STUDIA Edisi 347/Tahun ke-8 (25 Juni 2007)

http://studia-online.com

http://dudung.net

http://gaulislam.com



Arti Sebuah Perbedaan

Saat mengendarai sepeda motor sepulang kerja, di depan saya ada sebuah mobil 
sedan. Karena jalanan cukup sempit saya nggak bisa menyalipnya dengan mudah. 
Apalagi dari arah berlawanan sering ada mobil juga. Setiap kali direm, di 
bagian belakang mobil sedan itu, di balik kaca belakangnya, ada tulisan teks 
berjalan dengan warna merah yang membuat saya harus berpikir keras untuk 
menyerap maknanya. Kalimat itu tertulis: "Jangan berani untuk sama".

Jangan berani untuk sama? Ya, ada baiknya juga memang kalimat tersebut, meski 
kalimat itu menurut saya sangat bersayap alias bisa berarti banyak. Tergantung 
siapa yang menerjemahkannya dan untuk menjelaskan beragam maksud. Tentu sesuai 
pula dengan persepsi masing-masing orang. Itulah sebabnya kalimat tersebut saya 
nilai sebagai kalimat "bersayap".

Kalimat "Jangan berani untuk sama", bisa berarti bahwa kita nggak perlu minder 
untuk berbeda dengan yang lain. Bahkan perbedaan itu sangat boleh jadi justru 
sebuah keberanian. Tentu, kalo untuk sesuatu yang sama, nggak usah (terlalu) 
berani. Begitu kira-kira. Sebuah pilihan yang mungkin saja sudah 
dipertimbangkan sangat matang. Nggak asal aja.

Misalnya nih, kalo ada temen yang punya hobi mantengin info olahraga sepakbola 
mancanegara (dari mulai baca sampe nonton setiap pertandingannya di televisi), 
ya kita nggak perlu harus merasa sama dengan hobi temen kita itu. Apalagi jika 
kita nggak terlalu suka dengan segala hal yang berkaitan dengan sepakbola. 
Tapi, karena ingin dianggap gaul soal sepakbola dan supaya diterima dalam 
komunitas itu, akhirnya kita memberanikan diri untuk punya hobi yang sama. 
Hmm.. itu salah besar karena nggak mau jujur sama diri sendiri. Betul nggak 
sih? Meski tentu saja, dalam hal ini, kalo pun pengen sama hobinya dengan teman 
kita itu, silakan saja. Mubah aja kok.



Persamaan dan perbedaan

Sobat muda muslim, persamaan dan perbedaan itu memang bisa berarti banyak dan 
bisa banyak persepsi. Itu sebabnya, kita preteli dikit-dikit, pilah-pilah 
supaya bisa menentukan sikap. Nggak asal beda aja, atau nggak cuma merasa sama 
dengan yang lain. Setuju kan?

Nah, kalo kita 'syarah' (dianalisis dan diperjelas) lagi, insya Allah kita bisa 
nentuin sikap. Misalnya tentang keputusan kita memilih menjadi aktivis rohis. 
Tentunya kita memilih berbeda dengan kebanyakan teman lain yang justru saat itu 
lebih cenderung gabung di klub ekskul olahrga, tari, pecinta alam, atau 
kegiatan lainnya. Berbeda dari teman lain dengan menjadi aktivis rohis, 
tentunya ini adalah sebuah keberanian. Iya kan? Berani untuk beda dengan teman 
yang 'biasa' aja, dan berani untuk sama dengan aktivis rohis.

Lalu bagaimana dengan teman kita yang justru ingin berbeda dari komunitas anak 
rohis? Ia nggak berani untuk sama dengan anak rohis. Tapi berani untuk berbeda 
dari anak rohis dengan menjadi anak gaul yang hobinya dugem dan gaul bebas 
dengan lawan jenis. Baginya, menjadi aktivis dugem dan gaul bebas adalah sebuah 
keberanian untuk tidak sama dengan anak rohis.

Memang sih itu pasti bergantung sudut pandang. Maka, sebuah standar wajib 
dimiliki. Supaya nggak semua orang bisa mengklaim bahwa dirinya benar. Boleh 
aja sih merasa dirinya benar, tapi harus bisa buktiin dengan kuat kalo dirinya 
tuh benar. 

Lha, kalo yang kayak gini gimana jadinya? Hmm.. itu sebabnya, menurut saya 
kalimat itu disebut "bersayap" alias banyak arti tergantung persepsi orang yang 
menerjemahkannya. Waduh, gimana urusannya dong? Mana yang benar dan mana yang 
salah? Kapan boleh berbeda dan kapan seharusnya sama? 

Tenang sobat, nggak usah keburu bingung atau stres. Ini justru menurut saya 
adalah bagian dari kelemahan kita sebagai manusia. Dengan demikian, kita memang 
nggak bisa menentukan sesuatu itu benar atau salah sesuka hati, pikiran, atau 
perasaan kita (termasuk hawa nafsu kita). Bahaya. Karena apa? Karena bisa jadi 
banyak persepsi. Singkatnya, kita perlu standar yang mengatur batasan-batasan 
tersebut. Ya, kudu ada ukuran yang fixed. Nggak bisa sembarangan.

Inilah barangkali alasan kenapa "ukuran panjang satu meter" pun sudah 
ditetapkan secara internasional. Alat pengukur lain harus dikalibrasi  (diuji, 
dicocokan) dengan standar yang dibuat. Supaya ada kesamaan dan kejelasan 
penilaian. Bayangin deh kalo untuk sebuah ukuran saja harus ada sekian ukuran 
yang ditentukan sesuai selera masing-masing, kita pasti bingung pilih yang 
mana. Iya kan? Misalnya aja ukuran panjang "sedepa" itu diukur lewat panjang 
rentangan dua tangan tiap orang yang beda-beda. Kalo kemudian masing-masing 
orang meyakini sesuai pengukurannya, kita pusing. Karena setiap ukuran 
panjangnya jadi sesuai 'ukuran' rentangan tangan masing-masing. Padahal, orang 
yang tinggi dengan yang pendek pasti beda ukuran rentang tangannya. Betul apa 
bener?



Boleh beda, tapi ada saatnya wajib sama

Sobat muda muslim, saya menulis artikel ini dengan judul, "arti sebuah 
perbedaan" tentu bukan tanpa alasan, lho. Begini nih penjelasannya. Berbeda 
boleh saja kok. Asal, itu dalam sebuah koridor yang dibolehkan untuk berbeda. 
Misalnya, untuk selera makan, ya nggak bisa disamain tiap orang. Rasa suka 
kepada lawan jenis juga nggak bisa disamain untuk semua orang. Warna baju juga 
boleh berbeda kok. Termasuk boleh juga berbeda pendapat dalam masalah furu'iyah 
(cabang). Misalnya, kita nggak bisa maksa orang untuk melakukan sholat shubuh 
dengan melakukan qunut atau tidak. Karena kedua pendapat itu masing-masing 
memiliki dalil. Untuk kasus ini nggak perlu ributlah. Nggak perlu mengklaim 
salah satu benar dan satunya pasti salah. Karena yang seharusnya disalahkan 
adalah yang nggak sholat shubuh. Seharusnya kedua belah pihak bersatu padu 
untuk menyadarkan yang masih belum mau sholat shubuh. Tul nggak seh?

Bagaimana dengan yang tidak boleh berbeda (dan itu harus sama), dalam masalah 
apa aja? Nah, menurut saya di sini berlaku pernyataan bahwa "bagi yang mau 
sama", dapet gelar berani. Misal, sebagai muslim kita wajib menjadikan Islam 
sebagai the way of life kita. Bukan agama lain, atau kepercayaan lain (termasuk 
ideologi lain) untuk menuntun hidup kita. Ya, cuma Islam. Di sinilah kita wajib 
sama dan kudu berani untuk sama. Karena kesamaan ini jelas ada dalilnya. Ketika 
kita sudah menyatakan sebagai muslim, maka seluruh kehidupan kita harus rela 
diatur oleh Islam. Bukan yang lain.

Lho kok Islam sih? Ya iyalah, memangnya mau aturan yang mana? Apakah kepala 
sekolahmu nggak marah dan murka kalo sekolah di sekolahnya, tapi kamu malah 
milih aturan sekolah lain, atau setidaknya nggak percaya dengan aturan di 
sekolahmu sendiri. Adil nggak sih? Begitu juga dengan Islam. Kalo udah 
menyatakan masuk Islam, berarti kudu setia diatur sama Islam. Iya ndak?

Allah Swt. berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam 
Islam keseluruhan.." (QS al-Baqarah [2]: 208)

Dalam  menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: "Allah Swt. telah 
memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar 
mengadopsi sistem keyakinan Islam ('akidah) dan syari'at Islam, mengerjakan 
seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu." 
(Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir I/247)

Imam an-Nasafiy  menyatakan bahwa, ayat ini merupakan perintah untuk senantiasa 
berserah diri dan taat kepada Allah Swt. atau Islam (Imam an-Nasafiy, Madaarik 
al-Tanzil wa Haqaaiq al-Ta'wiil, I/112).

Imam Qurthubiy menjelaskan bahwa, lafadz "kaaffah" merupakan "haal" dari 
dlamiir "mu'miniin". Makna "kaaffah" adalah "jamii'an." (Imam Qurthubiy, Tafsir 
Qurthubiy, III/18)

Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsa'labah, 
'Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi. Mereka mengajukan permintaan 
kepada Rasulullah saw. agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya 
mereka (padahal mereka sudah masuk Islam). Selanjutnya, permintaan ini dijawab 
oleh ayat tersebut di atas.

Terus nih, Imam Thabariy juga menyatakan: "Ayat di atas merupakan  perintah 
kepada  orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk 
menjalankan syariat Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satu pun 
hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam." (Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, 
II/337)

Ini artinya, kita nggak boleh menawar-nawar lagi untuk melakukan ibadah yang 
bukan berasal dari Islam. Misalnya aja, bagi seorang mualaf, karena dulunya 
setiap minggu ke gereja untuk kebaktian, maka setelah masuk Islam udah nggak 
boleh lagi tuh ikutan kebaktian di gereja. Karena emang udah bukan lagi ajaran 
dari Islam. Sebaliknya wajib taat sama Islam.

Sobat muda muslim, dengan ayat ini, berarti kita kudu total dalam memeluk 
Islam. Nggak boleh belang-belang. Nggak boleh setengah-setengah. Jangan sampe 
berbagai aturan kita pake untuk ngatur hidup kita, padahal kita muslim. Itu 
namanya "malapraktek". Kita ngakunya muslim, tapi nyuri barang orang lain jadi 
hobi kita. Kita bilang ke mana-mana bahwa kita aktivis rohis, ternyata kita 
malah melakukan pacaran. Ortu kita rajin ngajinya, tapi yang diulik bukan 
al-Quran, melainkan primbon Jawa atau ajaran sekularisme. Lha, ini jelas salah 
prosedur, guys!

 Di sinilah kita harus berani untuk sama. Nggak boleh nekat berbeda. Allah 
kembali menjelaskan dalam firmanNya, "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang 
mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya 
telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) 
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka 
sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS al-Ahzab [33]: 36)

Sebagai kesimpulan, bahwa "arti sebuah perbedaan" itu kudu jelas batasannya. 
Ada saatnya kita boleh berbeda, tapi ada saatnya kita harus sama. Tapi standar 
boleh dan tidaknya kita berbeda atau sama itu hanya aturan Islam. Ya, itu 
karena kita sebagai seorang muslim. 

Guys, jangan sampe kita berani untuk beda, tapi ternyata "bedanya" kita itu 
malah dibenci dalam ajaran Islam. Karena apa? Karena perbedaan yang kita 
kampanyekan justru melanggar ajaran Islam. Misalnya, kita sebagai muslim berani 
beda dengan cara mengkampanyekan pentingnya demokrasi dan sekularisme sebagai 
the way of life kita. Atau, kita menganggap bahwa Islam nggak boleh diterapkan 
sebagai ideologi negara. Wah, itu sih namanya perbedaan yang tak pantas 
disandang dan bahkan mencoreng kepribadian kita sebagai Muslim. Bukan pahala 
yang didapat, tapi dosa. Ati-ati ya Bro! Yuk, kita berani sama menjadi seorang 
muslim yang taat dan pejuang Islam. Itu baru oke! [solihin: 
www.osolihin.wordpress.com]




-- 
Buletin Remaja Studia terbit setiap Senin sejak Januari 2000, "Gaul, Syar'i, 
dan Mabda'i" 
Penerbit: Studia Publication. HP 0856-1943803. Pemasaran: 0817-109797. Website: 
http://www.dudung.net dan http://buletinstudia.multiply.com, e-mail: [EMAIL 
PROTECTED] dan [EMAIL PROTECTED] Mailing List: [EMAIL PROTECTED]

GMX FreeMail: 1 GB Postfach, 5 E-Mail-Adressen, 10 Free SMS.
Alle Infos und kostenlose Anmeldung: http://www.gmx.net/de/go/freemail

__._,_.___ 
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages 
----- [ [EMAIL PROTECTED] ] -----
     -- FORUM PENGAJIAN KANTOR, ditulis besar semua --
Sehubungan dengan beredarnya isu miring seputar milis pengajian kantor maka 
kami umumkan bahwa nama milis ini telah dibajak pihak lain yang tidak 
bertanggungjawab. Kami sangat dirugikan shg kami di cap kafir dan ingkar sunnah.

Perlu kami klarifikasi bahwa nama milis ini adalah 
[EMAIL PROTECTED] dengan huruf besar dan tanda hubung ditengah

Nama milis yang membajak kami yang isinya nyleneh adalah
[EMAIL PROTECTED] dengan huruf kecil dan tanda hubung dibawah
_________________________
Saran kami, ubah setting anda ke digest agar inbox anda tidak cepat penuh : 
(sangat kami sarankan)
[EMAIL PROTECTED]

PERHATIAN KHUSUS 
- Masalah Fikih: gunakan kaidah fikih, fikih perbandingan atau 
  Perbandingan madzab
- Masalah cabang/furu': mari bersepakat & bekerjasama pada hal2 yang 
  telah disepakati, perbedaan sbg khasanah yang tdk perlu diperselisihkan
____________________
ATURAN MAIN
- Ciptakan nuansa akhlak mulia, dengan Hati dan jiwa yang manusiawi
- Jauhi saling berdebat, menjatuhkan, menghina
- Jauhi mengirimkan e-mail iklan, spam, SARA
- Semua member boleh berdiskusi, tanya jawab dari hal yang kecil (spt 
  tata cara pergi ke kamar mandi) sampai yang besar
_____________________
Dunia Islam sedang dilanda tragedi, bangsa lain (yahudi & nasrani) sedang 
menyerang bangsa Islam, lihatlah Timur Tengah. Bangsa dan umat Islam 
dibombardir oleh bangsa Israel (yahudi) sedangkan Barat (Amerika & sekutunya / 
Nasrani) membantu habis-habisan bangsa israel. Siapkan segala daya dan upaya 
untuk membantu saudara kita umat islam, baik tenaga, keahlian/ketrampilan, 
pikiran, harta dan nyawa serta Do'a. 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity
  a..  67New Members
Visit Your Group 
Drive Traffic
Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Search Ads
Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

HDTV Support
on Yahoo! Groups

Help with Samsung

HDTVs and devices
. 
__,_._,___ 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke