SAya ingin memberikan sedikit apa yang kita lihat,

Di Negara kita ini yang katanya kita cintai ini ( dilu tApi sekarang gak
tau dech,,,, )sebegitunya tersedia SDA yang melimpah ruah dari segi
apapun , di atas dan di bawah ada harganya

Tapi sayangnya itu semua hanya dongeng yang kita dapatkan karena kita
hanya melihat tamu di Negara kita yang bisa menikmatinya bahkan kita
hanya bisa bermimpi jika saya bekerja di perusahaan yang kaya dengan
pertambangannya pasti,,,,,,

Tapi semua itu pasti ada prosedurenya yang acapkali tidak menguntungkan
buat anak bangsa,

Management kita yang sembrautan dan cenderung mempersulit proses
birakrasi, pa di karenakan orang2 kita gampang di bodoh2i oleh orang2
yang bermodal,

Negara kita yang heterogen sumber daya alam tak mampu membuat warganya
hidup senang bahkan melarat meminta2, Para pemimpin kita sudah tidak
pernah memikirkan warganya yang penting dalam benak mereka siapa lu
siapa gue, jika mau hidup bertahan yang harus kreatif,

Sangat di sayangkan Undan Undang hanyalah pengantar pena ke ujian
selanjutnya karena syarat akademis dan sebagai intimidasi buat orang2
kere dan lemah,

Kita butuh pemimpin yang benar2 berkhracter seorang ayah, dan butuh
penyegaran undan2 yang jelas dan transparan dan terrealisasi dan bukan
hanya sekertas  dan di tanda tangani,

Kita butuh pendidikan yang berqualitas dengan harga pendidikan yang
tidak menyolok seperti sekarang dan bahkan orang2 kaya lah  yang butuh
pendidikan dan itu image yang berkembang di Negara kita semua orang2
kaya punya procedure tetapi orang2 kere selalu di abaikan, 

Di Negara ini ada kendala yang silit untuk bahu membahu dan bersatu
menyikirkan kemiskinan bahkan berlomba2 untuk kepentingan pribadi,

Yang bisa kita lakukan saat ini adalah semoga generasi berikutnya
memiliki pendidikan dan pola piker yang berlandas kan asas orang banyak
dan berhati perut,

Lebih mementingkan anak bangsa dari pada orang asing, dan lebih bisa
jadi guru buat yang lainnya,

 

 

Wasalam,

 

Reo

 

 

________________________________

From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of sarijan
Sent: Monday, May 14, 2007 11:16 AM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Nasionalisasi Ladang Minyak [Keberanian
Pemimpin]

 

Assalamu'alaikum,

 

Kapan indonesia bisa bisa menasionalisasikan sumber daya alam yang
ada,yang selama ini dikuasai oleh pihak asing .Ambil contoh tambang emas
di Papua, keuntungan yang diambil luar biasa besarnya oleh pihang asing
sedangkan Indonesia hanya kebagian  limbah dan kerusakan lingkungan dan
masih banyak lagi contoh yang lain.Apabila semua sumber daya alam yang
ada di Indonesia ini dikuasai dan dijalankan rakyat sendiri pasti
Indonesia akan menjadi Negara dengan kekuatan ekonomi yang tangguh.Kapan
para pemimpin kita berani untuk melakukannya ????????? Kita do'akan
semoga hal ini bisa terwujud di Indonesia supaya kita bebas dari
penjajahan ekonomi yang dilakukan oleh pihak asing.Amin

 

Wassalam,

Sarijan

        ----- Original Message ----- 

        From: susanto.agus <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


        To: [email protected] 

        Sent: Monday, May 14, 2007 10:19 AM

        Subject: [ FUPM-EJIP ] Nasionalisasi Ladang Minyak [Keberanian
Pemimpin]

         

        Venezuela Nasionalisasi Ladang Minyak Onorico 
        
        

        JOSE -- Gerakan nasionalisasi yang digaungkan Venezuela akhirnya
mulai membuahkan hasil. Selasa (1/5) waktu setempat, pemerintah Hugo
Chavez akhirnya resmi menguasai ladang minyak Oniroco sebuah ladang
minyak yang memiliki cadangan terbesar di dunia.

        "Ini adalah nasionalisasi sejati dari sumber alam yang kita
miliki,'' teriak Chavez dalam orasinya saat merayakan kemenangan
nasionalisasi industri minyak terbesar kelima yang telah ditiupkan sejak
Februari lalu. Sebagai simbol kemenangan, ribuan pekerja Venezuela
menyerbu ladang-ladang minyak yang dioperasikan pihak asing di negara
itu.

        Chavez pun terus membakar semangat nasionalisme rakyatnya. "
Hari ini adalah berakhirnya era di mana kekayaan alam kita tidak lagi
dikuasai siapapun tapi oleh rakyat Venezuela," ujar Chavez. Menurut dia,
nasionalisasi minyak Venezuela kini telah menjadi kenyataan."

        Perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela
(PDVSA) kini menguasai 60 persen saham di ladang minyak Orinoco yang
memiliki areal panjang 600 km dan lebar 70 km, membentang di sepanjang
Sungai Orinoco di Venezuela timur. Ladang minyak itu akan memproduksi
minyak sebanyak 600 ribu barel per hari.

        Produksi minyak ladang itu setara dengan satu per lima total
produksi minyak harian Venezuela. Nilainya mencapai 25 miliar dolar AS.
Cadangan minyak yang terkandung di ladang itu mencapai 370 miliar barel.

        Untuk merayakan kemenangan nasionalisasi itu, militer Venezuela
dikirim ke ladang-ladang minyak di Orinoco Basin. Sedangkan, para
pekerja tampak mengenakan kaos oblong bertuliskan ''Ya untuk
Nasionalisasi" kemudian datang berbondong-bondong ke ladang-ladang
minyak itu, Selasa (1/5) tengah malam.

        Perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di daerah itu
terpaksa menyerahkan kekuasaan atas ladang-ladang minyak itu kepada
PDVSA milik negara. Mereka hanya memiliki saham minoritas dalam bentuk
joint venture. Sekitar 20 perusahaan asing menyetujui tawaran usaha
bersama pemerintah, serta tidak satupun memiliki saham mayoritas. Lebih
dari separuh ekspor minyak Venezuela mengalir kepada musuh politik
Chavez, AS.

        Ketika memulai masa jabatan keduanya tahun ini, Chavez segera
berusaha menasionalisasi industri-industri minyak, gas dan telekomuniasi
negara itu. Ia mendapat hak yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan
dekrit, membangun satu mandat pemilihan yang kuat untuk melaksanakan
Sosialisme Abad ke-21 gayanya sendiri.

        Rencana nasionalisasi minyak Venezuela beriringan dengan
kebijakan yang diputuskan Bolivia tahun lalu. Bolivia bertekad untuk
lebih memperketat penguasaan atas sumber-sumber gas alamnya. Pada 1 Mei
tahun lalu, Presiden Bolivia Evo Morales-- sekutu dekat dan sahabat
Chavez--membuat satu tindakan yang mengejutkan, dengan mengumumkan
nasionalisasi cadangan gas alam negara itu di Andean, terbesar kedua di
Amerika Selatan setelah Venezuela.

        Pemerintah Bolivia merundingkan kembali kontrak-kontrak yang
telah dibuat dengan perusahaan-perusahaan asing. Sekutu Chavez lainnya,
Presiden Ekuador Rafael Correa, memperingatkan rencana-rencana negara
kaya minyaknya akan meninjau ulang semua kontrak untuk semua eksplorasi
di wilayahnya dan mungkin membatalkan beberapa perjanjian.
afp/ap/ant/hri

         

        sumber :
http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=291769&kat_id=4

        
        
______________________________________________________________________
        This email has been scanned by the MessageLabs Email Security
System.
        For more information please visit
http://www.messagelabs.com/email 
        
______________________________________________________________________
        
        

        
________________________________

        size=2 width="100%" align=center> 

        ********************************************************
        Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di
kawasan EJIP
        ********************************************************
        Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs
SAMARADA :
        http://www.usahamulia.net
        
        Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
        [EMAIL PROTECTED]
        
        Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
        [EMAIL PROTECTED]
        ********************************************************

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke