25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak

 

Kiat 1 : Bersahabatlah dengan Anak dan Jadilah Teladan

 

SIKAP bersahabat dengan anak mempunyai peranan besar dalam mempengaruhi
jiwanya. Perilaku seseorang akan menjadi cermin bagi sahabatnya.

 

Rasulullah saw. biasa menemani anak-anak dalam banyak kesempatan. Suatu saat
beliau menemani Ibnu 'Abbas dan berjalan berdua. Di lain kesempatan beliau
menemani anak-anak saudara sepupunya, Ja'far. Kadang-kadang ia menemani
Anas. Begitulah Rasulullah saw. bersahabat dengan anak-anak tanpa ada rasa
kikuk lebih-lebih angkuh. Adalah merupakan hak anak untuk dapat menyertai
orang-orang dewasa agar mereka bisa belajar dari orang dewasa itu hingga
jiwanya terdidik dan kebiasaannya menjadi baik.

 

Dalam sebuah hadits, Anas Bin Malik menjelaskan bahwa Jibril pernah datang
kepada Rasulullah saw. sedangkan beliau tengah bermain bersama anak-anak.
Lalu Jibril membawa beliau, membaringkan, dan membelah dadanya.

 

Seorang sahabat Rasulullah saw. yang masih anak-anak menceritakan bagaimana
kaumnya meminta dirinya untuk menemani Rasulullah saw. Hal yang menyebabkan
ia kelak meriwayatkan hadits-hadits Nabi saw. Ia menginformasikan apa yang
dilihat dan didengarnya dari Rasulullah saw. Itulah Abu Juhaifah -semoga
Allah meridhainya-. Dia mengatakan, " Saya datang bersama rombongan dari
Bani 'Amir Bin Sha'sha'ah di Abthah. Rasulullah saw. mengatakan, " Selamat
datang, kalian adalah bagian dariku. " Saat tiba waktu shalat, keluarlah
Bilal lalu adzan dan memasukkan kedua telunjuknya pada kedua telinganya. Ia
menengok (ke kanan dan ke kiri) saat adzan. Maka ketika (hendak) melakukan
shalat Rasulullah saw menancapkan tongkat lalu shalat menghadapinya." 

 

Rasulullah saw pernah melihat sekelompok anak-anak tengah bermain. Beliau
tidak memisahkan mereka dan tidak pula menghentikan permainan mereka. Bahkan
beliau mendukung semangat kebersamaan itu dan mengawasi permainan mereka.

 

Demikian pula para sahabat beliau -semoga Allah meridhai mereka. 'Umar biasa
menemani puteranya dan menemani Ibnu 'Abbas. Zubair biasa menyertai anaknya
ke medan perang untuk belajar seni berperang hingga tumbuh menjadi kuat dan
tangguh. Adalah Rasulullah saw, di masa kecilnya, biasa bergaul dengan
anak-anak dan bermain bersama mereka. Pagi dan petang selalu dengan mereka.
Demikianlah beliau tumbuh.

 

Jadi, orang tua harus menyediakan waktu untuk menemani anak-anaknya.
Anak-anak juga perlu dicarikan teman sebaya. Jika orang tua pandai
memilihkan teman yang saleh untuk anak-anaknya dan mengawasi perilaku mereka
serta membimbingnya, maka hal itu akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya.

 

Faktor keteladanan juga mempunyai pengaruh besar terhadap jiwa anak. Sebab
biasanya anak akan meniru kedua orang tuanya. Bahkan kedua orang tuanya akan
mencetak perilaku paling kuat. "Maka kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani," demikian kata Rasulullah saw.
Keteladanan adalah sarana paling efektif untuk menuju keberhasilan
pendidikan.

 

Karena itu, Allah mengutus Nabi Muhammad Saw. untuk menjadi teladan bagi
manusia. "Sungguh telah ada, untuk kalian, pada diri Rasulullah teladan yang
baik." Dan Allah menampilkan kepribadian Rasulullah saw. sebagai gambaran
utuh sistem Islam, sebuah gambaran yang hidup dan abadi sepanjang sejarah.

 

Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. la menjawab, "Akhlaknya
adalah al-Quran." Rasulullah saw. adalah teladan agung untuk manusia
sepanjang sejarahnya. Beliau adalah pendidik dan penuntun dengan segala
perilakunya sebelum dengan kata-kata yang terucap. Itulah Rasulullah saw,
yang menganjurkan para orangtua agar menjadi teladan yang baik tentang
kejujuran dalam bergaul dengan anak-anak. Sebab kejujuran adalah jalan
keberhasilan.

 

Imam Ahmad Bin Hanbal meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah -semoga Allah
meridhainya-bahwa Nabi saw. bersabda:

 

"Barang siapa mengatakan kepada anaknya, 'Kemarilah aku beri sesuatu', tapi
tidak memberinya maka itu merupakan kebohongan."

 

Abu Daud mengeluarkan hadits dari Abdullah Bin 'Amir, ia berkata, "Suatu
hari ibuku memanggilku, sedangkan Rasulullah saw. tengah duduk di rumah
kami. Ibuku mengatakan, 'Kemarilah aku akan memberi kamu sesuatu.'
Rasulullah saw. bertanya kepadanya, 'Apa yang mau kau berikan kepadanya?'
Ibuku menjawab, "Aku akan beri dia kurma.' Rasulullah saw. berkata
kepadanya, 'Demi Allah jika engkau tidak memberi sesuatu padanya maka akan
dicatat bahwa engkau berdusta'."

 

Bukankah tuntunan Nabi saw. itu menunjukkan upaya keras beliau agar pendidik
mempraktikkan kejujuran di hadapan orang yang dididiknya untuk memberi
keteladanan kepadanya.

 

Abdullah Bin 'Amr -semoga Allah meridhai mereka- mengatakan bahwa ia
mendengar Rasulullah saw. bersabda, 

 

"Berangkatlah tiga orang -dari umat terdahulu- hingga tiba malam yang
memaksa mereka berlindung di sebuah goa. Lalu mereka memasukinya. Tiba-tiba
sebuah batu besar jatuh dari gunung menutup pintu goa tersebut. Mereka
berkata, 'Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali
doa kalian dengan (perantaraan) amal saleh kalian. Salah seorang di antara
mereka mengatakan, 'Ya Allah, aku mempunyai ibu bapak yang sudah tua renta.
Dan aku tidak pernah berani mendahului mereka minum di sore hari, tidak pula
keluargaku. Pada suatu hari aku harus pergi jauh untuk mencari kayu bakar
hingga aku pulang menemui mereka dalam keadaan sudah tertidur. Aku tidak
ingin membangunkan mereka sementara aku tidak mau mendahulukan keluargaku
(untuk minum). Maka aku menunggu mereka bangun, sedangkan cangkir tetap di
tanganku, hingga terbit fajar. Sedangkan anak-anakku, saat aku datang,
menggeliat-geliat karena lapar. Lalu kedua orangtua saya bangun dan meminum
minumannya itu. Ya Allah, jika aku lakukan itu karena mencari ridha-Mu maka
berilah aku jalan keluar dari himpitan batu ini. Maka bergesarlah batu itu
sedikit, namun mereka belum dapat keluar darinya..." (Diriwayatkan oleh
Bukhari dan Muslim)

 

Hal itu menunjukkan betapa Rasulullah saw. ingin agar para pendidik berbuat
baik kepada orang tuanya agar menjadi teladan bagi orang yang sedang
dididik. Apa makna anak-anak yang dibiarkan menggeliat-geliat kelaparan
padahal cangkir minuman itu ada di tangannya? Bukankah itu menunjukkan bahwa
ayah adalah teladan bagi anak-anaknya dalam hal berbuat baik kepada kedua
orang tuanya?

 

Sahl Bin Sa'ad As-Sa'idi meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. diberi minuman
lalu beliau meminumnya sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang anak
laki-laki dan di sebelah kiri beliau ada orang-orang yang sudah tua.
Rasulullah saw bertanya kepada anak itu, "Apakah kamu mengizinkan aku untuk
memberi mereka (yang tua-tua) terlebih dahulu?" Si anak itu menjawab,
"Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberikan hakku darimu kepada siapa
pun." Bukankah tuntunan Nabi saw itu menunjukkan bahwa beliau memberikan
teladan dalam bersikap lemah-lembut kepada anak-anak kecil dan berpegang
teguh dengan manhaj Islam dalam tata cara minum, hingga generasi Islam
mengikuti jejak langkahnya? Demikianlah Rasulullah saw. mengajari orang yang
mengemban amanah pendidikan agar menjadi teladan dalam segala hal. Supaya
anak-anak terpengaruh dengan perilaku mereka yang terpuji, dengan nasehat
yang membekas, dengan peringatan yang membimbing, dan dengan pendidikan yang
bijaksana dan integral.

 

Anak-anak akan meniru perilaku orang dewasa yang mereka amati. Jika mereka
mendapatkan kedua orang tuanya jujur, maka mereka akan tumbuh menjadi orang
jujur. Demikian pula dalam hal lainnya. Anak-anak melihat orang dewasa di
sekitarnya sebagai sosok ideal. Jadi, ayah dan ibu di rumah atau guru di
sekolah, dengan segala perilakunya akan menjadi contoh yang akan ia tiru. Di
sinilah arti penting larangan menampakkan sikap kontradikitif di depan
anak-anak. Tidak boleh sama sekali, misalnya, mengatakan kepada anak-anak
bahwa dusta itu salah dan haram sementara kita berdusta di hadapannya. Atau
bahwa kita tidak boleh kotor tapi kemudian mereka melihat kita makan tanpa
mencuci tangan terlebih dahulu.

 

Inilah si kecil Ibnu 'Abbas -semoga Allah meridhainya- ketika ia melihat
orang yang melakukan shalat malam ia segera melakukannya dan bergabung
dengan Rasulullah saw. Ia menceritakan, 

 

"Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah, pada suatu malam. Maka nabi saw.
berdiri (untuk shalat malam). Beliau berwudhu dari ember yang tergantung
dengan (cara) wudhu yang ringan. Kemudian berdiri shalat, dan aku pun bangun
untuk wudhu seperti wudhu beliau kemudian aku kembali (dari berwudhu) dan
berdiri di samping kiri Rasulullah saw. Maka beliau memindahkanku ke sebelah
kanannya kemudian ia shalat..." (Riwayat Bukhari)

 

Jadi ia berwudhu mengikuti Rasulullah saw. kemudian berdiri untuk shalat.
Demikianlah peran keteladanan pada jiwa anak. Karenanya orangtua dituntut
untuk menjadi teladan yang baik karena memang anak akan mengamati perilaku
mereka dan perkataan mereka. Anak biasanya bertanya-tanya tentang alasan
orang tua melakukan sesuatu. Jika yang dilakukan itu baik maka anak pun akan
baik. Dan inilah si kecil Abdullah Bin Abi Bakrah yang senantiasa mengamati
doa-doa yang dilantunkan ayahnya, lalu ia bertanya tentang doa-doa itu dan
ayahnya menjawabnya.

 

Abdullah Bin Abi Bakrah mengatakan, 

 

"Saya bertanya kepada ayah saya, 'Ayah, aku dengar engkau setiap pagi
mengucapkan: 'Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah
pandanganku. Dan tidak ada tuhan selain Engkau'. Engkau mengulang-ulangnya
tiga kali jika datang waktu pagi dan tiga kali jika datang waktu sore.' Ia
menjawab, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw berdoa
dengan doa itu. Jadi aku ingin mengikuti sunnahnya'." (Riwayat AbuDaud)

 

Kedua orangtua dituntut melaksanakan perintah-perintah Allah swt. dan Sunnah
Rasul-Nya dalam bentuk amal nyata dan perilaku serta senantiasa meningkatkan
hal itu secara optimal. Sebab anak-anak senantiasa mengamati mereka pagi dan
petang dan dalam setiap kesempatan. Kemampuan untuk meniru pada anak-anak,
baik karena paham ataupun tidak paham, amat besar melebihi dugaan kita.
Sedangkan kita memandangnya sebagai makhluk kecil yang tidak mengerti
apa-apa.

 

Karenanya, keteladanan dalam pendidikan adalah merupakan salah satu sarana
paling efektif dan berpengaruh dalam mempersiapkan anak dari sisi akhlak dan
membentuknya secara psikologis dan sosial. Karena pendidik adalah prototipe
dalam pandangan anak, seperti yang telah kita sebutkan sebelum ini. Dan
teladan yang baik dalam pandangan anak pasti akan diikutinya dengan perilaku
dan akhlak, baik disadari ataupun tidak. Bahkan akan terpateri dalam jiwa
dan perasaannya bayangan ucapan, perbuatan, perasaan, dan mental orangtua,
disadari atau tidak.

 

Jadi keteladanan merupakan faktor penting dalam membentuk kesalehan atau
kenakalan anak. Jika pendidik jujur, amanah, berakhlak baik, pemurah,
pemberani, dan menjaga kesucian diri, maka si anak akan tumbuh menjadi orang
yang jujur, amanah, berakhlak mulia, pemurah, pemberani, dan menjaga
kesucian diri. Dan jika pendidik berdusta, khianat, kikir, pengecut, maka si
anak pun akan tumbuh dengan dusta, khianat, penakut, dan kikir.

 

Karenanya orang-orang terdahulu begitu serius dalam memilih pendidik terbaik
untuk anak mereka.

 

'Umar Bin Utbah menulis surat kepada pendidik anaknya. Isinya, "Hendaklah
yang pertama kau lakukan dalam mensalehkan anakmu adalah mensalehkan dirimu
sendiri. Sebab pandangan mereka sangat ditentukan oleh pandanganmu. Yang
disebut baik oleh mereka adalah apa yang kaulakukan dan yang disebut buruk
oleh mereka adalah apa yang kau tinggalkan."

 

Pembaca budiman, saya ingin menceritakan sebuah peristiwa yang disampaikan
oleh Ustadz Mahmud Mahir Zaidan dalam bukunya, Als-Tsawab Wal-'Iqob
Fit-Tarbiyah (Imbalan dan hukuman dalam Pendidikan), halaman 17. Silakan
Anda menyimpulkan sendiri seberapa besar peranan keteladanan.

 

la menulis:

 

"Suatu kali saya pernah diundang untuk menghadiri sebuah pesta sederhana, di
ruang kelas V SD. Dalam acara itu, anak-anak meminta salah seorang teman
mereka untuk menirukan perilaku guru-guru sekolah. Lalu si anak bangkit
sambil mengatakan bahwa ia akan menirukan guru pelajaran Bahasa Inggris. Ia
lalu keluar dari kelas dan menutup pintunya. Sejenak ia menghilang. Dan
tiba-tiba ia masuk, bagaikan angin topan, dengan menendang pintu
sekeras-kerasnya. Dengan mata tajam yang menyorot ke "murid-muridnya" dan
dengan wajah garang ia mengatakan, 'Good morning dogs!

 

Sebelum para hadirin mengakhiri keterhenyakannya oleh demonstrasi itu, anak
itu mengatakan bahwa ia akan menirukan guru matematika. Ia kemudian
melontarkan pertanyaan kepada salah seorang temannya yang kemudian menjawab
dengan ragu-ragu. Kemudian pertanyaan yang sama ditujukan kepada temannya
yang lain dan menjawabnya dengan benar. Maka "si guru" itu menyuruh murid
yang jawabannya benar untuk menampar temannya yang jawabannya tidak tepat
itu. Keterhenyakan pun semakin menjadi-jadi.

 

Tiba-tiba saja salah seorang guru mengajak kami menyantap makanan dan
minuman yang tersedia di hadapan kami. Dan saya pun mengerti bahwa ia ingin
mencegah kami agar tidak menikmati lebih jauh tentang apa yang terjadi di
hadapanku."

 

Ustadz Mahmud melanjutkan, "Saya keluar mengayunkan langkah dengan hati
pedih. Dalam benak saya berkecamuk puluhan tanda tanya dan kegalauan.
Begitukah hubungan antara guru dengan murid? Perilaku dan nilai macam apa
yang harus kita tanamkan dalam jiwa-jiwa yang tengah meniti awal perjalanan
dalam kehidupan itu?"

 

Jadi, sekali saja contoh yang buruk, sudah cukup. Sekali saja murid
mendengar gurunya mengucapkan kata-kata kotor dan menghina, itu sudah cukup.
Sekali saja anak mendengar ibunya berdusta kepada ayahnya atau sebaliknya,
atau salah satunya berdusta kepada tetangganya, sekali saja, cukup untuk
menumbangkan nilai kejujuran dalam jiwanya.

 

Sekali saja mendengar ayahnya memerintah dirinya untuk menjawab telepon
dengan mengatakan bahwa ia tidak ada padahal ada; atau ibunya meminta
saudara perempuannya untuk mengatakan hal serupa, maka ia tidak mungkin lagi
belajar tentang kejujuran. Sekali saja ia melihat ibunya mengelabui ayah
atau saudaranya atau mengelabui dirinya, maka tidak mungkin ia belajar
amanah. Sekali saja ia melihat ibunya berperilaku rendah maka ia tidak akan
dapat belajar akhlak mulia. Sekali saja ayahnya bersikap kasar kepadanya, ia
tidak akan bisa belajar kasih sayang dan kerja sama.

 

Anak, betapapun berpotensi besar untuk menerima kebaikan dan betapapun
fitrahnya lurus dan suci, namun dia tidak akan merespon prinsip-prinsip
kebaikan dan dasar-dasar pendidikan yang baik selama ia tidak melihat
pendidiknya berakhlak mulia dan menjadi sosok ideal. Adalah mudah bagi
pendidik mengarang buku atau mendiktekan metoda pendidikan. Akan tetapi
amatlah sulit bagi sang anak untuk menerima manhaj (sistem) pendidikan mana
pun jika ia melihat orang yang menjadi pembimbingnya tidak mempraktikkan apa
yang diajarakan oleh metodologi itu.

 

Untuk itu, saya ingin mengingatkan kita semua agar tidak terjadi kontradiksi
antara ucapan dengan perbuatan kita. Jika kita cermati al-Quran, kita akan
temukan bahwa al-Quran menolak keras perilaku orang-orang yang perbuatannya
berlainan dengan ucapannya termasuk di dalamnya adalah para bapak, para ibu,
semua pendidik, dan semua orang yang mengemban amanah pendidikan. Firman
Allah swt.: 

 
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa-apa yang
tidak kalian kerjakan. Sungguh amat besar dosa di sisi Allah jika kalian
mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. " (Ash-Shaf 2-3)

 

Firman-Nya pula:

 

"Adakah kamu memerintah manusia untuk melakukan kebaikan dan kalian lupakan
diri kalian sendiri padahal kalian membaca kitab. Tidakkah kalian berfikir?"
(Al-Baqarah 44)

 

Adakah Anda menemukan dalam al-Qur'an larangan yang lebih hebat dari
larangan terhadap orang-orang yang memberikan teladan yang buruk? Sungguh
agung sikap 'Umar Bin Khattab -semoga Allah meridhainya- saat mengumpulkan
keluarganya seraya mengatakan kepada mereka, "Amma Ba'du. Sesungguhnya aku
akan menyeru orang untuk melakukan itu dan ini. Aku akan mencegah mereka
dari perbuatan itu dan ini. Dan aku bersumpah dengan nama Allah Yang Maha
Agung, aku tidak ingin mendapatkan seorang pun dari kalian yang melakukan
apa yang aku cegah itu atau tidak mengerjakan apa yang aku perintahkan
kepada orang-orang itu. Jika tidak, aku akan hukum kalian dengan hukuman
yang berat."

 

Lalu keluarlah 'Umar untuk menyeru manusia kepada kebaikan. Maka tidak
seorang pun dari mereka ragu-ragu untuk mendengar dan menaatinya. Sebab ia
telah memberi mereka contoh dengan perbuatan sebelum dengan kata-kata.

 

Seorang penyair melukiskan kepedihan hatinya melihat guru dan pendidik yang
perbuatannya menyalahi kata-katanya:

 

" Wahai engkau yang mengajari orang lain

Tidakkah pelajaran itu juga berlaku untukmu

Engkau memberikan obat kepada orang sakit

Agar ia sembuh padahal dirimu juga sakit

Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk

Padahal engkau sendiri mandul petunjuk

Mulailah dengan dirimu dan cegahlah dari senyimpangan

Jika itu kau lakukan maka engkau orang yang bijak

Kala itulah nasihatmu akan diterima

Ilmumu akan diikuti dan pengajaranmu berguna."

 

Sumber : 25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak (Al Inshat Al In'ikasi
Khamsun Wa Isyruna Thariqah Fi Nafsi Ath Thifli Wa 'Aqlihi) Oleh Muhammad
Rasyid Dimas

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke