Nasihatku untuk ‘Salafiyun’ dan yang terjebak di dalamnya (2/2)  

(lanjutan..)

by Abu Faqih  

4.  Dalam berbagai pernyataan terlihat sekali, ‘salafi’ merasa paling salafi, 
ahlus sunnah, firqah najiyah,  thaifah manshurah, paling benar hujjahnya, 
paling pintar ulamanya, pokoknya tob abizz! Yang lain laa yafqah syai’an (gak 
ngerti apa-apa),_sementara yang berbeda dengan mereka dianggap ahlul bid’ah, 
ruwaibidhah, jahil, dll. Pokoknya laa Yabqa wahid (tak tersisa satu pun), 
pernah mengalami serangan ‘salafi.’  

Komentar:
 Laa Tuzakkuu anfusakum, wahuwa a’lamu bimanittaqa (jangan kalian merasa suci, 
dan Dia mengetahui siapa yang bertaqwa). Naudzu billah! Orang baik tidak akan 
merasa baik, sebab jika ada orang baik merasa sudah baik, berarti dia sombong. 
Orang ikhlas ketika merasa ikhlas berarti dia belum ikhlas. Saya telah membaca 
beberapa karya tokoh ‘salafi’ Indonesia, nuansa merasa paling pintar sangat 
terasa,  seperti Al Masaail dan Risalah Bid’ah (saya akui kedua buku itu bagus, 
saya pun banyak mengambil manfaat darinya, tetapi ada alumni LIPIA yang berkata 
buku Risalah Bid’ah itu  la yanfa’- tidak bermanfaat) penulisnya banyak 
berkata, ‘Saya berkata’, ‘Saya katakan’, kalau penulisnya adalah ulama mungkin 
tidak apa-apa, tapi siapa Anda? Padahal ‘salafi’ lainnya, yakni Umar As Sewed 
telah mentahdzir Anda, dan mencela dengan gelar-gelar yang menyakitkan. Itu 
urusan antuma berdua deh. Adalagi, pemilik blog Abusalma. Wordpress.com, yakni 
Andi Bangkit yang membuat
 buku Menyingkap Kerancuan dan Syubhat Ikhwanul Muslimin, sebagai buku bantahan 
Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah Yang Terzalimi.  Andi Bangkit ini lebih 
parah lagi, lebih banyak ia menggunakan ‘Saya berkata’, ‘Saya katakan’ di 
banding ustadznya itu, belum lagi bantahannya yang kekanak-kanakan dan jauh 
dari substansi masalah. Saya sudah baca bukunya, ternyata banyak catatan saya 
atas buku itu. Mulai dari pemakaian bahasa yang over kasar seperti bodoh, tidak 
mengerti agama, jahil, kufur, khawrij, dll,  atau salah faham yang amat akut, 
pembahasan yang ngelantur,  berlagak  tahu di banyak hal ternyata keliru, 
banyak menafsiri ucapan orang dengan pikiran sendiri agar cocok dengan 
tuduhannya, satu lagi nampaknya ia belum mencium aroma khilafiyah fiqih.  Kalau 
ada waktu, insya Allah, akan saya bahas buku itu.  Sungguh Imam Ibnul Qayyim 
mencela pemakaian ‘Aku berkata’, ‘Menurut pendapatku’, karena kesan sombong 
sangat terasa.  Saya hanya berharap mudah-mudahan
 kita semua bisa menjadi Ahlus Sunnah yang sebenarnya, thaifah manshurah, dan 
firqah najiyah, dan Allah Tabaraka wa Ta’ala  membimbing kita ke arah sana.

 Perilaku ‘salafi’ telah membuat garis hitam putih, bahwa kebenaran hanya ada 
pada Anda sedang yang lainnya jika berbeda adalah salah dan sesat. Dunia ini 
seakan hanya ada dua manusia, ‘salafi’ dan non salafi (ahli bid’ah). Ini 
mengingatkan saya kepada ayat Ana khairu minhu (Aku lebih baik darinya), ucapan 
Iblis La’natullah ‘Alaih. Hal biasa dalam buku atau tulisan kelompok ‘salafi’ 
penulisnya mengatakan ‘Kebenaran telah disampaikan,’ atau ‘Iqamatul Hujjah 
(menegakkan Hujjah),’ ‘Ulama-ulama sunnah sudah menegaskan,’ seakan hujjah hak 
‘salafi’ saja yang menggunakan dan layak menafsirinya. Seakan label ulama cuma 
untuk masyaikhnya saja. Pokoknya yang beda tafsiran pasti salah. Sungguh, 
penentu surga atau neraka seseorang adalah Allah Ta’ala, bukan ‘salafi’. Sadar 
gak ya? 
  
5.  Terbiasa menggunakan label buruk, berkata kasar, menuduh, dan fitnah,  
kepada pihak  lain, bahkan ulama.

Komentar:  
 Mencaci maki seorang muslim adalah fasik dan membunuhnya adalah kufur (HR. 
Bukhari dan Muslim). Saya menegaskan, ini bukanlah perilaku mereka semua, 
melainkan bebarapa saja, walau di banyak sisi mereka sama saja, karena taqlidul 
a’ma (taqlid buta). 

 Yusuf al Qaradhawy –yang menjadi ketua Ikatan Ulama Internasional-  
diplesetkan menjadi Yusuf al Quradhi (nisbat pada Yahudi Bani Quraidhah), 
‘Aduwullah (musuh Allah), Ibnul Yahud (Anak Yahudi), Al Qaradha (penggunting), 
ini pada tahun 90-an. Ikhwanul Muslimin menjadi Ikhwanul Muflisin (Persaudaraan 
orang-orang bangkrut), Abu Bakar Ba’anjir (plesetan dari nama  Ust. Abu Bakar 
Ba’asyir), Jalaluddin Rahmat menjadi Dajjaluddin Rahmat, atau Dhalaluddin 
Rahmat (ini pada tahun 90-an), ya dia Syiah, alangkah baiknya dikatakan semoga 
Allah memberinya hidayah, semoga Allah meluruskan jalannya, dibanding 
memaki-maki.

 Menuduh Quburiyun kepada IM dan JT, saya telah membaca den berinteraksi dengan 
orang IM, ternyata mereka sangat anti dengan hal itu. Bahkan jika orang-orang 
nyekar ke kubur qabla dan ba’da ramadhan mereka mengingkari kebiasaan itu. 
Bahkan kebiasaan di masyarakat seperti nujuh bulanan, nishfu sya’ban, tahlilan, 
membaca rawi dan barzanji, mereka juga mengingkarinya, hanya saja mereka tidak 
mau konfrontatif. Bahkan ketika musim ‘Muludan’ para penggemar Maulid sering 
menghembuskan ‘Hat-hati terhadap kelompok GAM (Gerakan Anti Maulid),’ maksudnya 
PKS. Ini langsung saya dengar di daerah saya dari ceramah seorang habib. Perlu 
Anda tahu, PKS juga disebut Wahabi oleh NU dan kalangan ‘alawiyin.

 IM mewajibkan membaca dan menghafal Al Ma’tsurat, ini dusta, dusta, dan dusta. 
Jika yang dimaksud ‘wajib menghafal’ adalah sebagaimana guru mewajibkan hafalan 
surat-surat pendek kepada muridnya di TPA atau sekolah, jelas itu hal yang 
wajar. Adapun katanya IM melazimkan dalam setiap pertemuan di baca Al 
Ma’tsurat, jelas dusta. Demikian saya ketahui dari mereka.

 IM dan lainnya, tidak perhatian dengan masalah aqidah. Ini juga dusta. Banyak 
buku yang ditulis tokohnya tentang aqidah, bahkan ketika awal mereka ta’lim, 
yang dibahas adalah makna syahadat, macam-macam tauhid, al wala wal bara, 
tentang ma’rifatullah, Rasul dan Islam. Masih sangat banyak fitnah lainnya.

6. ‘Salafi’ sering mencela orang yang berbeda fiqih dengan mereka.

Komentar:
 Banyak contohnya seperti nasyid, IM diserang habis-habisan. Padahal masalah 
nasyid adalah benar-benar masalah perbedaan pendapat ulama.  Masa gak tau sih? 
Kalau benar-benar tidak tahu berarti Anda jangan bicara fiqih deh, karena kata 
para ulama ‘Orang yang tidak tahu perselisihan pendapat fikih para fuqaha, 
berarti dia belum mencium aroma fiqh.’ (Lha, kalo aromanya aja belum tau apa 
lagi isinya?) kalau Anda sudah tahu bahwa nasyid itu memang perbedaan pendapat, 
kenapa sulit sekali untuk berjiwa besar menerima perbedaan? 

 Yang mengharamkan –itupun tidak mutlak- adalah Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, 
Syaikh bin Baz, Syaikh al Albany,  Syaikh Shalih Fauzan, dll. Yang membolehkan 
seperti Ibnu Hazm, Ibnu Nahwi, Ibnu Thahir, Al Ghazaly, Ahmad Syurbashi, Ali 
ath Thanthawy, Mutawalli Asy Sya’rawy, Al Qaradhawy, Muh. Al Ghazaly, dll.

 Memakai celana di bawah mata kaki (isbal), juga khilafiyah. Yang mengharamkan 
kita tahu-lah siapa orangnya. Tapi, harusnya mereka juga memperhatikan bahwa 
ada juga yang tidak mengharamkan, seperti Imam Asy Syafi’I memakruhkan (kecuali 
jika sombong maka haram), Ibnu Abdil Bar menegaskan masalah isbal dan pakaian 
adalah bagian dari adat  disebuah daerah (tentu selama tidak buka aurat lho), 
juga Ibnu Hajar, haram jika sombong, begitu pula saudara-saudara kita di 
PERSIS. Lalu, gimana kalo sudah setengah betis tapi sombong juga? Karena merasa 
sudah paling menjaga sunah. Percuma’kan?  Hayooo … siapa tuh .. Semoga Allah 
Ta’ala memberikan pahala bagi Anda yang tidak isbal. Amin.

 Juga masalah Al Ma’tsurat, yang katanya beberapa haditsnya dhaif. Padahal 
banyak kitab kumpulan doa pasti ada yang dhaif sepeti Kalimatut thayyibah-nya 
Ibnu Taimiyah, atau Al Adzkarnya  An Nawawi. Lalu kenapa mereka berdua gak di 
cela? Lagi pula berdoa juga gak apa-apa pakai redaksi perkataan sendiri. Apakah 
ada haditsnya doa berbunyi Ya Allah, mudahkanlah urusan anakku yang hendak 
SPMB. Tapi apakah salah doa ini? Ya tidak, yang salah kalau itu dianggap dari 
Nabi. Jangan lupa, banyak ulama yang membolehkan menggunakan hadits lemah 
selama untuk fadhailul ‘amal, termasuk doa. Seperti Imam Abdurrahman al Mahdi, 
Ahmad, Abu Zakaria al Anbari, Sufyan ats Tsauri, Tirmidzi, Ibnu Rajab al 
Hambali, Ibnu Mai’in, Sufyan bin ;Uyainah, Ibnu Hajar, An Nawawi, Daqiq al Id, 
Izzuddin bin Abdussalam, dll.mereka membolehkan menggunakan hadits dhaif untuk 
fadhailul amal, tentu dengan syarat-syaratnya. Adapun yang melarang adalah Imam 
Bukhari, Ibnu Hazm, Ibnul Araby, Abu Syamah, Syaikh
 Muh. Syakir, Syaikh al Albany, dll. Maka sungguh mengherankan ‘salafi’ yang 
tidak henti-hentinya mengkritik Al Ma’tsurat, maka wajar ada Ustadz dari IM  
begitu pulang dari Saudi Arabia mengatakan bahwa mereka yang mengkritik mungkin 
gak ngerti fiqih atau mungkin memang mengikuti hawa nafsu kebencian yang luar 
biasa kepada IM. Sehingga asal bicara, tanpa mau membaca kitab ulama secara 
utuh.   Pokoknya kalau dari IM, ya salah. Titik. Ini namanya ‘Ainus Sukhti 
(mata kebencian). . 

 Atau khilaf fiqih kontemporer, seperti da’wah melalui parlemen dan partai, 
para ulama kontemporer berbeda pandangan. (anehnya, ‘salafi’ membid’ahkan 
partai karena bukan sarana dakwah Rasulullah,  lha Anda sendiri mendirikan 
yayasan dakwah, emangnya nabi pernah berdakwah pakai yayasan atau forum 
komunikasi Ahlus Sunnah wal jamaah? Bid’ahin juga donk? Kalau Anda bilang 
‘partai’kan bikin pecah umat,’  akhee .. sebelum ada partai juga, umat udah 
pecah gara-gara beda madzhab fiqih, perbedaan syafiiyah dan hanafiyah sampe 
perang fisik di beberapa tempat. Harusnya Anda juga melarang madzhab donk 
karena juga bikin pecah, bahkan Anda sendiri juga pecah’kan sesama salafi? 
Berarti, keberadaan Anda yang  bikin pecah, seharusnya menjadi alasan agar 
kelompok Anda  ditiadakan. Tapi kite’kan  kagak tega ama ente … kalau perlu 
bubarkan kesebelasan sepak bola karena mereka juga sering bikin perpecahan 
sektarian dan suku). Saya hargai pendapat Anda, toh kalangan IM ada
 juga yang melarang da’wah parlemen dan partai seperti Sayyid Quthb dan 
adiknya, juga Fathi yakan. Tetapi apakah anda mau hargai pendapat IM? Berat … 
berat … )

 Syaikh Rasyid Ridha, Syaikh Abu Zahrah, Syaikh Ali al Khafif, Syiakh Aidh al 
Qarny, bahkan Syaikh bin Bazz membolehkan da’wah parlemen, sebagaimana dalam 
kitab Al Fikr AsSiyasy al Mua’shir ‘inda Al Ikhwan Al Muslimun. Maktabah al 
Manar al Islamiyah. Juga Syaikh Ibnu Utsaimin,  Syaikh Umar Sulaiman al Asyqar, 
Syaikh Al Maududi,Syaikh Nashir ‘Umar, Syaikh Salman al ‘Audah, Syaikh Safar al 
Hawali, Syaikh Abdurrahman As Sa’di, dll,  sebagaimana dalam buku Pemilu dan 
Parpol Dalam Perspektif Syariah Karya Abdul Karim Zaidan, Abdul Majid Az 
Zindany, dan Muhammad Yusuf Harbah. (kira-kira ‘salafiyun’ mau terima gak 
pendapat ulama-ulama ini ..?)

 Di atas contoh saja, masih banyak lagi ketidakmampuan ‘salafi’ untuk dewasa 
menghadapi perbedaan fiqih. Inga –inga … para ulama ushul berkata Al Ijtihad 
Laa yanqudhu bil Ijtihad (Ijtihad tidak bisa mementahkan  ijtihad yang lain) 
karena sama-sama ijtihad koq, bisa benar bisa salah. Tidak boleh merasa paling 
benar. Kaidah lain, Laa inkara fi masail ijtihadiyah (tidak boleh saling 
mengingkari dalam masalah yang masih ijtihadi). Perselisihan fiqih adalah ruang 
untuk toleran, bukan ruang nahi munkar. Adapun keharaman yang disepakati 
seperti mabuk, judi, korup, zina, adalah ruang untuk nahi munkar. Fahimtum ..? 
seharusnya itu agenda kita ..

7. Menuduh yang lain adalah Khawarij terhadap IM, HT, MMI.

Komentar:
 Ini namanya menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, atau maling teriak 
maling. Emangnya khawarij itu apa sih? Ciri khawarij itu, sebagaimana yang kita 
ambil pelajaran dari perilaku Dzul Khuwaisirah (Muttafaq ‘Alaih) dan juga 
sejarah lainnya tentang mereka, adalah lancang terhadap Rasulullah, keras 
sesama ahli kiblat, sementara banci terhadap orang kafir. Saat ini Rasulullah 
tidak ada, berarti pewarisnya yakni para ulama. Nah, siapakah yang hobinya 
mencaci maki para ulama?  Ayoo jujur …, terus siapa yang keras terhadap sesama 
muslim, wah jelas … sejelas matahari di siang hari, siapa yang hobi menyerang 
sana-sini sampai akhirnya sesama teman sendiri?, siapa yang justru bermesraan 
dengan Amerika Serikat bahkan meminta pertolongan mereka untuk menyerang Iraq? 
Kita juga benci karena Allah kepada Sadam, tapi apakah dibenarkan mengorbankan 
Rakyat Iraq melalui tangan kotor AS?  Jadi, sopo sing khawarij? (maka wajar 
Ust. Halawi Makmun, LC, MA. Meminta agar mereka jangan
 lagi dipanggil salafi, tetapi murji’i (murji’ah) atau khariji (khawarij). Ust. 
satu ini keras tapi lucu, dengan keras ia menyebut ‘salafi’ sesat, bodoh, 
khawarij, murjiah, bahkan ada syiahnya, bahkan untuk Luqman Ba’abduh, lantaran 
pendapatnya dalam buku Mereka Adalah Teroris! yang membolehkan meminta 
pertolongan AS untuk menyerang Irak, Ust. Halawi mengatakan itu perbuatan kafir 
dan seharusnya  langsung tebas, gak usah nunggu keputusan mahkamah. Saya juga 
tidak sreg dengan bahasa dari Ust. Halawi ini. Tapi, tidak ada asap tanpa api,  
tidak ada reaksi tanpa aksi yang memulai.) 

 Dalam ciri lainnya, khawarij itu memberontak kepada penguasa yang adil yang 
menggunakan syariat Islam yaitu Ali. Apakah ada orang IM, HT, MMI, memberontak 
kepada pemerintah yang adil? Tidak, justru mereka akan siap menjadi 
prajuritnya.  Ingat kalau pun ada IM, HT, MMI, memberontak kepada penguasa yang 
zalim, maka itu bukan termasuk khawarij. Ibnu Khaldun mengatakan menurunkan 
kekuasaan penguasa yang zalim bukanlah termasuk bughat, bahkan Ibnu hazm 
membenarkan mencopot penguasa yang zalim. Banyak ulama yang membenarkannya, 
seperti Al Ghazaly, Ar razi, dan lain-lain. Dengan syarat penguasa tersebut 
telah zalim, tidak menggunakan syariat, dll. Adapun menurut ‘salafi’, khawarij 
hukumnya jika memberontak atau melawan pemerintah yang sah.  Lho, kalau sah 
tapi zalim gimana mas?  Wah bisa-bisa  Nabi Musa juga khawarij karena melawan 
Fir’aun selaku penguasa yang sah saat itu, atau Nabi Ibrahim karena melawan 
penguasa zalim Namrudz. 

O iya, kan PKS jadi bagian dari pemerintah yang sah, nah mana mungkin mereka 
khawarij lha wong pemerintahnya dia sendiri koq, kan gak mungkin mereka 
memberontak diri sendiri. Justru bila kita gunakan jalan berfikir orang 
‘salafi’,  maka sebenarnya ‘salafi’-lah yang layak disebut bughat karena 
sehari-harinya menjelek-jelekkan PKS (pemerintah) melulu. Ayoo kena’kan …? 
Makanya kalau berpendapat pake dalil,  pendapat para ulama, berbagai sudut 
pandang, otak yang tajam, perenungan mendalam, dan hati yang jernih. Sehingga 
penuh pertimbangan dan tidak rapuh. Saya sudah menerjemahkan nasihat ulama 
Timur Tengah untuk kaum ‘salafiyun’, Insya Allah saya akan tampilkan kalau 
sikap Anda belum berubah, itu pun jika saya masih tertarik diskusi dengan Anda 
dan ada waktu luang. (Cape tau … ngurusin kaya beginian,  saya’kan juga banyak 
urusan)  
 
8. Terakhir untuk saudaraku seiman dan seperjuangan, seluruhnya tanpa kecuali … 
mari kita berjalan bersama, duduk bersama, membicarakan hal-hal yang dibutuhkan 
umat. Sungguh umat bingung melihat perilaku aktifis Islam seperti ini. Mereka 
tak ada tempat bertanya dan tak ada yang menolong ketika butuh pertolongan, 
maka datanglah misionaris yang akan menerkam mereka.  Anda tahu, bahwa orang 
kafir bertepuk tangan karena kita saling bercakaran? Jangan-jangan mereka 
mengucapkan ‘terima kasih’ karena PR mereka untuk menghancurkan  kita sudah 
diselasaikan oleh kita sendiri.

Saudaraku fiddin …Ibnu Umar pernah marah kepada pemuda yang bertanya apa hukum 
membunuh lalat, padahal di negeri pemuda itu Husein cucu nabi dipenggal 
kepalanya? Artinya, ada masalah besar di depan pemuda itu justru tidak 
ditanyakan, sementara lalat dibunuh malah ditanya. Wajar Ibnu Umar marah.  
Itulah fiqih salafus shalih. Imam al Qarrafi menyatakan bahwa ulama itu seperti 
dokter ia akan menyembuhkan penyakit yang paling membahayakan keselamatan jiwa 
pasien, sebelum penyakit yang ringan-ringan.

 Kondisi aktifis Islam hari ini, seperti seorang gadis yang bersolek di 
kamarnya, sementara rumahnya kebakaran. Ia bersolek mengurus jerawat, atau make 
up, padahal nyawanya terancam dan ia mengetahuinya, tentu gadis cerdas akan 
menelpon pemadam kebakaran, bukan semakin asyik dengan mainannya. Itulah kita, 
asyik tentang perselisihan ulama masa lalu yang memang mereka juga tidak ada 
mampu untuk sepakat, tentang maulid nabi (walau kita meyakini itu bid’ah), atau 
menggerakan jari telunjuk ketika tasyahud, zakat fithrah pakai uang atau pakai 
makanan pokok, isbal, padahal –sekali lagi- itu masalah lama yang memang tidak 
bakal selesai sampai hari kiamat. Sementara moncong tank musuh sudah di depan 
rumah kita, pesawat pengintai mereka bolak-balik masuk ke teritori kita, mereka 
menyebarkan jasus (intel) di antara umat Islam. (Myquran ada intelnya ga ya?). 
saya akui masalah perselisihan  itu juga harus diperhatikan, tapi ingat tak 
mungkin ada kata sepakat! Sekuat apapun anda
 mencoba menjelaskan dalil, sebab para ulama dahulu juga tidak mampu. .Kalau 
tahu demikian, maka gunakanlah senjata kita baik berupa tulisan, lisan, hujjah, 
untuk melawan kaum yang benar-benar memusuhi seperti AS, Inggris, Australi, 
Israel, atau musuh dalam selimut seperti JIL, Ahmadiyah, LDII, Inkar Sunnah, 
NII, dan sempalan lainnya.

Ada hadits-hadits yang cocok banget buat para pemuda yang suka nyalah-nyalahin 
orang, mencela ulama, berbangga dengan ilmu padahal masih belajar, doyan jidal, 
tidak hormat dengan yang lebih tua. Ini bukan hanya untuk ‘salafi’ tapi untuk 
yang lain juga. Sebab perilaku Khawarij  mungkin saja dilakukan oleh yang 
lainnya.

Akan datang di akhir zaman, anak-anak muda yang mempunyai impian bodoh, mereka 
mengucapkan sebaik-baiknya ucapan makhluk, mereka menyimpang dari Islam seperti 
lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak lebih dari kerongkongan 
mereka. Maka di mana pun kalian menemui mereka maka perangilah mereka, 
sesungguhnya memerangi mereka akan mendapat balasan di akhirat kelak. (HR. 
Bukhari)
 
Sesungguhnya yang paling Allah benci adalah orang yang sengit dalam berdebat 
(HR. Bukhari)

Jangan kalian menuntut ilmu untuk berbangga-bangga di depan ulama, membantah 
orang bodoh, dan jangan memilih-milih majelis, barang siapa yang melakukan itu 
.. neraka, neraka (HR. Ibnu Majah dan  Ibnu Hibban)

Tidaklah tersesat sebuah kaum yang telah mendapat hidayah, kecuali jika mereka 
larut dalam perdebatan. (HR. Tirmidzi, hasan shahih dan Ibnu Majah)

Seorang mu’min itu bukanlah yang suka melaknat (HR. Tirmidzi, hasan)

Bukan golongan umatku yang tidak menghormati orang besar kami, tidak menyayangi 
anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak orang alim kami. (HR. Ahmad dan 
Thabrani, hasan)


 Semoga Allah memaafkan saya, Astaghfirullahal ‘Azim, dan mohon maaf kepada 
‘salafi’ kalau ada kata-kata ynag memanaskan telinga, sungguh IM, HT, MMI, dan 
JT, sebelumnya amat sering merasakan itu (bahkan lebih perih rasanya),  yang 
terlontar dari lisan  atau tulisan kelompok ‘salafi.’ Anda. Namun pada akhirnya 
menjadi biasa dan kebal. 

Hadanallahu wa Iyyakum. Wallahu A’lam bish Shawab
       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke