Selasa, 17 Juli 2007 
Sudah banyak pakar dan tenaga ahli dikerahkan untuk mengatasi lumpur
Lapindo. Tapi hasilnya nihil. Menurut mantan Tim Ahli ITS saatnya
bertobat! 

" Itu kan hanya upaya akal kita melalui perhitungan akademis.
Istilahnya, sebagai ikhtiyar. Meskipun, menurut kami,  nalar kami saat
ini sedang diuji. Tanpa keterlibatan Allah, semuanya tak mungkin.
Menurut saya pribadi, satu saja yang bisa menghentikan ini. Yakni
kehendak Allah. 
Dalam setiap acara atau undangan berbagai pihak, kami selalu
menyampaikan, barangkali, jika kita ini ndelosor (bersimpuh) dan
tajajjud di hadapan Allah, meminta ampunan dan taubatan nashuhah, dari
pejabatnya ya masyarakatnya, siapa tahu, bisa selesai. "


 
                "Soal Lapindo, Otak Kami Nggak Nyampai!"
Ir. Lily Puji Astuti:
 
[Anggota Tim Ahli ITS Surabaya Ir Lily Pudjiastuti MT yang juga
koordinator tim Studi Amdal Pengembangan/Eksploitasi Lapangan Gas
Lapindo Brantas Inc]

Peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo
Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa
Timur, sudah satu tahun lebih. Tepatnya, terjadi tanggal 29 Mei 2006.
Semburan lumpur panas itu tak hanya menyebabkan tergenangnya kota,
bahkan tekah mempengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Volume
lumpur yang awalnya hanya menghasilkan 5.000 meter kubik per hari, kini,
diperkirakan mencapai 100 ribu kubik perhari.
Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menanggulangi luapan lumpur. Di
antaranya membuat tanggul, mengalirkan lumpur dan menutup sumber luapan.
Belum ada hasil berarti. Sudah banyak ahli, termasuk Tim Nasional
(Timas) dari Kementerian Lingkungan Hidup, Tim perwakilan Lapindo,
pemerintah, dan sejumlah ahli dari beberapa universitas terkemuka. Di
antaranya, para ahli dari Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS),
Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Juga tak ada perubahan berarti. Bulan Juni ini, tanggul bahkan jebol. 

Tim Ahli ITS Surabaya bahkan pernah memprediksi kemungkinan kampus ITS
yang jaraknya 20 km dari Lapindo akan tinggal sejarah. ”Bahkan Tim kami
juga telah memprediksi kemungkinan kampus Institut Teknologi Sepuluh
November Surabaya (ITS) akan jadi sejarah”, ujarnya. Apa maksudnya?

Untuk itu, wartawan Hidayatullah, Cholis Akbar, mewawancarai Ir. Lily
Pudjiastuti, MT, anggota Tim Ahli ITS yang juga mantan Koordinator Tim
Studi Amdal Pengembangan/Eksploitasi Lapangan Gas Lapindo Brantas Inc].

Bagaimana sejarahnya Tim ITS dalam kasus Lapindo dulu?
Kami ini terlibat dalam penanganan Lapindo sebelum Timnas. Sejarahnya,
dulu itu, sebelum ada Timnas, ada tim yang dibentuk oleh Gubernur. Tim
ini di dalamnya ada ITS. Dan penanggungjawab lingkungannya kala itu
adalah kami. Tim dari ITS ini mencoba untuk menyelesaikan bukan pada
’bagaimana menutup” tapi ”setelah lumpur ini berasa di atas, mau
diapakan lumpur ini?” agar bisa mengurangi dampak lingkungan di
masyarakat.  Dampak lingkungan itu  di dalamnya termasuk soaial, ekonomi
dan lain-lain. Jadi solusi-solusi itulah yang kita tawarkan. 

Sekarang yang menangani kan Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).
Cuma kami tak tahu persis apa yang dilakukan di dalamnya. Karena
kebetulan kami tak terlibat. Termasuk Timnas. Kami tidak tahu.

Apa solusinya ketika itu?
Ya termasuk membuat tanggul. Dengan asusmsi, tanggul dibuat untuk
mengisolir dampak. Tim kita, saat itu juga sudah memprediksi bahwa
kejadian ini akan berlangsung lama dan masyarakat ini perlu
diselamatkan.  Cuma ketika itu, tim kami mengusulkan, karena prediksi
lamanya itu, kami mengusulkan jangan ditempatkan di pengungsian. Tim
kami mengusulkan adanya ’relokasi’. Itu usulan kami pertama dari ITS.
Saat itu kejadian baru awal terjadi, Mei 2006.  

Solusi lainnya?
Beberapa hari kejadian, Tim kami mengusulkan solusi lain, di antaranya;
perlunya pembuatan tanggul, mengalirkan air sebelum hujan terjadi. Kami
juga mengingatkan bagaimana luberan terjadi bila musim hujan tiba.
Bahkan, tim juga mengingatkan, akan adanya bahaya sliding atau longsor
pipa gas di bawah tanggul. (Dugaan sliding terbukti, setelah Rabu, 23
November 2006, pada pukul 20.05, pipa gas milik Pertamina yang berada di
bawah luberan lumpur PT Lapindo Brantas di Porong, meledak dan
menewaskan 5 orang).

Tim juga telah memprediksi akan adanya kemungkinan jembatan yang patah.
(Wawancara terpotong karena Puji lantas diam). Saya merinding jika
mengingat lagi peristiwa itu. Karena sejak awal, tim kami sudah
mengingatkan. Sayangnya,  tiba-tiba, pendekatan yang dilakukan
pemerintah hanya bersifat sesaat.

Maksud Anda?
Gimana ya? Misalnya begini. Ada gempa bumi. Blek, lalu selesai.  Atau
jika ada musibah lagi. Blek, selesai. Pemerintah kelihatannya tak pernah
bisa atau tak memiliki pengalaman menangani bencana secara kontinyu dan
terus-menerus. Padahal kita tahu, efek peristiwa itu berjalan terus.

Yang dimaksud penangangan sesaat itu bagaimana?
Contoh kecil; penanganan pemerintah yang hanya menangani –istilah
mereka, ’peta terdampak’—yakni, menganggap di wilayah lokasi semburan
ditanggungkan ke Lapindo dan di luar wilayah itu dianggap bencana
nasional. Selain itu, janji-janji ganti-rugi ke sebagian korban
mau-tidak mau akan membuat sebagian orang ’bermimpi’ dan akan membuat
masalah baru, yakni, stress. Jika, pada akhirnya tidak ditepati.

Lantas bagaimana tanggapan pemerintah dengan Tim ITS?
Kejadian itu hanya lepas begitu saja. Tim ITS tiba-tiba tidak dipakai
sama sekali. Termasuk bagaimana soal pasal Porong. Padahal, semenjak
awal Tim kami saat itu mengusulkan membuat sekat, sampai bagaimana pada
desain toilet, kamar mandi dan ukurannya harus berapa. Pokoknya, sudah
kita desainkan secara lengkap lah. Nah, setelah desain jadi, tiba-tiba
semua pada berebut. (maaf) ini kan dianggap proyek. Ya... akhirnya
digarap orang lain. Sementara kita ini kan volunteere (sukarelawan).
Artinya, kita ini atas inisiatif sendiri, dukungan dana sendiri. Karena
memang yang mendasari tim ITS adalah faktor sosial. 

Anda kecewa sejak ITS tidak dipakai lagi?
Kita adalah akademisi dan tak ada kepentingan proyek atau politik,  kami
masih bekerja sebagaimana biasa. Karena semua tim kami adalah para ahli,
ya kami tetap bekerja dan memanfaatkan laboratorium untuk stressing ke
sini (Lapindo). Bahkan, hampir tiga bulan semua pekerjaan kami hanya
fokus ke situ. Bahkan kami sejak awal men-declear (mengumumkan) kami tak
ingin dibayar. Memang sejak awal kita jelaskan, bahwa kami volunteere
(sukarelawan), hanya ada biaya-biaya pengukuran yang perlu dibayar. Tapi
tenaga ahli tidak kita hitung.

Menurut Anda bagaimana sih sesungguhnya soal kondisi lumpur itu?
Kita sangat mengenal karakteristik lumpur di Lapindo itu. Kalaupun
dialirkan ke kali Porong, keberhasilannya sangat rendah. Dan dampaknya
akan menjadi luar biasa. (Lily kemudian menjelaskan secara akademis
efek-efek luberan lumpur. Sayang, minta off the record). Ya, mungkin
saja Surabaya ini bisa klelep (banjir, red).

Sejauh mana Tim ITS menjelaskan masalah ini ke pihak terkait?
Lho, ke mana-mana. Pada tataran Menteri hingga ke Wakil Presiden. Bahkan
pada semua yang terkait sudah kami sampaikan. Masalahnya, keputusan
selalu berbeda. Seolah-olah yang kita sampaikan ini adalah wacana. Tim
kami ini sudah menghitung sampai pada analisa risk (resiko-resikonya). 

Menurut perhitungan, bagaimana volume lumpur? 
Berdasarkan data Mei 2007, hasil perhitungan seismografis, dan volume
total di atas 100 ribu m3 perhari. Asumsinya, jika tanggul masih seperti
sekarang, dalam dua-waktu tiga tahun ke depan, luberan lumpur akan
sampai radius 2-3 kilometer.

Ada nggak estimasi tim bahwa kapan akan sampai Surabaya?
Hmmm... ITS tinggal sejarah itu sudah pernah kita hitung.

Kapan kira-kira?
Ah... saya agak takut menyampaikannya. Karena ini harus perlu hati-hati
dan jangan membuat keresahan orang yang sudah resah. 

Intinya, ini masalah yang tidak sepele?
Saya hanya ingin menyampaikan. Peristiwa ini bukan main-main. Ini adalah
kejadian yang luar biasa. Dan penangangannya juga tidak boleh biasa.
Anehnya, masyarakat kita –termasuk umat Islam—seolah-olah tidak care
(peduli). Kebanyakan jadi penonton.

Apa kira-kira yang membuat mereka menjadi begitu?
Pertama, saya melihat, banyak orang beranggapan ini hanya tanggung jawab
Lapindo. Kedua, sebagian besar umat Islam Surabaya merasa, musibah ini
belum dan tidak terjadi di wilayah mereka. Dan terakhir, tak ada tradisi
berempati bagaimana saat musibah terjadi pada saudaranya.

Yang jelas, dalam kasus lumpur ini, masyarakat, komunitas dan masa depan
anak-anak kita. Bagaimana pendidikan anak-anak kita ke depan? Masa mau
di pengasingan terus? 

Sudah Anda sampaikan ke ormas-ormas Islam?
Sudah. Ke Hidayatullah dan ormas-ormas Islam yang mengundang saya telah
kami sampaikan. Dan tak ada langkah untuk melakukan penanganan. Ini
bukan soal ketidaktahuan. Wong,  informasi sudah cukup banyak. Jadi. Ada
apa dengan kita ini? Padahal jika mau, umat Islam itu sangat bisa
melakukan. Misalnya soal pendidikan anak-anak kita ke depan.

Jadi apa langkah kita seharusnya?
Kalau dengan perhitungan ilmiah, ya kita akan membuat kemungkinan
langkah-langkah antisipasi. Misalnya; mengusulkan agar menggiring dan
pengendalian luberan lumpur disesuaikan dengan tipografi tanah yang
datar ke arah Timur. Biarkan dia sesuai kodratnya, mencari yang lebih
rendah. (Penanggulangan Timnas yang sekarang justru ke arah Selatan dan
diduga banyak pihak justru kodrat alam). 

Kepada pemerintah, Tim ITS juga akan mengusulkan pemasangan tanggul
ganda untuk wilayah dalam (sumber utama lumpur) dan tanggul luar yang
bersifat permanen. Termasuk usulan alternatif menyelesaikan masalah
infrastruktur. Meliputi jalan kereta, jaringan SUTET dan jalan tol.
Termasuk menyelesaikan masalah sosial masyarakat. Tujuannya menjaga tak
sampai ke arah perumahan. 

Apa upaya itu menjamin lumpur berhenti?
Itu kan hanya upaya akal kita melalui perhitungan akademis. Istilahnya,
sebagai ikhtiyar. Meskipun, menurut kami,  nalar kami saat ini sedang
diuji. Tanpa keterlibatan Allah, semuanya tak mungkin. Menurut saya
pribadi, satu saja yang bisa menghentikan ini. Yakni kehendak Allah. 
Dalam setiap acara atau undangan berbagai pihak, kami selalu
menyampaikan, barangkali, jika kita ini ndelosor (bersimpuh) dan
tajajjud di hadapan Allah, meminta ampunan dan taubatan nashuhah, dari
pejabatnya ya masyarakatnya, siapa tahu, bisa selesai. 

Anda seorang peneliti dan juga akademisi? Bagaimana berfikiran seperti
itu?
Wong sudah semua pakar toh sudah dikerahkan. Otak kami ini ibaratnya
sudah nggak nyampai dan gak nyambung. Bikin begini, begitu, seolah bisa
selesai. Nyatanya. Nggak.

Yang memprihatinkan lagi, sebagian umat Islam kok yang melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang kontra-produktif. Misalnya; melakukan
langkah-langkah tak mendidik dengan menghadirkan dukun atau menanam
kepala kerbau lah. Di sebuah forum umat Islam saat mengundang tim kami,
ada yang berkomentar, ”Lho, bu, kita ini kan sedang diuji melawan
kekuatan Tuhan!” Masyaallah!. Saya bilang, ”Tolong bapak istighfar!”
Begini-begini apa gak malah membikin murka Allah. * Cholis Akbar.
[Wawancara ini pernah dimuat di majalah Hidayatullah bulan Juli 2007]
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke