assalamu'alaikum ... kemarin ada pembicaraan tentang shalawat nabi berikut cuplikan dari buku sejarah nabi
Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW oleh Muhammad Husain Haekal Pengantar Cetakan Kedua SELAWAT KEPADA NABI Dalam menyalahkan yang paling keras ialah karena pembahasan saya, saya beri judul Sejarah Hidup Muhammad tanpa ucapan sallallahu 'alaihi wasallama [s.a.w.], ucapan Salam dan Selawat kepada Rasulullah, sekalipun sambil tulisan ini berjalan sudah beberapa kali saya sebutkan. Mereka baru reda memaki-maki sesudah pada judul cetakan pertama saya hiasi dengan ayat Qur'an : "Allah dan para malaikat memberikan rahmat kepada Nabi. Orang-orang beriman, berikanlah selawat dan salam kepadanya" [Qur'an, 33 : 56] dan sesudah buku ini mengemukakan sejarah hidup Nabi dengan metoda seperti apa adanya sekarang. Akan tetapi mereka masih bersikeras juga dengan pendirian mereka itu. Dengan begitu mereka sudah merasa puas hanya dengan ikut saja apa yang mereka terima dari nenek-moyang dahulu kala. Baik kita mulai dengan menyanggah pandangan yang salah ini dengan harapan tidak dilakukan orang lagi, baik oleh pihak bersangkutan atau oleh pihak lain dalam menanggapi buku apapun yang terbit. Kita mulai sanggahan ini dengan kembali kepada buku-buku kaum cendekiawan Islam terkemuka supaya orang mengetahui sampai dimana taraf ketinggian Islam, yang sebenarnya tidak terbatas hanya pada kata-kata saja, melainkan sudah dapat menempatkan nilai hadist : "Bahwasanya agama ini kukuh sekali. Tanamkanlah dalam-dalam dengan lemah lembut. Sebenarnya orang yang terputus dalam perjalanan takkan mencapai tujuan, binatang bebanpun binasa". Dalam Kulliat-nya Abu'l-Baqa' menerangkan, bahwa "penulisan ash-shalat [s.a.w.] dalam buku-buku dahulu terjadi pada masa kekuasaan Abbasia. Oleh karena itu, yang ada dalam kitab-kitab Bukhari dan yang lain tidak mempergunakan kata-kata itu". Para Imam sebagian besar sepakat, bahwa Selawat kepada Nabi cukup sekali saja diucapkan orang selama hidupnya. Ibn Najm dalam Al-Bahru'r Ra'iq menyebutkan : "Perintah dalam firman Tuhan 'ucapkan selawat dan salam kepadanya' kewajibannya berlaku sekali saja selama hidup, baik dalam sembahyang atau diluar itu. Tentang ini tak ada perselisihan pendapat". Adanya perbedaan pendapat antara Syafi'i dan yang lain tentang kewajiban mengucapkan selawat kepada Nabi, berlaku selama dalam sembahyang, bukan diluar itu. Selawat ialah doa, artinya mudah-mudahan Allah memberi rahmat dan salam kepada Nabi". Demikian sumber para Imam dan ulama Islam menyebutkan mengenai masalah ini. Mengucapkan selawat kepada Nabi pada setiap menyebutkan dan menuliskan namanya merupakan suatu keharusan, menunjukkan mereka bersikap sangat berlebih-lebihan. Akibat dari kesalahan itu, mereka yang mengikutinya akan salah pula jika mereka mengetahui apa yang sudah kita sebutkan tadi. Ahli-ahli hadist terkemuka tidak menuliskan kata-kata selawat dalam kitab-kitab mereka yang mula-mula. ******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
