25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak
Kiat 10 : Biasakan Kebajikan karena Kebajikan adalah Kebiasaan DI ANTARA metoda pendidikan adalah pembiasaan. Yakni membiasakan anak untuk hal-hal tertentu hinga menjadi kebiasaan yang mendarah daging, yang untuk melakukannya tidak perlu pengarahan lagi. Di antara contoh paling menonjol tentang kebiasaan dalam sistem pendidikan Islam adalah ibadah-ibadah ritual yang induknya adalah shalat. Dengan pembiasaan shalat akan menjadi kebiasaan manusia yang bila belum laksanakannya ia tidak merasa tenang. Tapi bukan hanya ibadah ritual saja kebiasaan yang ingin ditumbuhkan oleh sistem pendidikan Islam. Sebab sebenarnya, anak dapat dilatih dan dibiasakan pada semua model perilaku islami dan setiap adab serta akhlak Islami: adab makan, minum, berjalan, duduk, tidur, bangun, mengucapkan salam; adab dalam keluarga, seks, berbicara, pertemuan, berpisah, bepergian, pulang dari bepergian, bertetangga/ berteman dan seterusnya. Semua itu adalah merupakan hal-hal baru bagi kaum muslimin di masa Rasulullah saw. Sebelumnya, di masa jahilryyah, mereka tidak pernah melakukan hal-hal itu. Maka Rasulullah saw. membiasakan dan mendidik mereka untuk melaksanakan adab-adab itu dengan keteladanan, pengajaran, pemantauan, dan pengarahan. Hingga adab-adab itu menjadi kebiasaan yang mendarah daging dalam jiwa dan menjadi watak istimewa mereka, yang membedakan antara kaum muslimin dengan non muslim di seluruh penjuru bumi. Orangtua muslim membiasakan adab-adab itu pada anaknya dengan cara-cara yang ditempuh Rasulullah saw, yakni keteladanan, pengajaran, pemantauan, dan pengarahan. Sampai manakala pertumbuhan mereka telah sempurna, dalam waktu bersamaan ia juga telah terbiasa dengan adab-adab Islam itu. Dan kita tahu adab-adab itu merupakan sistem yang integral mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dari sejak bangun tidur sampai bangun tidur berikutnya. Ia juga mencakup kehidupan personal, kehidupan keluarga, kehidupan seorang laki-laki, kehidupan orang perempuan, kehidupan anak kecil, dan seterusnya. Anak, sebagaimana manusia lainnya, bisa lupa dan lalai. Allah swt. telah mengkhususkan untuknya -sesuatu yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya- rentang waktu masa kanak-kanak yang panjang. Dan masa itu bukanlah masa taklif (pemberlakuan kewajiban) melainkan masa untuk mempersiapkannya agar siap menerima taklif. Jika kita pahami hal ini, mudahlah bagi kita untuk percaya kepada prinsip pengulangan lebih dari satu kali hingga membekas dalam jiwa dan siap menerima perintah serta merespon panggilan. Tentang prinsip pengulangan ini ditegaskan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya: "Suruhlah anak-anakmu untuk shalat saat usia mereka tujuh tahun. Dan pukullah mereka (jika tidak mau shalat) bila usia mereka mencapai sepuluh tahun. " Jadi Rasulullah saw telah mengalokasikan waktu khusus selama tiga tahun berturut-turut untuk menghunjamkan hal penting dalam Islam yakni shalat. Tentu saja itu merupakan rentang waktu yang leluasa untuk membiasakannya shalat. Maka jika mereka telah mencapai usia sepuluh tahun, mereka akan telah siap Untuk menunaikannya. Jika masih belum terbiasa melakukannya sendiri selama tiga tahun pembiasaan itu, maka harus diambil langkah tegas yang menjamin tumbuh dan mapannya kebiasaan itu. Karena urgensinya, maka al-Quran menegaskan: "Dan perintahkanlah keluargamu untuk shalat dan bersabarlah dalam menjalaninya." (Thaha 132) Jadi harus ada kesabaran pada tiga tahun pertama. Kita harus mengulang-ulangi apa yang menjadi tujuan kita lebih dari satu kali. Pembiasaan memang tidak mudah dan tidak cukup dengan hanya kita katakan satu kali atau beberapa kali, "Lakukanlah itu," lalu dia mengikuti. Anak Membutuhkan pengingatan dan pengulangan berkali-kali agar menjadi paham. Karenanya tidak heran bila kita sering mendengar seorang ayah mengatakan kepada anaknya, "Saya sudah ingatkan kamu berulang kali." Jika kita menghitung perintah shalat beradasarkan hadits Nabi di atas, maka selama tiga tahun dan setiap waktu shalat, orangtua menyuruh anaknya untuk shalat akan menghasilkan angka yang sangat besar. Yakni: (5 x 365) x 3 = 5475 Jika angka itu punya arti, maka itu menunjukkan urgensi pengulangan dan bahwa jiwa anak boleh jadi tidak merespon perintah pertama, kedua, atau ketiga. Maka perlu pengulangan tanpa putus asa. Ada penelitian yang membuktikan bahwa informasi yang diulang satu kali hanya 10 °/o saja yang bisa kita ingat di akhir bulan. Akan tetapi kalau nasihat itu diulang sebanyak enam kali, dengan cara berbeda-beda, maka kita akan mengingatnya sebanyak 90 %. Ini artinya bahwa anak akan senantiasa mengingat shalat dan urgensinya jika kita melakukan pengulangan tentang pentingnya melaksanakan shalat. 'Abdullah Bin Mas'ud memahami prinsip pengulangan terhadap anak ini. la mengatakan, saat memberikan arahan kepada para bapak dalam mensikapi anak-anaknya, "Biasakanlah pada mereka kebajikan karena kebajikan itu adalah kebiasaan." Sesungguhnya, seluruh adab dan perintah Islam berjalan di atas sistem pengulangan itu, walaupun Nabi saw. tidak membatasi waktunya seperti shalat. Semuanya membutuhkan pengulangan dini. Dan semuanya, setelah melalui rentang waktu tertentu, memerlukan pemberlakuan secara tegas jika si kecil tidak melakukannya dengan kesadaran sendiri. Pembiasaan ini bisa juga dibentuk melalui pemberian contoh yang baik. Bahkan ini merupakan salah satu faktor penting yang menumbuhkan kebiasaan yang baik. la seringkali bisa menghemat tenaga. Karena memang anak memiliki kecenderungan untuk meniru. Dan anak-anak muslimin selalu meniru orang tua mereka melaksanakan shalat bahkan sebelum mereka belajar berbicara. Sehingga jadilah membiasakan perbuatan itu pada dirinya menjadi sesuatu yang mudah. Kecuali pada anak-anak yang mempunyai kelainan. Dan kelainan adalah sesuatu yang bisa saja terjadi. Bisa karena faktor keturunan atau karena kondisi tertentu yang buruk. Dan mereka itulah yang berhak mendapatkan hukuman jika mereka tidak dapat menerima pembiasaan pada rentang waktu tertentu. Pembiasaan juga bisa dilakukan dengan pemberian motivasi, bisa dengan cara mewajibkan secara halus, dan bisa juga dengan cara mewajibkan secara tegas. Membiasakan anak, misalnya agar selalu merapikan segala sesuatu, tidak melempar barang sembarangan dan tidak membuat berantakan di kamar adalah sesuatu yang penting dan harus. Hal itu mungkin dilakukan oleh anak karena kesadaran sendiri sebagai buah dari keteladan yang baik di hadapannya. Jika ia tidak melakukannyua maka ia harus didorong untuk melakukannya dengan berbagai cara baik yang bersifat fisik maupun bersifat nonfisik, seperti yang telah disebutkan di muka. Di antaranya adalah dengan memuji kebersihan, kerapian dan keteraturannya. Jika semua itu tidak berguna maka ia harus diperintah dan dipantau terus hingga ia menjalankan perintah itu. Tentunya dengan tujuan agar hal itu menjadi kebiasaan. Jika ia tidak melaksanakan atau hanya melaksanakannya jika terus dipantau maka kita perlu meningkatkan ketegasan. Bahkan sampai pada tingkat memberikan hukuman, dengan peringkat-peringkat yang sudah dijelaskan terdahulu. Hal ini berlaku pada setiap kebiasaan yang baik, yang ingin kita terapkan pada anak dan juga kebiasaan buruk yang kita ingin jauhkan darinya atau ingin kita ubah. Pembiasaan sebenarnya menyedot energi paling besar dari orangtua. Tetapi itulah esensi proses pendidikan. Sebab bila pada anak tidak terbentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik maka sebenarnya kita belum berbuat apa-apa selain hanya angan-angan indah yang tidak berguna sama sekali di alam nyata. Pendidik haruslah menghayati nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam di balik perilaku kesehariannya. janganlah ia menjalankan pekerjaan-pekerjaan itu, terutama shalat, secara mekanistis. Ingatkan anak kepada Allah dan bahwa semua pekerjaan harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-Nya, karena Allah menginginkan demikian. Dan ketika kita melaksakannya maka kita berada dalam ridha Allah. Semoga Allah merahmati orang yang mengatakan: Pemuda-pemuda kami tumbuh-kembang Sesuai dengan pembiasaan bapaknya Anak muda tidaklah beragama berdasarkan otaknya. Orang-orang terdekatlah yang membentuk cara beragamanya Sumber : 25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak (Al Inshat Al Inikasi Khamsun Wa Isyruna Thariqah Fi Nafsi Ath Thifli Wa Aqlihi) Oleh Muhammad Rasyid Dimas
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
