25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak

 

Kiat 5 : Bercengkrama dengan Anak dan Berikanlah Mainan

 

BERCANDA dan bercengkerama dengan anak akan menumbuhkan jiwanya dan
mengungkap apa-apa yang tersembunyi didalamnya. Kita mendapatkan keteladanan
pada diri Rasulullah saw. Beliau bercanda dengan Hasan dan Husen. Mereka
menaiki punggung beliau dan beliau berjalan membawanya. Demikian juga beliau
bermain dengan anak-anak Al-'Abbas, mendoakan 'Abdullah Bin Ja'far, saat
beliau melewatinya, sementara ia tengah bermain dagang-dagangan.

 

Beliau mengatakan, "Semoga Allah memberkahi perdagangannya. "

 

Begitulah Rasulullah saw. telah menjadi teladan dalam hal bercengkrama
dengan anak-anak. Beliau menyayangi dan bersikap baik dalam memperlakukan
mereka. Itu seperti yang kita lihat dalam interaksinya dengan cucu-cucunya
dan anak-anak para sahabat -semoga Allah meridhai mereka.

 

Bahkan saking besarnya perhatian terhadap masalah senda gurau antara
orangtua dengan anak-anaknya, beliau menyerukan kepada semua orangtua untuk
melakukannya. Abu Sufyan berkata, "Saya masuk ke rumah Mu'awiyah, dia dalam
keadaan terlentang, sementara di atas dadanya ada seorang anak kecil yang
sedang merengek-rengek. Lalu saya katakan kepadanya, 'Jauhkanlah anak ini
darimu wahai Amirul Mu'minin'. la menjawab, 'Saya mendengar Rasulullah saw.
bersabda: Barangsiapa mempunyai anak kecil hendaklah ia bercengkerama
dengannya." (HR. Ibu 'Asakir)

 

Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya, ia mengatakan bahwa Rasulullah
saw. mencium Hasan Bin 'Ali dan saat itu ada Al-Aqra' Bin Habis sedang
duduk. Maka berkatalah Al-Aqra', "Saya punya sepuluh orang anak. Saya tidak
pernah mencium seorang pun dari mereka." Rasulullah saw. memandangnya seraya
mengatakan, "Orang yang tidak menyayangi akan disayangi."

 

Dari Abu Ayyub Al-Anshari -semoga Allah .neridhainya, aku masuk ke rumah
Rasulullah saw. sedangkan Hasan dan Husen bermain di hadapan beliau atau di
kamarnya, maka aku katakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah saw. apakah
engkau mencintai mereka?" Rasulullah saw. menjawab, "Bagaimana aku tidak
mencintai mereka. Mereka adalah dua kuntum bunga raihanah di dunia, dan aku
selalu menciumnya." (HR At-Thabrani)

 

Sa'ad Bin Abi Waqqash -semoga Allah meridhainya- mengatakan, "Aku masuk ke
rumah Rasu-lullah saw. sementara Hasan dan Husen sedang bermain di atas
perut beliau. Lalu saya bertanya, 'Ya Rasulullah, apakah engkau mencintai
mereka?' Rasulullah saw. menjawab, 'Bagaimana saya tidak mencintai mereka
padahal mereka adalah dua kuntum bunga raihanah bagiku'." (HR. Al-Bazzar) 

 

Al-Barra' Bin 'Azib mengatakan bahwa Rasulullah saw sedang shalat lalu
datanglah Hasan dan Husen (atau salah satunya) -semoga Allah meridhai
mereka- dan menaiki punggung beliau. Jika bangkit beliau mengisyaratkan
dengan tangannya agar ia berpegangan. kemudian beliau mengatakan,
"Sebaik-baik kendaraan adalah kendaraanmu." (HR Ath-Thabtani) 

 

Dari Jabir Bin 'Abdillah -semoga Allah meridhainya, ia mengatakan, "Saya
masuk ke rumah Rasulullah saw. dalam keadaan beliau sedang berjalan dengan
dua kaki dan dua tangannya (merangkak) sedangkan di punggungnya ada Hasan
dan Husen. Beliau mengatakan, 'Sebaik-baik unta adalah unta kalian dan
sebaik-baik orang adil adalah kalian'."

 

Itu semua menunjukkan betapa pentingnya orangtua bercengkerama dengan
anak-anak. Para sahabat pun kemudian mengikuti Rasulullah saw Mereka segera
bercanda dengan anak-anak mereka dan memposisikan diri menjadi anak-anak.

 

'Umar Bin Khaththab -semoga Allah meridhainya- mengatakan, "Sebaiknya
seorang bapak menjadi seperti anak kecil dalam keluarganya -dalam hal
keakraban, pergaulan, fleksibilitas, dan bercanda dengan anak-anak." Bahkan
'Umar pernah memecat salah seorang pegawainya dari jajaran pemerintahan
karena beliau menemukan pada orang itu indikasi kekerasan hatinya terhadap
anak-anaknya.

 

Muhammad Bin Salam menjelaskan," 'Umar Bin Khaththab mengangkat seseorang
untuk tugas tertentu. Orang itu melihat 'Umar mencium anaknya lalu bertanya,
'Engkau menciumnya padahal engkau adalah Amirul-Mu'minin? Jika aku menjadi
dirimu aku tidak akan melakukannya.' 'Umar menjawab, 'Lalu apa dosaku
(dengan melakukan hal itu), jika (kamu tidak melakukan hal serupa akibat)
rasa kasih sayang telah tercerabut dari hatimu? Sesungguhnya Allah hanya
mengasihi hamba-hamba-Nya yang penyayang.' Lalu 'Umar memecatnya dan
mengatakan, 'Kamu tidak menyayangi anak bagaimana bisa menyayangi
orang-orang."

 

Para ulama salaf juga memahami pentingnya bercanda dengan anak-anak dan
membangun tubuhnya. Imam Ghazali mengatakan:

 

"Setelah selesai belajar al-Qur'an, sebaiknya anak diizinkan untuk bermain
dengan permainan yang bagus untuk melepas lelah. Dan anak, biasanya, tidak
merasa lelah dengan bermain. Sebab jika anak dilarang bermain dan dipaksa
terus untuk belajar akan mematikan nuraninya, menghancurkan kecerdasanya dan
membuat kehidupannya menjadi muram. Yang pada akhirnya juga dia akan
mencari-cari jalan untuk meninggalkan belajar. Anak yang tidak suka
berolahraga akan menyimpan berbagai bahaya yang semakin lama semakin besar
dan berkembang. Kemudian muncul, jika tidak sekarang di kemudian hari, dalam
berbagai bentuk keringkihan ruhani dan hancurnya imentalitas.

 

Itu semua, karena permainan bagi anak-anak mempunyai beberapa manfaat dan
menanamkan beberapa nilai, di antaranya:

 

a.     Nilai fisik. Permainan yang aktif sangat penting bagi penumbuhan otot
anak. Dengan bermain ia akan berlatih keterampilan dalam menemukan dan
menghimpun sesuatu.

b.     Nilai edukatif. Permainan membuka peluang seluas-luasnya bagi anak
untuk belajar tentang banyak hal melalui alat-alat permainan yang
bervariasi. Seperti mengenal bentuk, warna, atau ukuran. Dan sering kali
dengan permainan itu anak-anak memperoleh pengetahuan yang tidak mungkin
diperoleh dari sumber lain.

c.     Nilai sosial. Dengan bermain anak belajar membangun hubungan sosial
dengan orang lain dan bagaimana cara sukses bergaul dengan mereka. Dengan
permainan kolektif ia juga dapat belajar bagaimana memberi dan menerima.

d.     Nilai akhlak. Melalui permainan anak akan mempunyai pemahaman awal
tentang benar dan salah. Ia juga akan mengenal beberapa nilai akh¬lak, dalam
bentuk awal, seperti keadilan, kejujuran, amanah, disiplin, dan sportifitas.

e.     Nilai kreatifitas. Dengan permainan ia dapat mengungkapkan kemampuan
kreatifitasnya dan mempraktikan gagasan-gagasan yang dimilikinya.

f.      Nilai kepribadian. Si anak, melalui permainan, akan mampu menemukan
banyak hal tentang dirinya. Ia dapat mengukur kemampuan dan keterampilannya
melalui interaksinya dengan teman-temannya. Ia juga belajar -dari
problem-problem yang dihadapinya itu- bagaimana ia dapat menghadapinya.

g.     Nilai solutif. Dengan permainan, anak akan keluar dari ketegangan
yang muncul akibat banyaknya ikatan yang dipaksakan kepadanya.

 

Makanya kita sering menyaksikan anak-anak yang berlatar belakang keluarga
yang terlalu banyak ikatan, perintah, dan larangan, bermain lebih agresif
dibandingkan anak lainnya. Bermain juga merupakan salah satu sarana yang
baik untuk mencairkan permusuhan.

 

Permainan akan memberikan kesenangan kepada anak. Lebih-lebih bila di dalam
permainan itu ayah dan ibu berperan serta. Mungkin bentuknya sekedar
Melempar bola kepada si kecil; atau mengekspresikan kekaguman atas karya
sulam puterinya; atau menambahkan garis pada gambar yang dibuat anaknya;
atau menemani puterinya bermain pengantin-pengantinan dan dari situ si anak
belajar tata krama (adab) berbicara, makan, dan minta izin. Atau bentuk
permainan lainnya. Sebab anak lebih cenderung bermain secara kolektif
setimbang sendiri-sendiri.

 

Akan tetapi harus diperhatikan, ada beberapa permainan yang berbahaya. Ada
peneiitian yang dilakukan terhadap anak berusia antara lima hingga sepuluh
tahun, di salah satu sekolah di Illionis, Amerika serikat. Penelitian itu
ditujukan pada anak-anak yang biasa bermain perang-perangan dengan anak yang
bermain dengan permainan lainnya. 

 

Hasil peneiitian itu menunjukkan bahwa anak-anak yang biasa bermain
perang-perangan lebih agresif dibandingkan anak-anak lainnya. Mereka lebih
banyak memukul dan menyakiti misalnya dengan cara menendang, menjambak
rambut, atau menindih tubuh anak lainnya. Adapun anak-anak yang tidak
bermain perang-perangan, misalnya permainan yang mengajarkan kerjasama,
berfikir, berfikir kolektif, mereka tampak lebih tenang dan jauh dari sikap
agresif.

 

Sumber : 25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak (Al Inshat Al In’ikasi
Khamsun Wa Isyruna Thariqah Fi Nafsi Ath Thifli Wa ’Aqlihi) Oleh Muhammad
Rasyid Dimas

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke