Diambil dari Seri Ayahbunda : "Kiat-kiat sukses menyusui"
Relaktasi

Kadang ada ibu menyusui terpaksa menghentikan pemberian ASI kpd bayinya
selama rentang waktu tertentu karena berbagai alasan. Misalnya saja, si 
ibu
menderita sakit yg membutuhkan tindakan operasi atau harus pergi ke luar
negeri untuk waktu cukup lama. Setelah beberapa waktu ibu teb ingin 
menyusui
kembali bayinya. Untuk itu ibu dapat melakukan upaya menyusui kembali yg
dikenal dh istilak RELAKTASI.

Perlu diketahui selama masa "istirahat" dari kegiatan menyusui, produksi 
ASI
mungkin menjadi jauh berkurang atau bahkan terhenti. Nah pada saat sang 
ibu
hendak menyusui kembali, tubuhnya, terutama seluruh organ yg terlibat 
dalam
proses produksi ASI, membuthkan waktu untuk "mempersiapkan diri" agar 
dapat
bekerja kembali memproduksi ASI.

Sehubungan dg masa "persiapan" organ ASI, ada beberapa hal yang perlu
diingat, yaitu tiap wanita membutuhkan waktu yg berbeda untuk menghasilkan
ASI. Mungkin ada beberapa ibu yg membutuhkan waktu beberapa hari saja 
untuk
memproduksi ASI secara optimal. Tetapi bila sang ibu berhenti menyusui 
untuk
waktu yg cukup lama, maka biasanya perlu waktu antara 1-2 minggu agar
produksi ASI kembali spt semula.
Selain itu, biasanya akan lebih mudah dan lebih cepat bagi tubuh untuk
menghasilkan ASI kembali, bila si kecil masih berumur kurang dari 2 bulan
dibandingkan bila si kecil sudah berumur lebih dari 6 bulan.

Jadi motivasi yang sangat kuat dari ibu, ditambah dengan perangsangan thd
payudara secara rutin oleh bayi melalui isapannya, akan membantu 
mempercepat
produksi ASI.  Intinya jangan putus asa !

Tips agar berhasil dalam relaktasi

Sebelum memutuskan untuk melakukan relaktasi, sebaiknya bertanyalah pada
diri anda sendiri.
Apakah anda merasa bahagia dan puas jika si kecil mendapatkan zat gizi
terbaik dari ASI daripada formula?
Atau apakah anda memiliki alasan lainnya ?
Jujur pada diri sendiri mengenai motivasi untuk melakukan relaktasi sangat
menentukan keberhasilan anda dalam menyusui kembali si kecil. Perhatikan
hal-hal berikut

1.  Bersiap-siaplah untuk menghadapi stress yg mungkin anda akan alami 
pada
minggu2 pertama relaktasi. Biasanya pada     minggu2 pertama ASI yg anda
hasilkan masih sangat sedikit jumlahnya & tidak sebanding dg kebutuhan si
kecil. Akibatnya bisa saja si kecil rewel.

2.  Mintalah dukungan mental dari orang-orang terdekat di sekitar anda,
selain pasangan anda. Misalnya, teman anda yg pernah berhasil melakukan
relaktasi, dokter, konsultan laktasi, dsb.

3.  Akan lebih mudah melakukan relaktasi jika umur si kecil sekitar 4-6
minggu daripada umur 3 bulan.
4.  LAtihlah si kecil untuk melakukan stimulasi pada puting susu anda dg
cara membiasakan ia  mengisapnya. Sekalipun ASI anda belum keluar atau 
sudah
keluar tapi masih sangat sedikit ! Bila perlu gunakan nursing supplementer
(alat berupa kantung dari plastik yg dikaitkan di BH atau digantungkan 
pada
leher ibu yg akan dialirkan melalui selang kecil ke mulut bayi).
INGAT ! Stimulasi terus menerus pada payudara anda oleh si kecil akan
mempercepat produksi ASI anda.

5.  Susuilah si kecil secara teratur dan sesering mungkin sesuai keinginan
si kecil. Lakukan pemijatan & pemerahan pada payudara anda untuk membantu
menstimulasi produksi ASI.

6.  Tingkatkan konsumsi protein dan cairan dalam menu makan anda untuk
membantu mempercepat tubuh dalam memproduksi ASI.
  ----- Original Message ----- 
  From: Desy 
  To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP 
  Sent: Thursday, August 23, 2007 8:04 AM
  Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Susu Mahal? Tak Perlu Panik


  ----------------(on VirusWall Server )-------------------

  email-body was scanned and no virus found
  -----------------------------------------------------------------



------------------------------------------------------------------------------


  Assalamualaikum warahmatullah ..

  ada yang punya artikel tentang program relaktasi ?

  wassalam





  Rudy Swardani wrote: 
    Republika, Minggu, 22 Juli 2007

    Susu Mahal? Tak Perlu Panik 



    Sebuah surat elektronik mampir ke Republika, pekan lalu. Surat itu berasal 
dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), merespons kenaikan harga susu 
formula. ''Kami mengajak masyarakat kembali menyusui dengan air susu ibu 
(ASI),'' demikian antara lain bunyi surat itu.

    Erlyn Rosalyn Amien, pengurus AIMI, mengaku prihatin atas ekspansi susu 
formula yang disebutnya meningkat tiga kali lipat dalam 15 tahun terakhir. 
Padahal, kata dia, ditinjau dari sudut apapun, tak ada yang memberi 
perlindungan maksimal kepada anak sebaik ASI.

    Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia, dr Utami Roesli SpA MBA IBCLC, 
mengatakan, ''Kenapa sapi-sapi Australia yang kurang makan, balita di Indonesia 
yang ribet?'' Menurut dia, ASI mampu memberi gizi yang bagus kepada anak umur 
nol bulan sampai dua tahun.

    ''Bahkan Untuk anak umur dua tahun, ASI masih bisa memenuhi 31 persen 
kebutuhan energi, 38 persen kebutuhan protein, 45 persen kebutuhan vitamin A, 
dan 95 persen kebutuhan vitamin C. Jadi, kalau memberi ASI, keluarga tinggal 
mencukupi sisanya,'' kata Utami.

    Bila ASI diberikan sampai dua tahun, Utami mengatakan anak-anak Indonesia 
akan terhindar dari gizi buruk. ''Walaupun anak tak pernah diberi susu formula 
sampai besar,'' katanya. Hal yang sama dikatakan Direktur Bina Gizi Masyarakat 
Departemen Kesehatan, dr Ina Hernawati MPH. Dua pertiga masalah kurang gizi di 
Indonesia, kata dia, dimulai dari usia tiga bulan. ''Dan itu bisa diatasi 
dengan ASI.

    Lalu, mengapa saat ini ibu-ibu di Indonesia begitu bergantung pada susu 
formula? Salah satu sebabnya, adalah masih melekatnya paradigma '4 sehat, 5 
sempurna' yang diinterpretasi keliru. ''Seolah kalau sudah minum susu, tak 
perlu yang lain,'' kata Utami.

    Menurut Utami, dalam piramida gizi seimbang saat ini, susu ditempatkan 
sebagai salah satu sumber protein hewani belaka, tak lebih seperti halnya ikan 
dan daging.

    Susu formula, kata Utami, sangat menguras energi bangsa ini. Dalam setahun, 
ada 4,5 juta bayi lahir di Indonesia. Bila seorang bayi butuh 44 kaleng susu 
dari umur nol sampai enam bulan, dan harga susu per kaleng Rp 60 ribu, maka 
biayanya Rp 11,88 triliun! ''Bila ibu-ibu di Indonesia memberi ASI, uang 
sebesar itu bisa untuk mengentaskan kemiskinan,'' kata Utami. 

    Bagaimana bila seorang ibu tak lagi menyusui dan sudah telanjur memberikan 
susu kaleng bagi anak-anaknya? Utami mengatakan masih ada cara untuk memberikan 
ASI. Sang ibu hanya perlu menjalani program relaktasi untuk memicu ASI keluar.

    (nri/san/run ) 


----------------------------------------------------------------------------
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************




------------------------------------------------------------------------------


  ********************************************************
  Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
  ********************************************************
  Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
  http://www.usahamulia.net

  Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
  [EMAIL PROTECTED]

  Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
  [EMAIL PROTECTED]
  ********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke