Assalamu'alaikum wr.wb
Menurut antum dimana letak kesesatannya Quthbiyyah Ikhwaniyah, Hizbut tahrir dll ( artikel 1 dari 3 ) Wassalam -----Original Message----- From: Sudi Sophan [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 09 April 2007 15:01 To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP' Subject: [ FUPM-EJIP ] FW: Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah Pasti Kembali Setelah Mulkan Ja bariyyah FYI, -----Original Message----- From: Cucun Wahyudi [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, April 09, 2007 2:55 PM Subject: Re: Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah Pasti Kembali Setelah Mulkan Jabariyyah Ikhwani fillah Rahimakumullah... kalaulah kita sempat menyaksikan VCD "Debat Terbuka (membahas) Buku Ada Pemurtadan di IAIN", tentu kita akan menyaksikan tokoh JIL Ulil Abshar Abdala, sedemikian buruk dan jelek dalam mencaci negara Saudi Arabia. Kalaulah kita sempat membaca nukilan2 dari tulisan Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin.[Sururiyyin] tentu kita akan melihat betapa buruk mereka mencela saudi Arabia beserta para Ulama Rabbaniyyin yang ada di dalamnya seperti, Syaikh bin Baz, Syaikh al Utsaimin dst Hal serupa berupa celaan juga akan muncul dari mulut2 sufiyyun, penyembah kubur, yang mana mereka mencela dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang mana beserta amir Ar-Rasyid Muhammad bin Su'ud, yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Saudi Arabia Beginilah ahli bid'ah, mereka semua adalah musuh ahlus sunnah.tidak usah takut dan sedih, mereka semua tidak akan membahayakan kita Insya Allah Semoga Allah menjadikan kita termasuk Ahlus sunnah, al Ghuroba. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda: "Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka." (Shahih, HR. Ahmad) Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: "Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid'ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka". Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid'ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid'ah, penyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma'ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma'ruf." terlampir 3 artikel tentang Cikal Bakal Kerajaan Saudi Arabia. wasalam ----- Original Message ----- From: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Cc: Akas <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Sureng Brata ; 'Cucun Wahyudi' <mailto:[EMAIL PROTECTED]> ; Rofi <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Budiarto ; Sent: Monday, April 09, 2007 2:27 PM Subject: Re: Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah Pasti Kembali Setelah Mulkan Jabar iyyah Assalaamualaikum. Kepada saudaraku kaum Muslimin yang ada di balik [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> . Kami bertanya dan mengingatkan pada kalian : 1. Kalian Gunakan ayat 19 Surat Taubah dengan ra'yu dan akal semata untuk memojokkan negeri Arab Saudi negeri yang bertauhid, negeri yang menegakkan Sunnah, negeri kaum Muslimin yang seagama dan seiman dengan kalian . Tunjukkan tafsir yang shahih dari ayat itu jika kalian orang-orang yang benar. 2. Kalian sibukkan diri kalian dengan mengkritisi negeri Arab saudi ,negeri yang bertauhid, negeri yang menegakkan sunnah, negeri kaum Muslimin yang seagama dengan kalian. Tapi kalian diam seribu bahasa pada negeri-negeri kerajaan kuffar seperti Inggris, Spanyol, Belanda , dll. Dimanakah wala' kalian terhadap negeri kaum Muslimin ? ataukah memang sudah hilang dari diri kalian ? 3. Sudahkan kalian bertabayyun dengan detail dan seksama akan negeri Arab Saudi. negeri yang bertauhid, negeri yang menegakkan Sunnah, negeri kaum Muslimin yang seagama dan seiman dengan kalian . Dengan tabayyun dan keadilan ? ataukah dengan hawanafsu dan sekedar ikut-ikutan kepada mereka yang hasad dan dengki pada para 'ulama ahlussunnah dan negeri yang menegakkan sunnah ? Tunjukkan burhan kalian jika kalian adalah orang-orang yang benar. Sudi Sophan <[EMAIL PROTECTED]> 04/09/2007 01:40 PM To Rofi Budiarto <[EMAIL PROTECTED]>, Akas Sureng Brata <[EMAIL PROTECTED]>, "'Cucun Wahyudi'" <[EMAIL PROTECTED]> cc Pak Rohmat Mulyono <[EMAIL PROTECTED]> Subject Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah Pasti Kembali Setelah Mulkan Jabar iyyah -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of deniha (Kiyokuni) Sent: Monday, April 09, 2007 12:36 PM To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP Subject: [ FUPM-EJIP ] Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah Pasti Kembali Setelah Mulkan Jabariyyah Assamu'alykum wr. wb, Mulkan Jabariyyah masih ada sekarang. Salah satunya adalah Saudi Arabia. Begitu jelas rezim ini berwala kepada Amrikiyyah dengan kontrak senjata yg ia miliki bernilai jutaan dollar dan membiarkan pasukan salibis zionis untuk memiliki basis di Dahran [Saudi akan hancur bila tidak kuffar itu melindungi rezim ini]. Janji dari rezim Saudi di satu pertemuan Rabithah alAlamiyah bahwa militer Amerika akan hengkang nyatanya sampai sekarang mereka masih bercokol di Haromain! Yang ini memudahkan dan memfasilitasi penyerangan atas negeri muslim lainnya di Jazirah Arab. Padahal dengan jelas bahwa kuffar harb dilarang untuk menguasai Haromain, dilarang utk mengusai wikayah islam secara umum apalagi Haromain. Thn 1930'an Abdul Aziz berhasil menipu para mujahidin dengan merayu agar mereka mundur dari al-Aqsa yg kala itu hampir dikuasai para mujahidin dan Inggris sudah kewalahan membendung para mujahidin. Abdul Aziz memberi jaminan Inggris akan keluar. Namun hanyalah tipudaya yg menyesatkan dengan akhirnya Israel berdiri thn 1948. Begitu juga Saudi menangkapi Ulama yg benar2 pewaris nabi. Tercatat thn 2000'an Syaikh Muhamad al mohaysany ditangkap setelah berdoa untuk kemenagam Ummat atas penjahan dan agresi zionis salibis dan berdoa utk keruntuhan kerajaan2 thagut yg bersekongkol dengan Amerika. Begitu juga Ulama seperti Salman al-Audah dll. Ulama ini tak gentar untuk berkata benar walau harus dipenjara seperti halnya Salafus shalih, Ibnu Taymiyyah yg pernah dipenjara. Saudi selalu bersembunyi dengan 'Kederwanannya' dalam mengurusi Masjidil Haram. Sepertihalnya Quraish dahulu yg menguasai Masjidil Haram pada masa Rasul SAW namun memusuhi Rasul SAW dan sahabat. Pesan untuk Saudi adalah Qur'an surat At-Taubah ayat 19: "Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim." Apakah sama rezim yg berwala kepada Amerika sang penjagal Ummat yg paling sengit pemusuhannya kepada Ummat dengan mereka yg berjihad melawan Amerika? Demikianlah.., setelah mulkan jabariyyah seperti Saudi ini runtuh maka Khilafah Ala minhajin nubuwwah akan didirikan kembali oleh Ummat seluruh dunia. "Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendakinya untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah 'ala minhajin Nubuwwah, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (Mulkan Adhon), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah, kemudian beliau diam." (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi) Wa' Allahu 'A lam Takzim, shalih aziz Sawing - IND wrote: Artikel Kamis, 8 Maret 2007 - 16:25 WIB Khilafah dalam Tinjauan Syar'i Oleh: Drs. Yakhsyallah Mansur Kesadaran terhadap penegakkan khilafah, belakangan ini semakin mengemuka. Ditandai semakin maraknya kelompok-kelompok islam yang menyerukan kepada umat Islam agar bersatu padu dalam satu wadah 'khilafah'. Hal ini tidak terlepas dari upaya keji kaum Zionis Yahudi dan Nasrani yang kian hari semakin brutal memerangi muslimin dimanapun berada. Kerinduan terhadap kesatuan dan persatuan umat Islam sedunia telah mengantarkan kepada upaya penegakkan syari'ah ini. Tetapi pandangan-pandangan tentang penegakkan khilafah cukup beragam. Penegakkan khilafah harus dengan politik, menurut sebagian orang. Karena khilafah adalah institusi politik yang telah di-nubuwwahkan-kan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam sejak lama. Ada juga yang menganggapan bahwa pada masa Rasulullah dan masa Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyyin adalah berbentuk negara Islam, republik Islam dan Nabi Muhammad selain sebagai Rasul, ia juga sebagai kepala negara dan Madinah adalah negaranya. Apakah ini benar menurut syari'at Allah? Perbedaan Khilafah dengan Negara Adanya ungkapan bahwa "Kontrak sosial masyarakat Madinah dengan Rasulullah, terjadi saat Bai'at Aqobah II. Bai'at itulah momentum berdirinya negara khilafah Islam. Ini mirip dengan proklamasi 17 Agustus 1945," pendapat ini perlu dikaji lebih dalam. Khilafah adalah kepemimpinan sentral (umum) bagi seluruh kaum Muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam dan mengemban dakwah ke segenap penjuru dunia. Sedangkan Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik dan merupakan organisasi pokok dari kekuasaan politik, (Dasar-Dasar Ilmu Politik, Miriam Budiarjo, 1998:38). Menurut Roger H. Setountan negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama, atas nama masyarakat. Sementara Max Weber mengatakan negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli terhadap penggunaan kekerasan fisik secara sah dalam suatu wilayah. Negara memiliki batas-batas teritorial baik secara de facto maupun de jure, bersifat monopoli dalam menetapkan tujuannya, pemerintah memiliki hak penuh untuk membentuk, menyelenggarakan serta memaksakan kekuasaannya untuk menjalankan undang-undang negara tersebut, dan warga negaranya diikat oleh rasa Nasionalisme kebangsaan serta cita-cita bersama. Sedangkan khilafah adalah pelanjut tugas kepemimpinan dalam membimbing umat Islam kepada mardhatillah, amar ma'ruf nahi mungkar, menegakkan keadilan dan kedamaian di muka bumi, figurnya adalah rasulullah sebagai teladan kepemimpinan, pedoman pokoknya adalah Al Quran dan Sunnah, prinsipnya bukan Demokrasi ataupun Teokrasi ala gereja tapi musyawarah atas dasar iman dan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, bukan dengan jalan paksaan. Penyimpangan kekhilafahan Penyimpangan kekhilafahan sebagai nubuwwah kepada system politik (negara/kerajaan), terjadi pertama kali pada masa perubahan dari Khilafah 'Ala minhajin nubuwwah menjadi mulkan Adhon dan dilanjutkan dengan mulkan jabariyyah, walaupun pada saat itu muslimin tetap bersatu dan memiliki seorang pemimpin. Dalam tarikh (sejarah) disebutkan penyimpangan itu terjadi pada masa Muawiyah dan berakhir pada masa Sultan Abdul Majid bin Abdul Azis pada masa Turki Utsmani. (Ulil Amri, Abul Hidayat S. 2005) Secara umum bentuk penyimpangan yang sangat prinsipil ialah terjadinya pergeseran khithoh kenabian atau khilafah 'ala minhajin nubuwwah (kepemimpinan yang mengikuti jejak kenabian) menjadi Mulkan atau kerajaan yang bersifat absolute, otoriter dan ashobiyah (mempertahankan dinasti keturunan), dimana gelar khalifah tetap digunakan pada masa mulkan. Dan kebijakan-kebijakan yang diambil pada masa mulkan tidak lagi berdasarkan ibadah dan melaksanakan hukum Allah dengan cara musyawarah, melainkan atas kepentingan interes pribadi atau dinasti yang otoriter. Rasulullah telah mensinyalir hal tersebut dengan sabdanya: "Khilafah pada ummatku tiga puluh tahun, kemudian kerajaan sesudah itu". (HR. Abu Dawud) Menurut Safinah seorang sahabat Nabi yang telah melakukan penelitian, masa kekhalifahan itu benar 30 tahun, yaitu masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq 2 tahun, kekhalifahan Umar bin khaththab 10 tahun, kekhalifahan Utsman bin affan 12 tahun, dan masa kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib 6 tahun. Selanjutnya adalah kerajaan. Hal tersebut juga dikuatkan dengan hadits dari Nu'man bin Basyir, dari Hidzaifah bin Al-Yaman ra., ia berkata bahwa rasulullah bersabda: "Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendakinya untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah 'ala minhajin Nubuwwah, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menggigit (Mulkan Adhon), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyah), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah, kemudian beliau diam." (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi) Selaras dengan hadits di atas, tokoh intelektual Islam, Abul 'Ala al Maududi mengatakan masa Muawiyyah merupakan masa peralihan dari system khalifah kepada system kerajaan. (Al Maududi "Khilafah dan Kerajaan"). Senada dengannya, DR. Amien Rais mengatakan dalam Majalah Panjimas bahwa sebenarnya Daulah Umayyah dan Daulah Abassiyyah sudah keluar dari syariat Islam itu sendiri. (Agus E. Santoso "Tidak ada Negara Islam"). Dr.Qomarudin Khan, seorang cendekiawan muslim Pakistan dalam kajiannya menyimpulkan bahwa: "Al-Qur'an sama sekali tidak menyediakan prinsip hukum ketatanegaraan ataupun teori politik. Teori politik dalam Islam telah berkembang bukan dari Al-Qur'an, tetapi dari situasi kesejarahan dan karena itu tidak memiliki kesucian religius dalam dirinya." (Khan, 1987: 89). Kekeliruan cara pandang dalam membedakan antara konsep negara, kerajaan dengan khilafah tidak terjadi saat ini saja, Abu Sufyan seorang 'pentolan' Quraisy yang juga cendikiawan dikalangan arab saat itu, juga salah dalam mempersepsikan masalah nubuwwah, ketika Rasulullah bersama kaum muslimin memasuki Makkah dalam peristiwa Fathul Makkah. Saat itu Abu Sufyan yang baru memeluk Islam bersama Abbas bin Abd Muthalib menyaksikan iring-iringan barisan muslimin. Abu Sufyan berkata penuh takjub; "Tidak seorang pun yang dapat melawan tentara ini. Demi Allah, hai Abal Fadhal (Abbas), kini kekuasaan kerajaan keponakanmu (Muhammad) telah menjadi besar." Abbas menjawab: "Hai Abu Sufyan, itu adalah Kenabian/nubuwwah!" Abu Sufyan berkata: "Oh, Ya! Kalau begitu benar." (Ibnu Hisyam, bab Dzikrul Asbab Al Mujibah Al Masira ila Makkah, jilid 3 (juz 3 dan 4), halaman 404). Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah saw telah menyatakan bahwa beliau bukanlah seorang raja, sebagaimana yang beliau katakan ketika seorang laki-laki datang kepadanya dengan diliputi rasa takut, "Janganlah engkau takut. Tenanglah! Sesungguhnya aku ini bukanlah seorang raja, sesungguhnya aku seorang putera ibu Quraisy yang biasa makan dendeng." (HR.Bukhari) Dua hadits di atas mengisyaratkan kepada muslimin bahwa rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam beserta pasukannya bukanlah seorang raja dengan kekuasaannya, juga bukan seorang kepala Negara dengan pemerintahannya. Beliau adalah seorang putra Quraisy yang oleh Allah Azza wa Jalla telah diberi kepercayaan untuk membimbing manusia kepada shiratal mustakim, jalan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Siapakah Khilafah Itu? Merujuk kepada hadits Hudzaifah bin Yaman yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam kitabul fitannya, dapat disimpulkan, bahwa disaat banyak manusia menyeru kepada neraka, memberi petunjuk bukan dengan petunjuk Muhammad Shalallahu 'alaihi Wasalam dan banyak bercampur antara hak dan batil, maka Rasulullah memerintahkan dengan sabdanya: "Tetaplah engkau pada Jama'ah Muslimin dan Imam mereka." Sahabat Hudzaifah bertanya, sikap apa yang harus diambil jika Jama'ah imamah belum ada? Rasul menjawab "fa'tajil tilka firoqo kullaha," jauhi oleh kamu firqah-firqah itu semua. Inilah konsekuensi jika belum ada Jama'ah Muslimin. Seluruh muslimin harus menjauhi firqah-firqah yang ada. Tetapi sebaliknya, jika sudah ada Jama'ah Muslimin yang ditetapi, maka mendukung serta menguatkannya adalah perintah yang dikemukakan Rasulullah. Takhtim Khilafah yang wajib dibangun bukanlah khilafah yang berkiblat kepada system demokrasi. Suara terbanyak bukan sebagai ketetapan sebuah keputusan dalam khilafah. Bukan pula monarki yang biasa membuat kerusakan di muka bumi. Yang harus di tegakkan dan dan dibangun adalah khilafah yang bermanhaj nubuwwah, yang membawa misi rahmatan lil alamin. Seorang khalifah yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala setelah kerajaan-kerajaan runtuh, bukanlah makhluk yang diciptakan dari cahaya, ia bukan makhluk yang tak pernah salah sehingga tidak memerlukan bantuan dari saudaranya. Begitupula ia bukanlah makhluk yang diciptakan oleh Allah dari Api, sehingga tidak pernah ada kebaikan pada dirinya. Khalifah yang dikehendaki oleh Allah ta'ala adalah makhluk yang diciptakan dari air hina dan saripati tanah. Sehingga kadang ia meninggalkan jejak hitam tetapi tidak sedikit mengukir kemuliaan.
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
