Perubahan Butuh Pemimpin Ideologi
Pemimpin yang tak takut celaan, tak peduli dianggap sektarian, tak goyah oleh
guncangan, karena punya landasan ideologi yang benar.
Pada mulanya semua kejahatan dilakukan secara individual, orang per orang.
Tetapi untuk meningkatkan hasil kejahatannya, juga demi mengurangi risiko,
individu-individu yang mempunyai kepentingan sama itu berhimpun, membentuk
jaringan. Dari waktu ke waktu jaringan itu membesar, yang pada akhirnya
terstruktur dalam sebuah organisasi yang solid dan besar. Di dunia industri
dikenal istilah "kartel", di dunia preman disebut "geng", sedangkan dalam
birokrasi dikenal adanya perkoncoan, nepotisme. Di dunia internasional ada
zionisme dan gerakan jahat lainnya.
Kejahatan yang sudah tersistem ini sulit dihadapi. Tanpa kesiapan memadai,
yang berani melawan justru akan jadi korban, baik secara fisik maupun psikis.
Apalagi bila persekongkolan mereka sudah bermuatan ideologi. Selain memiliki
alat pertahanan, jaringannyapun menginternasional. Yang lebih penting lagi,
mempunyai kekuatan spiritual. Di sana ada solidaritas pertemanan, ada perasaan
senasib seperjuangan, ada lawan dan kawan, dan ada alasan untuk berbuat
kejahatan. Yang terakhir ini justru menjadi landasan moral bagi mereka untuk
menjalankan aksinya.
Bagi seorang koruptor, mencuri itu tetap merupakan perbuatan jahat. Tetapi
ketika ia menjarah kekayaan kantor atau negara, ia punya landasan moral
tersendiri. Ia mencari-cari alasan sehingga perbuatannya dianggap sebagai suatu
yang lumrah dan biasa. Paling tidak ia bisa meyakinkan dirinya bahwa
kejahatannya tidak dilakukan sendiri, tapi juga oleh orang lain. Ini yang
disebut dengan landasan moral, yang menjadikan seseorang tidak merasa bersalah
atau minimal terkurangi rasa bersalahnya.
Pada tingkatan tertentu, ketika kejahatan itu sudah diterima sebagai suatu
kewajaran, ia akan meningkat menjadi suatu ideologi. Jika saat ini ada ideologi
pembangunan, bersamaan dengan itu lahir pula ideologi korupsi. Orang melihat
korupsi bukan semata sebagai suatu kejahatan, tapi juga sebagai suatu yang
menguntungkan. Seorang pengusaha merasa lebih efisien menyogok pejabat daripada
harus mondar-mandir mengurus perizinan &emdash;yang memang sudah dibuat sulit.
Korupsi tidak saja menguntungkan pejabat, tapi juga pengusaha dan orang-orang
yang berkepentingan dengan para pejabat. Masalahnya, siapa yang tidak punya
kepentingan dengan pejabat? Mulai dari mengurus KTP hingga surat kematian,
warga negara mesti berurusan dengan pejabat yang berwewenang. Korupsi menjadi
suatu yang lazim, bahkan sebagai suatu yang menguntungkan, walaupun tetap
dihujat sebagai perbuatan jahat. Orang yang paling getol menentang korupsi
sekalipun bila kepentok urusan dengan pejabat, toh akhirnya menggunakan jalur
ini. Kena tilang, paling juga minta 'damai'.
Bersamaan dengan kelaziman korupsi di masyarakat, di lingkungan birokrat pun
tumbuh suatu prinsip, 'jika bisa dipersulit, kenapa dipermudah?' 'Jika bisa
ditunda sampai seminggu, kenapa diselesaikan sehari?' Mulanya ini hanya berupa
joke saja, tapi pada akhirnya menjadi 'prinsip hidup.' Sengaja diberi tanda
kutip untuk mengartikan sebagai suatu pembenaran.
Korupsi telah menjadi ideologi, yang kemudian berkembang menjadi sistem hidup
bermasyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Di sini
ada pembenaran, landasan moral, dan legalitas dari sistem kemasyarakatan. Pada
saat korupsi sudah menjadi ideologi seperti ini, tak mungkin bisa diatasi
dengan cara menerbitkan undang-undang anti-korupsi, penegakan hukum, dan
operasi-operasi pembersihan, karena semua berpulang pada siapa yang
melakukannya.
Dalam sebuah masyarakat yang demikian, seruan untuk menghapus korupsi sama
halnya berteriak di padang pasir. Suara itu hanya dibawa oleh angin, entah ke
mana. Meski kerongkongan sampai kering belum ada yang mendengarnya.
Dalam kondisi seperti inilah, dahulu kala, Allah mengutus seorang rasul.
Tugas rasul adalah membebaskan manusia dari belenggu ideologi yang menjerat
ini. Tentu saja rasul ini akan menghadapi rezim penguasa yang memerintah suku,
bangsa, atau negara yang bersangkutan.
Nabi Musa hadir di tengah masyarakat yang diperintah sistem jahat rezim
Fir'aun yang sangat menindas. Raja Fir'aun hidup dari upeti yang diberikan para
pejabat dan tuan tanah. Sedangkan pejabat dan tuan tanah hidup dari penindasan
atas rakyatnya. Tugas berat Nabi Musa bukan saja menghadapi Fir'aun, tapi
ideologi dan sistem kemasyarakatannya. Menghadapi Fir'aun sebagai pribadi tidak
banyak persoalan bagi Nabi Musa, tetapi apalah artinya Fir'aun tumbang bila
segera terbangun Fir'aun baru dari segala penjuru?
Pada dasarnya masyarakat yang berada di bawah kekuasaan Fir'aun sudah merasa
gerah terhadap cara menguasai yang represif tersebut. Namun mereka tidak bisa
lepas dari sistem itu. Bahkan ketika ada seseorang atau sekelompok orang
mencoba menggoyang, masyarakat yang berada dalam lingkaran sistem itu siap
menjadi batu ganjalannya. Mereka akan menghalangi semua gerakan perubahan
sampai mereka kalah atau menyerah.
Demikianlah kehadiran Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad, dan semua nabi Allah.
Mereka diutus untuk menghadapi sistem masyarakat yang jahat. Tidak saja
kejahatan individual, tapi kejahatan yang struktural. Kejahatan yang dilakukan
oleh struktur paling atas, mulai dari raja hingga rakyat yang paling bawah.
Mulai dari presiden sampai ke lurah, direktur hingga kuli.
Karena kini kejahatan telah menstruktur, maka sebenarnya sudah saatnya kita
menanti datangnya Sang Nabi. Sayang bahwa Nabi Muhammad telah ditetapkan
sebagai nabi terakhir. Artinya tidak ada nabi lagi setelahnya. Karenanya kita
tidak mungkin mengharapkan sosok nabi hadir di tengah-tengah kita. Yang
dibutuhkan sekarang adalah sosok manusia biasa yang mampu menghimpun kekuatan
yang berserakan di mana-mana, untuk pada saat yang tepat dimobilisir menghadapi
kejahatan struktural.
Sosok manusia biasa itu adalah pemimpin ummat yang hadir menawarkan
pencerahan, reformasi, bahkan revolusi. Pemimpin itu hadir membawa ideologi
yang jelas, program yang tersusun rapi, dan didukung oleh sumber daya yang
memadai. Sumber daya itu tidak saja berupa materi, tapi lebih penting dan utama
adalah sumber daya insani, berupa ummat yang militan. Bersama ummatnya, sang
pemimpin membuat langkah, menyusun shaf, menawarkan visi dan missi, dan pada
akhirnya memimpin sebuah reformasi atau revolusi.
Kejahatan struktural tidak mungkin bisa diatasi dengan ceramah-ceramah agama,
majlis ta'lim, jama'ah shalawat, atau kegiatan-kegiatan sejenis. Ia juga tidak
bisa diselesaikan oleh mimbar-imbar ilmiah, atau kampanye partai politik. Di
sini dibutuhkan kehadiran seorang ideolog yang menawarkan perubahan, sekaligus
memimpin gerakan perubahan tersebut.
Seribu cendekiawan tidak akan mampu membuat perubahan apa-apa, tapi seorang
ideolog bisa melipat dunia. Cendekiawan hanya bergerak dengan ilmunya,
sementara seorang ideolog bergerak selain dengan ilmu, juga keyakinannya.
Keyakinan itulah yang menjadi motor penggerak, api perjuangan, yang menjadikan
seseorang berani melakukan suatu perubahan. Tanpa keyakinan tidak akan pernah
ada keberanian. Sedangkan keberanian itu modal dasar untuk melakukan perubahan.
Musa, Ibrahim, dan Nabi Muhammad adalah sosok manusia yang mempunyai
keberanian tinggi. Nyalinya besar menghadapi kejahatan struktural. Pantang
menyerah menghadapi kaum kuffar. Dengan modal keberanian itulah mereka meraih
sukses besar membawa masyarakatnya pada dunia baru yang dicita-citakan.
Para nabi itu bukan saja pemberani, tapi pelopor keberanian. Mereka berani
dalam keadaan damai maupun perang. Berani dalam keadaan sendiri maupun dalam
jama'ah. Berani dalam keadaan pembelanya hanya sedikit, maupun dalam keadaan
banyak kawan. Berani terus-terang dalam membela yang haq, dan berani membela
aqidah, apapun akibat yang timbul karenanya.
Keberanian mereka tidak sekadar keberanian menghadapi mati, karena yang
dibela bukan hanya nyawanya sendiri. Mereka berani menghadapi risiko apapun
untuk membela agama, membela hak, membela sahabat, membela nilai-nilai yang
tinggi, membela risalah yang dibawa.
Sumber keberanian mereka itu berasal dari Allah, yang mendidikkan keberanian
melalui firman-firman-Nya. Salah satunya Allah berfirman: "Berangkatlah kamu
baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat dan berjihadlah dengan
harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui." (QS at-Taubah: 41)
Saat ini yang belum ada sekarang adalah pemimpin yang penuh integritas,
berani dan lugas menyampaikan keberpihakannya pada Islam dan ideologi Islam. Ia
tidak takut dicap sektarian, tidak khawatir dituduh memperjuangkan kelompok
aliran. Bukankah Rasulullah sendiri telah berwasiat kepada kita sebagaimana
yang disampaikan oleh Ibnu Hibban:
"Di antara wasiat-wasiat Rasulullah saw adalah: 'Jangan takut berada di jalan
Allah terhadap celaan orang yang suka mencela.' Aku berkata: 'Tambah lagi ya
Rasulullah.' Beliau melanjutkan pesannya: 'Katakanlah apa yang haq meskipun
akibatnya terasa pahit.'" (HR. Ibnu Haban)
Sayang, belum hadir pemimpin yang diterima semua kalangan, yang mempunyai
keberanian untuk menawarkan ideologi Islam. Padahal sekarang waktunya tepat.
Kondisi dalam keadaan transisi, ada kesempatan untuk melakukan berbagai
perubahan dan perombakan. Sebaliknya, tokoh yang pada awalnya sangat berani
justru menanggalkan atribut keislamannya karena khawatir tidak mendapatkan
dukungan lebih luas, baik dari dalam maupun dari luar Islam.
Kejahatan struktural tidak bisa dihentikan hanya dengan gerakan moral,
imbauan-imbauan, petisi, ceramah-ceramah agama, atau pengajian. Kejahatan
struktural hanya bisa dihentikan dengan kekuatan yang tersistem dalam sebuah
jama'ah yang solid di bawah kepemimpinan yang penuh integritas, berani
bersikap, dan lugas dalam menawarkan konsep perubahan, karena punya landasan
spiritual yang memadai.
Jika ada kepemimpinan seperti ini, tak lama lagi akan terjadi perubahan besar
di sini. Jika tidak, perubahan hanya akan berputar di situ-situ saja. Tidak ada
perubahan prinsip. Hanya terjadi pertukaran pimpinan, penjatahan kursi
kekuasaan, dan distribusi pendapatan. Sedangkan kejahatan lama, baik berupa
praktik KKN, kezhaliman, dan kemaksiatan, tetap berlanjut seperti semula.
Nyaris tidak ada perubahan. Sekarang memang semua orang menyatakan anti KKN.
Tetapi siapa menjamin setelah zaman berganti? Bila kesadaran pertanggungjawaban
kepada Allah tidak mereka miliki, apa yang akan Anda pegang dari janji mereka
sekarang ?
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************