Republika, Minggu, 22 Juli 2007 Susu Mahal? Tak Perlu Panik
Sebuah surat elektronik mampir ke Republika, pekan lalu. Surat itu berasal dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), merespons kenaikan harga susu formula. ''Kami mengajak masyarakat kembali menyusui dengan air susu ibu (ASI),'' demikian antara lain bunyi surat itu. Erlyn Rosalyn Amien, pengurus AIMI, mengaku prihatin atas ekspansi susu formula yang disebutnya meningkat tiga kali lipat dalam 15 tahun terakhir. Padahal, kata dia, ditinjau dari sudut apapun, tak ada yang memberi perlindungan maksimal kepada anak sebaik ASI. Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia, dr Utami Roesli SpA MBA IBCLC, mengatakan, ''Kenapa sapi-sapi Australia yang kurang makan, balita di Indonesia yang ribet?'' Menurut dia, ASI mampu memberi gizi yang bagus kepada anak umur nol bulan sampai dua tahun. ''Bahkan Untuk anak umur dua tahun, ASI masih bisa memenuhi 31 persen kebutuhan energi, 38 persen kebutuhan protein, 45 persen kebutuhan vitamin A, dan 95 persen kebutuhan vitamin C. Jadi, kalau memberi ASI, keluarga tinggal mencukupi sisanya,'' kata Utami. Bila ASI diberikan sampai dua tahun, Utami mengatakan anak-anak Indonesia akan terhindar dari gizi buruk. ''Walaupun anak tak pernah diberi susu formula sampai besar,'' katanya. Hal yang sama dikatakan Direktur Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan, dr Ina Hernawati MPH. Dua pertiga masalah kurang gizi di Indonesia, kata dia, dimulai dari usia tiga bulan. ''Dan itu bisa diatasi dengan ASI. Lalu, mengapa saat ini ibu-ibu di Indonesia begitu bergantung pada susu formula? Salah satu sebabnya, adalah masih melekatnya paradigma '4 sehat, 5 sempurna' yang diinterpretasi keliru. ''Seolah kalau sudah minum susu, tak perlu yang lain,'' kata Utami. Menurut Utami, dalam piramida gizi seimbang saat ini, susu ditempatkan sebagai salah satu sumber protein hewani belaka, tak lebih seperti halnya ikan dan daging. Susu formula, kata Utami, sangat menguras energi bangsa ini. Dalam setahun, ada 4,5 juta bayi lahir di Indonesia. Bila seorang bayi butuh 44 kaleng susu dari umur nol sampai enam bulan, dan harga susu per kaleng Rp 60 ribu, maka biayanya Rp 11,88 triliun! ''Bila ibu-ibu di Indonesia memberi ASI, uang sebesar itu bisa untuk mengentaskan kemiskinan,'' kata Utami. Bagaimana bila seorang ibu tak lagi menyusui dan sudah telanjur memberikan susu kaleng bagi anak-anaknya? Utami mengatakan masih ada cara untuk memberikan ASI. Sang ibu hanya perlu menjalani program relaktasi untuk memicu ASI keluar. (nri/san/run )
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
