Seorang Pembelajar Sejati
16 Apr 07 09:53 WIB

Kirim teman

Oleh Ike Sari Astuti

Sudah bertahun-tahun saya menyandang status sebagai pelajar, bahkan sampai umur 
yang sudah dewasa sekarang ini, kebanyakan status profesi resmi saya adalah 
sebagai pelajar (mahasiswa) ketimbang pekerja. Meski demikian, ternyata saya 
baru menyadari bahwa selama ini saya tidak - atau setidaknya belum - 
sungguh-sungguh "belajar". Bukan saja belajar dalam posisi saya yang memang 
sebagai pelajar, tetapi lebih dari itu, belajar dalam setiap bagian kehidupan 
saya sebagai manusia dan terutama lagi sebagai seorang muslim.

Semua ini bermula siang itu ketika saya yang hendak menuju ke sebuah komputer 
di sebuah warnet. "Assalaamu'alaikum, Sari ya?" sebuah suara memanggil saya. 
Saya menoleh ke arah suara tersebut. Seorang wanita muda berkerudung tersenyum 
ke arah saya. Saya pun menjawab salamnya dengan muka bingung karena saya merasa 
tidak mengenal wanita tersebut.

"Aku Ayu, temanmu di SMP dan SMA, " sambungnya lagi. Saya pun terperangah tak 
kuasa berkata apa-apa selain menyebut "Subhanallah" berkali-kali. Betapa tidak, 
teman yang dulu saya kenal sebagai penganut Hindu yang taat itu siang itu 
berdiri di depan saya dengan balutan busana panjang lengkap dengan jilbabnya 
yang rapi. Acara nge-net siang itu pun berganti menjadi temu kangen setelah 
bertahun-tahun berpisah karena kami melanjutkan pendidikan ke universitas yang 
berbeda.

Merasa penasaran, saya pun segera menanyakan alasan mengapa dia memilih menjadi 
seorang muslimah. Mulailah dia bercerita bahwa sejak SMA, saat pelajaran agama 
Islam berlangsung dia memilih untuk tetap tinggal di kelas daripada keluar. 
Ternyata dari acara mendengar tidak sengaja, dia mulai berpikir dan menganalisa 
sampai akhirnya dia berkesimpulan, bahwa Islam is not only a bunch of ritual 
teachings, begitu dia menyebutnya, tapi lebih dari itu adalah sebuah jalan 
hidup. Ia pun tergerak untuk mencari tahu apa dan bagaimana Islam, meski 
hidayah benar-benar menjemputnya ke pangkuan Islam setelah dia menikah dengan 
seorang pemuda muslim di tahun pertama kuliahnya. Saya pun hanya bisa 
manggut-manggut kagum mendengarnya.

Apa yang saya dengar berikutnya membuat saya lebih terperangah. Bagaimana dia 
akhirnya berjuang dengan ujian hidup yang teramat berat, yaitu terpaksa 
bercerai di usia muda, serta menjadi muslim seorang diri di keluarga besarnya. 
Merasa belum puas, saya kembali bertanya sejak kapan dia memakai jilbab. Dia 
pun meneruskan ceritanya, akan keinginannya untuk menunjukkan bahwa dia menjadi 
muslim bukan karena pernikahan semata. Berstatus muallaf membuat dia merasa 
berkewajiban mengetahui benar-benar apa yang dipilihnya dan belajar mencari apa 
yang belum diketahuinya. Memakai jilbab adalah salah satu hasilnya. Tak 
berhenti sampai di situ, statusnya sebagai janda di usia muda pun tak 
menghalangi langkahnya untuk belajar Islam lebih serius di berbagai kesempatan 
meski pandangan masyarakat yang miring kerap menjadi penghalang besar.

Apa yang saya saksikan siang itu - lima tahun setelah dia mengucap syahadat - 
adalah hal yang sangat jauh berbeda. Kini ia adalah seorang muslimah yang rapi 
berkerudung, fasih membaca Al-Qur'an, fasih pula mengutip hadits-hadits shahih 
sebagai hujjahnya dalam memandang setiap persoalan, dan juga penuh optimisme 
memandang dunia dengan keyakinan hati yang begitu kuat bahwa ada hikmah di 
balik setiap kejadian, bahwa ada kekuatan dalam setiap untaian do'a, kekuatan 
untuk mengubah langit sekalipun.

Bertemu dengannya membuat saya seperti pelajar kesiangan. Bukan tentang 
keputusannya untuk memeluk Islam, bukan pula jalan hidupnya, melainkan pada 
bagaimana ia begitu cepat belajar. Hanya dalam rentang waktu lima tahun, apa 
yang diketahuinya tentang Islam mungkin lebih baik dari apa yang saya ketahui 
setelah lebih dari dua puluh tahun mengklaim diri sebagai seorang muslim. Saya 
pun hanya bisa bertanya pada diri sendiri tentang apa saja yang sudah saya 
lakukan selama ini yang seperti tanpa hasil yang berarti.

Satu hal yang terus saya ingat adalah ketika dia mengatakan bahwa dia telah 
berhenti dari pekerjaan yang baru saja didapatnya karena dia merasa banyak hal 
dalam pekerjaannya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sekali lagi saya 
hanya bisa terperangah. Bukan, bukan karena alasannya yang memang sangat 
mengagumkan, tetapi pada bagaimana dia telah melangkah lebih jauh menjadi 
muslim penuntut ilmu sejati, yang bukan sekedar mencari tahu tetapi telah 
menerapkan apa yang telah diketahuinya, memegang teguh prinsip amal setelah 
ilmu, meski dihadapkan pada pilihan yang tidak selalu mudah.

Jikalau dahulu para sahabat tak berani mempelajari ayat-ayat Al-Qur'an yang 
lainnya sebelum betul-betul mengamalkannya, kini teman saya begitu tekun 
mencari tahu dalam setiap ketidaktahuannya. Sementara, saya masih berkutat 
dengan sedikit peduli dan sedikit mencari. Saya masih berputar-putar pada 
mencari ilmu tetapi akhirnya hanya kembali tersimpan menjadi tumpukan buku yang 
berdebu.

Apa yang dituturkannya siang itu betul-betul membuka mata saya bahwa saya belum 
pernah menjadi seorang pembelajar sejati seperti dirinya. Pembelajar sejati 
adalah seorang yang dengan segala kerendahan hati mengakui kesalahan dan 
kebodohan diri, seseorang yang mempergunakan seluruh kapasitas yang ada dalam 
dirinya untuk mengejar ketertinggalannya, dan terus menerus memperbaiki 
kesalahannya. Pembelajar sejati bukan terletak pada banyaknya koleksi buku yang 
dimiliki, bukan pula pada rentetan gelar sebagai bukti banyaknya ilmu yang 
dikuasai, tetapi lebih dari itu, pembelajar sejati adalah sesorang yang selalu 
membuka mata membuka hati untuk melihat sekelilingnya dan mencari jawaban pasti 
terhadap apa masih gelap bagi dirinya. Seorang yang selalu bersungguh-sungguh 
mencari tahu sebagai konsekuensi logis status ketidaktahuannya, yang pada 
akhirnya bermuara pada perubahan cara berpikir dan berperilaku yang lebih baik, 
sebagai buah atas segala apa yang telah diketahuinya.

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke