Visit my blog:
http://lintasankatahati.blogspot.com/

----- Original Message ----- 
From: Choirul Asyhar 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, September 07, 2007 11:34 AM
Subject: [Lintasan] Serial Peluang Korupsi - 5:


Di Jalan Raya (1)

Untuk menambah mengepul dapur istri, saya memberdayakan mobil carry saya dengan 
mengangkut anak-anak sekolah. Hitung-hitung sekalian mengantar anak saya 
sekolah juga. Sekitar lima tahun saya menjalankan usaha hidup seperti ini. 
Alhamdulillah bisa menggaji sopir dan membuat mobil saya bisa berjalan karena 
ada uang bensin dan oli lebih dari cukup. Tidak ada halangan berarti, sampai 
suatu ketika mobil saya dicegat oleh polantas. Mobil saya ditilang karena tidak 
memiliki izin usaha bus sekolah. Saya yang buta dengan perundang-undangan yang 
banyak sekali itu mempertanyakan sejak kapan kita harus punya izin usaha bus 
sekolah. Ternyata ada Perda-nya. Ya sudah saya mengalah. Maka saya ditilang. 
Untuk membantu program pemerintah (padahal sebenarnya karena saya kesal) saya 
sampaikan ke petugas yang menilang saya. Bahwa kalau memang mau menegakkan 
perturan, polantas tidak perlu berpanas-panas di jalan raya. Cukup nongkrong 
aja di depan sekolah. Pasti puluhan mobil tertangkap. Sekalian bisa memberi 
pencerahan kepada para sopir, bahwa usaha antar jemput anak sekolah harus 
berizin. Saya menyebutkan 3-4 sekolah di Cikarang yang banyak menggunakan jasa 
antar jemput untuk murid-muridnya. Tapi sang petugas hanya tersenyum kecut. 
Entah apa artinya hanya dia dan Allah yang tahu.

Ketika mendatangi persidangan pada tempat yang disebutkan dalam surat tilang, 
sopir saya di arahkan ke kantor polisi tertentu. Ternyata STNK mobil saya ada 
di sana. Untuk menebusnya tidak perlu sidang. Cukup sopir saya menyerahkan uang 
80 ribu dan STNK pun sudah berpindah tangan! Ketika dilapori hal ini sore 
harinya, kali ini saya yang tersenyum kecut!

Lho, apa gunanya surat tilang. Apa gunanya saya patuh tidak memberikan uang 
damai, kalai ujung-ujungnya uang saya toh tidak masuk ke kas negara. Tapi jadi 
bancaan kantong petugas!

Suatu Sabtu saya naik motor dari Cikarang ke Cibitung. Di perjalanan ada razia 
surat-surat kendaraan dan SIM. Merasa surat saya lengkap saya berhenti dengan 
santai. Ketika saya membuka dompet saya, ternyata saya hanya menemukan SIM C 
saya. STNK-nya tidak saya temukan, meskipun saya sudah teliti membuka 
lembar-lembar struk ATM dari dompet saya. Saya teringat, bahwa STNK tertinggal 
di salah satu kantong baju saya yang saya pakai beberapa hari yang lalu. 
Kejadiannya ketika parkir motor di suatu pertokoan, saya harus menunjukkan STNK 
kepada petugas ketika meninggalkan tempat parkir. Setelah itu saya tidak 
mengembalikannya ke dompet saya, tapi ke kantong baju. Karena tidak disiplin 
menempatkan sesuatu pada tempatnya maka sekarang saya menerima akibatnya. Saya 
ditilang karena tidak bisa menunjukkan STNK.

Kata Polisi seharusnya kalau tidak punya STNK, yang ditahan adalah motornya 
tapi Pak Polisi dengan kebijaksanaannya cukup menahan SIM C saya, meskipun saya 
sebenarnya merelakan motor saya ditahan. Setelah itu Polisi mengeluarkan 
kebijaksanaan lagi, bahwa kalau keberatan ikut sidang bisa menitipkan uang Rp 
75.000,- kepadanya. Karena pengalaman terdahulu, saya memilih titip uang saja. 
Toh sama-sama ujung-ujungnya uang tilang masuk kantong petugas. Tapi karena 
saya masih harus meneruskan perjalanan, saya minta tanda bukti bahwa saya sudah 
ditilang. Kalau tanpa tanda bukti, saya khawatir di depan ada tilang lagi, saya 
jadi tekor kor. Apa jawaban Pak Polisi? ”kalau gitu, Bapak sidang aja, deh.” 
Wow, ngambek ni yee.... Karena curiga, ujung-ujungnya uang saya ditilep juga, 
maka saya minta diberi kemudahan. Karena menggunakan bahasa Jawa, maka akhirnya 
saya diarahkan untuk menebus SIM saya di Polres Kabupaten Bekasi yang ada di 
Cikarang, dekat rumah saya.
Pada hari H saya ambil SIM saya. Setelah petugas membuka data base yang berisi 
besarnya denda setiap kesalahan, ternyata benar saya harus bayar Rp. 75.000,- 
Saya coba menawar. Akhirnya petugas memberikan diskon Rp. 5.000,-. Jangan tanya 
kuitansi, karena sudah saya tanyakan, dan ternyata tidak ada. Oh kasihan 
negeriku, banyak enterpreneur di kantor pemerintahnya. 

--
Posting oleh Choirul Asyhar ke Lintasan pada 9/07/2007 11:33:00 AM 

--------------------------------------------------------------------------------

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke