Semenjak Jalur Gaza dikuasai Brigade Izzuddin Al-Qasam, kota kecil terkendali. 
Prostitusi, obat terlarang diberantas. Tapi pers Indonesia kok memberitakan 
lain?

Bagian 1
Tanah seluas 365 kilometer, yang dikenal Jalur Gaza itu kacau balau. 
Penculikan, pembakaran hingga pembunuhan sejumlah ulama. Bagaimana kiprah Hamas?
Hidayatullah.com--Harakah Muqawwamah Islaminyah atau Hamas,  mulanya muncul 
sebagai kelompok sosial pada tahun 1978. Sejarah pertumbuhan Hamas tak terlepas 
peran almarhum Syekh Ahmad Yassin yang mendirikan organisasi sosial dan dakwah 
di daerah pendudukan Jalur Gaza dan Tepi Barat pada tahun 1973. Hamas makin 
populer  ketika aksi intifadah meruyak melawan tentara Zionis Israel. 
Bagaimanapun, intifadhah sebagai bukti bahwa perlawanan adalah solusi terbaik. 
Bahkan ia menjadi momok paling menakutkan Zionis-Yahudi. Seolah tak kehilangan 
akal, Israel -didukung Barat-justru mengkampanyekan ke seluruh dunia, bila 
Hamas adalah kelompok 'garis keras' dan gerakan teror. Tak luput dengan media 
Indonesia yang ikut-ikutan menggunakan bahasa diplomasi Israel dengan menyebut 
Hamas sebagai kelompok 'militan' atau 'garis keras', yang kebanyakan mengambil 
sumber dari media Barat. Bagaimana sesunguhnya kiprah Hamas? Thoriq dari 
www.hidayatullah.com akan melakukan analisa-khusus dengan mengambil beberapa 
sumber Timur Tengah.  Tulisan akan disajikan selama dua seri. 
***
Gerakan intifadah, bagi Israel ibarat negara paling menakutkan. Begitu 
takutnya, sampai tentara Israel pun dikenal kasar dan tega menghadapi anak-anak 
Palestina yang berusia di bawah belasan tahun.  Segala jenis siksaan dan tindak 
kekejaman dilakukan, meski demikian, anak-anak Palestina bukannya kapok. 
Perlawanan dengan batupun terus dilakukan di mana-mana. Jika ketahuan dan 
tertangkap,  tentara Israel tak segan-segan mematahkan tangan anak-anak 
Palestina. Di pihak Hamas dan warga Palestina sendiri korban juga terus 
berjatuhan. Di tahun ketiga intifadah saja sudah 973 orang Palestina tewas. 
Sudah banyak cara dilakukan AS dan Israel untuk menumpas Hamas, yang sampai 
sekarang tidak mau mengakui keberadaan negara Israel, termasuk menggunakan 
kekuatan senjata, politik dan ekonomi dengan memutuskan bantuan keuangan Hamas 
dari seluruh dunia termasuk bantuan dari relawan dan negara Islam. Namun Hamas 
tetap hidup karena bagi Hamas mati lebih mulia daripada hidup dijajah.
Sebagaimana halnya Amerika. Ibarat setali tiga uang. Amerika jelas berada di 
arus utama negara-negara Barat yang mengomandani pemboikotan pemerintahan Hamas 
ketika menang Pemilu.
Amerika tidak sudi mendukung terbentuknya pemerintahan Hamas karena kelompok 
ini dianggap tak tunduk pada AS dan Israel. Sementara itu, Amerika seolah 
menutup mata, bagaimana Zionis-Israel jauh lebih kejam melakukan tindakan teror 
terhadap bangsa Palestina. Bahkan sebelum banyak lembaga HAM lahir.
Sebuah laporan yang disusun Hisam Abdu Raabbah dan Muhammad al-Nitcha di 
majalah terbitan Kuwait Al Mujtama' edisi 1192 menuliskan, ternyata 
Zionis-Israel telah melakukan aksi terorisme jauh sebelum negara itu berdiri 
pada tahun 1948. Tercatat dalam kurun waktu 1936-1939 teroris Zionis telah 
melemparkan bom terhadap warung kopi, pasar, dan terminal bangsa Arab di 
Haiva,Tel Aviv dan Al-Quds.
Tindakan teror Zionis dilancarkan oleh organisasi teroris seperti Haghana, 
Shtern, Irgun dan Itsil yang pemimpin organisasi ini juga sekarang banyak 
memimpin Israel seperti Ariel Sharon yang kini sedang mengalami stroke. Hasil 
teror yang dilancarkan organisasi teroris Yahudi dengan persekongkolan jahat 
bersama negara-negara Barat itu, lahirlah Israel, yang kini dikenal dunia.
Berbagai tindakan teror yang dilancarkan Zionis selama ini telah memastikan 
perjalanan sejarah bangsa Yahudi sebagai sejarah yang berlumuran darah. Boleh 
dikata, tak ada bentuk teror yang dikenal masyarakat dunia yang tidak dilakukan 
orang-orang Yahudi. Mereka melancarkan metode-metode penjajahan dan penindasan 
yang paling mengerikan termasuk melakukan pembunuhan, pembantaian massal, 
meratakan rumah-rumah, menghancurkan desa-desa, membakar kebun-kebun dan pohon 
sampai mengusir dan mendeportasi bangsa Palestina.
Amerika juga tidak sedikit melakukan tindakan terorisme akbar di dunia ini. 
Masih segar dalam ingatan bagaimana AS meluluhlantakkan Afghanistan dan Iraq 
yang semuanya mendapat legitimasi internasional. Sekarang Iran menunggu 
giliran, AS akan menggunakan kekuatan militernya menyerang Iran dengan dalih 
isu nuklir.
Kalau bicara tentang pemerintahan bentukan Hamas tidak ingin mengadakan 
pembicaraan damai dengan Israel. Memang Hamas tidak pernah melihat iktikad baik 
Israel mau berdamai dengan Palestina dan dunia Arab. Terbukti sejak perjanjian 
damai Oslo yang alot sampai beberapa tahun dan perjanjian peta jalan damai yang 
disponsori empat negara besar tetap saja dimentahkan Israel.
Gaza, setelah Dikuasai Hamas 
Pertengahan bulan lalu, Hamas menyatakan bahwa mereka telah berhasil mengontrol 
seluruh wilayah Gaza. Akan tetapi situasi Gaza sebelum dan pasca pertempuran 
antara Hamas dan Fatah sampai sekarang tidak banyak diketahui. Sebagian besar 
media masa pun tidak mengungkap situasi yang berjalan di jalur Gaza saat ini, 
kecuali beberapa media Muslim, salah satunya adalah Mafkarah Al Islam, yang 
memiliki koresponden di jalur Gaza Palestina. 
Sebagaimana dikutip Mafkarah Al Islam, kondisi Gaza pasca pertempuran begitu 
jauh sebagaimana banyak ditulis media asing (baca Barat) yang juga diikuti 
koran-koran Indonesia. 
Sebelum pecahnya pertempuran antara Fatah dan Hamas yang berakhir dengan 
menyingkirnya Fatah dan pasukannya, kondisi jalur Gaza amat parah untuk bisa 
diceritakan. Di sana telah terjadi kevakuman keamanan dan para penduduk hidup 
dalam "cengkraman" rasa takut amat sangat, yang tidak pernah dirasakan 
sepanjang waktu walau Gaza berada dalam cengkraman imperialis Israel. 
Kondisi seperti itu telah menyebabkan jatuhnya ratusan korban, penghancuran, 
serta pembakaran aset rakyat dan negara. Juga meningkatnya aktivitas kejahatan 
seperti perampokan, serta aksi penculikan terhadap para ulama dan imam masjid 
penghafal Al Qur'an serta pecahnya baku tembak dikarenakan masalah-masalah 
remeh, yang terjadi antar kelompok, pribadi atau antar keluarga.
Sekedar catatan, secara ekonomi, dengan luas hanya 365 kilometer persegi dan 
berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa, Jalur Gaza adalah tempat yang sempit.  Ia  
tidak mampu menghidupi diri sendiri, tetapi sangat bergantung pada bantuan 
luar. Apalagi di saat  Hamas kehilangan dukungan internasional. Boleh dibilang, 
dua pertiga dari jumlah penduduk itu hidup di bawah garis kemiskinan.
Jalur Gaza pun identik dengan penjara besar karena semua pintu gerbang menuju 
Jalur Gaza masih dikontrol Israel. Sejak kasus penyanderaan serdadu Israel, 
Gilad Shalit, Juni 2006, Israel lebih sering menutup semua pintu gerbang menuju 
Jalur Gaza. 
Kekacauan merembet pada ketiadaan hukum. Termasuk permusuhan terhadap 
pengadilan-pengadilan, yaitu dengan membebaskan para tertuduh dengan paksa dari 
tuduhan, serta melepaskan orang-orang yang telah divonis dengan kurungan dan 
pengintimidasian terhadap para hakim supaya mau melepaskan pekerjaanya.
Kerusuhan bahkan berlanjut pada pembunuhan sejumlah ulama. Juga serangan 
terhadap Masjid. Menurut perhitungan Mafkarah Al Islam menunjukkan, bahwa lebih 
dari 30 masjid di jalur Gaza menjadi sasaran penyerangan dan penembakan secara 
langsung. 
Dr. Shalih Raqab wakil Kementrian Wakaf dari jalur Gaza menyatakan, bahwa 
sembilan ulama terbunuh di tangan sempalan revolusi. Biasanya, mereka 
menjadikan orang-orang berjenggot dan mereka yang terlihat sebagai aktivis 
Islam sebagai sasaran. Puluhan kaum Muslim yang berjenggot telah menjadi korban 
penyiksaan sempalan pengikut Ahmad Dahlan. Dan kekejaman yang paling buruk dari 
trend ini adalah hal yang telah dilakukan oleh sekelompok dari petugas keamanan 
pengikut Mahmood Abbas ketika menculik Hisam Abu Qainash pada hari Senin, 
(11/6). Qainas dilemparkan dari lantai lima belas. Tidak ada sebab kecuali 
karena ia diketahui berjenggot. Namun situasi itu terhenti tatkala Hamas 
menguasa Gaza.  
Bagian 2
Hidayatullah.com--Bagaimana keadaan para imam masjid yang berjenggot? Keamanan 
jalur Gaza? Serta bagaimana penduduk Palestina hidup setelah berkuasanya 
Al-Qasam di sana? 
Sejumlah pendunduk dari berbagai tingkatan mengungkapkan dengan gembira 
ketenangan yang mereka rasakan, yang telah hilang sejak beberapa tahun. 
Adalah Syakir Ashfur. Pelajar dari Khan Yunis Gaza selatan yang juga mahasiswa 
di Universitas Islam Gaza mengungkapkan bahwa dia bisa aktif kembali untuk 
pergi ke universitas setelah sebelumnya hal itu tidak bisa ia lakukan 
dikarenakan ia berjenggot. Selain itu, ujarnya, posisi Universitas Islam Gaza 
sendiri berada di tengah-tengah titik konflik. 
"Aku menghadapi kesulitan yang amat sangat ketika pergi untuk melaksanakan 
shalat Subuh dan isya di masjid. Aku merasa tidak akan kembali dalam keadaan 
hidup setelah shalat, kami merasa tidak aman sama sekali."
Namun kekhawatiran itu ternyata tak terjadi. Yang terjadi adalah hancurnya 
kelompok Dahlani. Yang dimaksud dengan Dahlani ada pengikut setia pasukan Ahmad 
Dahlan, kelompok bersenjata di bawah Presiden Mahmood Abbad. 
Menurut Ashfur,  hancurnya sempalan Dahlani adalah bentuk murka Allah terhadap 
mereka, dikarenakan pembangkangan mereka terhadap Allah, ulama dan para imam 
masjid.
"Istriku sudah tidak menanantiku lagi di depan pintu setelah hancurnya sempalan 
Dahlani, dikarenakan dia sudah tidak mencemaskan keselamatanku lagi setelah 
kembali dari masjid," ujarnya sembari tersenyum.
Padahal, menurutnya, dulu,  rumah sakit-rumah sakit pun tidak pernah berhenti 
mengumumkan keadaan darurat, dan beberapa rumah sakit yang berada di jalur Gaza 
pun tidak mampu lagi menampung jumlah korban yang disebabkan vakumnya keamanan. 
Unit darurat terbuka di setiap rumah sakit, hingga seakan-akan tempat itu telah 
berubah menjadi barak militer. 
"Kami tidak membesar-besarkan jika kami mengatakan, jika engkau datang 
menjenguk salah seorang pasien engkau merasa berada di dalam barak militer yang 
penuh dengan prajurit dengan bermacam jenis senjata." 
Tidak Ada Korban

Sebuah Organisasi Independen untuk Hak-Hak Penduduk Palestina dalam data 
statistiknya pada tahun 2007 menunjukakkan bahwa dalam satu bulan rata-rata 54 
orang tewas di jalur Gaza dikarenakan perselisihan keluarga, pencurian dan 
sebab-sebab lainnya yang menyebabkan hilangnya rasa aman. 
Adapun sekarang, hanya dalam waktu dua minggu Gaza di bawah kontrol Al-Qasam 
beberapa sumber dari kalangan medis menyebutkan bahwa seluruh rumah sakit yang 
berada di penjuru Gaza tidak didatangi seorang pasien pun yang sakit atau 
terluka dikarenakan hilangnya kontrol keamanan.
Juga tidak tersiar lagi dari radio-radio setempat berita jatuhnya korban akibat 
keamanan yang tidak terkendali, sebagaimana yang biasa tersiar sebelum Al-Qasam 
berkuasa, dimana beberapa keluarga jika ada perselisihan mereka tidak 
segan-segan untuk menggunakan senjata api dan peluru bahkan kemungkinan sampai 
kepada tahap penggunaan bom dan mortar. 
Menurut Ashfur, saat ini tidak memungkinkan lagi bagi siapa saja untuk 
mengeluarkan dan "memamerkan" senjata api, karena hal itu akan menyebabkan 
penyitaan senjatanya dan penangkapan terhadapnya. Ashfur menambahkan, kira-kira 
sepakan yang lalu terjadi pertengkaran antar beberapa keluarga di sebuah kamp 
pengungsian di Gaza barat. Namun, tak ada lagi penyelesaikan dengan senjata. 
kecuali tongkat.
Minuman Keras dan Obat Terlarang
Setelah Al-Qasam mengumumkan bahwa seluruh penjuru jalur Gaza dikuasai di pagi 
hari, tepatnya, Jumat, 15 Juni 2007, Izzuddin Al-Qasam terus bergerak-tanpa 
melakukan "istirahat" yang biasa dilakukan pasukan setelah memenangkan 
pertempuran.
Pasukan Al-Qasam bergerak  menuju pusat-pusat penjualan minuman keras yang 
terkenal dengan At Tahliyah daerah Khan Yunis, Gaza daerah selatan. Tempat itu 
bisa dikuasai seluruhnya oleh Al-Qasam dan dibunuhnya tiga "dedengkot" penjual 
dan produsen obat-obatan terlarang kemudian memusnahkan barang haram ini dengan 
jumlah yang amat besar.
Ahmad Asthal, salah satu penduduk yang tinggal satu wilayah dengan pusat 
obat-obat terlarang itu mengungkapkan rasa gembiranya atas "hukuman" yang 
ditimpakan kepada tiga "bandar" obat-obat terlarang itu. Ia menceritakan bahwa 
para penduduk enggan melakukan shalat jenazah untuk tiga orang itu, bahkan 
mereka menolak tiga janazah itu dibawa ke masjid, hanya dua orang saja yang 
mengubur mereka di pemakaman Khan Yunis.
Tempat Prostitusi
Selain membasmi minuman keras, Al-Qasam juga mendatangi rumah-rumah bordir dan 
tempat praktek prostitusi yang sebelumnya dilegalkan oleh pihak yang 
bertanggung jawab.
Sekarang sudah tidak ditemukan lagi di jalur Gaza. Sudah banyak diketahui bahwa 
di tempat inilah Israel menciptakan "tentara" dengan jumlah yang amat besar 
dari orang-orang Palestina sendiri, yaitu dengan mengambil gambar ketika meraka 
melakukan perzinaan dan mengancam akan menyebarkan gambar itu jika ia enggan 
membantu Israel. Biasanya, pria-pria yang direkam gambarnya ini lantas diperas 
agar bersedia menjadi "mata-mata" Israel.
Juru bicara dari petugas keamanan, Islam Syahwan menegaskan bahwa sejak 
Al-Qasam mengendalikan jalur Gaza, tidak ditemukan lagi praktek asusila di 
seluruh penjurunya.
Bubarnya Pasar Senjata
Sebelum Al-Qasam datang, perdagangan senjata berjalan sangat liar. Perdagangan 
ini, kabarnya "didirikan" oleh para penguasa sempalan revolusi, di mana senjata 
api bisa diperjualbelikan dengan bebas di sana, baik untuk mereka yang gemar 
berkelahi atau anak-anak muda yang suka pamer senjata. 
Sehingga jadilah pasar mobil yang berada di jalan Shalahuddin timur kota Gaza 
sebagai pusat perdagangan senjata yang diperuntukkan khusus bagi rakyat sipil. 
Adapun gerakan perlawanan tidak pernah "merendahkan martabat" untuk pergi ke 
pasar mobil guna membeli senjata dari para penghianat. Gerakan perlawanan 
memiliki sumber persenjataan sendiri yang dirahasiakan, guna menghadapi Zionis.
Abdullah Hijazi, seorang penduduk yang tinggal di dekat pasar mobil mengatakan, 
"Beberapa waktu yang lalu kami tidak merasakan ketenangan ketika tidur dan 
istirahat, dikarenakan percobaan senjata oleh para pedagang senapan dan pistol, 
serta penjajahan dagangan mereka kepada para pengunjung pasar." 
Hijazi menambahkan, "Tidak mungkin hidup di tengah letusan senapan dan di 
antara pedagang senjata serta obat-obat terlarang. Dan kami tidak memungkinkan 
untuk melarang mereka, karena hanya berbicara kepada mereka pun nyawa menjadi 
taruhannya." 
Ia juga mengatakan, "Akan tetapi saat ini keadaan telah berubah, berbalik 360 
drajat, anda tidak melihat lagi orang menenteng di jalanan Gaza, bahkan di 
pasar mobil sekalipun, dan kami tidak lagi mendengar letusan-letusan senjata 
api sehingga memungkinkan bagi anak-anak kami untuk keluar dari rumah sejak 
Al-Qasam menguasai Gaza, juga mereka bisa menikmati transportasi air serta 
pergi ke sekolah tanpa dibayangi kekhawatiran atas nyawa mereka," ujarnya 
sebagaimana dikutip Mafkarah Al Islam. 
Meski demikian, Hijazi sempat juga melontarkan kritikan, dengan mengatakan, 
mestinya Al-Qasam mengambil langkah seperti ini sejak dulu.
Mengatur Lalu-Lintas
Selain itu, ada suasana simpati yang dilakukan para pejuang sayap militer 
Hamas, Izzuddin Al-Qasam. Selain mengontrol keamanan, mereka juga menertibkan 
lalu-lintas.
"Untuk pertama kalinya Anda merasakan bahwa Anda berjalan di atas jalan-jalan 
teratur yang belum pernah terbayangkan sebelumnya dan yang lebih unik lagi, 
bahwa yang mengatur lalu litas adalah para remaja masjid yang umurnya tidak 
lebih dari 18 tahun, dimana mereka menggunakan gamis berwarna kuning yang 
memakai tanda Harakah Muqawamah Islamiyah (Hamas). Keadaan ini disambut gembira 
oleh para pengemudi kendaraan yang mulai merasakan kenyamanan saat berkemudi."
Dan yang paling mencolok dari personel Al Qasam adalah konsistensi mereka dalam 
melaksanakan shalat berjamaah di pos-pos penjagaan mereka, di mana, kata 
Hijazi, akan dijumpai  sekumpulan dari mereka berada di tengah pasar mencari 
tempat yang agak luas dan meletakkan senapan-senapan di depan mereka, lalu 
mendirikan shalat.
Seorang pengemudi yang bernama Syaikh dari Distrik Tengah mengatakan, "Saya 
tidak mengira bahwa peraturan akan berlaku di jalanan Gaza. Dulu kami -para 
pengemudi- mengatakan bahwa Gaza adalah negara tanpa peraturan, tidak pernah 
sedetik pun berlalu di halte, kecuali terjadi percekcokan yang terkadang 
berakhir dengan penggunaan senjata api. Akan tetapi keadaan telah berubah, 
seorang remaja yang berumur 16 tahun telah menjadi petugas pengatur lalu-lintas 
yang berada di tangah-tengah lalu-lalang."
Setelah beberapa presatasi diraih oleh Brigade Izzuddin Al-Qasam, apakah Gaza 
akan tetap aman? Ataukah "arus revolusi" telah bersumpah agar Gaza tidak pernah 
aman sesuai dengan keinginan Washington dan Tel Aviv?  Ataukah ini hanya "bulan 
madu" yang akan berakhir dan berlalu, karena tank-tank Zionis telah berbaris 
menanti di belakang NATO, menunggu lampu hijau untuk menghakimi Gaza? 
Agak naif bagaimana ketika asing begitu buruk menggambarkan Hamas dan Gaza 
tanpa pernah merujuk sumber-sumber utama di tempat itu. Yang lebih naif lagi, 
media dan pers Indonesia justru ikut-ikutan menkopi-nya.
Sumber : [Thoriq/www.hidayatullah.com]
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke