Menyambut Bulan Ramadhan 1428 H 
<http://www.hizbut-tahrir.or.id/index.php/2007/09/08/menyambut-bulan-ramadhan-1428-h/>
 


 September 8th, 2007


PERNYATAAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Nomer: 121/PU/E/09/07
"MENYAMBUT BULAN RAMADHAN 1428 H"

Marhaban ya Ramadhan. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan 1428 H. 
Maka, sudah semestinya, sebagai seorang Muslim --sebagaimana dituntunkan oleh 
Rasulullah Muhammad Saw-- kita menyambutnya dengan suka cita dengan keimanan 
penuh. Kita tidak akan melaksanakan sesuatu dengan baik, kecuali jika kita 
mempersiapkan diri dengan baik pula. Begitupun dalam menyambut bulan Ramadhan. 
Rasulullah dan para shahabat sangat bersemangat tiap kali menyambut datangnya 
bulan Ramadhan. Mereka dengan sangat serius mempersiapkan diri agar bisa 
memasuki bulan Ramadhan dan melakukan segala amalan di dalamnya dengan penuh 
keimanan, keikhlasan, semangat dan kesungguhan. Maka, jelas sekali keberhasilan 
kita dalam menjalani seluruh amal shaleh pada bulan Ramadhan dan akhirnya dapat 
meraih seluruh kebaikan bulan Ramadhan, sangat dipengaruhi oleh sejauh mana 
kita mempersiapkan diri.

Persiapan paling penting yang harus kita lakukan adalah persiapan mental dan 
ilmu. Mempersiapkan mental artinya menyiapkan jiwa kita dengan cara 
membangkitkan suasana keimanan dan spirit, atau semangat ketakwaan pada diri 
kita. Cara yang paling manjur adalah dengan memperbanyak ibadah, khususnya 
puasa sunnah sebagaimanya dicontohnya oleh Rasulullah, dengan memperbanyak 
puasa Sya'ban, bahkan menyambungnya hingga bulan Ramadhan. Ummul Mukminin, 
Aisyah ra. menuturkan:

«??? ???????? ??????? ????? ? ??????????? ??????? ?????? ?????? ????????? ????? 
?????????? ???????? ???????? ?????? ??? ?????????»

Aku tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh, kecuali Ramadhan dan aku 
tidak melihat Beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan dengan pada bulan 
Sya'ban (HR al-Bukhari dan Muslim).

«????? ??????? ?????????? ????? ??????? ????? ? ???? ?????????? ????????? ????? 
???????? ???????????»

Bulan yang paling Rasul saw. sukai untuk berpuasa di dalamnya adalah Sya'ban, 
kemudian Beliau menyambungnya dengan (puasa) Ramadhan. (HR Abu Dawud, an-Nasa'i 
dan Ahmad).

Rasulullah memposisikan puasa Sya'ban itu sebagai persiapan untuk menjalani 
Ramadhan. Anas ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya:

«????? ????????? ???????? ?????? ????????? ??????? ????????? ??????????? 
?????????»

Puasa manakah yang paling utama setelah puasa Ramadhan? Rasul pun menjawab, 
"Puasa Sya'ban untuk mengagungkan Ramadhan." (HR at-Tirmidzi).

Maka, berpuasa sunnah di bulan Sya'ban memiliki keutamaan yang sangat besar, 
lebih besar daripada puasa pada bulan lainnya. Sedemikian penting dan utamanya 
sampai 'Imran bin Hushain menuturkan, bahwa Rasul saw. pernah bertanya kepada 
seorang Sahabat:

? ??????? ?????????? ???? ????????? ?????? ?????????? ?????????

???? ?????? ???? ?????? ????? ????????? ??????? ???????? ????????? ????? ??? 
??????? ??????? ????? 

Apakah engkau berpuasa pada akhir bulan ini (yakni Sya'ban)?" Laki-laki itu 
menjawab, "Tidak." Lalu Rasulullah saw. bersabda kepadanya, "Jika engkau telah 
selesai menunaikan puasa Ramadhan, maka berpuasalah dua hari sebagai gantinya." 
(HR Muslim).

Apa hikmah dari puasa Sya'ban itu? Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada 
Rasulullah saw.:

«??? ?????? ?????? ???? ?????? ???????? ???? ????? ???? ????????? ??? ?????? 
???? ????????? 

????? : ?????? ?????? ???????? ???????? ?????? ?????? ?????? ??????????? 

?????? ?????? ???????? ????? ??????????? ????? ???? ????????????? ? ????????? 
???? ???????? ??????? ??????? ???????»

"Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan lain seperti 
engkau berpuasa pada bulan Sya'ban." Rasul menjawab, "Bulan itu (Sya'ban) 
adalah bulan yang dilupakan oleh manusia, yaitu bulan di antara bulan Rajab dan 
Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Tuhan 
semesta alam. Aku suka amal-amalku diangkat, sementara aku sedang berpuasa." 
(HR Abu Dawud dan an-Nasa'i; disahihkan oleh Ibn Khuzaimah).

Pendek kata, puasa sunnah di bulan Sya'ban, di samping akan mendapatkan pahala 
yang besar dan keutamaan di sisi Allah, juga merupakan sarana latihan guna 
menyongsong datangnya Ramadhan. Al-Hafizh Ibn Rajab mengatakan, "Dikatakan 
tentang puasa pada bulan Sya'ban, bahwa puasa seseorang pada bulan itu 
merupakan latihan untuk menjalani puasa Ramadhan. Hal itu agar ia bisa memasuki 
puasa Ramadhan tidak dengan berat dan beban. Sebaliknya, dengan puasa Sya'ban, 
ia telah terlatih dan terbiasa melakukan puasa. Dengan puasa Sya'ban 
sebelumnya, ia telah menemukan lezat dan nikmatnya berpuasa. Dengan begitu, ia 
akan memasuki puasa Ramadhan dengan kuat, giat dan semangat."

Para ulama di masa lalu sangat memperhatikan pelaksanaan semua amal kebaikan 
pada bulan Sya'ban. Mereka, sejak memasuki bulan Sya'ban, telah memperbanyak 
membaca al-Quran, menelaah dan memahami isinya dan men-tadabbur-i kandungannya. 
Bahkan Habib ibn Abi Tsabit, Salamah bin Kahil dan yang lain menyebut bulan 
Sya'ban ini sebagai Syahr al-Qurân.

Mari Sambut Ramadhan

Sebentar lagi bulan Ramadhan akan tiba. Mari kita gunakan waktu yang bersisa di 
bulan Sya'ban ini untuk betul-betul menyiapkan diri memasuki bulan Ramadhan. 
Ajaklah diri, keluarga dan orang-orang yang ada di sekitar kita guna 
menyongsong datangnya bulan Ramadhan. Perbanyak puasa sunnah, baca al Qur'an 
dan telaah kandungannya, perbanyak sedekah dan amal shaleh lainnya, termasuk 
bergiat melakukan shalat tahajjud. Agar kita nanti mampu menjalani Ramadhan 
dengan penuh makna, maka hendaknya kita pun sejak sekarang menyiapkan diri 
melakukan amal kebaikan yang akan kita lakukan selama bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan. Bulan Ramadhan adalah bulan murâqabah. 
Ramadhan juga adalah bulan pengorbanan di jalan Allah. Di dalamnya setiap 
muslim dituntut untuk berkorban dengan menahan rasa lapar dan dahaga demi 
meraih derajat taqwa. Taqwa adalah puncak hikmah dari ibadah shaum pada bulan 
Ramadhan. Perwujudan taqwa secara individu tidak lain adalah dengan 
melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun 
perwujudan taqwa secara kolektif adalah dengan menerapkan syariah secara kaffah 
dalam seluruh aspek kehidupan. Puasa Ramadhan tentu kurang bermakna, jika tidak 
ditindaklanjuti oleh pelaksanaan syariah secara kaffah dalam kehidupan, karena 
justru itulah sesungguhnya wujud ketaqwaan yang hakiki.

Terakhir, marilah kita simak dan renungkan kembali penggal pesan-pesan 
Rasulullah yang disampaikan di penghujung bulan Sya'ban, sesaat sebelum 
memasuki bulan Ramadhan:

Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan penuh berkah, 
bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu 
bulan. Allah telah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai suatu kewajiban dan 
shalat malamnya sebagai sunnah. Siapa saja yang ber-taqarrub di dalamnya dengan 
sebuah kebajikan, ia seperti melaksanakan kewajiban pada bulan yang lain. Siapa 
saja yang melaksanakan satu kewajiban di dalamnya, ia seperti melaksanakan 70 
kewajiban pada bulan lainnya.

Bulan Ramadhan adalah bulan sabar; sabar pahalanya adalah surga. Ia juga bulan 
pelipur lara dan ditambahnya rezeki seorang mukmin. Siapa saja yang memberikan 
makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, ia akan diampuni dosa-dosanya 
dan dibebaskan lehernya dari api neraka. Ia akan mendapatkan pahala orang itu 
tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

Para Sahabat berkata, "Kami tidak memiliki sesuatu untuk memberi makan orang 
yang berpuasa puasa?" Rasulullah saw. menjawab:

Allah akan memberikan pahala kepada orang yang memberi makan untuk orang yang 
berbuka berpuasa meski dia hanya memberi sebutir kurma, seteguk air minum atau 
setelapak susu.

Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya adalah 
maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang 
meringankan hamba sahayanya, Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari 
api neraka. Perbanyaklah pada dalam Ramadhan empat perkara, dua perkara yang 
Tuhan ridhai dan dua perkara yang kalian butuhkan. Dua perkara yang Tuhan 
ridhai adalah kesaksian Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh dan permohonan 
ampunan kalian kepada-Nya. Adapun dua perkara yang kalian butuhkan adalah: 
kalian meminta kepada Allah surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. 
(HR Ibn Khuzaimah dalam Shahih Ibn Khuzaimah dan al-Baihaqi di dalam Syu'âb 
al-Imân).

Jakarta, 09 September 2007

Wassalam,
Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto
Hp: 0811119796 Email: [EMAIL PROTECTED]

Gedung Anakida Lt 7
Jl. Prof. Soepomo 27, Tebet, Jakarta Selatan
Telp/Fax : (62-21) 8353254
Email : [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
Website: www.hizbut-tahrir.or.id <http://www.hizbut-tahrir.or.id/> 

<http://www.hizbut-tahrir.or.id/index.php/2007/09/08/menyambut-bulan-ramadhan-1428-h/>
 

<<winmail.dat>>

IMPORTANT -
The contents of this email and its attachments are confidential and intended 
only for the individual or entity named above.
Any unauthorized use of the contents is expressly prohibited. If you receive 
this email in error, please contact us, then delete the email.
Please note that any views or opinions presented in this email are solely those 
of the author and do not necessarily represent those of the company and should 
not be seen as forming a legally binding contract without express written 
confirmation.
Finally, the recipient should check this email and any attachments for the 
presence of viruses. PT Astra Honda Motor accepts no liability for any damage 
caused by any virus transmitted by this email.
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke