<javascript:kirim()> Sampaikan kepada rekan <javascript:cetakBerita()>
Cetak berita ini
Republika, Sabtu, 23 Juni 2007
Hamas Mundur, Solusi untuk Palestina?
Farid Wadjdi
Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS)
Dukungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap kabinet baru Palestina,
menjadi indikasi yang cukup jelas bahwa negara-negara ini sedang memainkan
politik belah bambu. Presiden Amerika George W Bush menelepon Presiden
Palestina Mahmoud Abbas dan berjanji bekerja sama dengan pemerintahan baru (BBC
online 18/06/2007). Uni Eropa mengatakan ingin kembali memberikan bantuan
langsung kepada warga Palestina, sedangkan Israel mengatakan, pemerintahan baru
adalah 'mitra' dan berjanji untuk mencarikan dana milik Palestina yang
dibekukan.
Tujuan politik belah bambu ini tidak lain adalah melemahkan Hamas yang
sebelumnya mendominasi pemerintahan. Sebelumnya, berbagai langkah sudah
ditempuh oleh Israel, AS dan sekutunya untuk melemahkan Hamas. Setelah perang
langsung untuk menghentikan intifadah tidak begitu efektif, Israel memberikan
kelonggaran bagi Hamas berpartisipasi dalam pemilu Palestina.
AS berharap, kalau Hamas unggul, kelompok ini bisa lebih bersifat akomodatif,
terutama mengubah pendiriannya yang tidak mau mengakui Israel. Namun,
kelihatannya tidak melakukan itu. Hamas secara terbuka masih tetap pada
pendiriannya menolak untuk mengakui Israel yang dianggap sebagai penjajah. AS
dan sekutunya kemudian mengubah strategi dengan menekan Hamas lewat penghentian
bantuan. Memang strategi ini cukup menyulitkan, namun Hamas tampak masih kokoh.
Setelah gagal dengan semua itu, AS melakukan politik belah bambu. Negara ini
mendukung Abbas dan kelompok Fatah. Kemudian, secara nyata terlihat AS
memperalat Fatah untuk memprovokasi konflik dengan Hamas. Koran Inggris
Independent, Sabtu (03/06) mengungkapkan adanya rencana AS untuk menyokong
Presiden Palestina Mahmuod Abbas untuk menjatuhkan pemerintahan Palestina yang
dipimpin para pejuang pembebasan Palestina yang tergabung dalam Hamas. Menurut
Independent, kontak telah dilakukan antara pejabat Amerika yang dekat dengan
Wakil Presiden Dick Cheney dan para pejabat di gerakan Fatah.
Berbagai penyiksaan dan penyerangan terhadap pendukung Hamas oleh para
pendukung Fatah mengindikasikan hal itu. Perdana Menteri Palestina, Ismail
Haniya, pun tak luput jadi sasaran ancaman pembunuhan. Kondisi inilah yang
membuat Hamas marah dan melakukan serangan balik hingga merebut Gaza. Abbaspun
memanfaatkan peristiwa ini untuk memecat Ismail Haniya dari posisinya dan
membentuk pemerintahan baru.
Tidak berhenti sampai di situ, untuk mendapat simpati masyarakat Palestina,
Abbas dengan Fatah-nya membuat opini bahwa Hamas melakukan kudeta, meskipun
tuduhan ini secara tegas ditolak oleh Hamas. Tokoh politik Hamas, Khalid
Meshaal (15/06) mengatakan bahwa pihaknya masih mengakui otoritas pemerintahan
Abbas. Apa yang dilakukan Hamas di Gaza adalah untuk menyelesaikan konflik dua
faksi yang bertikai. Gaza pun diisolir. Harapannya, kesulitan makanan akan
membuat penduduk Gaza yang selama ini mendukung Hamas akan beralih ke Fatah.
Hamas mundur?
Kondisi Palestina sekarang tentu akan semakin melemahkan perjuangan pembebasan
Palestina. Energi yang seharusnya digunakan untuk membebasakan Palestina dari
penjajahan Israel, bergeser ke konflik internal. Konflik internal ini juga
menyebabkan korban yang tidak sedikit dan menyulitkan rakyat Palestina. Dalam
kondisi seperti ini tidak ada jalan lain kecuali Hamas dan Fatah bersatu. Tapi
mungkinkah persatuan itu bisa diwujudkan di antara mereka?
Hal yang paling mengganjal persatuan selama ini adalah adanya agenda AS dan
Israel untuk menjinakkan Hamas supaya mau mengakui Israel. AS dan Israel
kemudian menggunakan berbagai cara, termasuk memanfaatkan Fatah. Sementara bagi
Hamas, sikap tidak mengakui keberadaan Israel menjadi sikap penting yang justru
menjadi salah satu kunci dukungan rakyat Palestina kepada Hamas. Inilah yang
menjadi penyebab utama mengapa Hamas dan Fatah sulit bersatu.
Sementara itu kalaupun Hamas tetap bertahan untuk ikut dalam pemerintahan
Palestina, kondisinya sangat sulit. Apalagi Abbas sudah membubarkan kabinet
yang dipimpin Perdana Menteri Haniya dan memberlakukan kondisi darurat.
Pertarungan berikutnya tinggal di Parlemen.
Berdasarkan UU, parlemen sebenarnya bisa menggelar sidang tanpa menunggu 30
hari untuk menolak atau menyetujui pemerintah yang baru dibentuk. Namun,
parlemen saat ini tidak bisa menggelar sidang karena tidak memenuhi kuorum,
menyusul 40 anggota parlemen dari Hamas ditahan Israel. Dan besar kemungkinan
dengan alasan darurat Abbas pun kemudian membubarkan parlemen. Posisi Hamas
memang benar-benar sulit, bukan karena tidak didukung oleh rakyat Palestina,
tapi ditekan dari berbagai arah. Dalam kondisi stagnan seperti ini perang
saudara akan terus berlanjut.
Mungkin ada baiknya kalau Hamas berpikir untuk benar-benar mundur dari
pemerintahan dan kembali fokus dalam perjuangan bersenjata melawan Israel.
Sebab, justru sikap Hamas yang menentang Israel lah yang membuatnya mendapat
simpati dari masyarakat. palagi kalau Hamas memang berorientasi mengusir
Israel. Kalau kondisi sekarang dipertahankan, yang terjadi justru akan
menjauhkan dari tujuan itu. Mundurnya Hamas juga akan menghindari perang
saudara yang merugikan rakyat Palestina sendiri.
Sebaliknya, kalau Fatah yang benar-benar memerintah Palestina, kemungkinan akan
mengalamai kesulitan yang cukup besar. Apalagi secara de facto peran Hamas
tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Simpati rakyat kepada pemerintahan Fatah
sangat mungkin semakin berkurang mengingat selama ini sudah diketahui umum
banyak pejabat Fatah yang korup.
Selain itu, Fatah juga akan kesulitan memenuhi kebutuhan rakyat Palestina
karena hanya menggantungkan diri pada kekuatan dana asing. Sikap Fatah yang
salama ini lebih pro kepada Israel dan AS, juga menjadi faktor yang menyulitkan
kelompok ini di mata rakyat Palestina. Artinya, kalaupun Hamas mundur, dukungan
rakyat Palestina akan tetap besar kepada gerakan pejuang pembebasan Palestina
ini.
( )
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************