ETOS KERJA ISLAMI
Firman Allah SWT:
“Dialah Yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala
penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu
(kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk:5)
Islam menghendaki setiap individu hidup di tengah masyarakat secara layak
sebagai manusia, paling kurang ia dapat memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang
dan pangan, memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahliannya, atau membina rumah
tangga dengan bekal yang cukup. Artinya, bagi setiap orang harus tersedia
tingkat kehidupan yang sesuai dengan kondisinya, sehingga ia mampu melaksanakan
berbagai kewajiban yang dibebankan Allah serta berbagai tugas lainnya. Untuk
mewujudkan hal itu, Islam mengajarkan, setiap orang dituntut untuk bekerja atau
berusaha, menyebar di muka bumi, dan memanfaatkan rezeki pemberian Allah SWT.
Kata “bekerja” dalam ayat di atas mengandung arti sebagai suatu usaha yang
dilakukan seseorang, baik sendiri atau bersama orang lain, untuk memproduksi
suatu komoditi atau memberikan jasa. Kerja atau berusaha merupakan senjata
utama untuk memerangi kemiskinan dan juga merupakan faktor utama untuk
memperoleh penghasilan dan unsur penting untuk memakmurkan bumi dengan manusia
sebagai kalifah seizin Allah.\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New
Roman\" size\u003d\"3\"\>Ajaran Islam, menyingkirkan semua faktor penghalang
yang menghambat seseorang untuk bekerja dan berusaha di muka bumi. Banyak\n
ajaran Islam yang secara idealis memotivasi seseorang, seringkali menjadi
kontra produktif dalam pengamalannya. Ajaran “\u003ci\>tawakkal\u003c/i\>” yang
seringkali
diartikan sebagai sikap pasrah tidaklah berarti meninggalkan kerja dan usaha
yang merupakan sarana untuk memperoleh rezeki. Nabi Muhammad SAW, dalam
sejumlah hadits, sangat menghargai “\u003ci\>kerja\u003c/i\>”, seperti salah
satu haditsnya yang berbunyi, “\u003ci\>Jika kalian tawakkal kepada Allah
dengan sebenar-benar tawakkal, Allah akan memberi kalian rezeki seperti Dia
memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya pada pagi hari
dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut kenyang.\u003c/i\>”
\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cspan\>\u003cfont face\u003d\"Times New
Roman\" size\u003d\"3\"\>\u003c/font\>\u003c/span\> \u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"
size\u003d\"3\"\>Hadits di atas sebenarnya menganjurkan\n orang untuk bekerja,
bahkan harus meninggalkan tempat tinggal pada pagi hari untuk mencari nafkah,
bukan sebaliknya
pasrah berdiam diri di tempat tinggal menunggu tersedianya kebutuhan hidup.
Hal ini dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW yang berdagang lewat jalan
darat dan laut dengan gigih dan ulet. Mereka bekerja dan berusaha sesuai dengan
kemampuan dan keahliannya masing-masing.\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New
Roman\" size\u003d\"3\"\>Dalam beberapa ayat di Al Qur’an, Allah telah menjamin
rezeki dalam kehidupan seseorang, namun tidak akan diperoleh kecuali dengan
bekerja atau berusaha, antara lain pada Surah Al-Jumu’ah ayat 10, dinyatakan;
“\u003ci\>Apabila telah ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah di muka bumi dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah\n banyak-banyak supaya kamu
beruntung",1] ); //-->
Ajaran Islam, menyingkirkan semua faktor penghalang yang menghambat seseorang
untuk bekerja dan berusaha di muka bumi. Banyak ajaran Islam yang secara
idealis memotivasi seseorang, seringkali menjadi kontra produktif dalam
pengamalannya. Ajaran “tawakkal” yang seringkali diartikan sebagai sikap pasrah
tidaklah berarti meninggalkan kerja dan usaha yang merupakan sarana untuk
memperoleh rezeki. Nabi Muhammad SAW, dalam sejumlah hadits, sangat menghargai
“kerja”, seperti salah satu haditsnya yang berbunyi, “Jika kalian tawakkal
kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Allah akan memberi kalian rezeki
seperti Dia memberi rezeki kepada burung yang terbang tinggi dari sarangnya
pada pagi hari dengan perut kosong dan pulang di sore hari dengan perut
kenyang.”
Hadits di atas sebenarnya menganjurkan orang untuk bekerja, bahkan harus
meninggalkan tempat tinggal pada pagi hari untuk mencari nafkah, bukan
sebaliknya pasrah berdiam diri di tempat tinggal menunggu tersedianya kebutuhan
hidup. Hal ini dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah SAW yang berdagang
lewat jalan darat dan laut dengan gigih dan ulet. Mereka bekerja dan berusaha
sesuai dengan kemampuan dan keahliannya masing-masing.
Dalam beberapa ayat di Al Qur’an, Allah telah menjamin rezeki dalam kehidupan
seseorang, namun tidak akan diperoleh kecuali dengan bekerja atau berusaha,
antara lain pada Surah Al-Jumu’ah ayat 10, dinyatakan; “Apabila telah
ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah
dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New
Roman\" size\u003d\"3\"\>Hal ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki adanya
etos kerja yang tinggi bagi umatnya dalam memenuhi keinginannya, bukan
semata-mata hanya dengan berdoa. Bahkan untuk memotivasi kegiatan perdagangan
(bisnis), Rasulullah SAW bersabda: \u003ci\>“Pedagang yang lurus dan jujur
kelak akan tinggal bersama para nabi, siddiqin, dan
syuhada.\u003c/i\>” (HR Tirmidzi). Dan pada hadits yang lain Rasulullah SAW
menyatakan bahwa: “\u003ci\>Makanan yang paling baik dimakan oleh seseorang
adalah hasil usaha tangannya sendiri\u003c/i\>.” (H.R.
Bukhari)\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New\n Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New
Roman\" size\u003d\"3\"\>Islam juga mengajarkan bahwa apabila peluang kerja
atau berusaha di tempat tinggal asal (kampung halaman) tertutup, maka
orang-orang yang mengalami hal tersebut dianjurkan merantau
(\u003ci\>hijrah\u003c/i\>) untuk memperbaiki kondisi kehidupannya karena bumi
Allah luas dan rezeki-Nya tidak terbatas di suatu tempat, sebagaimana Firman
Allah SWT: \u003ci\>“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka
mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki
yang banyak…...”\u003c/i\> (QS. an-Nisa’:100)\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont
size\u003d\"3\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\>
\u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv\>\u003cfont face\u003d\"Times
New Roman\" size\u003d\"3\"\>Ajaran Islam, sangat memotivasi seseorang untuk
bekerja atau berusaha, dan menentang\n keras untuk meminta-minta (mengemis)
kepada orang lain. Islam tidak membolehkan kaum penganggur dan pemalas menerima
shadaqah, tetapi orang tersebut harus didorong agar mau bekerja dan mencari
rezeki yang halal sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang berbunyi,
\u003ci\>“Bila seseorang meminta-minta harta kepada orang lain untuk
mengumpulkannya, sesungguhnya dia mengemis bara api. Sebaiknya ia mengumpulkan
harta sendiri\u003c/i\>",1] ); //-->.”
Hal ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki adanya etos kerja yang tinggi
bagi umatnya dalam memenuhi keinginannya, bukan semata-mata hanya dengan
berdoa. Bahkan untuk memotivasi kegiatan perdagangan (bisnis), Rasulullah SAW
bersabda: “Pedagang yang lurus dan jujur kelak akan tinggal bersama para nabi,
siddiqin, dan syuhada.” (HR Tirmidzi). Dan pada hadits yang lain Rasulullah SAW
menyatakan bahwa: “Makanan yang paling baik dimakan oleh seseorang adalah hasil
usaha tangannya sendiri.” (H.R. Bukhari)
Islam juga mengajarkan bahwa apabila peluang kerja atau berusaha di tempat
tinggal asal (kampung halaman) tertutup, maka orang-orang yang mengalami hal
tersebut dianjurkan merantau (hijrah) untuk memperbaiki kondisi kehidupannya
karena bumi Allah luas dan rezeki-Nya tidak terbatas di suatu tempat,
sebagaimana Firman Allah SWT: “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya
mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang
banyak…...” (QS. an-Nisa’:100)
Ajaran Islam, sangat memotivasi seseorang untuk bekerja atau berusaha, dan
menentang keras untuk meminta-minta (mengemis) kepada orang lain. Islam tidak
membolehkan kaum penganggur dan pemalas menerima shadaqah, tetapi orang
tersebut harus didorong agar mau bekerja dan mencari rezeki yang halal
sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang berbunyi, “Bila seseorang meminta-minta
harta kepada orang lain untuk mengumpulkannya, sesungguhnya dia mengemis bara
api. Sebaiknya ia mengumpulkan harta sendiriRabbul’alamin\u003c/i\>, hak tempat
meminta, dan hak pengemis itu sendiri.\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New
Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\" size\u003d\"3\"\>Tindakan zalim terhadap hak
Rabbul’alamin\n artinya meminta, berharap, menghinakan diri, dan tunduk kepada
selain Allah. Ia meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, mempersembahkan
sesuatu
bukan kepada yang berhak, dan berlaku zalim terhadap tauhid dan keikhlasan.
Berlaku zalim terhadap tempat meminta artinya menzalimi orang yang diminta
sebab dengan mengajukan permintaan, ia menghadapkan orang yang diminta kepada
pilihan sulit antara memuhi permintaannya atau menolaknya. Jika orang itu
terpaksa memnuhi permintaanya, ada kemungkinan disertai dengan rasa dongkol.
Namun bila tidak memberi, orang itu akan merasa malu. Sedangkan berlaku zalim
terhadap diri sendiri artinya seorang pengemis menghina diri sendiri, menghamba
bukan kepada Sang Pencipta, merendahkan martabat diri, dan rela menundukkan
kepala kepada sesama makhluk. Ia menjual kesabaran, ketawakkalan, dan
melalaikan tindakan mencegah diri dari mengemis kepada orang
lain.\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv\>\u003cfont
size\u003d\"3\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\>
\u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv\>\u003cfont face\u003d\"Times
New Roman\" size\u003d\"3\"\>Islam menuntun
setiap orang untuk mendayagunakan semua potensi dan mengarahkan segala
dayanya, betapa pun kecilnya. Islam melarang seseorang mengemis sedangkan ia
mempunyai sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk membuka peluang kerja yang akan
mencukupi kebutuhannya. \u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv\>\u003cfont
size\u003d\"3\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\>
\u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv\>\u003cfont face\u003d\"Times
New Roman\" size\u003d\"3\"\>Islam mengajarkan, bahwa semua usaha yang dapat
mendatangkan rezeki yang halal adalah sesuatu yang mulia, walaupun rezeki itu
diperoleh dengan susah payah daripada mengemis dan meminta-minta kepada orang
lain. Islam membimbing seseorang agar melakukan pekerjaan sesuai dengan
kepribadian, kemampuan, dan kondisi lingkungannya, serta\n tidak membiarkan si
lemah terombang-ambing tanpa pegangan.",1] ); //-->.” (H.R. Muslim). Oleh
karena itu, Islam, memberikan peringatan keras kepada yang meminta-minta
(mengemis),
sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim, bahwa mengemis kepada orang
lain adalah tindakan zalim terhadap Rabbul’alamin, hak tempat meminta, dan hak
pengemis itu sendiri.
Tindakan zalim terhadap hak Rabbul’alamin artinya meminta, berharap,
menghinakan diri, dan tunduk kepada selain Allah. Ia meletakkan sesuatu tidak
pada tempatnya, mempersembahkan sesuatu bukan kepada yang berhak, dan berlaku
zalim terhadap tauhid dan keikhlasan. Berlaku zalim terhadap tempat meminta
artinya menzalimi orang yang diminta sebab dengan mengajukan permintaan, ia
menghadapkan orang yang diminta kepada pilihan sulit antara memuhi
permintaannya atau menolaknya. Jika orang itu terpaksa memnuhi permintaanya,
ada kemungkinan disertai dengan rasa dongkol. Namun bila tidak memberi, orang
itu akan merasa malu. Sedangkan berlaku zalim terhadap diri sendiri artinya
seorang pengemis menghina diri sendiri, menghamba bukan kepada Sang Pencipta,
merendahkan martabat diri, dan rela menundukkan kepala kepada sesama makhluk.
Ia menjual kesabaran, ketawakkalan, dan melalaikan tindakan mencegah diri dari
mengemis kepada orang lain.
Islam menuntun setiap orang untuk mendayagunakan semua potensi dan
mengarahkan segala dayanya, betapa pun kecilnya. Islam melarang seseorang
mengemis sedangkan ia mempunyai sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk membuka
peluang kerja yang akan mencukupi kebutuhannya.
Islam mengajarkan, bahwa semua usaha yang dapat mendatangkan rezeki yang
halal adalah sesuatu yang mulia, walaupun rezeki itu diperoleh dengan susah
payah daripada mengemis dan meminta-minta kepada orang lain. Islam membimbing
seseorang agar melakukan pekerjaan sesuai dengan kepribadian, kemampuan, dan
kondisi lingkungannya, serta tidak membiarkan si lemah terombang-ambing tanpa
pegangan.\u003c/div\> \u003cdiv\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New
Roman\" size\u003d\"3\"\>Masyarakat Islam, baik penguasa maupun rakyat, diminta
untuk mengerahkan segenap potensinya untuk menghilangkan kemiskinan. Mereka
harus memanfaatkan semua kekayaan, sumber daya manusia maupun sumber daya alam
sehingga akan meningkatkan produksi serta berkembangnya berbagai sumber
kekayaan secara umum yang akan berdampak dalam pengentasan umat dari
kemiskinan.\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New
Roman\" size\u003d\"3\"\>Umat Islam diminta bergandengtangan\n menghilangkan
semua cacat yang dapat merusak bangunan masyarakatnya. Masyarakat Islam
dituntut menciptakan lapangan kerja dan membuka pintu untuk berusaha
(berbisnis). Di samping itu, juga harus menyiapkan tenaga-tenaga ahli yang akan
menangani pekerjaan tersebut. Hal ini merupakan kewajiban kolektif umat Islam.
Namun, realitas yang ada di masyarakat Islam saat ini sangat jauh dari
idealisme yang diajarkan Islam dalam memotivasi seseorang untuk menjadi
berhasil dalam kehidupannya.\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\>
\u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"
size\u003d\"3\"\>Faktor utama untuk kembali kepada ajaran motivasi Islam yang
berorientasi kepada \u003cb\>\u003ci\>falah oriented\u003c/i\>\u003c/b\>, yakni
menuju kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat, adalah membangkitkan
kembali semangat ukhuwah islamiyah di\n antara kita. Hal ini merupakan tugas
kita semua secara bersama-sama sebagai umat Muslim yang peduli terhadap
keluarga kita umat Islam di seluruh jagad raya agar tidak tertinggal dan dapat
“\u003ci\>duduk sama rendah berdiri sama tinggi”\u003c/i\> dengan umat lainnya
di muka bumi ini. Dan, terakhir, perlu kita sadari, bahwa Allah SWT tidak akan
mengubah nasib kita tanpa kita sendiri mengubah nasib kita, dan oleh karena itu
kita harus menjaga dan meningkatkan etos kerja kita agar kita tidak tertinggal
oleh yang lain, sebagaimana firman Allah SWT:",1] ); //-->
Masyarakat Islam, baik penguasa maupun rakyat, diminta untuk mengerahkan
segenap potensinya untuk menghilangkan kemiskinan. Mereka harus memanfaatkan
semua kekayaan, sumber daya manusia maupun sumber daya alam sehingga akan
meningkatkan produksi serta berkembangnya berbagai sumber kekayaan secara umum
yang akan berdampak dalam pengentasan umat dari kemiskinan.
Umat Islam diminta bergandengtangan menghilangkan semua cacat yang dapat
merusak bangunan masyarakatnya. Masyarakat Islam dituntut menciptakan lapangan
kerja dan membuka pintu untuk berusaha (berbisnis). Di samping itu, juga harus
menyiapkan tenaga-tenaga ahli yang akan menangani pekerjaan tersebut. Hal ini
merupakan kewajiban kolektif umat Islam. Namun, realitas yang ada di masyarakat
Islam saat ini sangat jauh dari idealisme yang diajarkan Islam dalam memotivasi
seseorang untuk menjadi berhasil dalam kehidupannya.
Faktor utama untuk kembali kepada ajaran motivasi Islam yang berorientasi
kepada falah oriented, yakni menuju kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di
akhirat, adalah membangkitkan kembali semangat ukhuwah islamiyah di antara
kita. Hal ini merupakan tugas kita semua secara bersama-sama sebagai umat
Muslim yang peduli terhadap keluarga kita umat Islam di seluruh jagad raya agar
tidak tertinggal dan dapat “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” dengan umat
lainnya di muka bumi ini. Dan, terakhir, perlu kita sadari, bahwa Allah SWT
tidak akan mengubah nasib kita tanpa kita sendiri mengubah nasib kita, dan oleh
karena itu kita harus menjaga dan meningkatkan etos kerja kita agar kita tidak
tertinggal oleh yang lain, sebagaimana firman Allah SWT:\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\>\u003ci\>“Bagi manusia ada malaikat-malaikat
yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
merubah keadaan suatu kaum sehinga mereka merubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri………” \u003c/i\>(QS.13/ ar-Ra’d:
11)\u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont
size\u003d\"3\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\>
\u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\>Penulis: \u003cb\>MERZA
GAMAL\u003c/b\>\u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont
size\u003d\"3\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New Roman\"\>
\u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\> \u003cdiv
style\u003d\"text-align:justify\"\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont
face\u003d\"Times New Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\>
\u003cdiv\>\u003cfont size\u003d\"3\"\>\u003cfont face\u003d\"Times New
Roman\"\> \u003c/font\>\u003c/font\>\u003c/div\>\u003cp\> \n\n\n\n
\u003chr size\u003d\"1\"\>Ahhh...imagining that irresistible "new car"
smell?\u003cbr\> Check out\n\u003ca
href\u003d\"http://us.rd.yahoo.com/evt\u003d48245/*http://autos.yahoo.com/new_cars.html;_ylc\u003dX3oDMTE1YW1jcXJ2BF9TAzk3MTA3MDc2BHNlYwNtYWlsdGFncwRzbGsDbmV3LWNhcnM-\"
target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return
top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\>new cars at Yahoo!
Autos.\u003c/a\>\n\u003c/p\>\n \u003c/p\>\u003c/div\> \n\n \n
\u003cspan width\u003d\"1\"
style\u003d\"color:white\"\>__._,_.___\u003c/span\>\n \n \u003cdiv\>\n
\u003cspan\>\n
\u003ca
href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-syariah/message/10150;_ylc\u003dX3oDMTM2cnVscjkzBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzI2NTEyNDEEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDA0Mzc1BG1zZ0lkAzEwMTUwBHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTE3Njc3NDMyMQR0cGNJZAMxMDE1MA--\"
target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return
top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\>\n Messages in this topic
\u003c/a\> (\u003cspan\>1\u003c/span\>)\n \u003c/span\>\n
\u003ca
href\u003d\"http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-syariah/post;_ylc\u003dX3oDMTJxZWJvOGFxBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzI2NTEyNDEEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDA0Mzc1BG1zZ0lkAzEwMTUwBHNlYwNmdHIEc2xrA3JwbHkEc3RpbWUDMTE3Njc3NDMyMQ--?act\u003dreply&messageNum\u003d10150\"
target\u003d\"_blank\" onclick\u003d\"return
top.js.OpenExtLink(window,event,this)\"\>",1] ); //-->
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di
muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehinga mereka merubah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri………” (QS.13/ ar-Ra’d: 11)
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************