Assalamualaikum wr wb

ada artikel menarik dari situs www.myquran.com

Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya  
(  pokoknya rugi gak baca ini sampai selesai) … 

by Abu Faqih   

   Saya telah lama mengenal kelompok ‘salafi’, tepatnya sejak tahun 1993. 
Kelompok lain sekitar tahun itu juga, atau 94-an, seperti IM, HT, dan Jamaah 
Tabligh. Pengamatan saya sampai hari ini, ada hal yang tidak berubah pada diri 
‘salafi’, yaitu hobi menuduh, memfitnah, mencela, imma dalam bentuk kajian di 
majelis ta’lim (lalu dikasetkan),  bulletin da’wah, majalah dan buku-buku, 
belakangan di internet (saya memiliki arsip-arsipnya). Semuanya dibungkus 
dengan istilah dan kedok  nasihat dan tahdzir, atas nama Ahlus Sunnah wal 
Jamaah. Maka tidak heran selama itu saya mengenal ‘salafi’, selama itu pula 
saya tidak berminat mengikutinya. Maka tidak aneh, jika para pemuda yang baru 
ngaji, termakan provokasi oleh satu atau dua makalah ‘salafi’  yang berisi 
propaganda, dan pembunuhan karakter bagi yang lainnya. Setelah itu, 
tahu-tahunya berkata ‘Saya tinggalkan IM’, ‘Dulunya saya IM, sekarang ‘salafi’, 
(lha promosi ..  siapa yang nanya? Becanda kok)  
 Anak kecil bila melihat mahasiswa memang  kagum dengan intelektualitasnya, 
tetapi profesor melihat mahasiswa, tentu berkata ‘Anda harus banyak belajar.’ 
Tidak sedikit dosen-dosen LIPIA yang heran dengan perilaku pemuda ‘salafi.’ 
Maka wajar jika saya tidak pernah menganggap ‘salafi’ itu dalam ilmunya, hebat 
kajiannya, pokoknya tob abiss!.kalla tsumma kalla. Anehnya jika diajak diskusi 
atau dialog ilmiah terbuka, mereka menghindar.    Jadi, mereka menggunakan 
strategi Hit n Run (pukul dan lari). Sesungguhnya Ahlus Sunnah terkenal dalam 
hujjahnya, tinggi akhlaknya, sementara ‘salafi’? sangat ‘dalam’ hujatannya, dan 
bermasalah dari sisi akhlak. Insya Allah nanti akan saya tunjukkan 
bukti-buktinya.

  Adapun bagi yang lain yang bukan ‘salafi’, kalian jangan gembira dulu, 
tulisan ini sama sekali tidak diniatkan membela kalian; IM, HT, JT, atau MMI. 
Ini sekadar mengembalikan duduk masalah agar kaum ‘salafiyun’ mengoreksi 
dirinya. Istilah ‘salafi’ akan selalu saya beri tanda petik, karena salafi yang 
benar-benar salafi sangat berbeda, bahkan super jauh dari pemikiran dan 
perilaku ‘salafi’ mereka ini (sama saja baik ‘salafi’ pengikut majalah Syariah 
yang mantan-mantan Lasykar Jihad yang belakangan disebut salafi yamani, atau 
majalah As Sunnah dan Al Furqan, yang katanya lebih moderat, namun jika 
membicarakan kejelekan kelompok lain, secara umum mereka sama akhlaknya). Saya 
tidak membicarakan Syaikh bin Baz, Syaikh Al Albany dan Syaikh Ibnu Utsaimin.  
Mereka, kaum ‘salafiyun’ sering mengutip Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh 
bin Baz, Syaikh al Albany, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, semoga Allah merahmati 
mereka semua, namun tak satu pun akhlak para
 imam ini diikuti oleh para ‘salafiyun’. Salafi sejati tidak akan bertengkar 
sesama mereka, walau perbedaan pasti ada, tetapi ‘salafi’ yang  ini? Kita lihat 
sendiri, imma di Indonesia atau di luar, mereka berpecah dengan perpecahan yang 
amat mengerikan, saling tabdi’, tafsiq, takfir, saling menuduh hizbi, sururi, 
turatsy, quthby, dll. Anehnya, mereka menyebut da’wah ‘salafi’ adalah da’wah 
yang penuh diberkahi. Berkah? Apakah ada keberkahan dibalik perpecahan? 
Jawablah wahai kaum! 

Bagi orang yang berilmu dan mantap keyakinannya terhadap al haq, faham betul 
makna salafus shalih yang orisinil, akan merasa heran dan geleng-geleng kepala 
dengan tingkah dan faham ‘salafi’. Namun, kita akui bahwa banyak anak muda yang 
masih dalam tahap pencarian dan pengembaran ilmiah yang belum jauh, telah 
terperangkap pemikiran ‘salafi’. Tidak sedikit saudara kita yang pernah  
menuntut ilmu di Saudi Arabia, kebingungan dengan tingkah ‘salafi’ di 
Indonesia. Seakan ada missing link, siapakah mereka ini?

Terus terang, saya tadinya enggan menulis ini, karena telah banyak yang 
memberikan tanggapan untuk mereka, tapi ibarat pepatah, anjing menggong-gong 
kafilah tetap berlalu. Namun fadzakkir fainna dzikra tanfa’ul mu’minin. Saya 
tidak tahu, pembela ‘salafi’ yang sering menghujat IM di forum Myquran ini, 
apakah ahli ilmu atau penuntut ilmu? Atau sekedar iseng?  Berlayar masih di 
tepi laut, tingkah seakan sudah seperti pelayar ulung. Membaca baru satu dua 
kitab, seakan sudah menjadi al ‘Allamah. 

Namun harus diakui, ada pula ‘salafi’ yang salafi. Mereka mau mendengar 
pandangan orang lain, lapang dada terhadap perbedaan, lisannya bersih dari 
mencela, tawasuth, adab khilafiyahnya juga bagus. Sedangkan yang ‘salafi’ 
sangat berbeda. Jadi, komentar saya tidaklah untuk semua salafi, tetapi untuk 
‘salafi’ saja, sebab kesalahan sebagian orang –lebih tepat disebut oknum-  
jangan sampai mengeneralisir semuanya. Semoga Allah Jalla wa ‘Ala menjaga lisan 
saya dari mencela dan berbuat zalim dengan sesama ahlul kiblat. Amin 

Di bawah ini akan saya listing kejanggalan-kejanggalan kaum ‘salafiyun’ gaya 
baru tersebut. Beserta komentar saya.

1. Mereka –seperti yang sering kita baca dalam tulisan mereka- tidak mau 
disebut jamaah salafi atau firqah, karena mereka adalah sebuah arus pemikiran 
yang mengikuti jejak salafus shalih, dan mencoba beramal dengan pemikiran itu, 
dan  tidak pakai pimpinan, pengurus organisasi, dan lain-lain. Sementara yang 
lain IM, HT, JT, dan MMI, adalah firqah, (juga hizbiyah).  

Komentar:   
Inilah keputusan mereka terhadap yang lain, siapakah yang berwenang 
mengeluarkan keputusan itu? Siapa yang telah memberikan mandat kepada mereka? 
Sesungguhnya, ketika ada manusia yang menarik diri dari kelompok yang lain 
apalagi menyudutkannya, berarti sama saja ia telah membentuk kelompoknya 
sendiri alias firqah. Walau ribuan kali dikatakan kami bukan firqah, namun 
faktanya ‘salafi’ telah menjadi firqah (kelompok), disadari atau tidak. Jangan 
Anda katakan, “tapi, kami ini’kan firqah najiyah,” (iii … cape deeh) sebab 
klaim menjadi sia-sia jika tidak sesuai kenyataan.

2. ‘Salafi’ menyebut yang lain adalah  hizbiyah, kelompok yang fanatik dan 
memecah belah umat. 

Komentar:
   Benarkah kelompok lain fanatik buta? Saya melihat langung para masyaikh IM 
dan MMI baik tulisan dan lisan, kerap menggunakan fatwa-fatwa Syaikh bin Baz, 
Syaikh al Albany, dan lainnya. Bahkan mereka tidak membatasi para pemudanya 
untuk membaca buku-buku ulama salafi, baik fikih atau nasihat-nasihatnya. 
Bahkan kawan-kawan saya, baik yang IM atau MMI, ikut juga kajiannya ‘salafi’. 
Tetapi … jangan harap kita menemukan orang ‘salafi’ mau membaca buku-buku Al 
Banna, Al Qaradhawy, Sayyid Quthb, sekali pun ada biasanya untuk dicari 
kelemahannya. Karena mereka dilarang oleh masyaikhnya membaca karya ahli 
bid’ah.  Maka, siapa yang fanatik sebenarnya? Jika Anda katakan, “Mereka’kan 
sesat dan kena tahdzir.” Benarkah? Apakah ada orang sesat yang mendapat pujian 
dan penghargaan para ulama dunia?  Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Muhibbudin al 
Khathib, Syaikh Abu Zahrah, Syaikh Amin Husaini, Syaikh Abdurrahman al Jibrin,  
Syaikh Manna’ Khalil al Qaththan, Syaikh Ali al
 Khafif, Syaikh al Maududi, bahkan Syaikh Rasyid Ridha, dan banyak lainnya, 
mereka memberikan kesaksian positif terhadap Al Banna dan Sayyid Quthb. 
Kesaksian mereka lebih layak didengar karena mereka hidup sezaman, atau pernah 
berinteraksi langsung. Sementara yang mendiskreditkannya adalah orang yang 
tidak sezaman, atau belum pernah bertemu langsung, hanya mengutip dari tulisan 
lalu ditafsiri sendiri, sebagaimana komentar miring Syaikh Rabi’ bin Hadi (ada 
seorang murid Syaikh ‘Aidh al Qarny berkata kepada kawan saya, bahwa Syaikh 
Rabi’ adalah tukang fitnah, ia adalah orang paling bertanggung jawab terhadap 
perpecahan antara sesama salafi, dan antara IM dan salafi). Lalu kutipan itu 
dikutip lagi. Sayangnya, anak-anak yang baru ngaji dijejali oleh tulisan dan 
pandangan yang mendiskreditkan, tanpa diberi kesempatan untuk mengaji dan 
mendapat klarifikasi dari yang lain, baik IM atau lainnya. Nah, yang seperti 
itulah yang biasanya terperangkap dalam ‘salafi.’

  Adapun Al Qaradhawy, telah banyak secara bergelombang pujian dan penghargaan 
baginya dari para ulama dunia, termasuk di Saudi sendiri. Bahkan Syaikh bin Baz 
memanggilnya ‘Al Ustadz Al Fadhil’ (harian Al Muslimun 19 Sya’ban 1415H/20 
Januari 1995) begitu pula Syaikh al Albany memanggil dia dengan sebutan itu 
(Lihat Muqaddimah Ghayatul Maram). Ada yang lucu, di buku Mereka Adalah 
Teroris! Al Qaradhawy di sebut teroris dan Khawarij, dan faksi salafi yamani 
ini juga membuat iklan buku Membongkar Kedok Al Qaradhawy beberapa hari di 
Kompas, saat kedatangannya ke Jakarta pada Januari lalu. Ternyata datangnya Al 
Qaradhawy merupakan undangan dari presiden SBY! Jadi, SBY ngundang teroris! 
Kasihan,  rencana mereka gagal. Al Qaradhawy malah dielu-elukan SBY sebagai 
ulama moderat, bukan radikal.  Itulah kalau asal tuduh, orang tidak akan mudah 
percaya.

   Fakta dilapangan, hubungan antara IM,HT, MMI, JT, DDII sangat harmonis. 
Mereka beberapa kali melakukan pertemuan, di antaranya di Islamic Center (ex 
lokalisasi Kramat Tunggak). Perbedaan organisasi dan metode praktis da’wah 
tidak membuat mereka lupa untuk berkoordinasi. Sebenarnya ‘salafi’ diundang 
tetapi tidak datang, dan dalam pertemuan lain selalu tidak datang. Maka, siapa 
sebenarnya yang maunya berbeda terus? Siapa yang menyulut perpecahan? Jadi, 
siapa yang hizbiyah sebenarnya? Ada seorang tokoh JT dari Australia pernah 
berkata, ‘salafi’ adalah kelompok yang paling berbahaya, sebab di mana saja 
mereka berada pasti membuat keributan. Bahkan di Eropa, Jepang, Amerika 
Serikat, Australia,  perbedaan yang ada di Timur Tengah  mereka bawa juga ke 
sana, membuat para mualaf bingung. Wallahu A’lam, tetapi untuk kalimat ‘pasti 
membuat keributan’ kayaknya benar tuh! 

   Bukti lain Bahwa ‘salafi’ fanatik dengan kelompoknya adalah dalam banyak hal 
khususnya ibadah, mereka seragam. Anda lihat cara shalat mereka sama, terus 
terang saya sendiri juga menggunakan Sifat Shalat Nabi-nya Syaikh al Albany, 
namun sikap mereka seolah tak ada ruang yang untuk berbeda fiqih. Celana pun 
harus setengah betis, jika belum maka diragukan ‘kesalafiannya’. Anda lihat 
kelompok Islam yang lain, amat toleran dalam masalah khilaf fiqih, karena 
memang perbedaan fiqih tak mungkin dihindari. Tidak dibenarkan memaksakan 
kehendak harus sama dengan si fulan dan fulan.karena setiap orang bisa diambil 
atau ditolak perkataannya kecuali Rasulullah.

3. ‘Salafi’ dalam berbagai tulisan, baik buku, majalah, dan web, merasa yang 
lain telah menyerang mereka, seakan ‘salafi’ menjadi pihak terzalimi.

Komentar:
   Ini sandiwara yang bagus.  Data dan fakta yang berbicara. Sejak zaman 
majalah Salafy awal ada (90-an),  saat itu Ja’far Umar Thalib –saddadallah 
khuthahu- menjadi pimpinannya, hingga majalah As Sunnah yang lahir belakangan, 
sampai masa pecahnya mereka sejak sebelum adanya Lasykar Jihad sampai Lasykar 
Jihad dibubarkan dan hingga saat ini, berapa banyak tulisan dalam berbagai 
bentuknya (termasuk ceramah kaset) yang menyerang IM, JT, HT, sangat banyak, 
bahkan buaaanyak!  Contoh: dalam bentuk buku, Dialog Dengan Ikhwani, Hasan al 
Banna seorang teroris?, Kekeliruan Sayyid Quthb, Membongkar Kedok Al Qaradhawy, 
Terorisme Dalam Pandangan Islam (isinya menyerang IM dan tokoh-tokohnya, 
berbeda dengan judul), Al Qaradhawy Dalam Timbangan, Sayyid Quthb Mencela 
Sahabat?, Fatwa Ulama Tentang Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir Neo Mu’tazilah, 
dll. Untuk Majalah sangat banyak, baik tulisan khusus atau yang terintegrasi 
dengan kajian umum, sampai saya bosen,  baik Salafy, As Sunnah, dan
 Syariah. Contoh, di As Sunnah berjudul Jamaah-Jamaah Menyimpang (tertulis IM, 
HT, Hamas, dll). Pada Bulletin Al Manhaj ada Sesatkah Jamaah Tabligh?, 
Penyimpangan Ikhwanul  Muslimin, dll. Kenapa mereka tidak menulis tentang 
kejahatan Israel, Kekejaman AS, Pemurtadan dan Kristenisasi, atau kalau mau 
menyerang mbo ya ..yang benar-benar sesat seperti LDII, NII, Ahmadiyah, Isa 
Bugis, Inkar Sunah.       

   Sementara yang mengkaunter mereka baru ada tahun 2003an, sejak lahirnya buku 
Al Ikhwan Al Muslimin Anugerah Allah yang Terzalimi, Dakwah Salafiyah Dakwah 
Bijak, dan Siapa Teroris Siapa Khawarij, dan beberapa tulisan ringan.(bahasanya 
pun santun, berbeda dengan tulisan kelompok ‘salafi’). Semua itu dibuat sebagai 
reaksi bukan yang mengawali, sebagai air dari api yang dikobarkan oleh 
‘salafi.’  Apakah ‘salafi’ mau menyadari dan mengakui ini? Saya minta kepada 
para ‘salafiyun’ untuk menunjukkan satu saja buku dari tokoh-tokoh IM (seperti 
Al Qaradhawy, Fathi Yakan, Sayyid Quthb dan adiknya, Abdullah Nashih Ulwan, 
Abdul Halim Abu Syuqqah, dll) yang menghujat ‘salafi’, kalau ada saya minta ya!


bersambung......

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke