Membongkar Pengkhianatan Para Penguasa Muslim
Majalah Al wa'ie
 
Katakanlah kepada Dr. Herzl, Palestina  bukanlah harta pribadiku; ia adalah 
milik semua uamt Islam di dunia. Karena itu, aku tidak akan menyerahkan bagian 
manapun dari wilayah tersebut, walaupun itu harus merenggut nyawaku." Itulah 
yang diucapkan Sultan Abdul Hamid II ketika orang-orang Yahudi berusaha 
membujuknya untuk menjual tanah Palestina kepada Yahudi. Padahal saat itu 
Khilafah Ustmaniyah yang dipimpinnya sedang lemah. Beberapa wilayah Khilafah 
telah dicaplok oleh penjajah. Pemberontakan terjadi di beberapa tempat. 
Berbagai gerakan yang ingin menghancurkan Khilafah pun menyebar di kalangan 
militer dan elit politik.  Namun, Sultan Abdul Hamid II tetap bersikap tegas; 
tidak berani mengkhianati negaranya. Sikap inilah yang hampir tidak ada pada 
para pemimpin negeri Islam saat ini. Sebagian besar pemimpin negeri Islam saat 
ini justru berkhianat kepada negaranya dan umat Islam. 

Di bidang politik pengkhianatan yang paling besar dilakukan oleh Kemal 
Attartuk, saat dia bekerjasama dengan Inggris meruntuhkan Khilafah Islamiyah.  
Pada 20 November 1922 dibukalah Perjanjian Lausanne. Atas nama kemerdekaan 
Turki, delegasi Ankara yang mewakili Kemal menyetujui syarat-syarat Inggris 
yang dipimpin Lord Curzon  tentang empat hal: (1) Penghapusan  Khilafah secara 
total; (2) Pengusiran Khilafah sampai keluar batas negara; (3) Penyitaan 
kekayaan Khilafah; (4) Sekularisasi negara. Sebagai implementasi dari 
perjanjian itu, pada 3 Maret 1924, Majelis Nasional yang banyak diisi 
orang-orang Kemal mengumumkan persetujuan penghapusan Khilafah. 

Sementara itu, penguasa Saudi berkolaborasi dengan Inggris untuk mempercepat 
keruntuhan Khilafah Islam. Pada 1902 Dinasti Saud di bawah pimpinan Abdul Azin 
bin Abdurrahman menyerang dan merebut kota Riyadh dengan membunuh wali Khalifah 
lewat bantuan Inggris.  Kerjasama Dinasti Saud dan Inggris tampak pada 
perjanjian umum Inggris-Saudi di Jeddah (20 Mei 1927). Clayton, wakil Inggris, 
menegaskan kembali pengakuan Inggris atas 'kemerdekaan' Ibnu Saud dan hubungan 
persahabatan Saudi-Inggris. Mengingat kerjasama mereka yang sangat erat ini 
Inggris memberikan gelar kebangsawanan 'sir' untuk Abdul Aziz bin Abdurrahman. 

Sekularisasi pun semakin kokoh di Dunia Islam. Hampir seluruh negeri Islam 
mengadopsi hukum sekular. Di Indonesia, produk undang-undang semakin pro 
liberal dan kapitalis. Upaya menghilangkan pornografi lewat undang-undang 
ditentang habis-habisan kelompok sekular. Pemred majalah porno Playboy malah 
dibebaskan. Ratifikasi UU pro-Kapitalisme semakin menguat. 


Penguasa Komprador 

Pasca keruntuhan Khilafah, negeri Islam terpecah-belah menjadi beberapa 
negara-bangsa yang berasas sekular. Penjajahan berlanjut lewat sistem sekular 
yang dipaksakan di Dunia Islam. Negara-negara Barat mengokohkan penjajahan 
mereka lewat para penguasa yang menjadi kaki tangan mereka di negeri Islam. 
Hampir di sebagian besar negeri Islam, penguasa yang muncul dalam sistem 
sekular berada di bawah pengaruh negara-negara kolonialis. 

Tidaklah aneh, para penguasa negeri-negeri Islam sangat represif terhadap 
gerakan-gerakan Islam yang menginginkan tegaknya syariah Islam.  Pasalnya, 
penegakan syariah Islam akan menghentikan penjajahan negara-negara kolonialis 
atas Dunia Islam. Hal ini jelas tidak sejalan dengan kepentingan  negara 
kolonialis yang menjadi 'tuan besar' mereka. Gerakan Islam juga terus 
membongkar persekongkolan penguasa negeri Islam dengan para penjajah secara 
lantang di hadapan masyarakat.  

Di Suriah, ribuan aktivis Islam, baik dari Ikhwanul Muslimin maupun Hizbut 
Tahrir, ditangkap, disiksa, dan dipenjara tanpa bukti kuat. Pada April 2007, 
puluhan aktivis Hizbut ditangkap dan dipenjarakan petugas keamanan Suriah. 
Pasalnya, Hizbut Tahrir Suriah membongkar perkongkolan pemerintah Suriah dengan 
AS saat menerima  Frank Wolf, anggota Kongres Amerika dari partai Republik, 
pada 1 April 2007 dan kunjungan delegasi Nancy, ketua Senat Amerika, pada 3 
April 2007. 

Di Mesir, pemerintah sekular banyak menangkap aktivis Islam dengan tuduhan 
ingin mendirikan Negara Islam. Dengan tajuk, "Demokrasi Kaum Islamis", majalah 
New York Times mengupas perkembangan politik dan HAM di Mesir. Menurut laporan 
majalah itu dalam edisi pekan ini, di Mesir telah terjadi penangkapan massal 
terhadap lawan-lawan politik penguasa dan mereka ditahan di dalam penjara. 
Namun,  menurut makalah yang ditulis oleh James Traweb, itu bukan hal baru bagi 
Mesir. Perguliran kekuasaan di Mesir beberapa kali sebelumnya, sejak tahun 
1952, sudah menerapkan tradisi serupa. Mubarak sebagai penguasa Mesir menyebut 
anggota Al-Ikhwan sebagai kelompok fundamentalis yang merencanakan revolusi 
untuk mengganti sistem sekular Mesir menjadi negara agama (Eramuslim, 
4/5/2007). Hal yang sama terjadi di beberapa negeri Islam seperti Tunisia, 
Aljazair, Arab Saudi, Pakistan, Banglades, termasuk Indonesia.

Pengkhianatan  para penguasa negeri Islam ini semakin jelas dengan melihat 
sikap mereka terhadap manuver negera-negara kolonialis. Alih-alih mencegah 
serangan Amerika ke Irak, penguasa Saudi malah mempermudah AS membunuh nyawa 
kaum Muslim Irak dengan mempersilakan negara itu untuk membangun pangkalan 
militer di Saudi. Turki, tidak jauh beda; lapangan terbangnya juga digunakan 
oleh AS untuk menyerang negeri-negeri Muslim. Di Pakistan, Musharraf malah 
bangga membantu Amerika Serikat memerangi pejuang Islam di Afganistan.

Para penguasa negeri Islam pun tidak banyak berbuat melihat pembunuhan yang 
dilakukan negara kolonialis. Tidak ada langkah pembelaan yang kongkret terhadap 
rakyat Irak yang dijajah AS. Padahal sudah lebih dari 650 ribu rakyat sipil 
terbunuh. Bahkan seruan yang tegas agar AS keluar dari Irak pun nyaris tidak 
terdengar, kecuali hanya basa-basi. Ketika Lebanon Selatan diserang Israel, 
Husni Mubarak malah melarang tentaranya untuk membantu kaum Muslim Lebanon. 
"Mesir untuk Mesir," ujarnya.

Sikap yang sama ditunjukkan oleh para penguasa Muslim terhadap krisis 
Palestina. Meskipun di depan mata Israel secara sistematis mengusir, membunuh, 
dan menghancurkan sarana vital masyarakat Palestina, mereka cenderung berdiam 
diri. Yang lebih menyedihkan, para penguasa negeri Islam malah berlomba-lomba 
melakukan hubungan diplomatik dengan Israel. Yang malu-malu, berkerjasama 
dengan Israel di belakang layar lewat hubungan-hubungan rahasia. 

Ketundukan para penguasa negeri-negeri Islam kepada AS dan sekutunya semakin 
jelas dalam perang melawan terorisme yang dipimpin negara Paman Sam ini. 
Ancaman Bush yang hanya memberikan dua pilihan, "Anda ikut teroris atau ikut 
AS," disikapi oleh para penguasa negeri-negeri Islam dengan berlomba-lomba 
berkerjasama dengan AS dalam propaganda global perang melawan terorisme.


Menjual Negara 

Pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Islam juga terlihat dari  ketundukan 
mereka terhadap kebijakan ekonomi negara kapitalis. Bisa disebut, hampir semua 
penguasa negeri-negeri Islam tunduk kepada negara-negara kapitalis. 
Negara-negara Timur Tengah yang kaya minyak seperti Saudi, Kuwait dan Bahrain 
membiarkan kekayaan minyak negeri itu dieksploitasi perusahaan-perusahaan 
asing. Padahal kekayaan alam seperti minyak adalah milik rakyat yang 
keuntungannya harus diserahkan kepada rakyat, bukan kepada perusahaan asing 
atau dimonopoli keluarga.

Di Saudi pada 29 Mei 1933, Standart  Oil Company (perusahaan AS) memperoleh 
konsesi selama 60 tahun. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian 
Oil Company (Aramco) pada 1934. Untuk kepentingan minyak, wakil perusahaan 
Aramco, James W. Moffet, menjumpai Presiden Roosevelt (April 1941) agar 
memberikan pinjaman/utang kepada Saudi. Utang inilah yang menjadi  alat bagi AS 
untuk mengontrol Saudi. Konsesinya, pada 1943 AS dibolehkan memanfaatkan 
pangkalan udara Saudi selama tiga tahun. Namun, hingga kini perjanjian ini 
masih berlangsung. Pangkalan udara Dhahran pernah menjadi pangkalan militer AS 
yang paling lengkap di Timur Tengah. Pangkalan inilah yang menjadi basis 
militer AS untuk menyerang Irak, negara tetangga Saudi.  

Kondisi yang sama terjadi di Indonesia. Disahkannya UU Penanaman Modal beberapa 
waktu yang lalu merupakan salah satu bentuk pengkhianatan penguasa terhadap 
rakyat. UU itu semakin mengokohkan ekploitasi terhadap kekayaan alam Indonesia. 
Tanpa UU ini pun kekayaan negeri ini sudah dijarah habis-habisan dari Sabang 
sampai Marauke. Di Aceh LNG Arun (Pertamina, Exxon Mobile, Japan Indonesia LNC) 
mengeruk cadangan 17,1 triliun kubik gas; hingga 2002 sudah 70% cadangan gas 
yang dikuras. Di Papua, Indonesia hanya mendapat royalti sekitar 9,4% plus 
pajak, padahal total pendapatan Free Port tahun 2005 US 4,2 miliar dolar 
(Kompas, 21/11/2006). Ini pendapatan yang dilaporkan secara resmi. 
Diperkirakan, pendapatan sebenarnya jauh di atas angka itu. Lebih menyedihkan 
lagi, di Kepulauan Natuna Indonesia 'hanya' mendapat 0%. 

Program privatisasi pun terus bergulir. Program 'menjual aset-aset strategis 
Indonesia' ini merupakan bentuk kepatuhan kepada IMF. Saham Telkom pun dijual 
ke Singapura. Padahal semua tahu, telekomunikasi merupakan aset srategis; bukan 
hanya ekonomi, keamanan negara pun bisa terancam. 

Negara semakin tidak berdaulat karena harus tunduk kepada negara donor. Jeratan 
utang luar negeri ini membuat penguasa harus menerima segala tekanan dan 
kebijakan asing. Jeratan utang ini semakin menggurita. Menurut anggota Komisi 
XI DPR, Dradjad Wibowo, data Statistik Ekonomi dan Keuangan BI pada 2001 utang 
luar negeri sebesar 71,4 miliar dolar AS, namun hingga triwulan I 2006 telah 
menjadi 83,6 miliar dolar AS/ RP 752 triliun. (Republika, 28/8/2006).


Menelantarkan Rakyat 

Pengkhianatan penguasa  berbuah penderitaan rakyat. Penguasa yang seharusnya 
menjadi rĂ¢'in  (penggembala/pengurus rakyat) malah membuat kebijakan yang 
menambah derita rakyat. Karena ketundukan kepada IMF yang mensyaratkan 
minimalisasi subsidi, Pemerintah mengurangi  'subsidi' BBM. Dampaknya sangat 
serius, kenaikan BBM menambah kemiskinan masyarakat. 

Kenaikan BBM juga tidak bisa dilepaskan dari tekanan asing yang menginginkan 
harga BBM Indonesia disesuaikan dengan harga internasional. Kebijakan ini 
dibuat untuk kepentingan  investor asing. BBM yang murah akan membuat investor 
asing kurang berminat bermain di sektor ini. "Liberalisasi sektor hilir migas 
membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran 
migas.Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi 
Pemerintah. Sebab, kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing 
enggan masuk." (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo 
Yusgiantoro, Kompas, 14/5/2003). Lagi-lagi, Pemerintah lebih mengikuti tekanan 
asing ini daripada memperhatikan kesejahteraan rakyat. 

Pengkhianatan penguasa kepada rakyat semakin bertambah saat diberlakukan 
kebijakan liberalisasi di berbagai sektor strategis seperti air, listrik, 
kesehatan,  dan pendidikan. Atas nama liberalisasi dan privatisasi,  UU SDA 
(Sumber Daya Air) membolehkan perusahaan asing untuk menguasai air Indonesia. 
Seperti pengalaman PAM Jaya saat dimiliki asing, harga air pun meningkat. 
Sebaliknya, pelayanan kepada masyarakat bawah sangat rendah. Hal yang sama 
terjadi di dunia pelistrikan. Mahalnya listrik semakin menambah beban hidup 
masyarakat. 

Di bidang kesehatan, privatisasi membuat biaya kesehatan meningkat. Kesehatan 
menjadi barang mahal. Rakyat lebih memilih menahan sakit akibat biaya yang 
membengkak.

Kondisi yang sama terjadi di dunia pendidikan. Atas nama otonomi sekolah, 
otonomi kampus, BHMN, dan BHP, biaya pendidikan meningkat menajam. Orang miskin 
'sepertinya'  dilarang sekolah. 

Para penguasa negeri Islam pun banyak mengabaikan hak-hak masyarakat. Jaminan 
keamanan semakin sulit, ditandai dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. 
Transportasi yang bermutu juga sulit dijangkau karena mahal. Itu pun belum 
tentu aman. Pelayanan transportasi yang bobrok membuat rakyat semakin menderita 
dan tidak aman. Transportasi seakan menjadi 'senjata pemusnah massal' yang siap 
menunggu korban berikutnya. 

Semua ini semakin menunjukkan jatidiri para penguasa negeri Islam, yang seperti 
jongos, tunduk begitu saja pada tekanan negara imperialis. Pilihan buruk ini 
tetap diambil, meskipun bukan hanya menambah derita rakyat, tetapi secara 
sistematis membunuh rakyatnya sendiri.

Walhasil, saatnyalah kita kembali pada Islam. Saatnyalah kita menegakkan 
Khilafah Islam dan mengangkat seorang khalifah yang amanah, yang akan 
menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke