biang keladi kekacauan di Timur 
Tengah? Mengapa tidak ada resolusi yang menjatuhkan sanksi atas Israel? 
Mungkinkah AS menjatuhkan hukuman terhadap Israel? Tidak mungkin! Kalaupun ada 
upaya ke arah sana tentu akan diveto oleh AS. Tidak kurang 34 resolusi tentang 
Israel yang diveto AS dalam kurun waktu 1972–2002. Di sisi lain, lima negara 
pemilik hak menurut NPT pada praktiknya tidak satu pun yang menunjukkan niat 
serius melucuti senjata mereka sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian. Atas 
dasar apa AS, Inggris, Prancis, Uni Sovyet (Rusia) dan Cina, bahkan Israel 
boleh secara ’sah’ memiliki nuklir bukan sekadar untuk energi tetapi juga untuk 
senjata; sementara negara lain, termasuk Iran, harus diberi sanksi hanya karena 
mempunyai nuklir sebagai sumber energi? Berdasarkan hal ini, penjatuhan sanksi 
terhadap Iran dengan alasan memiliki nuklir—sekalipun diakuinya untuk 
kepentingan damai/sipil—sesungguhnya diskriminatif dan tidak adil.

Pemerintah mencoba merasionalisasi alasan dengan mengatakan, bahwa posisi Iran 
tidak menguntungkan dan sejumlah negara Timur Tengah tidak mendukung Iran. Ini 
tidak dapat diterima. Pertama: Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia 
dengan penduduk sekitar 220 juta jiwa. Tidak dapat disamakan kedudukan 
Indonesia dengan Qatar yang penduduknya ratusan ribu atau Mesir yang 
penduduknya puluhan juta. Kedua: Indonesia merupakan anggota tidak tetap Dewan 
Keamanan PBB. Ketiga: Indonesia merupakan negara anggota utama Gerakan Non-Blok 
yang sedari awal mengusung sikap netral. Namun, dengan secara sadar menyetujui 
sanksi atas Iran, berarti secara langsung Indonesia mengesahkan ambisi AS untuk 
menghancurkan Iran dan membentuk opini dunia, bahwa seakan-akan kaum Muslim 
dunia menolak program nuklir Iran. Bukankah sejak menjajah Afganistan, AS 
menuduh bahwa ada tiga poros setan yakni Irak, Iran, dan Korea Utara? Bukankah 
ini isyarat untuk menyerang Iran setelah Irak?


Tunduk pada Penjajah

Alasan penjatuhan sanksi atas Iran adalah pemilikan senjata nuklir. Sikap 
Pemerintah Indonesia ini lebih mencerminkan ketundukannya kepada Amerika 
Serikat (AS). Di antara perkara yang menunjukkan hal ini adalah: Yang paling 
diuntungkan dengan adanya resolusi ini adalah AS. Saat menyerang Irak, AS 
sesumbar bahwa dia akan menyerang Irak dengan atau tanpa dukungan 
internasional. Akhirnya, tanpa dukungan internasional AS memporakporandakan 
kaum Muslim dan negeri seribu satu malam tersebut. Hasilnya, AS kewalahan. 
Karenanya, AS mengubah skenario untuk menyerang Iran. Caranya dengan 
mendapatkan legitimasi internasional dengan dikeluarkannya Resolusi 1747. 
Sehari setelah dikeluarkan resolusi tersebut, AS langsung mengerahkan tiga 
kapal induk untuk persiapan menyerang Iran. Bahkan Televisi Iran (2/4/2007) 
melaporkan jet-jet tempur AS melanggar wilayah kaya minyak Khuzestan, Iran. 
Langkah secepat kilat ini menggambarkan betapa pengiriman kapal induk tersebut 
sudah direncanakan dan resolusi hanyalah sebagai legitimasi. Berdasarkan hal 
ini, dukungan terhadap resolusi itu berarti dukungan terhadap AS.

Dalam wawancaranya dengan salah satu radio terkenal di Jakarta (30/3/2007), 
Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng mengakui bahwa Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY) ditelepon oleh Presiden AS George W. Bush tiga hari 
sebelum voting resolusi. Bagaimanapun, pembicaraan langsung dua kepala negara 
tersebut tidak akan lepas dari persoalan penjatuhan sanksi atas Iran. Itulah 
pula sebabnya, mengapa Pemerintah Indonesia tidak berani menolak atau sekadar 
abstain dalam resolusi tersebut.

Alasan persetujuan Pemerintah Indonesia terhadap Resolusi 1747 karena persoalan 
nuklir adalah bohong. Buktinya, sejak lama Pemerintah Iran dalam penjelasan 
resminya menjelaskan, bahwa nuklir Iran adalah nuklir untuk damai, misalnya 
untuk energi. Pada saat yang sama, Pemerintah di Jakarta menyatakan akan 
mengembangkan nuklir untuk energi (2/4/2007). Mengapa Pemerintah rela mendukung 
penjatuhan sanksi terhadap Iran dengan alasan nuklir sekalipun untuk damai, dan 
pada waktu itu juga akan melakukan apa yang menjadi alasan penjatuhan sanksi 
tersebut? Sikap demikian hanya menunjukkan satu hal, yakni nuklir bukan alasan 
sebenarnya. Alasan yang sebenarnya adalah ketundukan Pemerintah pada kemauan 
AS, baik dengan tekanan maupun sukarela.

Wahai kaum Muslim:

Hal di atas menambah deretan fakta ketundukan Pemerintah kepada AS. Blok Cepu 
melayang, Natuna dibiarkan dicengkeram, Bush dipersilakan datang, Undang-Undang 
Penanaman Modal yang sarat dengan kepentingan asing baru saja disahkan. 
Sekarang ditambah lagi dengan persetujuan Pemerintah terhadap ambisi AS untuk 
memporakporandakan negeri Muslim Iran. Sikap ini bertentangan dengan sabda 
Kanjeng Rasul Muhammad saw.:



«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ ِلنَفْسِهِ»



Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk 
saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (HR al-Bukhari dan 
Muslim).

“Kalau kami dilempar, tentu kami sakit. Tapi, kalau yang melempar itu saudara 
kami, pasti kami lebih sakit lagi,” begitu ucapan Pemerintah Iran menanggapi 
sikap Indonesia. Padahal, Rasulullah saw. mengatakan bahwa kaum Muslim adalah 
satu tubuh, bersaudara, dan laksana satu bangunan yang kokoh. Lalu mengapa 
Pemerintah lebih berpihak kepada penjajah daripada kepada sesama saudara?

Selain itu, Allah SWT berfirman:


وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ 
تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ وَعَدُوَّكُمْ 

وَءَاخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللهُ يَعْلَمُهُمْ

Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan 
dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) 
kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian serta orang-orang selain 
mereka yang tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya. (QS al-Anfal 
[8]: 60).

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum Muslim diperintahkan untuk memiliki 
perlengkapan apapun yang bisa menjadikan musuh-musuh mereka gentar. Kini, 
negara kafir imperialis ingin hanya mereka sajalah yang memiliki nuklir. Mereka 
takut jika negeri-negeri Muslim pun memilikinya. Sebab, jika umat Islam 
memiliki nuklir seperti yang mereka miliki, baik untuk energi maupun senjata, 
pasti mereka gentar terhadap umat Islam. Kezaliman, ketidakadilan, dan 
penjajahan yang selama ini mereka lakukan pun akan bisa dihentikan oleh kaum 
Muslim, khususnya ketika ada pemimpin Muslim (khalifah) yang mampu menyatukan 
dan memobilisir kekuatan umat Islam di seluruh dunia. Karena itu, tindakan 
menghalang-halangi negeri Muslim untuk memiliki nuklir, sadar atau tidak, sama 
dengan melanggengkan kezaliman negara imperialis pimpinan AS. Dan, karenanya 
sesungguhnya ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Allah, Rasul, dan kaum 
Mukmin.

Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. []


KOMENTAR AL-ISLAM:

Intelijen Rusia: AS Siap Serang Iran Pada “Good Friday” (Eramuslim.com, 3/4/07).

Jika benar, Resolusi 1747 DK PBB—dengan dukungan penuh Pemerintah 
Indonesia—hanyalah alat legitimasi bagi AS untuk menyerang Iran
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke