*MENGHIDUPKAN RASA 'MATI' DALAM JIWA*

*H. **Arsil Ibrahim**, **MA*


www. nurulyaqin.org

Rasa mati adalah perasaan kesadaran yang tinggi bahwa suatu hari kita akan
terbujur kaku selama-lamanya di sebuah pusara yang tertulis di atasnya nama,
tanggal lahir dan tanggal mati kita. Perasaan ini merupakan sebuah warna
yang sudah lama pudar dalam jiwa mayoritas manusia.

Indikasi pupusnya rasa mati dalam diri manusia tercermin dalam kecintaannya
yang keras terhadap harta dan kemewahan dunia yang diburunya siang malam.
Padahal ia tahu semua yang dicapainya pasti akan ditinggalkannya. Indikasi
tersebut juga terjabarkan dalam kedahagaan yang mencambuk nafsunya sehingga
beringas melanggar seluruh aturan Tuhan demi tercapainya hasrat dunia yang
sementara. Atau pada keacuhan hatinya terhadap perintah-perintah Allah yang
semakin menjauhkan dirinya dari kasih dan sayang Allah SWT.

Setiap hari manusia berlari ke sana ke mari mengusung nafsunya dan tenggelam
dalam kesibukan duniawi yang 'berhasil' menjadikannya lupa atau pura-pura
lupa akan hakikat mati. Banyak sekali yang akhirnya malah benar-benar
terkapar dalam keindahan semu dunia sehingga habislah keyakinannya terhadap
hakikat mati. Kondisi seperti inilah yang Allah tegur dalam firmanNya
berikut:



Terjemahan:*"Katakan, sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,
justeru ia yang akan menemui kamu'*. (Surah al-Jumu'ah 62: 8).



Manusia yang telah habis keyakinannya terhadap hakikat mati adalah manusia
yang paling tidak punya nurani. Seluruh fakta tentang kematian yang lalu
lalang di hadapannya setiap saat bagaikan angin lalu yang tidak memberi
kesan apapun kepada dirinya. Ia acuh saja mendengar keluarga dekatnya,
sahabatnya atau handai taulannya meninggal dunia. Bahkan menyaksikan
pembantaian saudara-saudaranya sesama Muslim di kaca TV, masih bisa
dilaluinya sambil menikmati semangkuk sup hangat tanpa merasa terganggu
sedikitpun. Fenomena seperti ini mengingatkan kita pada hari Idul Adha, di
mana kita menyaksikan seekor kerbau disembelih, dikuliti dan dipotong-potong
dagingnya. Sementara kerbau lain di sebelahnya masih bisa menikmati setumpuk
rumput hijau tanpa merasa terganggu sedikitpun. Padahal ia jelas-jelas akan
disembelih pula pada keesokan harinya.



*Beginikah Rasanya Mati?*



Bayangkan sejambak rambut di kepala dicabut, atau selembar perban yang
melekat di atas luka badan sejak seminggu dicabut. Tentulah sakit sekali
rasanya.  Lalu bagaimana pula gerangan jika nyawa yang sudah lekat di badan
selama puluhan tahun dicabut? Kita tidak akan pernah dapat membayangkan
kecuali dengan menyimak sumber berita yang berasal dari Nabi SAW dan para
salafus soleh.

Dalam sebuah hadits marfu' diriwayatkan oleh al-Hafizh Abu Na'im r.a. bahwa
Rasulullah SAW telah bersabda:



*"Demi yang diriku berada di tanganNya, kenyataan (sakitnya) maut itu lebih
dahsyat dari seribu bacokan pedang." *

* *

Amru bin Ash ketika menghadapi sakaratul maut ditanya oleh anaknya tentang
rasa sakit yang dialaminya. Beliau berkata dengan lemahnya,

"Demi Allah wahai anakku, keadaan tubuhku seakan-akan berada dalam selimut
api yang panas membara dan seolah-olah aku bernafas melalui lubang jarum.
Aku juga merasa seakan-akan nyawaku melekat pada satu pohon yang penuh duri,
kemudian ditarik dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun." Selanjutnya Amru bin
Ash menangis seraya berkata,



*"Kukejar dunia ini seakan-akan diriku kekal abadi. Sedangkan dibelakangku
berlari sang maut menapaki langkahku. *

*Duhai, cukuplah kematian itu sebagai nasehat."*



Demikianlah kesaksian yang dinyatakan oleh sahabat Nabi SAW. Bagaimana
pulakah gerangan pengalaman kita peribadi kelak, saya dan anda? Sebaiknya
kepada Allah saja kita segera berlindung agar diberi kemudahan dan
keringanan saat akhir menutup mata.



*Menyiapkan Bekal Kembali*



Sahabat Nabi SAW Utsman bin Affan begitu gentar sekali hatinya setiap kali
melewati tanah pekuburan. Sering didapati ia menangis sebaik saja melewati
sebuah pemakaman. Ketika ditanya oleh seseorang ia menjawab,

"Ketahuilah olehmu, bahwa kubur merupakan pintu gerbang penentuan apakah
seseorang akan kekal selama-lamanya dalam kebahagiaan atau kekal
selama-lamanya dalam kesengsaraan dan penderitaan."

Kita sama-sama mengetahui dan menyadari bahwa akhirat merupakan negeri
abadi. Abadi berarti kekal dan tidak ada akhir atau penghujungnya. Malangnya
lagi kita juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa yang menentukan apakah kita
akan senang dan bahagia, sengsara atau menderita dalam keabadian itu adalah
rekor amal kita di dunia yang sebentar ini. Dalam arti lain, meskipun dunia
ini akan bergulir seratus juta tahun lagipun, kesempatan kita untuk beramal
hanya di sini,saat ini dan sekarang ini.

Sebagai ilustrasi, jika seseorang bekerja dengan sebuah perusahaan di
Jakarta dan tiba-tiba diperintahkan oleh direkturnya untuk segera berangkat
ke cabang Medan besok pagi untuk jangka waktu lima tahun. Kira-kira apa yang
akan dilakukannya? Tentulah sedapat mungkin ia akan sibuk mempersiapkan diri
dalam tenggat waktu yang amat singkat itu. Dalam 24 jam itu pasti ia akan
mengepak barang-barangnya, mencari pinjaman uang ke sana kemari, pamitan dan
mohon maaf ke seluruh keluarga dan kawan-kawannya dan lain-lain. Bahkan
hampir dapat dipastikan malam itu ia tidak bisa tidur memikirkan
keberangkatannya yang mendadak itu.

Ketahuilah bahwa waktu yang tersedia untuk kita mempersiapkan bekal
perjalanan menuju akhirat lebih singkat dari ilustrasi di atas. Bahkan
jangka waktu untuk kita menetap di sana adalah kekal abadi dan tidak
terbatas. Yang dapat menyelamatkan kita hanyalah suatu kesadaran yang tinggi
dan gerak amal yang konsisten bahwa setiap helaan nafas, ayunan langkah dan
tangan selama di muka bumi kita niatkan benar-benar untuk beribadah kepada
Allah. Kemudian kita sadari pula bahwa seluruh apa yang Allah perintahkan
kita laksanakan dengan sekuat daya upaya kita. Manakala apa jua yang Allah
tegah harus serta merta kita tinggalkan sama sekali.

Marilah kita sama-sama mencari cahaya Allah dengan berbuat sebanyak mungkin
kebajikan di muka bumi, menebar kasih sayang, melakukan amal jariah,
mempersiapkan anak-anak soleh yang dapat mendoakan kita saat terbaring di
pusara dan menyumbangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat.  Hanya
setelah itu saja kita baru akan merasa sedikit siap untuk berangkat kembali
ke kampung akhirat, dan agak berani menunggu kedatangan malaikat Izrail.



*Rabbana wahai Tuhan kami. *

*Anugerahkan kami taubat sebelum maut, *

*kasih sayangMu saat menghadapi maut *

*dan ampunanMu seusai maut menjemput. *

*Amin..*
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke