Assalaamu’alaikum,

 

Apakah Perbedaan itu berarti juga perselisihan? …. Rasanya sih nggak ….
Mungkin perselisihan itu muncul karena dirasakan berselisih … dan
diselisih-selisihkan.

Perbedaan pendapat yang ada diantara 4 Madzhab yang terkenal sepertinya
tidak pernah kita baca atau dengar bahwa ke Empat Imam dari 4 Madzhab
tersebut saling berselisih dan saling merasa bahwa masing2nya adalah benar
sendiri dan yang lainnya dianggap salah.

Mungkin sedikit saya kutip sebuah kisah yang mungkin saudara2ku sudah
pernah dengar atau baca yaitu tentang kisah perjalanan dua orang sahabat
yang dalam perjalanan tidak menemukan air sementara waktu shalat sudah
masuk lalu keduanya pun terpaksa bertayamum, namun setelah melanjutkan
perjalanan ternyata menemukan air lalu timbul perbedaan karena Shahabat
yang 1 merasa harus mengulangi shalatnya semenatara yang satu lagi nggak
perlu lagi dan terjadilah perbedaan ini. Setelah sampai dan bertemu
Rosulullah Saw kejadian ini lalu disampaikan oleh Shahabat tadi dan apa
Jawaban Nabi : Dua2nya dibenarkan, namun yang shalat lagi mendapat 2 pahala.

Apa yang kita bisa ambil sari sini… Di zaman Nabi saja para Shahabat ada
yang berbeda namun tidak berselisih atau berantem dan Nabi tidak pernah
kita dengar Menyalah2kan yang satu dan membenarkan yang lain.

 

Apakah antum tahu kenapa sampai timbul perbedaan pendapat yang antum anggap
berselisih? Kalo antum bermaksud menyatukan ke satu pemahaman berarti antum
sudah menganggap pendapat yang diluar yang antum yakini adalah salahkah?

 

Wassalam,

Mht

 

  _____  

From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
net] On Behalf Of ADE FIRMANSYAH
Sent: Monday, May 07, 2007 4:03 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Subject: [ FUPM-EJIP ] DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU

 

 

DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU

Berkata sebagian kaum Muslimin : “Biarkanlah keragaman pendapat yang ada
di tubuh kaum Muslimin tentang agama mereka tumbuh subur dan berkembang,
asalkan setiap perselisihan dibawa ketempat yang sejuk.” Alasan mereka
didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang-ulang dalam setiap
kesempatan, yaitu hadits: “Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat“
Benarkah ungkapan ini? benarkah Rasulullah mengucapkan hadits tersebut? 

Apa kata Muhadditsin tentang hadits tersebut?? 

Syaikh Al-Albani rahimahulah berkata: “Hadits tersebut tidak ada
asalnya”. [Adh-Dha’ifah :II \ 76-85] 

Imam As-Subki berkata: “Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya
belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun
maudhu (palsu).” 

Syaikh Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata: “ini adalah hadits bathil
dan kebohongan.” [Ushul Al-Bida’] 

Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh para ulama. 

Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalam Al-Ahkam Fii Ushuli Ahkam (5/64)
setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits: “Dan ini adalah perkataan yang
paling rusak, sebab jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti
persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim,
karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan
adzhab.” 

Bagaimanakah daya rusak hadits palsu tersebut terhadap Islam ?? 

1. Mengekalkan perpecahan dalam Islam 

Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah tikaman para pembawanya bagi
persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa panji-panji sunnah menyeru
umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode) yang shahih. Tiba-
tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada persatuan Islam dengan
berkata: “Biarkanlah kaum muslimin dengan keyakinannya masing-masing ,
biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya masing-masing dalam berjalan
menuju Allah, janganlah memaksakan perselisihan yang ada harus seragam
dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang pasir 15 abad yang
lalu. Karena Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda: ”
perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat.” 

Allahu Akbar…!! Alangkah kejinya ungkapan tersebut dan banyak lagi
perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum muslimin abadi di dalam
aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam Al-Qur’an melarang
berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Seperti Firman
Allah dalam: 

Ø Surat Al-Anfal ayat 46 yang artinya; “Jangan kamu berselisih, karena
kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” 

Ø Surat Ar-Rum ayat 31-32: ” Jangan kamu seperti orang-orang yang
musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan.
Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” 

Ø Surat Hud ayat: 118-119: ” Mereka terus-menerus berselisih kecuali
orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu.” 

Dan kita diperintah Allah Subhanahuwata’ala untuk bersatu dalam Aqidah dan
manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya.
Sebagaimana Firman Allah Subhhanahu wata’ala dalam surat Al-An’am ayat:
153 yang artinya: “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku
yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan
(yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.
Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” Dan
kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-
Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya membiarkan perselisihan aqidah
dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di tengah ummat dengan dalih
sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan surat An-Nisa’ ayat 59 yang
artinya: ” Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah
(Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih
baik akibatnya.” 

2. Kaum muslimin tidak lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi
sandaran kebenaran dan hakim 

Syaikh Al-Albani berkata: “Diantara dampak buruk hadits ini adalah banyak
kaum muslimin yang mengakui terjadinya perselisihan sengit yang terjadi
diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali berupaya untuk
mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits.” [Adh-Dha’ifah: I/76] 

Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam
ketika mengadu kepada-Nya: “Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya
kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” [QS. Al-
Furqan:30]. Sungguh hal itu terulang kembali di zaman ini dikarenakan
hadist palsu yang menggerogoti ummat. 

3. Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik yang jaya di atas umat yang
lainnya. 

ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi dinding bagi seorang muslim
untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, seorang muslim tidak lagi menegur
saudaranya yang berbuat salah dalam syirik, kekufuran, dan bid’ah serta
maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut. Karena mereka menganggap
semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya adalah rahmat, sehingga
tidak perlu untuk ber-nahi mungkar. Akibatnya, predikat ummat terbaik tidak
lagi disandang oleh umat islam, karena telah meninggalkan syaratnya yakni
Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali-
’Imran ayat:110 yang artinya: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang
mungkar, dan beriman kepada Allah. 

4. Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi, karena berkata dengan
mengatasnamakan Rasulullah secara dusta. 

 Rasulullah bersabda : “Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja,
maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya dari api neraka” [Riwayat
Bukhari-Muslim]. Hendaklah takut orang-orang yang mengada-adakan perkataan
dusta atas nama Rasulullah, demikian pula orang-orang yang menyebarkan dan
mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah yang hanya muncul dari prasangka
belaka yang padahal prasangka itu adalah seburuk-buruk perkataan. 

5. Meninggalkan perintah Allah 

Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu tesebut, karena ketika seseorang
mentolelir perselisihan aqidah, halal dan haram, serta segala sesuatu yang
telah tegas digariskan oleh dua wahyu, maka di saat yang sama ia telah
meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan setiap perselisihan kepada Al-
Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman : “Jika kamu berselisih
pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-
Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang
demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa:59] 

6. Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta membuka jalan bagi orang-orang
kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam 

Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya “ushul bida” mengisyaratkan dampak buruk
hadist tersebut yang dapat melemahkan kaum muslimin dan menjatuhkan
kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu tersebut menebarkan benih-
benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan Allah berfirman
:“Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang
kewibawaan kamu.” [Al-Anfal: 46] 

. . . . kepada mereka ! ! ! Tukang mengada-ada 

Simaklah firman Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berikut : “Seandainya dia [Muhammad] mengada-adakan sebagian perkataan
atas nama Kami [Allah], niscaya benar-benar Kami pegang ia pada tangan
kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya”
[QS. Al-Haqqah : 44 - 46] 

Mereka. . .!!! 

Tukang mengada-ada atas nama Allah dan Rasul-Nya.Para pembuat hadist palsu
yang telah mendahului Allah dalam Syari’at.Para penebar hadist-hadist
dusta yang telah mengotori Sunnah yang suci. 

Tidakkah mereka takut akan ayat di atas ? ? 

Mereka bukan Rasul sebagaimana Allah telah mengangkat Muhammad sebagai
Rasul. Mereka bukan kekasih Allah sebagaimana Ia telah menjadikan Muhammad
sebagai kekasih-Nya. Bukan pula mereka orang-orang yang disucikan oleh
Allah sebagaimana Allah telah mensucikan Muhammad dari dosa. 

Sungguh Allah telah mengancam keras Kekasih-Nya dalam ayat tersebut dengan
berfirman: “Kami potongan tali urat jantungnya” 

Lalu apakah MEREKA merasa aman ??? 

Al-Hafidz Abul Khathab bin Dihyah berkata : “Jagalah dirimu wahai hamba-
hamba Allah dari kebohongan orang yang meriwayatkan kepadamu hadist yang
dikemukakan untuk memaparkan kebaikan. Sebab melakukan kebaikan harus
berdasarkan syari’at dari Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam. Jika
ternyata dia bohong maka dia keluar dari yang disyari’atkan dan berkhidmat
kepada Syaithan karena dia menggunakan hadist atas nama Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berdasarkan keterangan dari
Allah.” [Ma jaa fi Syahri Sya’ban, dinukil darinya oleh Abu Syamah dalam
“Al-Baits :127″] 

Maraji’:
Ushul bida’ Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid]
Sifatush shalaty An-Naby Shallallahu’alaihi wa sallam [Syaikh Muhammad
Nasyaruddin Al-Albani dan sumber-sumber lainnya; dari Al-Hujjah Risalah No:
45 / Thn IV / Muharram / 1423H, sumber: bloq abu salma 

 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke