Waalaikum salam.. Menurut saya... perbedaan sama dengan perselisihan (berbeda pendapat = berselisih pendapat), dimana keduanya menyatakan tentang adanya gap... Tidak ada konsekuensi dari keduanya... Namun bila ada pihak ketiga yang menginginkan situasi menjadi sulit.. Maka perbedaan / perselisihan dapat mengakibatkan perpecahan. Bagian manakah dari artikel tersebut yang menyatakan bahwa pendapat saya adalah benar???? Kembali ke artikel/pembahasan yang saya copy paste and posteing. Menurut antum Gimana?? Wassalam
-------------------------- Original Message ---------------------------- >From : [EMAIL PROTECTED] >Sent : 2007-05-07 5:02:25 PM >To : 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP' [EMAIL PROTECTED] >Subject : Re: [ FUPM-EJIP ] DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU Assalaamu’alaikum, Apakah Perbedaan itu berarti juga perselisihan? …. Rasanya sih nggak …. Mungkin perselisihan itu muncul karena dirasakan berselisih … dan diselisih-selisihkan. Perbedaan pendapat yang ada diantara 4 Madzhab yang terkenal sepertinya tidak pernah kita baca atau dengar bahwa ke Empat Imam dari 4 Madzhab tersebut saling berselisih dan saling merasa bahwa masing2nya adalah benar sendiri dan yang lainnya dianggap salah. Mungkin sedikit saya kutip sebuah kisah yang mungkin saudara2ku sudah pernah dengar atau baca yaitu tentang kisah perjalanan dua orang sahabat yang dalam perjalanan tidak menemukan air sementara waktu shalat sudah masuk lalu keduanya pun terpaksa bertayamum, namun setelah melanjutkan perjalanan ternyata menemukan air lalu timbul perbedaan karena Shahabat yang 1 merasa harus mengulangi shalatnya semenatara yang satu lagi nggak perlu lagi dan terjadilah perbedaan ini. Setelah sampai dan bertemu Rosulullah Saw kejadian ini lalu disampaikan oleh Shahabat tadi dan apa Jawaban Nabi : Dua2nya dibenarkan, namun yang shalat lagi mendapat 2 pahala. Apa yang kita bisa ambil sari sini… Di zaman Nabi saja para Shahabat ada yang berbeda namun tidak berselisih atau berantem dan Nabi tidak pernah kita dengar Menyalah2kan yang satu dan membenarkan yang lain. Apakah antum tahu kenapa sampai timbul perbedaan pendapat yang antum anggap berselisih?Kalo antum bermaksud menyatukan ke satu pemahaman berarti antum sudah menganggap pendapat yang diluar yang antum yakini adalah salahkah? Wassalam, Mht From:[EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf OfADE FIRMANSYAH Sent:Monday, May 07, 2007 4:03 PM To:[EMAIL PROTECTED]; [email protected] Subject:[ FUPM-EJIP ] DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU DAYA RUSAK SEBUAH HADITS PALSU Berkata sebagian kaum Muslimin : “Biarkanlah keragaman pendapat yang ada di tubuh kaum Muslimin tentang agama mereka tumbuh subur dan berkembang, asalkan setiap perselisihan dibawa ketempat yang sejuk.”Alasan mereka didasarkan pada sebuah hadits yang selalu mereka ulang-ulang dalam setiap kesempatan, yaitu hadits:“Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat“ Benarkah ungkapan ini? benarkah Rasulullah mengucapkan hadits tersebut? Apa kata Muhadditsin tentang hadits tersebut?? Syaikh Al-Albanirahimahulah berkata:“Hadits tersebut tidak ada asalnya”.[Adh-Dha’ifah :II \ 76-85] Imam As-Subki berkata:“Hadits ini tidak dikenal oleh ahli hadits dan saya belum mendapatkannya baik dengan sanad shahih, dha’if (lemah), maupun maudhu (palsu).” Syaikh Ali-hasan Al-Halaby Al-Atsari berkata:“ini adalah hadits bathil dan kebohongan.” [Ushul Al-Bida’] Dan dari sisi makna hadits ini disalahkan oleh para ulama. Al-‘Alamah Ibnu Hazm berkata dalamAl-Ahkam Fii Ushuli Ahkam (5/64) setelah menjelaskan bahwa ini bukan hadits:“Dan ini adalah perkataan yang paling rusak, sebab jika perselisihan itu adalah rahmat, maka berarti persatuan adalah adzhab. Ini tidak mungkin dikatakan oleh seorang muslim, karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan, rahmat dan adzhab.” Bagaimanakah daya rusak hadits palsu tersebut terhadap Islam ?? 1. Mengekalkan perpecahan dalam Islam Tidak ragu lagi bahwa hadits tersebut adalah tikaman para pembawanya bagi persatuan Islam yang haqiqi. Ketika para pembawa panji-panji sunnah menyeru umat kepada persatuan Aqidah dan Manhaj (jalan/metode) yang shahih. Tiba-tiba muncul orang-orang yang mengaku mengajak kepada persatuan Islam dengan berkata: “Biarkanlah kaum muslimin dengan keyakinannya masing-masing , biarkanlah kaum muslimin dengan metodenya masing-masing dalam berjalan menuju Allah, janganlah memaksakan perselisihan yang ada harus seragam dengan keyakinan dan pola pikir orang-orang arab padang pasir 15 abad yang lalu. Karena Rasulullah shallallahu’alihi wasallam bersabda:”perselisihan pendapat pada umatku adalah rahmat.” Allahu Akbar…!! Alangkah kejinya ungkapan tersebut dan banyak lagi perkataan yang semisalnya yang mengakibatkan kaum muslimin abadi di dalam aqidah dan manhaj yang berbeda. Padahal ayat-ayat dalam Al-Qur’an melarang berselisih pendapat dalam urusan agama dan menyuruh bersatu. Seperti Firman Allah dalam: Ø SuratAl-Anfal ayat 46 yang artinya;“Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” Ø SuratAr-Rum ayat 31-32:”Jangan kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” Ø SuratHud ayat: 118-119:”Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhanmu.” Dan kita diperintah Allah Subhanahuwata’ala untuk bersatu dalam Aqidah dan manhaj diatas Aqidah dan Manhajnya Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana Firman Allah Subhhanahu wata’ala dalam suratAl-An’am ayat: 153 yang artinya:“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” Dan kita diperintahkan Allah untuk merujuk bersama kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika terjadi perselisihan, bukannya membiarkan perselisihan aqidah dan hal-hal yang pokok dalam agama meradang di tengah ummat dengan dalih sepotong hadist palsu. Firman-Nya dalan suratAn-Nisa’ayat 59yang artinya:”Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” 2. Kaum muslimin tidak lagi menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagi sandaran kebenaran dan hakim Syaikh Al-Albani berkata:“Diantara dampak buruk hadits ini adalah banyak kaum muslimin yang mengakui terjadinya perselisihan sengit yang terjadi diantara 4 madzab dan tidak pernah sama sekali berupaya untuk mengembalikannya kepada Al-Qu’an dan Al-Hadits.” [Adh-Dha’ifah: I/76] Allah berfirman menceritakan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam ketika mengadu kepada-Nya:“Berkatalah rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” [QS. Al-Furqan:30].Sungguh hal itu terulang kembali di zaman ini dikarenakan hadist palsu yang menggerogoti ummat. 3. Umat islam tidak lagi menjadi umat terbaik yang jaya di atas umat yang lainnya. ini dikarenakan hadits palsu tersebut menjadi dinding bagi seorang muslim untukberamar ma’ruf nahi mungkar, seorang muslim tidak lagi menegur saudaranya yang berbuat salah dalam syirik, kekufuran, dan bid’ah serta maksiat disebabkan meyakini hadits palsu tersebut. Karena mereka menganggap semua itu sebagai suatu perbedaan yang hakikatnya adalah rahmat, sehingga tidak perlu untuk ber-nahi mungkar. Akibatnya, predikat ummat terbaik tidak lagi disandang oleh umat islam, karena telah meninggalkan syaratnya yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Sebagaimana firman Allah dalam suratAli-’Imran ayat:110yang artinya: “Kamu adalahumat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruhkepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. 4. Ancaman dan kecaman yang keras dari Nabi, karena berkata dengan mengatasnamakan Rasulullah secara dusta. Rasulullah bersabda :“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia siapkan tempat duduknya dari api neraka” [Riwayat Bukhari-Muslim]. Hendaklah takut orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta atas nama Rasulullah, demikian pula orang-orang yang menyebarkan dan mendongengkan kisah-kisah palsu dan lemah yang hanya muncul dari prasangka belaka yang padahal prasangka itu adalah seburuk-buruk perkataan. 5. Meninggalkan perintah Allah Ini adalah efek lanjutan dari hadist palsu tesebut, karena ketika seseorang mentolelir perselisihan aqidah, halal dan haram, serta segala sesuatu yang telah tegas digariskan olehdua wahyu, maka di saat yang sama ia telah meninggalkan perintah Allah untuk menuntaskan setiap perselisihan kepada Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Sebagaimana Allah berfiman : “Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya” [An-Nisa:59] 6. Melemahkan kekuatan kaum Muslimin serta membuka jalan bagi orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam dari dalam Syaikh Ali Hasan dalam kitabnya“ushul bida”mengisyaratkan dampak buruk hadist tersebut yang dapat melemahkan kaum muslimin dan menjatuhkan kewibawaannya, karena jelas-jelas hadist palsu tersebut menebarkan benih-benih perpecahan di tubuh kaum Muslimin, sedangkan Allah berfirman :“Jangan kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” [Al-Anfal: 46] . . . . kepada mereka ! ! ! Tukang mengada-ada Simaklah firman Allah kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut :“Seandainya dia [Muhammad] mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami [Allah], niscaya benar-benar Kami pegang ia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya” [QS. Al-Haqqah : 44 - 46] Mereka. . .!!! Tukang mengada-ada atas nama Allah dan Rasul-Nya.Para pembuat hadist palsu yang telah mendahului Allah dalam Syari’at.Para penebar hadist-hadist dusta yang telah mengotori Sunnah yang suci. Tidakkah mereka takut akan ayat di atas ? ? Mereka bukan Rasul sebagaimana Allah telah mengangkat Muhammad sebagai Rasul. Mereka bukan kekasih Allah sebagaimana Ia telah menjadikan Muhammad sebagai kekasih-Nya. Bukan pula mereka orang-orang yang disucikan oleh Allah sebagaimana Allah telah mensucikan Muhammad dari dosa. Sungguh Allah telah mengancam keras Kekasih-Nya dalam ayat tersebut denganberfirman: “Kami potongan tali urat jantungnya” Lalu apakah MEREKA merasa aman ??? Al-Hafidz Abul Khathab bin Dihyah berkata :“Jagalah dirimu wahai hamba-hamba Allah dari kebohongan orang yang meriwayatkan kepadamu hadist yang dikemukakan untuk memaparkan kebaikan. Sebab melakukan kebaikan harus berdasarkan syari’at dari Rasululah Shallallahu’alaihi wa sallam. Jika ternyata dia bohong maka dia keluar dari yang disyari’atkan dan berkhidmat kepada Syaithan karena dia menggunakan hadist atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berdasarkan keterangan dari Allah.” [Ma jaa fi Syahri Sya’ban, dinukil darinya oleh Abu Syamah dalam “Al-Baits :127″] Maraji’: Ushul bida’Syaikh Ali Hasan Ali Abdul hamid] Sifatush shalaty An-Naby Shallallahu’alaihi wa sallam [Syaikh Muhammad Nasyaruddin Al-Albani dan sumber-sumber lainnya; dari Al-HujjahRisalah No: 45 / Thn IV / Muharram / 1423H, sumber: bloq abu salma
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
