Republika, Jumat, 10 Agustus 2007

Khillafah Bukan Hal yang Baru 

Kerajaan Samudra Pasai menjadi salah satu tonggak sejarah kedatangan Islam di 
Indonesia. Ada beberapa persepsi kapan waktu tepatnya Islam masuk ke Indonesia. 
Namun seminar nasional di Medan pada 1970 menyebutkan Islam masuk sekitar abad 
ke 7 M. ''Yang jelas, Islam datang ke Indonesia sudah lengkap dengan aliran 
fikih, kalam, dan tasawufnya,'' ujar Asisten Direktur Pascasarjana Universitas 
Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, DR Zaih Mubarak. Indonesia dulu bagian 
dari Malabar yang pusatnya terletak di Malaysia. Lalu Islam pun bergeser ke 
Aceh kemudian ke Riau dan terus hingga ke arah timur. 

Berita dari Marcopolo menyebutkan pada saat persinggahan di Samudra Pasai tahun 
692 H/1292 M, telah banyak orang yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita 
dari Ibnu Battutah, menuliskan di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun 
peninggalan tertua yang ditemukan di Gresik Jawa Timur, berupa kompleks makam 
Islam. Salah satu di antaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah 
binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka 475 H/1082 M. 

Islam makin berkembang, jumlah lembaga pendidikan Islam bertambah, penganutnya 
pun bertambah hingga masuklah era kesultanan. Kesultanan berarti kekuasaan umat 
Islam. Penganut makin bertambah terutama saat ulama mengislamkan raja. Seperti 
saat raja Mataram diislamkan, seluruh rakyatnya mempercayai bahwa rakyat harus 
mengikuti agama rajanya. Selain itu, Islam berkembang seiring dengan 
pernikahan, perdagangan, dan lainnya. 

Kesultanan di Indonesia, kata Zaih, kemungkinan mempunyai hubungan baik dengan 
khilafah. Namun khilafah disini dalam artian perpanjangan kekuasaan Turki 
Utsmani. ''Saya tidak tahu khilafah pernah ada di Indonesia, namun kesultanan 
dan khilafah memang berkaitan,'' katanya menjelaskan. Hal ini bisa terlihat 
dari diangkanya sultanah di Aceh. Padahal dalam ajaran Sunni, seorang sultan 
haruslah laki-laki. 

Akhirnya, atas anjuran dari Sultan Turki Utsmani sultanah tersebut diganti. 
Meskipun kisah itu memperlihatkan adanya keterkaitan, namun zaman dulu belum 
dikenal sentralistik ataupun desentralistik. Umat Islam condong ke federasi. 
Itu terlihat dari setiap daerah memiliki penguasa sendiri, sistem politik, 
bahkan tentara sendiri.

Dalam konteks sejarah, khilafah itu ada pada zaman khulafaur rasyidin. Salah 
satu yang menjadi alasannya adalah pemilihan pemimpin saat itu tidak lagi 
berdasarkan prestasi melainkan keturunan. ''Pemilihannya sudah tidak 
demokratis,'' katanya.

Hal senada juga dikemukakan Prof DR Azyumardi Azra, direktur Sekolah Pasca 
Sarjana UIN Syarif Hidayatullah. Menurut cendekiawan Muslim ini, khilafah hanya 
ada pada masa khulafaur rasyidin. Di Turki itu keturunan, turun-temurun. 
Khilafah itu hancurnya pada masa pasca khilafaur rasyidun dengan beralihnya 
kekuasaan kepada Muawiyah bin Abu Sofyan. Muawiyah tidak meneruskan khilafah 
tapi membuat mamlakah, kerajaan. 

Pengangkatannya monarki, turun-temurun. Jadi, Daulah Umaiyah itu adalah 
mamlakah. Kemudian daulah Abbasiyah itu juga mamlakah. Dan yang terakhir dan 
yang terbesar itu Daulah Usmaniyah. Daulah Usmaniyah juga bukan khilafiyah tapi 
mamlakah. 

( ) 
 
 
 
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke