Assalaamu 'alaikum

Saya mau nanya tentang kedua kata tersebut, apa maknanaya.
Ada hal yang saya belum mengerti, mengapa kepada Allah kita meminta maaf, bukan 
memohon ampun.
Karena biasanya kan kata maaf ditujukan kepada orang, sedangkan ampun kepada 
Allah.
Terus, bagaimana tinjauan terhadap hal tersebut menurut ilmu tauhid.

Wassalaam

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Ayi OGI
Sent: Friday, July 27, 2007 1:31 AM
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Tarekat & Salafi


Untuk sebagai pencerahan dari diskusi kita tolong dibaca artikel dibawah ini

SYARI'AT DAN HAKIKAT
Para pemimpin sufi mengatakan, bahwa setiap ayat mempunyai unsur lahir dan 
bathin. Atau, Islam itu terdiri dari syari'at dan hakikat. Syari'at, bila
dibandingkan dengan hakikat, laksana buih. Hakikat merupakan tingkatan
paling sempurna, puncak dan sangat tinggi dalam tangga peribadahan Islam.

Cara agar mampu untuk mencapainya adalah dengan memiliki ilmu laduni, kasyaf
Rabbani serta Faidh Ar-Rahmani. Dalihnya, hadits yang diriwayatkan imam
Bukhari dari Abu Hurairah :
  "Artinya : Aku menghafalkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
 dua kantung ilmu. Adapun salah satunya telah aku sebarkan. Sedangkan
lainnya, bila ku sebarkan akan dipotong tenggorokan ini". [Hadits Riwayat
Bukhari dalam kitab Fitan].
Padahal ini sebagai isyarat dari beliau rahimahullah tentang akan tidak
adanya kaitan antara ilmu batin dan ilmu zhahir. Kalau tidak begitu, pasti
beliau akan mencantumkannya dalam Al-'Ilm. Sesungguhnya, Al-Hafidz Ibnu
Hajar telah menerangkan masalah tersebut secara rinci dalam kitabnya, Fathu
Al-Bahri I/216.

Oleh karena  itu, barangsiapa menyatakan Islam terdiri dari lahir dan batin,
berarti dia telah menyangka Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam menghianati tugas kerasulannya. Tapi, inilah kenyataannya. Mereka
berkeyakinan, Rasulullah hanya menyampaikan yang zhahir saja. Sedang, yang
batin beliau beritahukan kepada orang-orang tertentu.1)

Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berlepas 
dari yang mereka kaitkan kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan
Allah, malaikat Jibril serta orang-orang shalih dari kalangan yang beriman
menyaksikan yang demikian itu. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
  "Artinya : Pada hari ini Aku sempurnakan untuk mu agamamu, dan Aku
lengkapkan untukmu semua ni'mat-Ku serta Aku ridhai bagimu Islam sebagai
agama". [Al-Maidah : 3].
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah meminta persaksian dihadapan
segenap manusia muslim yang berkumpul di bawah Jabal Ar-Rahmah pada hari
haji akbar. Kata beliau, "Sesungguhnya, kalian akan ditanya tentang aku.
Maka, apakah yang akan kalian katakan ?" Jawab mereka : "Kami bersaksi bahwa
engkau telah menyampaikan risalah Rabb-mu dan telah menunaikannya. Engkau
telah menasehati umatmu dan menunaikan kewajibanmu".
 
Lantas beliau bersabda seraya mengacungkan telunjuknya ke arah langit dan
menggerak-gerakkannya kehadapan manusia : "Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah, 
saksikanlah". [Potongan dari hadits Jabir bin Abdullah tentang hajinya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di-tahqiq ulang Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani dalam Hijjah An-Nabi, hal. 37-41].
 
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah menyatakan secara
terang-terangan, dan hal ini sebagai hujjah nyata guna menampar setiap
pendusta dan yang suka berbuat dosa. Kata beliau :
  "Artinya : Sesungguhnya seorang nabi tidak mengenal main isyarat (dengan
mata)". (Hadits Shahih Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dari Anas. lihat
Shahih Al-Jami' II/303).
Maksudnya memberi isyarat dengan isyarat rahasia. Hal ini agar tidak ada
seorangpun yang berburuk sangka yang menyebabkan tumbuhnya keyakinan, bahwa
dalam agama Allah ada rahasia yang tidak banyak diketahui manusia.
 
Yang semakna dengan hadits ini adalah sabdanya :
  "Artinya : Sesungguhnya tidak selayaknya bagi seorang nabi mempunyai mata
yang khianat". [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa'i dan Hakim dari
Sa'id. Lihat Shahih Al-Jami' II/307].

AL-HULUL WA AL-ITTIHAD
Sebagaimana kelomppok sufi berkhayal, siapa saja yang menempuh jalan ilmu
batin, pada akhirnya akan mencapai tingkatan melebur bersama dzat Allah.
Ketika itulah ia menempati dzat tersebut, hingga bercampur sifat ketuhanan
dengan tabiat kemanusiaan. Bentuk lahirnya manusia, tetapi hakikat batinnya
adalah sifat ketuhanan.
 
Orang-orang yang berpikiran demikian, misalnya Al-Hallaj, Ibnu Al-Faradh,
Ibnu Sab'in dan lainnya dari kalangan sufi. Berikut ini kami paparkan
sebagian perkataan mereka : Al-Hallaj berkata : 2)

Maha Suci yang menampakkan sifat kemanusiannya,
Kami rahasiakan sifat ketuhanannya yang cemerlang, 
Kemudian Ia menampakkan diri pada mahluknya, 
Dalam bentuk orang yang sedang makan dan minum, 
Hingga mahluknya dapat menentukannya, seperti jarak antara kedipan mata
dengan kedipan yang lain.
Siapakah dia ? Dialah Rabbu Al-Arbab yang tergambar dalam seluruh bentuk
pada hamban-Nya, Fulan. 3)

Dan Ibnu Al-Faradh berkata : 4) 
Tidaklah aku shalat kepada selainku, dan tidaklah shalatku kepada selainku
ketika menunaikan dalam setiap raka'atku.
Dan cukuplah bagi orang-orang sufi merasakan kesedihan tatkala Ibnu
Al-Faradh berpayah-payah dibalik fatamorgana. Ibnu Taimiyah rahimahullah
berkata, tatkala menceritakan keadaan Ibnu Al-Faradh : "Orang yang
engucapkan sya'ir tersebut ketika meninggalnya mengucapkan syair sebagai
berikut : 
  Jika kedudukanku dalam cinta disisi-Mu, tidak seperti yang pernah aku
jumpai, maka sesungguhnya aku telah membuang-buang umurku. Angan-angan yang
menancap dalam diriku beberapa lama, dan pada hari ini aku mengiranya
sebagai mimpi kosongku belaka.
At-Tusturi berkata : 
5) Akulah yang dicintai dan yang mencintai, tidak ada selainnya.
 
Para syaikh tasawuf tersebut mencari-cari dalih dengan hadits yang berbicara
masalah wali. Padahal, segala dalih dan alasan itu tak mendukung mereka. 
Misalnya sebuah hadits :
  "Artinya : Tidak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepadaku
dengan perbuatan-perbuatan yang disunnahkan hingga Aku mencintainya. Maka ji
ka Aku mencintainya, Akulah yang menjadi pendengarannya yang dia gunakan
untuk mendengar, dan penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, dan
tangannya yang dia julurkan,  dan kakinya yang dia langkahkan. Maka, jika ia
meminta kepada-Ku, sungguh aku akan beri. Dan jika ia minta perlindungan
kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya". (Hadits Riwayat Bukhari, akan
tetapi kami ringkas sesuai dengan makna pembahasan).
Hadits ini menunjukan dengan sangat adanya pembedaan dan pemisahan. Dalam
hal ini ada 'Abid (yang beribadah) dan Ma'bud (yang diibadahi). Sa-il (yang 
meminta) dan Mas-ul (yang diminta), 'A-idz (yang minta perlindungan) dan
Mu'idz (yang melindungi). Sedang, orang-orang sufi tersebut mengaku bahwa
Allah berdiam dalam dzat hambanya. Yaitu, jika Dia menjadi dia dan keduanya
menjadi dua dzat yang menyatu.
 
Betapa anehnya ! Bagaimana akal orang-orang sufi tersebut menerimanya dengan
cara membenarkan kebohongan ini ? Dan bagaimana pula hingga lisan mereka
mengulang-ngulangnya ? Sungguh, Kursi-Nya seluas langit dan bumi, maka
bagaimana mungkin jasad manusia dapat menampung-Nya ?.
 
Adapun hadits berikut :
  "Artinya : Langit dan bumi-Ku sempit bagi-Ku, akan tapi hati hamba-Ku yang
beriman lapang bagi-Ku"
Maka hadits ini adalah hadits palsu menurut kesepakatan para ulama ilmu
hadits.
 
WIHDAH AL-WUJUD
Pemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi pada perkataan wihdah 
al-wujud. Istilah ini berdasar pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa 
dalam hal ini tidak ada yang wujud kecuali Allah. Maka, tidaklah segala yang
nampak ini kecuali penjelmaan dzat-Nya semata. Yaitu, Allah. Maha Suci
Allah, Rabb kita, Rabb yang Maha Mulia dari apa yang mereka sifatkan.
 
Ibnu Arabi berkata : "Tidak ada yang tampak ini kecuali Allah, dan tidaklah
Allah mengetahui kecuali Allah". 
 
Dan termasuk dalam keyakinan ini adalah orang-orang yang mengatakan :"Akulah
Allah, Maha Suci Aku". Seperti, Abu Yazid Al-Bustahmi. 6)  Katanya : "Rabb
itu haq dan hamba itu haq. Maka, betapa malangku. Siapakah kalau demikian
yang menjadi hamba ? Jika aku katakan hamba, maka yang demikian itu haq,
atau aku katakan Rabb, sesungguhnya aku hamba".
 
Dikatakan pula : 7)  "Suatu saat hamba menjadi Rabb tanpa diragukan, dan
suatu saat seorang hamba menjadi hamba tanpa kedustaan".
 
Keberanian mereka kepada Allah sampai puncaknya ketika tukang sya'ir mereka,
Muhammad Baha'uddin Al-Baithar mengatakan : 8) "Tidaklah anjing dan babi itu
melainkan sesembahan kita, dan tidaklah Allah itu melainkan rahib-rahib yang
ada dalam gereja-gereja".

Pensyarah kitab Aqidah At-Thahawiyah, Ibnu Abil 'Izzi Al-Hanafi, berkata: "
Perkataan yang demikian itu mengantarkan manusia pada teori hulul wa
al-ittihad. Hal ini lebih keji daripada kafirnya orang-orang Nashrani.
Karena orang-orang Nashrani mengkhususkan menyatunya Alllah hanya dengan
Al-Masih, sedangkan mereka memberlakukan secara umum terhadap seluruh
mahluk. termasuk 
keyakinan mereka pula, bahwa Fir'aun dan kaumnya memiliki kesempurnaan iman
, sangat mengenal Allah secara hakiki.

Termasuk dari cabangnya pula, bahwa para penyembah berhala berada diatas
kebenaran, dan mereka sesungguhnya beribadah kepada Allah, tidak kepada
lainnya. Keyakinan lainnya, tida ada perbedaan dalam penghalalan dan
pengharaman antara ibu, saudara perempuan dan yang bukan mahram. Dan tidak
ada perbedaan antara air dengan khamer, zina dengan nikah. Semuanya itu
berasal dari sumber yang satu. Dan termasuk cabangnya pula, bahwa para nabi
mempersempit manusia. Maha Tinnggi Allah dari apa yang mereka katakan".9)

Keyakinan semacam ini merupakan puncak tertinggi dari kekafiran, yang
dengannya hancurlah seluruh agama, membatalkan seluruh syari'at, dihalalkan
seluruh perkara yang diharamkan, dan disamakannya orang yang beriman dengan
orang fasik, orang bertaqwa dengan orang binasa, muslim dengan mujrim, yang
hidup dengan yang mati. Berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
  "Artinya : Apakah Kami hendak menjadikan orang-orang muslim seperti
orang-orang yang suka berbuat dosa, bagaimana kalian dengan apa yang kalian
putuskan. Apakah kalian mempunyai kitab yang dapat dibaca ? [Al-Qalam :
35-37] 
Benar, mereka mempunyai kitab selain Al-Qur'an. yaitu, Al-Fushush Al-Hikam 
dan Al-Futuhat Al-Makkiyah. Dan telah berfirman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
  "Apakah Kami hendak menjadikan orang yang beriman dan beramal shalih
seperti orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Ataukah Kami hendak
menjadikan orang-orang yang bertaqwa seperti orang-orang kafir". [Shad :
28].
Dan apa yang kami paparkan di sini bukanlah hasil istimbath kami dan bukan
pula ijtihad. Akan tetapi, semua itu adalah perkataan mereka yang diucapkan
 dengan lisannya. Yang syaikh paling senior diantara mereka selalu mengulang
kekafirannya dan menyatakan kefasikannya.

Bila pembaca menghendaki hakikat yang kami paparkan dan dalil yang kami
kukuhkan, maka lihatlah kitab Al-Fathu Ar-Rabbani dan Al-Faidh Ar-Rahmani,
karangan Abdul Ghani An-Nablisi hal. 84,85,86,87.
 
Semoga Allah memaafkan kita.

---------------------------------------------------------------------------
 

Disadur dari al-Islamiyah fi Dha-u al-Kitab wa as-Sunnah, karya Salim
Al-Hilali dan Ziyad ad-Dabij, cet II, hal. 81-97.  
---------------------------------------------------------------------------=

Foote Note
  1.. Ihya'Ulumuddin, Al-Ghazali, I/19
  2.. Ath-Thawasin. Al-Hallaj, cet. Masoniyah, hal. 139
  3.. Tablis Iblis, Ibnul Jauzi, hal.145.
  4.. Majmu' Fatawa, Ibnu Taimiyah, XI/247-248
  5.. Ma'arij At-Tashawuf Ila Laqaiq At-Tashawuf, Ahmad Bin 'Ajibah,
hal.139.
  6.. Al-Futuhat Al-Makiyah, I/354.
  7.. Fushush Al-Hikam, hal.90
  8.. Shufiyat, hal.27
  9.. Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hal.79

Wassalam
Abu Dhiaulhaq

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Yul Erief
Sent: Wednesday, July 25, 2007 12:53 PM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Tarekat & Salafi


Assalaamu 'alaikum

Kita coba lihat dua istilah untuk pandangan yang sebenernya sama tapi banyak
orang mengartikan beda, yaitu tarikat dan salafi.

1. Tarekat.

Seperti sudah dijelaskan, arti mudahnya adalah jalan untuk mencapai
keridhaan Allah.
Tahapannya (bukan BCA bos) : syariat, ma'rifat, hakikat.
Syariat asal katanya syara'a, arti mudahnya adalah menuntun, tuntunan.
Ma'rifat asal katanya 'arafa, arti mudahnya mengetahui.
Hakikat asal katanya haqqa, arti mudahnya adalah benar, sebenarnya.

Contoh : shalat.

Syariat
Syariat (tuntunan) shalat bisa dilihat dalam ayat Qur'an maupun hadis Nabi.

Ma'rifat
Ma'rifat shalat bisa dilihat dalam ayat Qur'an maupun hadis Nabi.
Innasshaata tanha 'anil fahsyaai walmunkar, sesungguhnya shalat mencegah
perbuatan keji dan munkar.
Jadi, orang yang tahu (ma'ruf) tentang shalat akan menghindari diri dari
perbuatan keji dan munkar.

Hakikat.
Hakikat shalat bisa dilihat dalam ayat Qur'an maupun hadis Nabi.
Inna shalati wanusuki wamahyaaya wamamaati lillaahi rabbil 'alamin. Laa
syaarikalahu wabizalika umirtu wa ana awwalul muslimin.

2. Salafi

Salafi arti mudahnya adalah mengikuti apa yang menjadi tuntunan Nabi dan
Salafus Shalihin.

Catatan :

Dari keterangan di atas, sebetulnya tujuan cara pandang tarekat dan salafi
adalah sama, sama-sama mengikuti apa yang menjadi tuntunan Nabi dan para
Salafus Shalihin.

Kalau saya perhatikan, yang saling menyalahkan biasanya ada pada golongan
orang awam yang melihat sesuatu secara sempit, disebabkan karena kedangkalan
ilmunya. Dari kedua pandangan tersebut, biasanya di tingkat bawah (dalam
istilah MUI biasanya disebut akar rumput, alias kelas cere'-teri, bukan
kelas kakap apalagi kelas ikan paus).

Maka dari itu, tentu alangkah baik kalau kita terus belajar. Karena, sesuatu
yang kelihatannya bertentangan, setelah kita tahu ilmunya mungkin aja
sebenernya sama.

Wassalaam



-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of
[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, July 25, 2007 10:24 AM
To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] penjelasan mengenai terekat




Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Tarekat berasal dari kata "Thoriqah" yang berarti jalan, metoda, cara dalam
bahasa Arab. Kata ini merujuk kepada cara mereka dalam bertaqarrub,
mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan yang khas. Kata lain yang
sejalan dengan apa yang mereka lakukan adalah Tasawwuf, Sufi. Untuk
penjelasan lebih detail, silahkan Ukhti merujuk kepada fatwa Lajnah Daimah
yang saya sertakan di bawah.

Secara syariat, kaum Sufi (penganut tarekat/tasawwuf) sering jatuh ke dalam
meremehkan ibadah, karena terlalu mementingkan hakikat. Juga mereka
terkenal dengan membuat ibadah tambahan yang kadang bahkan dikatakan lebih
utama dari ibadah yang datang dari Rasulullah SAW. Sebagai contoh, adalah
tarian Whirling/tarian berputar atau dikenal dengan tarian Rumi
(dinisbahkan kepada Jalaluddin Rumi) bagi kalangan Tarekat Naqsabandiyah
Haqqani (di Indonesia cukup banyak pengikutnya). Bagi mereka, pada
tingkatan tertentu, tarian ini lebih tinggi kedudukannya dari shalat
seperti yang biasa kita lakukan. Dengan tarian berputar ini, mereka bisa
mencapai kasyaf (berhubungan langsung dengan Allah) ketika mereka dalam
keadaan in-trance (hilang kesadaran).

Demikian pula dalam cara dan menafsirkan wirid/dzikir. Ada aturan-aturan
yang dibuat oleh masing-masing tarekat. Namun umumnya sama, keadaan
in-trance (hilang kesadaran) malah dianggap sebagai keadaan tertinggi,
tajalli (Allah menampakkan diri kepada mereka), kasyaf (hilangnya batas
antara makhluk dan khaliq - sang Pencipta).

Secara Aqidah, banyak aqidah yang tidak sesuai dengan aqidah ahlus sunnah
wal jamaah. Misalnya, tentang kedudukan para Syaikh Besar mereka (Grand
Syaikh) yang mempunyai jabatan wali quthub. Digambarkan mereka memiliki
rahasia-rahasia yang bahkan sebagian dari para Nabi tidak mengetahuinya.
Mereka mempunyai hubungan langsung dengan Allah. Bahkan mereka mempunyai
kekuatan ratusan ribu dari kekuatan para Nabi. Ini berdasarkan penjelasan
mereka sendiri (Tarekat Naqsabandiyah Haqqani, ketuanya Arief Hamdani,
silahkan kunjungi www. mevlanasufi.blogspot.com).

Dalam menjelaskan Quran, sebagai contoh, penjelasan dari guru-guru mereka,
syaikh-syaikh mereka, quthub-quthub mereka, lebih tinggi kedudukannya dari
hadits-hadits yang selama ini kita pegang. Berikut saya berikan contoh
kutipan langsung dari penjelasan mereka :

************************ Kutipan
************************************************************
Semua Sahaabat membuka mata semalaman berusaha khatm Al Qur'an. Saat Fajr
Nabi (saw) menanyakan," Adakah yang khatm Al Qur'an?" Tidak ada yang
menjawab 'ya' kecuali Sayyidina `Ali (ra). Mereka bertanya kepada Sayyidina
`Ali (ra),"Ya 'Ali (ra) kamu tidur semalaman. Bagaimana caranya kamu bisa
khatm Al Qur'an?"

Karena ketika mereka membaca Al Qur'an, harus dengan aturan tertentu, tidak
seperti ketika kita membaca sebuah cerita. Al Qur'an dibaca beserta rahasia
dibaliknya. Ketika mereka membaca Al Qur'an berarti mereka memasuki
samudera dalam tiap hurufnya. Dan awliyaullah dapat meraih dari setiap
huruf tersebut 24.000 samudera pengetahuan. Pada saat mereka membaca Al
Qur'an, maka mereka harus mengerti pengetahuan dibalik tiap huruf. Tidak
seperti cara baca kita saat ini.

Atau bahkan tidak seperti cara baca awliyaullah saat ini. *Sahabat an-Nabi*
(saw), ketika mereka membaca Al Qur'an, mereka membacanya dengan rahasia
cahaya yang datang dari setiap huruf di saat itu. Karena pengetahuan dalam
setiap huruf terus bertambah,  dalam urutan tertentu, urutan yang diikuti
dengan pengertiannya masing-masing. Para Sahaaba membaca Al Qur'an walaupun
tidak mungkin menyelesaikannya satu halaman dengan aturan-aturan yang ada.

Sayyidina `Ali (ra) sedang tidur sepanjang malam. Mereka bertanya
kepadanya, "Bagaimana cara kau menyelesaikannya (membaca Al Qur'an)?" Dia
menjawab,"*Ya sayyidii Ya  Rasulullah*"   Dia adalah pintu dari kota
pengetahuan dan dia tahu bagaimana mencapai tingkatan itu. Kalian harus
menyelesaikan suatu tingkatan untuk diberikan pengetahuan dalam setiap
huruf Al Qur'an. Itulah kenapa awliya memberikan banyak perhatian terhadap
amalan harian (awraad) yang mereka berikan kepada kalian.

Sayyidina `Ali (r) berkata, "*Ya sayyidii Ya Rasulullah* apa yang saya baca
adalah yang saya ambil dari hati Engkau, yaitu 3x *shahada* 70x
*istighfaar*, dan Fatiha dan *Amana ar-Rasula* dan 7x *alam nashrah *dan
11x *qul Huwa Allahu ahada*, 10x *La ilaha
ill-Allah*, dan 10 *salawat* tertuju kepadamu (Rasulullah) dan saya
mengirimkan sebuah hadiah kepadamu. Nabi (saw) menjawab,"sadaqa `Ali ."

Karena pelafalan 3x *qul Huwa Allahu Ahad* seperti membaca seluruh Al
Qur'an sebagaimana yang Nabi (saw) katakan. Jadi, 3x memasuki samudera dari
Surah itu telah cukup bagi Sayyidina `Ali (r) untuk menyelesaikan membaca
Al Qur'an hingga selesai
dibandingkan dengan para Sahaaba lain yang tidak sanggup menyelesaikannya
pada waktu itu. Jadi, Nabi (saw) memberikan (dalam artian untuk dinikahkan
) Sayyidina `Ali ra kepada Sayyida Fatima ra.

************************** akhir kutipan *****************************

Berdasarkan hal-hal di atas, saya pribadi menyarankan Ukhti untuk tidak
terlibat / mengikuti Tarekat-tarekat tersebut. Insya Allah, masih banyak
pengajian-pengajian yang lebih sesuai dan mendekati kebenaran (Quran dan
Sunnah yang shahih) daripada klaim-klaim yang diajukan kaum Sufi/Tarekat.
(tidak bisa disangkal bahwa di Indonesia, tarekat-tarekat memang diakui.
Terutama di kalangan Nahdhiyyin).

(See attached file: Tarekat.doc)

Wallahu a'lam. Hadaanallaahu wa iyyaakum ajma'iin wastaghfirullaaha lii wa
lakum,

Abu Karimna












"Farida\(Purchasing\)" <[EMAIL PROTECTED]>@usahamulia.net on
07/24/2007 09:12:57 AM

Please respond to Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP
       <[email protected]>

Sent by:    [EMAIL PROTECTED]
To:    "Forum Islam" <[email protected]>, "^_^ ghodiy ^_^"
       <[EMAIL PROTECTED]>
cc:

Subject:    [ FUPM-EJIP ] penjelasan mengenai terekat


Ustadz, Afwan saya ingin sekali  bertanya mengenai hakekat dari Tarekat.
Karena ada kawan yang mengajak saya  untuk ikut dalam pengajian tersebut.
Menurut ustadz sendiri apa yang dimaksud  dengan tarekat? saya mohon ustadz
menjelaskannya. Supaya saya tidak salah dalam  melangkah dan tau terlebih
dahulu makna dari tarekat itu sendiri.  Syukron.


Farida
PT Tiki Jalur Nugraha  Ekakurir


********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************


********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke