Jumat, 23 Juli 2004 23:08:34 WIB

NASIHAT BAGI PEMUDA MUSLIM DAN PENUNTUT ILMU


Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani




Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla 
Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada 
Allah Tabaarakan wa Ta'ala seperti :

[1] Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah 
Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima 
kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. 
Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu 
telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.

"Artinya : ... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu 
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ...?" 
[Al-Mujaadilah : 11]

[2] Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian " 
Thalibul Ilmi" (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya. 

Diantara perkara-perkara itu :
[a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan 
terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.
[b] Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa 
yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari 
pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah 
meninggalkan "harta warisan" berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia 
keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam 
upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan 
zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang 
zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita.

Meminta bantuan dalam berpendapat dengan berpedoman pada perkataan dan pendapat 
Salaf, akan sangat membantu kita untuk menghilangkan berbagai kegelapan dan 
mengembalikan kita kepada sumber Islam yang murni, yaitu al-Qur'an dan 
as-Sunnah yang shahihah.

Sesuatu yang tidak tertutup bagi kalian bahwasannya aku hidup di suatu zaman 
yang mana kualami padanya dua perkara yang kontradiksi dan bertolak belakang, 
yaitu pada zaman dimana kaum muslimin, baik para syaikh maupun para penuntut 
ilmu, kaum awam ataupun yang memiliki ilmu, hidup dalam jurang taqlid, bukan 
saja pada madzhab, bahkan lebih dari itu bertaqlid pada nenek moyang mereka.

Sedangkan kami dalam upaya menghentikan sikap tersebut, mengajak manusia kepada 
al-Qur'an dan as-Sunnah. Demikian juga yang terjadi di berbagai negeri Islam. 
Ada beberapa orang tertentu yang mengupayakan seperti apa yang kami upayakan, 
sehingga kamipun hidup bagaikan "Ghuraba" (orang-orang asing) yang telah 
digambarkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dalam beberapa hadits 
beliau yang telah dimaklumi, seperti :

"Artinya : Sesungguhnya awal mula Islam itu sebagai suatu yang asing/aneh, dan 
akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah bagi 
orang-orang yang asing"

Dalam sebagian riwayat, Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Mereka (al-Ghurabaa) adalah orang-orang shaleh yang jumlahnya 
sedikit sekeliling orang banyak, yang mendurhakai mereka lebih banyak dari yang 
mentaati mereka" [Hadits Riwayat Ahmad]

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda :

"Artinya : Mereka orang-orang yang memperbaiki apa yang telah di rusak oleh 
manusia dari Sunnah-Sunnahku sepeninggalku".

Aku katakan : "Kami telah alami zaman itu, lalu kami mulai membangun sebuah 
pengaruh yang baik bagi dakwah yang di lakukan oleh mereka para ghuraba, dengan 
tujuan mengadakan perbaikan ditengah barisan para pemuda mukmin. Sehingga kami 
jumpai bahwa para pemuda beristiqomah dalam kesungguhan di berbagai negeri 
muslim, giat dalam berpegang teguh pada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala mengetahui keshahihannya".

Akan tetapi kegembiraan kami terhadap kebangkitan yang kami rasakan pada 
tahun-tahun terakhir tidak berlangsung lama. Kita telah dikejutkan dengan 
terjadinya sikap "berbalik", dan perubahan yang dahsyat pada diri pemuda-pemuda 
itu, di sebagian negeri[1]. Sikap tersebut, hampir saja memusnahkan pengaruh 
dan buah yang baik sebagai hasil kebangkitan ini, apa penyebabnya ? Di sinilah 
letak sebuah pelajaran penting, penyebabnya adalah karena mereka tertimpa oleh 
perasaan ujub (membanggakan diri) dan terperdaya oleh kejelasan bahwa mereka 
berada di atas ilmu yang shahih. Perasaan tersebut bukan saja diseputar para 
pemuda muslim yang terlantar, bahkan terhadap para ulama. Perasaan itu muncul 
tatkala merasa bahwa mereka memilki keunggulan dengan lahirnya kebangkitan ini, 
atas para ulama, ahli ilmu dan para syaikh yang bertebaran diberbagai belahan 
dunia Islam.

Sebagaimana merekapun tidak mensyukuri nikmat Allah Jalla Jalaluhu yang telah 
memberikan Taufik dan Petunjuk kepada mereka untuk mengenal ilmu yang benar 
beserta adab-adabnya. Mereka tertipu oleh diri mereka sendiri dan mengira 
sesungguhnya mereka telah berada pada status kedudukan dan posisi tertentu.

Merekapun mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak matang alias mentah, tidak 
berdiri diatas sebuah pemahaman yang bersumber dari al-Qur'an dan as-Sunnah. 
Maka tampaklah fatwa-fatwa itu dari pendapat-pendapat yang tidak matang, lalu 
mereka mengira bahwasanya itulah ilmu yang terambil dari al-Qur'an dan 
as-Sunnah, maka mereka pun tersesat dengan pendapat-pendapat itu, dan juga 
menyesatkan banyak orang.

Suatu hal yang tidak sama bagi kalian, akibat dari itu semuanya muncullah 
sekelompok orang ("suatu jama'ah") dibeberapa negeri Islam yang secara lantang 
mengkafirkan setiap jama'ah-jama'ah muslimin dengan filsafat-filsafat yang 
tidak dapat diungkapkan secara mendalam pada kesempatan yang secepat ini, 
apalagi tujuan kami pada kesempatan ini hanya untuk menasehati dan mengingatkan 
para penuntut ilmu dan para du'at (da'i).

Oleh sebab itu saya menasehati saudara-saudara kami ahli sunnah dan ahli hadits 
yang berada di setiap negeri muslim, agar bersabar dalam menuntut ilmu, 
hendaklah tidak terperdaya oleh apa yang telah mereka capai berupa ilmu yang 
dimilikinya. Pada hakekatnya mereka hanyalah mengikuti jalan, dan tidak hanya 
bersandar pada pemahaman-pemahaman murni mereka atau apa yang mereka sebut 
dengan "ijtihad mereka".

Saya banyak mendengar pula dari saudara-saudara kami, mereka mengucapkan 
kalimat itu, dengan sangat mudah dan gampang tanpa memikirkan akibatnya : "Saya 
berijtihad". Atau "Saya berpendapat begini" atau "Saya tidak berpendapat 
begitu", dan ketika anda bertanya kepada mereka ; Kamu berijtihad berdasarkan 
pada apa, sehingga pendapatmu begini dan begitu ? Apakah kamu bersandar pada 
pemahaman al-Qur'an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta 
ijma' (kesepakatan) para ulama dari kalangan Sahabat Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam dan yang lainnya ? Ataukah pendapatmu ini hanya hawa nafsu 
dan pemahaman yang pendek dalam menganalisa dan beristidlal (pengambilan 
dalil)?. Inilah realitanya, berpendapat berdasarkan hawa nafsu, pemahaman yang 
kerdil dalam menganalisa dan beristidlal. Ini semuanya dalam keyakinanku 
disebabkan karena perasaan ujub, kagum pada diri sendiri dan terperdaya.

Oleh sebab itu saya jumpai di dunia Islam sebuah fenomena (gejala) yang sangat 
aneh, tampak pada sebagian karya-karya tulis.

Fenomena tersebut tampak dimana seorang yang tadinya sebagai musuh hadits, 
menjadi seorang penulis dalam ilmu hadits supaya dikatakan bahwa dia memiliki 
karya dalam ilmu hadits. Padahal jika anda kembali melihat tulisannya dalam 
ilmu yang mulia ini, anda akan jumpai sekedar kumpulan nukilan-nukilan dari 
sini dan dari sana, lalu jadilah sebuah karya tersebut. Nah apakah faktor 
pendorongnya (dalam melakukan hal ini) wahai anak muda ? Faktor pendorongnya 
adalah karena ingin tampak dan muncul di permukaan. Maka benarlah orang yang 
berkata.

"Perasaan cinta/senang untuk tampil akan mematahkan punggung (akan berkaibat 
buruk)"

Sekali lagi saya menasehati saudara-saudaraku para penuntut ilmu, agar menjauhi 
segala perangai yang tidak Islami, seperti perasaan terperdaya oleh apa yang 
telah diberikan kepada mereka berupa ilmu, dan janganlah terkalahkan oleh 
perasaan ujub terhadap diri sendiri.

Sebagai penutup nasehat ini hendaklah mereka menasehati manusia dengan cara 
yang terbaik, menghindar dari penggunaan cara-cara kaku dan keras di dalam 
berdakwah, karena kami berkeyakinan bahwasanya Allah Jalla Jalaluhu ketika 
berfirman.

"Artinya : Serulah manusia kejalan Rabbmu dengan hikmah dan peringatan yang 
baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik ..." [An-Nahl : 125]

Bahwa sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu tidaklah mengatakannya kecuali dengan 
kebenaran (al-haq) itu, terasa berat oleh jiwa manusia, oleh sebab itu ia 
cenderung menyombongkan diri untuk menerimannya, kecuali mereka yang 
dikehendaki oleh Allah. Maka dari itu, jika di padukan antara beratnya 
kebenaran pada jiwa manusia plus cara dakwah yang keras lagi kaku, ini berarti 
menjadikan manusia semakin jauh dari panggilan dakwah, sedangkan kalian telah 
mengetahui sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Bahwasanya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan (manusia 
dari agama) ; beliau mengucapkan tiga kali".

[Nasehat ini dinukil dari kitab "Hayat al-Albani" halaman : 452-455]


[Disalin dari Majalah : as-Salafiyah, edisi ke 5/Th 1420-1421. hal 41-48, 
dengan judul asli "Hukmu Fiqhil Waqi' wa Ahammiyyatuhu". Ashalah, diterjemahkan 
oleh Mubarak BM Bamuallim LC dalam Buku "Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan 
Ahli Hadits Abad ini" hal. 127-150 Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i.]
_________
Foote Note.
[1] Penyusun katakan : "Sebagaimana yang terjadi di negeri ini, munculnya 
beberapa gelintir manusia dengan berpakaian "Salafiyah", memberikan kesan 
seolah-olah mereka mengajak kepada pemahaman Salaf, namum hakekatnya mereka 
adalah pengekor hawa nafsu dan perusak dakwah Salafiyah, akibatnya mereka 
hancur berkeping-keping, dan saling memakan daging temannya sendiri. Wal 
'iyadzu billahi, kami mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari 
nasib yang serupa

TQ
*ijal*

-- 
This message has been scanned for viruses and
dangerous content by MailScanner, and is
believed to be clean.

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke