Segumpal Geram dari Perkebunan Teh
Oleh Abdul Halim
Hari Minggu yang menyenangkan, saat selepas Subuh, kupacu vespa menembus
dingin embun. Yah, hari itu kami mengadakan acara untuk melepaskan diri dari
kesibukan aktivitas sehari – hari di kantor yang membuat penat, stress, lupa
akan sholat, dengan melakukan perjalanan ke kebun teh di daerah perbukitan
Bogor. Tak sabar rasanya untuk secepat sampai di sana, menikmati keindahan
alam, berkah dari yang Maha.
Melintasi area perbukitan yang gagah, perkebunan teh yang hijau, membuat otak
terasa segar kembali. Embun yang membasahi rumput, terlihat menengadahkan
tangannya mengucap syukur atas berkah hari ini.
Dengan penuh semangat kami mengitari bukit, melintasi permadani teh, di hibur
dengan suara burung yang bersalawat kepada sang pencipta. Penat memang, tapi
semua menjadi hilang karena merasakan kegembiraan yang sama. Ya Allah, sungguh
hebat dan dahsyat ciptaanMu, keindahan yang menakjubkan, aliran air yang jernih
tiada henti, sumber alam tidak pernah habis, memberikan kemakmuran dan
kesejahteraan yang seharusnya di nikmati oleh seluruh negeri.
Tapi aku terhenyak melihat pemandangan yang ganjil di sini. Di antara
kegembiraan, keriuhan pedagang yang menawarkan souvenir, kenyamanan kami
menikmati hidangan yang lezat yang tersedia, Ya Allah, sekelompok anak-anak
membolak balik kotak makanan mencari remah-remah kue yang tersisa. Tangan
mungil mereka, memungut kue yang tidak habis dimakan tuannya, masuk ke mulut
mereka. Sementara yang lain mengumpulkan botol minuman mineral, kardus, ke
dalam karung yang telah mereka siapkan. Tubuh mereka begitu kotor seperti tidak
mandi, kontras sekali dengan udara di sekeliling yang menyemburatkan udara yang
jernih. Pemandangan ini membuat hati begitu miris, aku membayangkan keponakanku
yang seumuran mereka, yang menggali ilmu dan canda dengan kasih sayang orang
tua.
Jumlah mereka begitu banyak, berkeliaran dengan kaki telanjang, memungut
sampah-sampah makanan yang tersisa. Ada yang tidak mengenakan celana, kaki
dengan cacat luka yang berair. Sementara di hadapan, berdiri dengan gagah bukit
yang menghijau, hamparan kebun teh yang menyemburatkan kemakmuran.
Ya Allah, salah apakah dengan negeri ini? Engkau telah menanugrahkan kepada
kami sumber alam yang melimpah, kekayaan yang tidak ada habisnya, gemah ripah
loh jinawi.
Tapi ke manakah itu semua? Berdosalah para pemimpin negeri ini, yang telah
dengan rakus merampas hak-hak mereka, menelantarkan mereka demi kepentingan
perut mereka sendiri. Terkutuklah mereka yang saling berdebat masalah
kesejahteraan rakyatnya, sambil minum darah anak-anak terlantar di hotel-hotel
mewah.
Aku pulang dengan seribu tanda tanya di kepalaku. Keceriaan menjadi kegeraman
yang mengumpal di dada. Aku pulang dengan lengan yang memerah karena terbakar
sinar sang mentari pagi.
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************