----- Original Message -----
From: ^_^ ghodiy ^_^
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Sent: Thursday, August 16, 2007 10:43 AM
Subject: [ FUPM-EJIP ] Kiat 19 : Mendengar Reflektif
25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak
Kiat 19 : Mendengar Reflektif
ORANG tua harus menjaga anak-anaknya dari kegagalan, rasa keterpurukan, dan
konflik dengan anggota lingkungan tempat dia hidup. Tentu saja kita tidak dapat
menempatkan mereka dalam perlindungan kita secara terus menerus. Yang dapat
kita lakukan padanya hanyalah memberinya pemahaman, dan merespon perasaannya
yang sedang tidak baik serta pengalamannya yang mengganggunya. Dan kita harus
memotivasi mereka untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara yang disebut
mendengar reflektif {reflektive listening). Mendengar reflektif adalah menyimak
secara responsif dan aktif dalam rangka memahami apa yang dikatakan anak dan
agar dia mampu mengingat kembali perasaannya serta mampu menjelaskan
situasi-situasi yang memuculkan perasaan itu. Itu dimaksudkan agar kita dapat
membantunya mengungkapkan perasaan dan segala problem yang dihadapinya. Dari
situ kita dapat menghilangkan ketegangan dan sikap reaktif.
Komunikasi macam ini dengan anak akan membuat hubungan baik dan mengokohkan
jalinan serta membuat dia mandiri dan tabah.
Kita dapat menggunakan cara mendengar reflektif ini pada anak dari mulai umur
tiga tahun, dengan syarat kita menggunakan bahasa yang mudah dan sederhana. Ada
lima hal penting yang harus diperhatikan saat Anda menyelami perasaannya, yakni:
a. Hendaknya Anda menghargai perasaannya dan tunjukkan bahwa Anda memahami
perasaan itu
Itu dapat tercapai dengan cara mendengar secara tenang, penuh perhatian, dan
tampillah bukan sebagai sosok yang akan menghakimi. Tentu saia ada kemungkinan
Anda tidak dapat menerima semua perilaku dan perbuatannya. Tapi kesankan bahwa
Anda dapat memahami perasaannya. Dia akan mengungkapkan kepada Anda tingkat
kemarahannya kepada saudaranya. Tapi dalam waktu bersamaan Anda tidak
mengizinkannya untuk melampiaskan kemarahannya kepada saudaranya itu dengan
melakukan keculasan dan pemukulan.
b. Tampakkan bahwa Anda benar-benar menyimak apa yang dikatakan
Dengan semata-mata mendengarkan, Anda telah memberikan padanya penghargaan.
Karena Anda telah memperkenankan dia untuk mengungkapkan perasa¬annya dan
membagi kekesalan dan kemarahan yang berkecamuk dalam dadanya. Dan
isyarat-isyarat yang Anda lakukan juga bisa berarti sebagai partispasi Anda,
bahkan seringkali isyarat-isyarat itu mewakili omongan. Misalnya
mengangguk-anggukkan kepala sebagai bukti bahwa Anda setuju, menerima, dan
berempati terhadap ucapannya.
c. Ulangi apa yang dia ucapkan dan ekspresikan bahwa Anda sedang memikirkan
perasaannya
Sangat baik jika Anda merangkum atau menyusun ulang inti sari yang dia
katakan tentang perasaannya itu. Tidaklah cukup -sementara kita tengah bicara
tentang empati- hanya mendengarkan dan memahami apa yang dikatakan anak.
Sebaiknya kita mengulangi perkataan dan ungkapan perasaannya untuk memberikan
bukti bahwa kita merespon dan memahami perasaannya. Itulah yang disebut
mendengarkan reflektif seperti yang sudah kita jelaskan.
Mengulangi apa ucapan anak bukan berarti mengulangi kata-katanya secara
persis melainkan menyusun ulang inti omongannya. Misalnya Anda mengatakan
kepada puteri Anda yang berumur tiga tahun yang tengah kecewa, "Oh, kamu pasti
kecewa dan sedih ya, karena kamu tidak dapat ikut ibu ke pasar."
Suatu saat mungkin anak Anda mengungkapkan perasaan yang amat mengganggu dan
mengancamnya. Misalnya ia mengatakan, "Tidak ada seorang pun di kelasku yang
menyukaiku." Dalam keadaan seperti ini kendalikan diri Anda dan janganlah Anda
terbawa emosi dalam mensikapi informasi yang mungkin membuat Anda tersinggung.
Jadilah orang tua yang membantu, memberikan motivasi dan mendorong anaknya
untuk semakin berterus terang dalam mengemukakan apa yang bergejolak di dalam
hatinya betapapun itu menyakitkan Anda.
Anak memerlukan bantuan dan pertolongan Anda. Dan melalui "bermain peran"
sebagai cermin, Anda merefleksikan apa yang ada dalam hatinya. Dengan cara itu
Anda berinteraksi dengan perasaannya. Itu akan membantunya memilih solusi dan
langkah-langkah yang paling baik guna mengatasi kesulitan dan problem yang dia
hadapi. Tentu ada fenomena umum dalam cara berfikir dan perilaku anak. Yaitu
bahwa mereka sering berlebihan dalam mengungkapkan perasaan mereka dan
menggambarkan situasi yang melatarbelakanginya. Karenanya orangtua harus
membantunya dalam menggambarkan perasaan dan situasi yang melatarbelakanginya
agar sesuai dengan realitas. Artinya orangtua harus mengurangi sikap berlebihan
dan memproporsionalkan perasaan dengan situasi yang sebenarnya.
Apa pun kondisinya, dengan cara menyimak dan menyusun ulang fikiran si anak
serta membuatnya menjelaskan perasaannya dengan situasi yang
melatarbelakanginya, kita akan tahu kalau dia over acting tanpa harus
mengatakannya kepadanya secara langsung.
Cara ini bisa digunakan dengan anak dalam segala usia. Karena cara ini
memenuhi dua syarat :
Pertama, konsentrasi, menyimak dan mendengar reflektif.
Kedua, meningkatkan pemahaman anak tentang hakikat perasaannya dan realitas.
d. Rumuskan perasaannya
Setelah Anda menyimak omongan anak dengan seksama dan mencermati ekspresi
wajahnya yang melukiskan perasaannya seperti marah, kecewa, sedih dan
Iain-lain, maka sebaiknya Anda mengidentifikasi reaksinya. Misalnya Anda
katakan kepada puteri Anda yang berusia sembilan tahun, "Tampaknya kamu kecewa
atau kamu sedih karena perlakuan gurumu itu."
Jika dugaan Anda -tentang perasaannya- tidak tepat untuk pertama kali, maka
coba lagi. Tetaplah anda menghargainya, tenang, dan bicaralah dengan
menggunakan jeda-jeda waktu agar Anda menjadi paham. Doronglah puteri Anda itu
menilai dugaan anda, benar atau salah.
e. Bersikap responsif , berikanlah nasihat dan usulan
Kita harus membiarkan anak untuk mencurahkan segala perasaan yang berkecamuk
di dalam jiwanya. Terutama jika ia bersikap negatif terhadap kita. Akan tetapi
dalam waktu yang bersamaan kita juga tidak membiarkan dia menghina kita. Kita
beritahukan bahwa kita memperkenankan dia mengungkapkan perasaannya dan segala
gejolak jiwanya tapi dengan tidak mengeluarkan kata-kata yang menghinakan kita.
Jika ia tidak mau menuruti peringatan kita, kita bisa memintanya segera
menghentikan pembicaraannya dan memberinya hukuman ringan. Sebab ia juga harus
belajar aturan, disiplin, dan adab berbicara dengan ibu-bapaknya atau orang
yang lebih tua darinya.
Namun untuk itu kita harus menjadi teladan dalam hal tatakrama mengungkapkan
perasaan yang kita terapkan pada anak kita. Kita jangan memberi contoh dengan
menghinakannya dan melontarkan ungkapan atau julukan yang merusak kejiwaannya.
