Ar Rahman - Ar Rahiim 
Posted by admin <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  on Saturday, April 30 @ 10:00:00 WIT
Contributed by admin 
<http://www.mualaf.com/modules.php?name=Your_Account&op=userinfo&username=admin>
 


 
Nama Allah yang terkandung dalam basmallah adalah Ar Rahman dan Ar Rahiim, 
sifat kasih sayang. Hikmah di balik nama tersebut harus kita fahami dengan 
baik. Semoga dengan mempelajarinya kita menyadari siapa Allah dan bagaimana 
kita meniru sifat-Nya. Yang disebut orang yang pengasih adalah orang yang 
selalu berniat memberi atau menolong orang lain dengan segenap kemampuannya. 
Sedang yang dimaksud dengan Ar Rahiim, sifat pengasihnya Allah, adalah 
pemberian yang melimpah terus menerus, terlepas dari apakah yang diberi 
tersebut membutuhkan atau tidak, bahkan layak menerima atau tidak.


Berbeda dengan sebagian besar manusia, kelemahan kita adalah baru mau memberi 
jika diberi atau karena mengharapkan sesuatu, misalnya mengharapkan pujian, 
penghargaan atau balas budi. Ciri kita masih tak ikhlas saat memberi adalah 
kecewa jikalau orang yang diberi tak balas budi atau tak mengucapkan terima 
kasih.

Kasih sayang Allah menyelimuti segala sesuatu. Allah memberi bukan karena 
kepentingan-Nya, tapi karena perhatian Allah kepada makhluk-makhluk-Nya, baik 
Muslim atau kafir, shalih ataupun tidak. Allah memberi tak pandang bulu, 
dicurahkan kepada semua makhluk-Nya. Pemberian Allah bukan untuk kepuasan Allah 
karena Mahasuci Allah dari membutuhkan apa pun, tapi justru untuk kebaikan kita.

Berbeda dengan Ar Rahiim, Ar Rahman lebih tinggi daripada Ar Rahiim. Ar Rahman 
jangkauan kasih sayangnya meliputi dunia akhirat, sedang Ar Rahiim hanya 
duniawi. Sebelum Allah menciptakan kita, Allah telah memberikan kasih 
sayang-Nya pada kita dengan menciptakan dan membentuk. Kemudian setelah 
tercipta, kita dituntun mendapatkan iman dan kebahagiaan dunia akhirat. Setelah 
mati, kita diberi peluang menatap-Nya di akhirat kelak.
Kita sering bertanya mengapa Allah memberikan sakit, kebangkrutan dan berbagai 
musibah? Bahkan kita juga sering bertanya mengapa tak sedikit orang yang rajin 
beribadah tapi tetap terkena musibah? 

Camkan baik-baik, tak ada keburukan yang tak mengandung kebaikan. Keburukan 
yang ditimpakan kepada kita pasti berisi kebaikan di dalamnya.

Ketidaksabaran dan ketidakmampuan kita memahami hikmahlah yang membuat seolah 
kejadian itu buruk. Dengan kedalaman iman kita dapat menembus keyakinan bahwa 
tak ada keburukan yang tak mengandung kebaikan. Ambil contoh, seorang anak 
tertusuk duri hingga harus diamputasi. 

Diamputasi tangan adalah suatu keburukan, tapi jika tak diamputasi ia akan 
tetanus dan bila penyakitnya makin kronis tubuhnya akan hancur. Diamputasi 
bukanlah suatu keburukan walau tubuhnya tersakiti dan sebagian tangannya 
hilang. Disakiti untuk kebaikan tetap kebaikan.

Karenanya, janganlah kita menjadi sengsara karena bencana yang menimpa hingga 
menyangka bahwa Allah tak sayang pada kita. Bila terjadi sesuatu pada diri kita 
yang tampaknya seperti keburukan, maka ingatlah bahwa Allah senantiasa berniat 
berbuat baik kepada hamba-Nya. 

Ibarat anak yang diamputasi tadi, sang orang tua mengamputasi bukan karena 
ingin menghilangkan tangannya, tapi justru untuk menyehatkannya. Begitupun, 
aneka cobaan dan masalah dalam hidup ini sesungguhnya merupakan kasih sayang 
Allah untuk keselamatan kita.

Hikmah utamanya adalah kita tak boleh su'udzan di balik sepelik apa pun masalah 
yang menimpa karena pasti tersimpan niat baik dari Allah untuk kita dan pasti 
tersimpan kebaikan-kebaikan yang terkandung dalam setiap kejadian yang kita 
anggap buruk.

Hikmah lainnya adalah kita harus meniru sifat kasih sayang Allah ini. Seorang 
Muslim yang mengikuti sifat kasih sayang Allah, dia akan peka terhadap 
orang-orang di sekitarnya yang berada dalam kesulitan. Dia terus melacak siapa 
yang membutuhkan pertolongan seraya menyediakan diri dan hartanya untuk 
menolong dengan segenap kemampuannya.

Jika tak mampu menolong, maka dia berusaha memfasilitasi untuk menjadi 
perantara pertolongan. Jika itupun tak berdaya dilakukannya, maka berempati 
dengan menjadikan dirinya sebagai tempat curhat yang bisa meringankan bebannya. 
Jika itupun tak sanggup, maka dia berdoa di balik gelap malam tanpa 
sepengetahuan siapa pun karena dia sangat merindukan orang lain terlepas dari 
kemalangannya.

Inilah sebenarnya karakter seorang Muslim, selalu berfikir bagaimana menolong 
sesama dan melepaskan kemalangan orang lain. Jika hal ini ada pada diri kita, 
kita akan hidup penuh dengan kebahagian, bukan karena mendapatkan pertolongan, 
tapi karena kita bisa menolong orang lain.n stz/mqp ( KH Abdullah Gymnastiar)




  _____  

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke