Teroris Membeli Media Massa?Opini Anda June 29th, 2007 Oleh : Y
Herman Ibrahim (Mantan Kepala Penerangan Kodam
III/Siliwangi)
Kalau
Anda tidak memiliki cukup waktu untuk membaca, tolong sempatkanlah
untuk membaca satu alinea saja tulisan Ilham Prisgunanto di opini
Republika, Selasa 19 Juni 2007. Alinea tersebut berbunyi, “Dengan
demikian terjawablah pertanyaan besar, mengapa jaringan teroris lebih
memilih Indonesia sebagai medan perang aksi mereka? Faktor kunci adalah
dari begitu ‘longgar’ dan penuh lubangnya sistem pemberitaan dan pers
Indonesia. Tidak adanya ketegasan aturan perundang-undangan adalah
‘opsi’ dari mudahnya lahan publikasi dibeli karena masuk ke ranah yang
tak bertuan dan tak terkontrol.”
Sungguh
ini suatu kebohongan publik yang sangat dahsyat. Adhian Husaini
mengatakan bahwa Barat mengontrol informasi dunia dan memproduk
rata-rata 6 juta kata per hari, sementara Timur (Islam) hanya mampu 500
ribu kata per hari. Dari perbandingan produksi kata melalui berbagai
jenis media cetak, elektronik, dan dunia maya tampak jelas bahwa
diseminasi nilai yang terus menerus dicangkokan ke benak manusia adalah
nilai-nilai, doktrin, ideologi serta budaya Barat. Tengok jaringan
informasi seperti CNN yang ditayangkan 24 jam terus-menerus melalui
jaringan satelit yang bisa ditonton di seluruh pelosok dunia melakukan
cuci otak tanpa henti. Media massa nasional pun lebih banyak merujuk
kepada informasi yang diproduksi oleh kantor berita seperti UPI,
Reuters, dan BBC. Tidak ada ceritanya media di
Indonesia mengambil referensi dari As Sahab, Ar Rahmah, Al
Muhajirun, atau secara mandiri mengembangkan informasi tanding.
Salah
merujuk
Ilham
juga menyoal lubuk hati manusia yang jika ada rasa pembenaran terhadap
aksi teroris merupakan keberhasilan taktik komunikasi jaringan teroris
terhadap Indonesia. Ilham tidak salah dengan merujuk konsep agenda
setting Maxwell Mc Comb 1995,
tapi jika itu ditujukan kepada terorisme di Indonesia jelas
menyesatkan. Semua orang menyaksikan betapa pemberitaan media ihwal
kejahatan terorisme di Indonesia sungguh berlebihan.
Jauh
sebelum proses pengadilan dijalankan, media menyebar informasi bahwa
Abu Bakar Ba’asyir melakukan kejahatan makar, merancang membunuh
Megawati, dan melakukan pelanggaran imigrasi. Tatkala pengadilan
dijalankan, semua tuduhan itu tidak terbukti dan hanya satu pelanggaran
(bukan kejahatan) yang terbukti yakni pemalsuan nama pada KTP tatkala
kabur ke Malaysia untuk menghindari kejaran Benny Moerdani. Sebuah
pelanggaran yang sama dengan yang dilakukan Casingkem, seorang TKW yang
memalsu nama menjadi Novita Sari. Bedanya, Casingkem disambut Megawati
di Istana Negara sementara Abu Bakar Ba’asyir dihukum 3 tahun penjara.
Bukankah ini hasil pembentukan opini?
Bisa
jadi agenda setting Maxwell Mc Comb yang dirujuk Ilham benar sejauh itu
digunakan justru untuk membenarkan terorisme yang dilakukan oleh Barat.
Operasi Northwood yang kendati dibatalkan oleh Kennedy dirancang untuk
memojokkan Kuba. Demikian juga operasi intelijen Teluk Babi di-setting
seakan-akan dilakukan oleh teroris komunis.
Belakangan
masyarakat dunia terhenyak dengan sinyalemen Ahmadinejad bahwa Holocaust
sebuah
kekejaman teror yang luar biasa dahsyat adalah suatu kebohongan Yahudi
untuk mempengaruhi opini dunia. Dusta tentang pembunuhan 6 juta Yahudi
oleh Jerman diperlukan untuk pembenaran exodus Yahudi ke Tanah
Palestina dan mendirikan negara di sana.
Dr
Frederisk Toben, asli Jerman dan menjadi warga negara Australia
mengatakan bahwa Holocaust adalah kebohongan yang dilindungi secara
legal. Tanpa Holocaust tidak ada alasan bagi Yahudi untuk membantai
rakyat Palestina. Di negara-negara Eropa, Anda boleh mengritik atau
menghina Yesus, Bunda Maria, dan sebagainya, tetapi anda dilarang
mengkritik Yahudi dan Holocaustnya.
Terorisme
memang memerlukan kebohongan untuk pembenaran aksinya, tetapi tidak
untuk Islam. Islam tidak mengenal konsep teror, yang ada adalah jihad.
Di dalam Islam harus ada kekuatan untuk membuat musuh gentar tetapi
bukan seperti terorisme yang dilakukan oleh Barat. Bahwa ada sebagian
orang Islam di Indonesia yang marah kepada Barat karena kejahatan yang
dilakukan Barat di Palestina, Irak, Afghanistan, Somalia, dan Chechnya
lantas melakukan aksi perlawanan berupa pengeboman terhadap kepentingan
Barat di negeri ini, memang itu kenyataan.
Meski
demikian David O Shea, orang Australia mengatakan bahwa aksi bom di
Indonesia merupakan jalinan dari tiga kepentingan. Tiga kepentingan itu
adalah pertama, Barat memerlukan aksi bom di Indonesia untuk
membenarkan perang melawan terorisme. Kedua, ghiroh yang
tinggi di kalangan anak-anak muda Islam khususnya alumni Afghanistan,
dan ketiga budaya korupsi di kalangan aparat keamanan.
Jadi,
untuk konteks terorisme di Indonesia sesungguhnya bukanlah hasil
persahabatan kental antara terorisme dan media massa seperti yang
dirujuk oleh Ilham dari pendapat ahli masalah teroris Walter Laqueur.
Tidak ada fakta yang menunjukkan bahwa teroris di Indonesia memiliki
kemampuan finansial untuk menyewa media massa. Yang ada adalah justru
sebaliknya yaitu pembentukan opini massal seakan-akan Nurdin M Top dan
kawan-kawan adalah ancaman serius bagi rakyat Indonesia yang mayoritas
Muslim.
Tentang
Kepolisian RI perlu ada penjelasan bahwa kegelisahan dan kegerahan
aparat di lapangan terhadap awak jurnalis seperti yang dicontohkan
Robert L Rabe wakil kepala Kepolisian Washington dalam pembajakan
sebuah gedung oleh Hanafi Muslim pada Maret 1977, tidak pernah terjadi
di Indonesia. Pihak Kepolisian RI tidak terkesan takut kepada wartawan
dan tidak merasa tertekan untuk mengisahkan penyergapan dan penangkapan
teroris berikut opini yang dibangun seakan-akan para teroris seperti
Abu Dujana benar-benar durjana. Seorang Sidney Jones warga AS yang
diduga agen CIA bahkan dengan nyaman bicara bebas di berbagai media
televisi tanpa rasa sungkan sedikitpun.
Agen
asing
Mantan
KSAD, Jend Ryamizard Ryacudu, mengatakan bahwa ada lebih dari 60 ribu
intel asing berkeliaran bebas di Indonesia. Jika kedaulatan kita merasa
terganggu sehingga perlu interpelasi parlemen ihwal kebijakan luar
negeri mendukung resolusi PBB terhadap Iran, mengapa tidak pernah ada
interpelasi tentang kehadiran agen-agen asing tersebut. Sungguh aneh
penangkapan Abu Dujana yang peristiwanya bahkan telah diketahui dan
diumumkan lebih dulu oleh pihak Australia. Apapun sanggahan kepala
Polri tentang ini sulit diterima karena penangkapan dan pembunuhan
Azhari sungguh sangat terbuka dan tidak ditunda-tunda pengumumannya.
Yang
terakhir, aparat hendaknya melakukan introspeksi bahwa jika ada empati
sebagian masyarakat Muslim kepada ‘teroris’, hendaknya jangan dianggap
sebagai sebuah pembenaran dari masyarakat Muslim itu terhadap aksi
terorisme atau menuduh mereka memiliki kemampuan membayar media massa.
Aparat kepolisian memiliki citra yang buruk, tidak saja dalam soal
penangkapan ‘teroris’ melainkan juga nyaris dalam semua cara penanganan
terhadap berbagai tindak keamanan dan ketertiban di masyarakat.
Ikhtisar
|
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