Betul bahwa anak menginginkan kita memahami perasaannya saat dia marah,
membangkang, cemburu, sedih, atau takut. Dan saat ia tidak mendapatkan respon
maka ia akan berontak kepada kita. Sebab hal terbesar yang menyakitinya adalah
bila kita menganggap enteng perasaannya atau kita bersikap masa bodoh.
Karenanya kita harus mendekati perasaannya baik dengan cara memahami,
berempati, dan mengidentifikasi perasaannya, bila kita ingin masuk ke dalam
jiwa dan akalnya.
Berikut ini sebuah contoh yang menjelaskan betapa pentingnya mendekati
perasaan anak dengan cara memahami dan berempati. Ini ditulis oleh Salwa
Al-Muayyad dalam bukunya, Ibnii Laa Yakfii an Uhibbuk (Anakku, Tidak Cukup Aku
Mencintaimu).
Sarah pulang dari sekolah dalam keadaan marah. Ia mengadukan kepada ibunya
perihal perlakuan buruk gurunya terhadap dirinya. "Aku benci guruku. Dia
membentakku di depanku karena aku lupa membawa buku catatan matematika." Ibunya
berusaha menampung kemarahannya dan berkata," Apakah sikapnya membuat kamu
sangat kesal?" katanya. "Memang. Seorang temanku juga lupa tidak bawa buku
tulis, tapi guru itu tidak membentaknya seperti yang dia lakukan kepadaku,"
jawab si anak. "Kamu menganggap perlakuannya tidak adil, bukan?" sahut ibunya.
Spontan anak itu menjawab, "Tentu saja. Bahkan saya berfikir untuk menamparnya
dan membuangnya ke tempat sampah." Sambil terus berusaha menenangkan puterinya
itu ia mengatakan, "Omonganmu menunjukkan bahwa kamu benar-benar marah
kepadanya." Sejak itu amarah Sarah mulai reda. Tidak lama kemudian ia pergi
keluar untuk bermain sepeda bersama adiknya, setelah ia lupa kemarahannya
kepada gurunya.
Jadi Sarah menginginkan ibunya memahaminya dan mengakui apa yang ia rasakan
terhadap gurunya. Dan ibunya telah memenuhi apa yang dia inginkan. Ia tidak
menceramahinya melainkan menampung amarahnya dengan cerdas. Dan semua orang tua
bisa melakukannya dengan berlatih dan kesabaran.
Reaksi spontan seorang ibu menghadapi situasi seperti itu bisa beberapa
sikap. Mungkin ia akan mencela anaknya karena kelalaiannya dan mengatakan bahwa
dia memang layak mendapat hukuman seperti itu dari gurunya. Atau mungkin si ibu
berdiri di pihak puterinya melawan gurunya. Akan tetapi ibu Sarah tidak
melakukan itu. Dia justeru mengakui perasaan anaknya dengan mengatakan, "Kamu
menganggap perlakuannya tidak adil, bukan?" Demikian pula saat ia mengatakan,
"Omonganmu menunjukkan bahwa kamu benar-benar marah kepadanya." Ibu Sarah juga
tidak berusaha menghakimi atau menceramahinya. Karena ia tahu bahwa gurunya
telah menjalankan tugas mendidik dan ia tidak ingin mengulangi apa yang
dilakukan gurunya di sekolah.
Begitulah si ibu sampai kepada hasil positif. Sarah telah keluar untuk
bermain sepeda dengan adik-nya setelah memperoleh pelajaran yang semestinya
dari gurunya dan mencurahkan kemarahannya yang menggumpal dalam jiwanya melalui
curahan hati (curhat) dengan ibunya.
Sumber : 25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak (Al Inshat Al In’ikasi
Khamsun Wa Isyruna Thariqah Fi Nafsi Ath Thifli Wa ’Aqlihi) Oleh Muhammad
Rasyid Dimas
------------------------------------------------------------------------------
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net
Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************