Assalamu 'alaykum... warahmatullahi wabarakatuh..

Ya  Akhi...
Siapa pun antum...

Seorang belum dapat dikatakan beriman jika tidak mempercayai rukun iman (lihat 
Hadist Jibril)
salah satunya Iman kepada ketentan Allah (Takdir baik dan buruk)


Subhanallah...
Masih ada juga...
Jika memang Arab saudi seperti itu, apa kita pantas untuk mempergunjingkan 
saudara kita yang jelas muslim ?
Dan begitu mudah kita percaya terhadap tulisan yang sumbernya tidak jelas dan 
tidak dipercaya.

sebaiknya kita mohon Ampun pada Allah atas kebodohan kita, 
ingat Akhi... apa antum sanggup mempertanggung jawabkan apa yang antum 
sebarkan...?

wassalam 
ibnu Sulaiman.



  ----- Original Message ----- 
  From: PPIC Stamping 
  To: [email protected] 
  Sent: April 11, 2007 12:19 PM
  Subject: [ FUPM-EJIP ] ARAB SAUDI DAN PENGKHIANATAN KELUARGA SA‘UD


  ARAB SAUDI DAN PENGKHIANATAN KELUARGA SA‘UD

   
  Ringkasan Artikel :
  1.Memberontak Kepada Daulah Khilafah, Bersekutu dengan Inggris
  2.Persahabatan Dengan Amerika
  3.Negara Islam Semu



  Arab Saudi merupakan salah satu negara di Dunia Islam yang cukup strategis, 
terutama karena di negara tersebut terdapat Baitullah di Makkah yang menjadi 
pusat ibadah haji kaum Muslim seluruh dunia. Apalagi perjalanan Islam tidak 
bisa dilepaskan dari wilayah Arab Saudi. Sebab, di sanalah Rasulullah saw. 
lahir dan Islam bermula hingga menjadi peradaban besar dunia. Arab Saudi juga 
sering menjadi rujukan dalam dunia pendidikan Islam karena di negara tersebut 
terdapat beberapa universitas seperti King Abdul Aziz di Jeddah dan Ummul Qura 
di Makkah yang menjadi tempat belajar banyak pelajar Islam dari seluruh dunia. 
Dari negara ini, muncul Gerakan Wahabi yang banyak membawa pengaruh di Dunia 
Islam. Lebih jauh, Saudi sering dianggap merupakan representasi negara Islam 
yang berdasarkan al-Quran dan Sunnah. 

  Namun demikian, di sisi lain, Saudi juga merupakan negara yang paling banyak 
dikritik di Dunia Islam. Sejak awal pembentukannya, negara ini dianggap 
memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah. Sejarahnya juga penuh dengan 
pertumpahan darah lawan-lawan politiknya. Banyak pihak juga menyoroti tindakan 
keras yang dilakukan oleh rezim ini terhadap pihak-pihak yang menentang 
kekuasaan Keluarga Saud. Tidak hanya itu, Saudi juga dikecam karena menyediakan 
daerahnya untuk menjadi pangkalan militer AS. Kehidupan keluarga kerajaan yang 
penuh kemewahan juga banyak menjadi sorotan. Secara ekonomi, Saudi juga menjadi 
incaran negara-negara besar di dunia karena faktor kekayaan minyaknya. 



   MEMBERONTAK KEPADA KHILAFAH, BERSEKUTU DENGAN INGGRIS 

  Secara resmi, negara ini memperingati kemerdekaannya pada tanggal 23 
September. Pada saat itulah, tahun 1932, Abdul Aziz—dikenal juga dengan sebutan 
Ibnu Sa‘ud—memproklamirkan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia (al-Mamlakah 
al-‘Arabiyah as-Su‘udiyah). Abdul Aziz pada saat itu berhasil menyatukan 
dinastinya; menguasai Riyad, Nejed, Ha-a, Asir, dan Hijaz. Abdul Aziz juga 
berhasil mempolitisasi pemahaman Wahabi untuk mendukung kekuatan politiknya. 
Sejak awal, Dinasti Sa‘ud secara terbuka telah mengumumkan dukungannya dan 
mengadopsi penuh ide Wahabi yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul 
Wahhab yang kemudian dikenal dengan Gerakan Wahabi. Dukungan ini kemudian 
menjadi kekuatan baru bagi Dinasti Sa‘ud untuk melakukan perlawanan terhadap 
Khilafah Islamiyah. 

  Hanya saja, keberhasilan Dinasti Sa‘ud ini tidak lepas dari bantuan Inggris. 
Mereka bekerjasama untuk memerangi pemerintahan Khilafah Islamiyah. Sekitar 
tahun 1792-1810,  dengan bantuan Inggris mereka berhasil menguasai beberapa 
wilayah di Damaskus. Hal ini membuat Khilafah Islamiyah harus mengirim 
pasukannya untuk memadamkan pemberontakan ini. Fase pertama, pemberontakan 
Dinasti Saud berhasil diredam setelah pasukan Khilafah Islamiyah berhasil 
merebut kota ad-Diriyah. 

  Namun kemudian, beberapa tahun kemudian, Dinasti Sa‘ud,  di bawah  pimpinan 
Abdul Aziz bin Abdurrahman, berupaya membangun kembali kekuataannya. Apalagi 
pada saat itu, Daulah Khilafah Islamiyah semakin melemah. Pada tahun 1902, 
Abdul Aziz menyerang dan merebut kota Riyadh dengan membunuh walinya (Gubernur 
Khilafah ar-Rasyid). Pasukan Aziz terus melakukan penaklukan dan membunuh 
pendukung Khilafah Utsmaniyah dengan bantuan Inggris. 

  Salah satu sahabat dekat Abdul Aziz Abdurrahman adalah Harry St. John Pilby, 
yang merupakan agen Inggris. Philby menjuluki Abdul Aziz bin Abdurrahman 
sebagai “Seorang Arab yang Beruntung”, sementara Abdul Aziz menjulukinya dengan 
“Bintang Baru dalam Cakrawala Arab”. Philby adalah orang Inggris yang  ahli 
Arab yang telah lama menjalin hubungan baik dengan Keluarga Sa‘ud sejak misi 
pertamanya ke Nejed pada tahun 1917. Pada tahun 1926, Philby tinggal di Jeddah. 
Dikabarkan kemudian, Philby masuk Islam dan menjadi anggota dewan penasihat 
pribadi Raja pada tahun 1930. (Lihat: Goerge Lenczowsky, Timur Tengah di Tengah 
Kencah Dunia, hlm. 351). 

  Kerjasama Dinasti Sa‘ud dengan Inggris tampak dalam perjanjian umum 
Inggris-Arab Saudi yang ditandatangani di Jeddah (20 Mei 1927). Perjanjian itu, 
yang dirundingkan oleh Clayton, mempertegas pengakuan Inggris atas ‘kemerdekaan 
lengkap dan mutlak’ Ibnu Sa‘ud, hubungan non-agresi dan bersahabat, pengakuan 
Ibnu Sa‘ud atas kedudukan Inggris di Bahrain dan di keemiran Teluk, serta 
kerjasama dalam  menghentikan perdagangan budak (ibidem, hlm. 351). Dengan 
perlindungan Inggris ini, Abdul Aziz (yang dikenal dengan Ibnu Sa‘ud) merasa 
aman dari berbagai rongrongan.

  Pada tahun 1916, Abdul Aziz menerima 1300 senjata dan 20.000 keping emas dari 
Inggris. Mereka juga berunding untuk menentukan perbatasan negerinya, yang 
ditentukan oleh Percy Cox, utusan Inggris. Percy Cox  mengambil pinsl dan 
kertas kemudian menentukan (baca: memecah-belah) perbatasan negeri tersebut. 
Tidak hanya itu, Inggris juga membantu Ibnu Sa‘ud saat terjadi perlawanan dari 
Duwaish (salah satu suku Nejed). Suku ini menyalahkan Ibnu Saud yang dianggap 
terlalu menerima inovasi Barat. Sekitar tahun 1927-1928, Angkatan Udara Inggris 
dan Pasukan Ibnu Sa‘ud mengebom suku tersebut. Mengingat kerjasama mereka yang 
sangat erat, Inggris memberi gelar kebangsawanan ‘sir’ untuk Abdul Aziz bin 
Abdurrahman.   

   

  PERSAHABATAN DENGAN  AS

  Persahabatan Saudi dengan AS diawali dengan ditemukannya ladang minyak di 
negara itu. Pada 29 Mei 1933, Standart Oil Company dari California memperoleh 
konsesi selama 60 tahun. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian 
Oil Company pada tahun 1934. Pada mulanya, pemerintah AS tidak begitu peduli 
dengan Saudi. Namun, setelah melihat potensi besar minyak negara tersebut, AS 
dengan agresif berusaha merangkul Saudi. Pada tahun 1944, Deplu AS 
menggambarkan daerah tersebut sebagai, “sumber yang menakjubkan dari kekuatan 
strategi dan hadiah material yang terbesar dalam sejarah dunia (a stupendous 
source of strategic power and the greatest material prize in the world's 
history).” 

  Untuk kepentingan minyak, secara khusus wakil perusahaan Aramco, James A. 
Moffet, menjumpai Presiden Roosevelt (April 1941) untuk mendorong pemerintah AS 
memberikan pinjaman utang kepada Saudi. Utang inilah yang kemudian semakin 
menjerat negara tersebut menjadi ‘budak’ AS. Pada tahun 1946, Bank Ekspor-Impor 
AS memberikan pinjaman kepada Saudi sebesar $10 juta dolar. Tidak hanya itu, AS 
juga terlibat langsung dalam ‘membangun’ Saudi menjadi negara modern, antara 
lain  dengan memberikan pinjaman sebesar $100 juta dolar untuk pembangunan 
jalan kereta api yang menghubungkan ibukota dengan pantai timur dan barat. 
Tentu saja, utang ini kemudian semakin menjerat Saudi. 

  Konsesi lain dari persahabatan Saudi-AS ini adalah penggunaan pangkalan udara 
selama tiga tahun oleh AS  pada tahun 1943 yang hingga saat ini terus 
dilanjutkan. Pangkalan Udara Dhahran menjadi pangkalan militer AS yang paling 
besar dan lengkap di Timur Tengah. Hingga saat ini, pangkalan ini menjadi basis 
strategis AS, terutama saat menyerang negeri Muslim Irak dalam Perang Teluk II. 
Penguasa keluarga Kerajaan Saudi  dengan ‘sukarela’ membiarkan wilayahnya 
dijadikan basis AS untuk membunuhi sesama saudara Muslim. AS pun kemudian 
sangat senang dengan kondisi ini. 

  Pada tahun 1947, saat Putra Mahkota Emir Saud berkunjung ke AS, dia menerima 
penghargaan Legion of Merit atas jasanya kepada sekutu selama perang. Hingga 
saat ini, persahabatan AS dan Saudi terus berlanjut walaupun harus menyerahkan 
loyalitasnya kepada AS dan membunuh sesama Muslim. 

   

  NEGARA ISLAM SEMU
  Salah satu kehebatan negara Saudi selama ini adalah keberhasilannya dalam 
menipu kaum Muslim, seakan-akan negaranya merupakan cerminan dari negara Islam 
yang menerapkan al-Quran dan Sunnah. Keluarga Kerajaan juga menampilkan diri 
mereka sebagai pelayan umat hanya karena di negeri mereka ada Makkah dan 
Madinah yang banyak dikunjungi oleh kaum Muslim seluruh dunia. Saudi juga 
terkesan banyak memberikan bantuan kepada kelompok-kelompok Islam maupun 
negeri-negeri Islam untuk mencitrakan mereka sebagai ‘pelayan umat’ dan  
penjaga dua masjid suci (Khadim al-Haramain). 

  Akan tetapi, citra seperti itu semakin pudar mengingat sepak terjang keluarga 
Kerajaan selama ini, terutama persahabatannya dengan AS yang mengorbankan kaum 
Muslim. Arab Saudi menjadi pendukung penuh AS baik secara politis maupun 
ekonomi dalam Perang Teluk II. Saudi juga mendukung serangan AS ke Afganistan 
dan berada di sisi Amerika untuk memerangi teroris.  Untuk membuktikan 
kesetiaannya itu, Saudi, pada 17 Juni 2002 mengumumkan bahwa aparat keamanannya 
telah menahan enam orang warga negaranya dan seorang warga Sudan yang didakwa 
menjadi anggota Al-Qaeda. Tujuh orang itu didakwa  berencana untuk menyerang 
pangkalan militer Amerika dengan rudal SAM 7. Masih dalam rangka kampanye AS 
ini, Saudi menghabiskan jutaan dolar untuk membuat opini umum—antara lain lewat 
iklan—bahwa Saudi adalah mitra AS dalam “perang antiterorisme.” (K.Com, 
Newsweek, 03/5/2002). 

  Penguasa Saudi juga dikenal kejam terhadap kelompok-kelompok Islam yang 
mengkritisi kekuasaannya. Banyak ulama berani dan salih yang dipenjarakan hanya 
kerena mengkritik keluarga Kerajaan dan pengurusannya terhadap umat. Tidak 
hanya itu, tingkah polah keluarga Kerajaan dengan gaya hidup kapitalisme sangat 
menyakitkan hati umat. Mereka hidup bermewah-mewah, sementara pada saat yang 
sama mereka membiarkan rakyat Irak dan Palestina hidup menderita akibat 
tindakan AS yang terus-menerus dijadikan Saudi sebagai mitra dekat. 

  Benarkah Saudi merupakan negara Islam? Jawabannya, “Tidak sama sekali!” Apa 
yang dilakukan oleh negara ini justru banyak yang  menyimpang dari syariat 
Islam.  Beberapa bukti antara lain: 

  Berkaitan dengan sistem pemerintahan, dalam pasal 5a Konstitusi Saudi 
ditulis: Pemerintah yang berkuasa di Kerajaan Saudi adalah Kerajaan. Dalam 
Sistem Kerajaan berarti kedaulatan mutlak ada di tangan raja. Rajalah yang 
berhak membuat hukum. Meskipun Saudi menyatakan bahwa negaranya berdasarkan 
pada al-Quran dan Sunnah, dalam praktiknya, dekrit rajalah yang  paling 
berkuasa dalam hukum. Sementara itu, dalam Islam, bentuk negara adalah Khilafah 
Islamiyah, dengan kedaulatan ada di tangan Allah SWT.

  Dalam sistem kerajaan, rajalah yang juga menentukan siapa penggantinya; 
biasanya adalah anaknya atau dari keluarga dekat, sebagaimana tercantum dalam 
pasal 5c: Raja memilih penggantinya dan diberhentikan lewat dekrit kerajaan. 
Siapa pun mengetahui, siapa yang menjadi raja di Saudi haruslah orang yang 
sejalan dengan kebijakan AS. Sementara itu, dalam Islam, Khalifah dipilih oleh 
rakyat secara sukarela dan penuh keridhaan.   

  Dalam bidang ekonomi, dalam praktiknya,  Arab Saudi menerapkan sistem ekonomi 
kapitalis. Ini tampak nyata dari dibolehkannya riba (bunga) dalam transaksi 
nasional maupun internasional di negara itu. Hal ini tampak dari beroperasinya 
banyak bank ‘ribawi’ di Saudi seperti The British-Saudi Bank, American-Saudi 
Bank, dan Arab-National Bank. Hal ini dibenarkan berdasarkan bagian b pasal 1 
undang-undang Saudi yang  dikeluarkan oleh Raja (no M/5 1386 H). 

  Saudi juga menjadi penyumbang ‘saham’ IMF, organisasi internasional bentuk AS 
yang menjadi ‘lintah darat’ yang menjerat Dunia Islam dengan riba.  Saudi 
adalah penanam saham no. 6 yang terbesar dalam organisasi itu. Ada bukti lain 
yang menunjukkan bahwa ekonomi Saudi adalah ekonomi kapitalis, yakni bahwa 
Saudi menjadikan tambang minyak sebagai milik individu (keluarga Kerajaan dan 
perusahaan asing), padahal minyak adalah milik umum (milkiyah ‘amah) yang tidak 
boleh diberikan kepada individu. 

  Kerajaan Saudi juga dibangun atas dasar rasialisme dan nasionalisme. Hal ini 
tampak dari pasal 1 Konstitusi Saudi yang tertulis: Kerajaan Saudi adalah 
Negara Islam Arab yang berdaulat (a sovereign Arab Islamic State). Sementara 
itu, dalam Islam, Khilafah adalah negara Islam bagi seluruh kaum Muslim di 
dunia, tidak hanya khusus orang Arab. Tidak mengherankan kalau di Saudi seorang 
Muslim yang bukan Saudi baru bisa memiliki bisnis atau tanah di Saudi kalau 
memiliki partner  warga Saudi. Atas dasar kepentingan nasional, Raja Fahd pada 
1997 mengusir ratusan ribu Muslim di luar Saudi (sebagian besar dari India, 
Pakistan, Mesir, dan Indonesia) dari Arab Saudi karena mereka dicap sebagai 
pekerja ilegal. Bahkan, untuk beribadah haji saja mereka harus memiliki paspor 
dan visa. Sementara itu, dalam Islam, setiap Muslim boleh bekerja dan 
berpergian di wilayah manapun dari Daulah Khilafah Islamiyah dengan bebas. Pada 
saat yang sama, Saudi mengundang ratusan non-Muslim dari Eropa dan tentara 
Amerika untuk bekerja di Saudi dan menempati pangkalan militer di negara itu. 
Tidak hanya itu, demi alasan keamanan keluarga Kerajaan, berdasarkan data 
statistik kementerian pertahanan AS, negara-negara Teluk (termasuk Saudi) sejak 
tahun 1990-November 1995 telah menghabiskan lebih dari 72 miliar dolar  dalam 
kontrak kerjasama militer dengan AS. Saat ini, lebih dari 5000 personel militer 
AS tinggal di Saudi.

  Apa yang terjadi di Saudi saat ini  hanyalah salah satu contoh di antara 
sekian banyak contoh para penguasa Muslim yang melakukan pengkhianatan kepada 
umat. Tidak jarang, para penguasa pengkhianat umat ini menamakan rezim mereka 
dengan sebutan negara Islam atau negara yang berdasarkan al-Quran dan Sunnah; 
meskipun pada praktiknya jauh dari Islam. Karenanya,  umat Islam wajib 
menyadari kewajiban menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah yang sahih, bukan 
semu. Daulah Khilafah Islamiyah inilah yang  akan menerapkan hukum-hukum Islam 
secara menyeluruh, yang pada giliran akan menyelesaikan berbagai persoalan umat 
ini. Tentu saja, hal ini harus dibarengi dengan melengserkan para penguasa 
pengkhianat di tengah kaum Muslim.  Inilah kewajiban kita semua saat ini. 
[Farid Wajdi]

  Back to top



------------------------------------------------------------------------------



  Komentar [ku]:

  Demikianlah saudaraku,  Mulkan Tauhid Daulah Su'udiyyah.. 
  Kaum muslimin tertawa dan menangis getir melihat sandiwara Daulah Tauhid ini
  Sandiwara yang hampir sempurna bila kita tidak diberi petunjuk oleh Allah SWT 
untuk mengetahui muka mereka sesungguhnya!

  Saudaraku, sejarah Futuh Mekkah akan kembali! Mekkah akan ditaklukan kembali 
oleh para Muwahid sejati! Para Muhawid yg benar2 menolak semua taghut dan 
kesyirikan apakah dalam bentuk klasik: tahayul, klenik, false traditions 
ataupun dlm bentuk entitas politik: PBB, IMF, Amerika, Inggris, Rusia, Mulkan 
Dzoliman atau dlm bentuk Ideologi/Faham: Kapitalisme, Sosialisme, Demokrasi, 
Nasionalisme, Zionisme, Pluralisme dll.  Inna Hukm 'illa Lillah!
   
  Fase Daulah Khilafah 'ala Minhaj Nubuwwah yg dinanti kaum muslimin seluruh 
dunia akan segera datang kembali , InsyaAllah.. 

  Ya Allah, tunjukilah kami, yang haq adalah haq dan berilah kami kekuatan 
untuk mengikutinya
  Dan tunjukilah kami, yang bathil adalah bathil dan berilah kami kekuatan 
untuk menjauhinya

  Muslim Ummah, Unite!

  Akhukum fillah,

  Shalih Aziz



  <!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
  <!--[endif]-->

   

   

   



------------------------------------------------------------------------------


  ********************************************************
  Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
  ********************************************************
  Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
  http://www.usahamulia.net

  Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
  [EMAIL PROTECTED]

  Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
  [EMAIL PROTECTED]
  ********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke