Kepemimpinan yang Kuat dan Amanah

Masyarakat Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan berjumlah lebih dari 
47 juta jiwa. Pendidikan semakin mahal. Kesehatan kian tak terjangkau. 
Penggusuran sudah dipandang sebagai hal wajar dengan dalih demi keindahan. 
Kekayaan alam diserahkan kepada asing. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dijual 
kepada swasta lokal atau asing. Kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi 
secara umum didominasi oleh kepentingan negara besar. Pertanyaannya, ada apa 
ini? Jawabannya pasti: ada permasalahan besar, yakni masalah kepemimpinan yang 
lemah dan tidak amanah. Lalu bagaimana kiat Islam membangun kepemimpinan yang 
kuat dan amanah?


Paradigma Kepemimpinan Kuat dan Amanah

Berbicara tentang kepemimpinan, ada tiga hal yang harus dimiliki: (1) kualitas 
dan integritas orang yang memimpin (person); (2) sistem yang diterapkan; dan 
(3) sikap pihak yang dipimpin.

Pertama: pemimpin. Islam menegaskan pentingnya kualitas dan integritas diri 
pemimpin. Negara yang baik hanya dapat lahir dari pemimpin yang memiliki visi 
menjadi pelayan masyarakat yang dicintai dan mencintai dengan syariah Islam, 
bukan dengan mengeksploitasi ambisi. Rasul saw. bersabda:

«إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى اْلإِمَارَةِ وَ.سَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ 
الْقِيَامَةِ»

Sesungguhnya kalian akan memiliki ambisi untuk dapat memegang suatu jabatan. 
Padahal pada Hari Kiamat nanti jabatan itu menjadi suatu penyesalan. (HR 
al-Bukhari, an-Nasa’i dan Ahmad).

Sebaliknya, pemimpin yang menipu rakyat, bermuka dua, atau menjadi antek asing 
tidak bisa diharapkan dapat mendatangkan kebaikan. Karena itu, wajar Allah 
mengharamkan baginya surga. Rasul saw. bersabda:

«مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ 
لَهُمْ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»

Tidaklah seorang pemimpin memimpin rakyat dari kalangan kaum Muslim, lalu ia 
mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali diharamkan baginya masuk surga. 
(HR al-Bukhari dan Muslim).

Baldah thayyibah akan terwujud jika pemimpinnya mendudukkan diri untuk melayani 
umat dengan sepenuh hati, melindungi masyarakat dengan sekuat tenaga, memenuhi 
kebutuhan pokok individu dan memberi peluang seluas-luasnya bagi seluruh warga 
untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier, serta merealisasikan tujuan 
luhur syariah dengan menerapkan syariat Islam. 

Kedua: sistem. Nabi Muhammad saw., jauh sebelum diangkat sebagai nabi, sudah 
dikenal sebagai orang yang mulia, jujur, dan amanah. Semua karakter baik ada 
pada diri Beliau. Beliau bahkan digelari ‘Al-Amin’. Namun, Allah Swt. tidak 
hanya mencukupkan pada karakter pemimpin semata. Dia menurunkan wahyu kepada 
Nabi-Nya berupa al-Quran dan as-Sunnah sebagai petunjuk bagi manusia. Dengan 
aturan dari Allah itulah Beliau mengatur, mengurusi dan menghukumi manusia. 
Realitas ini saja memberikan ketegasan, bahwa negeri yang baik tidak akan 
mewujud hanya dengan pemimpin yang akhlaknya baik. Tentu diperlukan sistem dan 
aturan yang juga baik. Apakah sistem dan aturan yang baik itu? Tentu, sistem 
dan aturan yang lahir dari Zat Yang Mahabaik. Itulah syariah Islam yang 
dijalankan dalam sistem Kekhilafahan. Ketika kerusakan terjadi, manusia disuruh 
kembali pada aturan dan hukum-Nya. Bukankah Dia Yang Mahaperkasa menyatakan:

وَمِنْ ءَايَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ 
السَّمَاءِ مَاءً فَيُحْيِي بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ 
لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan manusia supaya 
Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka 
kembali (ke jalan yang benar, jalan Allah). (QS ar-Rum [30]: 41).

Ketiga: koreksi dari rakyat, termasuk ulama. Pemimpin bukanlah malaikat. 
Karenanya, ia bisa saja salah. Jika pemimpin yang salah dibiarkan, kezaliman 
akan menjadi hal yang dianggap wajar belaka. Untuk itulah Islam mewajibkan 
adanya koreksi terhadap penguasa (muhâsabah li al-hukkâm). Kata Nabi saw., 
“Siapa saja yang melihat penguasa lalim, yang menghalalkan apa yang diharamkan 
oleh Allah, melanggar janji Allah, menentang sunnah Rasulullah, melakukan dosa 
dan permusuhan terhadap hamba Allah, lalu dia tidak mengubah dengan perkataan 
ataupun perbuatan, maka Allah berhak untuk memasukkannya ke tempat mereka 
masuk.” (Lihat: Ath-Thabari dalam At-Tarikh).

Ringkasnya, baik-buruk, benar-salah, dan kuat-lemah pemimpin bergantung pada 
pemimpin itu sendiri, sistem yang diembannya, dan sikap dari masyarakat yang 
dipimpinnya.


Akar Kelemahan Kemimpinan

Berdasarkan kerangka di atas, kelemahan suatu kepemimpinan disebabkan oleh 
lemahnya pribadi pemimpin, buruknya sistem yang dijalankan, dan sikap rakyat 
atau masyarakat yang cenderung tak acuh.

Faktor kelemahan pertama seorang pemimpin adalah tidak mandiri. Ia bergantung 
pada negara besar, bahkan menjadi antek penjajah. Keputusan yang diambil selalu 
melihat sikap negara besar. Sebagai contoh, yaitu saat Presiden Indonesia 
mendukung resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) nomor 
1747 yang memberikan tambahan sanksi kepada Iran. Padahal sudah menjadi rahasia 
umum, bahwa Amerika Serikat (AS) sedang mencari legitimasi internasional untuk 
menyerang negeri Muslim Iran. Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng pun 
mengakui dalam wawancara media massa, bahwa tiga hari sebelum dilakukan voting, 
Presiden AS George W. Bush menelepon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hal 
serupa terjadi pada masa pemerintahan sebelumnya.

Selain ketergantungan pada negara lain, penguasa yang tidak tegas dan berani 
akan menjelma menjadi pemimpin yang lemah; tidak akan bisa mengatakan “Tidak!” 
Sejatinya, ketegasan ini ditunjukkan dengan berpegang pada kebenaran. Salah, 
katakan salah; benar, katakan benar. Tidak takut kepada siapapun selain kepada 
Allah Swt. Konsekuensinya, penerapan hukum tidak boleh tebang pilih. Playboy 
Indonesia tegas-tegas ditolak oleh mayoritas masyarakat. Namun, pemimpin 
redaksinya dibiarkan bebas. Majalah ikon porno itu pun melenggang leluasa. 
Semestinya, dengan ketegasan dan keberanian penguasa, hal-hal merusak itu 
dengan mudah dapat dihilangkan. 

Lebih tragis lagi adalah pemimpin yang tidak memiliki visi yang jelas. Arah 
Indonesia didasarkan pada arahan asing. Penguasa pada tahun 2005 mengadopsi 
Millenium Development Goals yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa. Visi yang 
diemban bukan visi negeri Muslim terbesar di dunia, melainkan visi negara 
besar. Mereka akan berada di depan, sementara para pengekor akan tetap di 
belakang.

Sering kepemimpinan yang lemah adalah karena tidak adanya kesadaran ideologis 
dan politis. Langkah-langkah yang dilakukan lebih bersifat pragmatis. 
Pikirannya tertuju pada mempertahankan kekuasaan, memenangkan Pemilu, 
mengembangkan bisnis keluarga atau partainya, dll; atau aktivitas yang 
dilakukannya hanya sekadar untuk menyenangkan pihak asing. Jika ini terjadi, 
hakikatnya pemimpin tersebut merupakan ’budak’ yang tidak memiliki kemandirian. 
Apalagi jika dalam kepemimpinannya tidak menjadikan Islam sebagai landasan, 
tidak takut akan siksa Allah ketika melanggar syariah-Nya. Karenanya, pemimpin 
seperti ini tidak dapat diharapkan membawa kebaikan dalam kepemimpinannya. 

Belum lagi sistem yang diterapkannya adalah sistem warisan kolonial. Penjajah 
angkat kaki, namun aturannya tetap diterapkan. Sekularisme diterapkan. 
Konsekuensinya, pada masa Orde Lama, umat Islam dipinggirkan. Pada masa Orde 
Baru, umat Islam dicurigai dan diwaspadai serta dicap dengan tuduhan subversif. 
Berikutnya, pada masa Orde Reformasi umat Islam distigmatisasi dengan tuduhan 
fundamentalis dan teroris. Padahal mana ada aturan penjajah yang dibuat untuk 
memajukan rakyat jajahan? Selama sistem sekular warisan penjajah yang 
diterapkan, selama itu pula rakyat akan terjajah.

Celakanya, sistem yang buruk dengan pemimpin yang lemah justru dibiarkan. 
Rakyat tidak mengoreksinya. Ulama diam seribu bahasa. Wajar belaka, jangankan 
maju di mata dunia, dalam mensejahterakan rakyatnya saja penguasa sempoyongan. 
Itulah buah pahit kelemahan kepemimpinan.


Kepemimpinan Kuat dan Amanah dengan Islam

Kepemimpinan yang kuat dan amanah hanya akan lahir jika dasarnya adalah 
kepemimpinan ideologis (qiyâdah fikriyah). Artinya, kepemimpinan harus dibangun 
oleh akidah Islam dan syariahnya. Pemimpin dan rakyat sama-sama memahami dan 
berpegang pada akidah dan syariah Islam. Pemimpin diikuti bukan karena 
akhlaknya semata, melainkan juga karena dia pengemban kebenaran. Begitu juga, 
pemimpin berkuasa bukan karena kekuasaannya belaka, melainkan karena amanahnya 
untuk menerapkan Islam. Tidak mengherankan, kepemimpinan seperti ini akan 
melahirkan rasa cinta di antara pemimpin dan rakyatnya. Sebab, tujuannya sama, 
yakni ingin masuk surga bersama-sama melalui ketaatan pada syariah-Nya. Tegas 
sekali, penjelasan dari Rasulullah Muhammad saw.:

«خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ 
وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ 
الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ 
وَيَلْعَنُوْنَكُمْ»

Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka 
mencintai kalian serta yang kalian doakan dan mereka juga mendoakan kalian. 
Seburuk-buruk imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian benci dan mereka 
membenci kalian serta yang kalian laknat dan mereka juga melaknat kalian. (HR 
Muslim, Ahmad dan ad-Darimi).

Jadi, langkah pertama yang ditempuh dalam membangun kepemimpinan adalah: 
jadikan kepemimpinan ideologis Islam sebagai landasan. 

Kedua: tolak ideologi penjajah dan tegakkan sistem Islam. Rasulullah saw. 
mencontohkan hal ini. Di Makkah, Beliau menolak kekuasaan karena sistem 
kejahiliahan Quraisy masih bercokol. Berbeda dengan itu, Beliau justru menerima 
tawaran kekuasaan di Madinah pasca hijrah dengan menerapkan Islam secara 
kâffah. Sekularisme yang menopang kapitalisme, pluralisme, dan liberalisme 
harus ditolak. Pengganti tunggalnya adalah: jadikan akidah Islam sebagai 
landasan dalam kehidupan dan terapkan syariah Islam yang memberikan rahmat bagi 
masyarakat plural. Rombak sistem pendidikan materialistik, keluarga 
konsumeristik, ekonomi kapitalistik, dll dengan sistem Islam. 

Ketiga: ciptakan sosok pemimpin yang baik. Untuk itu, perlu dibangun kesadaran 
ideologis dan politik penguasa. Rasulullah saw. sejak awal mengemban Lâ ilâha 
illâ Allâh, Muhammad Rasûlullâh dalam melawan ideologi Quraisy yang mendewakan 
manusia. Nabi saw. mendidik para Sahabat dengan al-Quran dan Sunnah, bahwa umat 
Islam adalah umat terbaik yang harus menyeru manusia pada kebenaran; Islam 
adalah agama bagi seluruh manusia (kâffah li an-nâs); Islam diturunkan untuk 
mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya; kaum Mukmin lebih tinggi 
kedudukannya dibandingkan dengan para penentang Allah; Romawi dan Persia akan 
ditundukan; Konstantinopel dan Roma akan digenggam kaum Muslim; dll. Lahirlah 
para khalifah dari kalangan Sahabat, Tâbi‘în, Tâbi‘ at-Tâbi‘în beserta generasi 
sesudahnya yang memiliki kesadaran ideologis dan politis.

Dicetak pula para pemimpin yang memiliki visi dan misi serta tegas dan berani. 
Mereka ditempa dengan akidah, sembari melaksanakan dan memperjuangkan syariah. 
Ketakutan mereka hanya kepada Allah. Sebaliknya, mereka gagah berani menghadapi 
kaum kafir imperialis. Betapa gagah beraninya Khalifah Abdul Hamid saat didesak 
oleh pimpinan Yahudi dukungan Inggris, Hertzl, yang meminta Beliau mengakui 
imigrasi orang-orang Yahudi ke Palestina. “Tanah Palestina bukanlah milikku. Ia 
adalah milik umatku,” tegasnya. Betapa canggihnya visi Khalifah Harun ar-Rasyid 
dengan membangun pusat ilmu pengetahuan di Baghdad. Para khalifah telah 
mencapai misi memimpin dunia lebih dari 12 abad.

Di antara misinya adalah melayani rakyat. Pemimpin Islam dicetak bukan untuk 
menjadi ahli kompromi politik atau mengadopsi kepentingan politisi, melainkan 
untuk menjadi pelayan rakyat. Caranya, terapkan sistem Islam yang menjamin hal 
tersebut terlaksana, mulai dari pemilihan sampai pengoreksian penguasa. Dengan 
cara itu, umat Islam dapat melahirkan Umar bin Abdul Aziz abad kini yang 
berhasil mengentaskan kemiskinan hingga tidak ada lagi rakyat yang berhak 
menerima zakat. 

Keempat: ciptakan tradisi amar makruf nahi mungkar. Salah satu bentuk penting 
dari amar makruf nahi mungkar adalah mengoreksi penguasa (muhâsabah li 
al-hukkâm). Dalam Islam, masyarakat didorong untuk berkata baik sekalipun 
pahit, dan mengoreksi penguasa (QS Ali Imran [3]: 104). Partai politik/ormas 
maupun individu, termasuk ulama, akan meluruskan penyimpangan penguasa dari 
Islam. 


Khatimah

Dengan cara seperti ini, berbagai kebaikan akan hadir di tengah umat. Kalau 
kita membaca buku-buku sejarah di seputar syariah dan Khilafah Islam yang 
ditulis oleh para sejarahwan yang jujur, kita akan segera menangkap sebuah 
kesimpulan, bahwa Khilafah Islam, dengan seluruh aspek syariah yang 
diterapkannya, telah mampu menciptakan kesuksesan dalam berbagai bidang. Banyak 
ilmuwan sejarah yang jujur, bahkan dari kaum non-Muslim sekalipun, yang 
mengakui kehebatan dan keagungan Khilafah dan syariahnya dalam menciptakan 
peradaban manusia yang penuh dengan kegemilangan. Will Durant, misalnya, 
menyatakan:

Sepanjang masa Kekhilafahan Islam para Khalifah telah memberikan keamanan 
kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya; menyediakan berbagai 
peluang bagi siapapun yang memerlukannya; memberikan kesejahteraan selama 
berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena 
seperti itu setelah masa mereka; menjadikan pendidikan menyebar luas hingga 
berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa yang 
membuat Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama 
lima abad.” (Will Durant, The Story of Civilization).


Wallâhu a‘lam. 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke