Kesederhanaan dari Banda Aceh yang Patut Ditiru Pejabat Pusat

Rabu, 4 Apr 07 22:18 WIB
Kirim teman

Sikap para dekan di IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh yang menolak
pengadaan mobil dinas baru agaknya patut diteladani para pejabat pusat
di Jakarta. Para dekan ini mengatakan bahwa pengadaan mobil baru dinilai
belum diperlukan mengingat fasilitas belajar untuk para mahasiswanya
masih sangat minim.

Kepada sejumlah wartawan di kampus IAIN Darussalam, para dekan tersebut
(4/4) menyatakan, pengadaan mobil dinas baru belum begitu mendesak,
selain mobil yang lama masih layak pakai, biaya operasionalnya juga
terlalu tinggi.

"Biaya operasionalnya juga terlalu tinggi, sehingga membebani anggaran
IAIN yang seharusnya diutamakan untuk mutu pendidikan, " kata Dekan
Fakultas Syariah, Drs. Hamid Sarong, SH, M. H, seraya mengatakan bahwa
mobil dinas yang selama ini dipakainya, yakni Toyota Kijang tahun 1996
masih bagus dan layak dipakai.

Hamid Sarong menambahkan, untuk sekarang ini belum layak memakai mobil
yang mewah, mengingat kondisi sarana pendidikan di IAIN masih sangat
minim dan berkekurangan. “Selaku dosen yang dekat dengan mahasiswa, saya
rasanya malu memakai mobil baru tersebut. Justru saya lebih percaya diri
memakai mobil dinas yang lama, " ujarnya.

Mobil yang sudah didatangkan sejak bulan Febuari yang lalu tergolong
cukup mewah, yaitu lima unit mobil Toyota Kijang Innova seri E, dua unit
Toyota Avanza seri G dan dua unit Toyota Kijang Innova seri G. Akibat
penolakan dari para dekan, sekitar lima mobil Kijang Innova itu masih
terparkir rapi di halaman Biro Rektorat.

Sikap sederhana dari para dekan di Aceh ini bertolak-belakang dengan
sikap bermewah-mewahan para pejabat negara di tingkat pusat dan juga di
banyak daerah. Kita semua bisa melihat betapa arena parkir di Gedung
DPR-RI di Senayan, Jakarta, misalnya, sudah seperti showroom mobil mewah
di mana mobil mewah sekelas Jaguar dan sebagainya bukan merupakan barang
aneh lagi.

Kasus pengadaan laptop di DPR-RI (walau sudah dibatalkan karena menuai
protes yang amat kuat dari rakyat) juga mencerminkan betapa tidak tahu
malunya para anggota DPR-RI terhadap rakyat. Di saat banyak rakyat
Indonesia yang kelaparan, putus sekolah, bahkan banyak yang gantung diri
karena tidak kuat menahan kemiskinan, para ‘wakil-rakyat’ nya malah
beramai-ramai menghabiskan uang rakyat untuk kesejahteraannya sendiri.

Seharusnya para pejabat pusat, dari tingkat camat hingga presiden
memperlihatkan teladan hidup sederhana. Karena toh mereka digaji dari
uang rakyat. Rakyatnya sendiri untuk bisa makan hari ini saja banyak
yang sulit.

Kita tentu masih ingat, betapa para menteri di Belanda—sebuah negara
kaya di Eropa—tidak diberi fasilitas kendaraan dinas. Mereka dari rumah
ke gedung parlemen ada yang naik sepeda, bahkan ada yang menumpang
kendaraan umum. Padahal, ini ironisnya, Belanda merupakan salah satu
negara pemberi utang kepada Indonesia sampai saat ini.

Sikap yang ditunjukkan para dekan di IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda
Aceh sungguh-sungguh merupakan oase di tengah kebejatan moral para
pejabat tingkat pusat yang sama sekali tidak perduli pada penderitaan
rakyat. (Rizki)



********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke