Resesi Ekonomi, Jokowi Terjebak Paradox of Thrift?R53 - Monday, November 16, 
2020 21:40
https://www.pinterpolitik.com/resesi-ekonomi-jokowi-terjebak-paradox-of-thrift
 
Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga dan Presiden Jokowi (foto: Warta 
Ekonomi)
6 min read

Pandemi Covid-19 tidak hanya menjadi bencana kesehatan, melainkan juga menjadi 
bencana ekonomi. Untuk keluar dari jurang resesi ekonomi, Stafsus Menteri BUMN 
Arya Sinulingga menyarankan masyarakat untuk berperilaku konsumtif agar 
perputaran uang tetap terjadi. Akan tetapi, di tengah pandemi, paradox of 
thrift justru menjadi ganjalan.

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Rajin menabung pangkal kaya. Sejak kecil, kita kerap mendengar nasehat 
tersebut, baik dari orang tua ataupun guru di sekolah. Tidak hanya untuk 
melakukan akumulasi kekayaan, menabung juga dilakukan sebagai langkah untuk 
mewaspadai kebutuhan mendadak di masa depan.

Akan tetapi, nasehat tersebut tampaknya tidak begitu disarankan saat ini. 
Pasalnya, Staf Khusus (Stafsus) Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya 
Sinulingga, justru menyarankan masyarakat berperilaku konsumtif agar Indonesia 
dapat keluar dari resesi ekonomi.

Sebagaimana diketahui, saat ini Indonesia telah resmi masuk ke dalam jurang 
resesi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produk domestik bruto 
(PDB) pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (year on year/yoy). 

Terkait sarannya, Arya misalnya mencontohkan libur panjang 28 Oktober – 1 
November 2020 yang disebutnya sangat membantu UMKM di daerah karena masyarakat 
ramai berwisata.

Di tengah hantaman badai ekonomi saat ini, pernyataan Arya memang sekiranya 
tepat. Meningkatkan demand atau permintaan memang merupakan cara untuk 
meningkatkan produksi, yang mana nantinya  akan membuka lapangan pekerjaan. Itu 
tentu merupakan berita bagus atas masifnya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang 
terjadi di tengah pandemi. Tidak tanggung-tanggung, jumlah PHK dan dirumahkan 
akibat pandemi disebut bahkan mencapai 29 juta jiwa.

Lantas pertanyaannya, mungkinkah saran Arya Sinulingga tersebut menjadi jawaban 
atas resesi ekonomi yang kini dihadapi oleh pemerintah Joko Widodo (Jokowi)?


Paradox of Thrift
Melihat kondisi saat ini, saran Arya tersebut tampaknya sulit untuk diwujudkan. 
Pasalnya, di tengah situasi ekonomi tidak pasti akibat pandemi, masyarakat 
lebih memilih untuk menyimpan uang (saving money). Dalam ilmu ekonomi, hal 
tersebut dikenal sebagai paradox of thrift atau paradoks penghematan – 
dipopulerkan oleh ekonom Inggris John Maynard Keynes.  

James Chen dalam tulisannya Paradox of Thrift, dengan mengacu pada teori 
ekonomi Keynesian, menyebut peningkatan konsumsi dipercaya sebagai pendorong 
pertumbuhan ekonomi. Namun, seperti yang disebutkan sebelumnya, bagaimana 
mungkin masyarakat meningkatkan konsumsinya dalam situasi saat ini.

Victor Degorce dan Eric Monnet dalam tulisannya The Great Depression, Banking 
Crises, and Keynes Paradox of Thrift menyebutkan bahwa di tengah situasi krisis 
memang terdapat tren terjadinya peningkatan saving money. Pada krisis ekonomi 
2008, misalnya, saving money di Uni Negara meningkatan dari 12,5 persen menjadi 
14 persen. Kini, di tengah pandemi Covid-19, saving money rumah tangga di Uni 
Eropa disebut meningkat dari 12,5 persen menjadi 17 persen.

E. Katarina Vermann dalam tulisannya Wait, Is Saving Good or Bad? The Paradox 
of Thrift juga menjelaskan hal serupa. Tulisnya, resesi ekonomi telah mendorong 
peningkatan saving money karena masyarakat didorong oleh rasa ketidakpastian 
tentang pekerjaan di masa depan, upaya untuk mengurangi utang, dan fluktuasi 
yang luas pada harga saham dan perumahan.

Di sini jelas terjadi paradoks. Secara ekonomi mikro, di tengah situasi krisis, 
saving money memang harus dilakukan individu. Namun, di level ekonomi makro, 
perilaku tersebut justru menurunkan perputaran uang, permintaan, dan produksi. 
Alhasil, PHK menjadi tidak terhindarkan.

Kendati terbaca begitu masuk akal, paradoks penghematan ala Keynesian pada 
dasarnya memiliki kekurangan. Chen menyebutkan bahwa Keynes melupakan aspek 
penting dari saving money, yakni uang yang tersimpan di bank justru baik bagi 
ekonomi karena digunakan sebagai dana pinjaman.

James C.W. Ahiakpor dalam tulisannya A Paradox of Thrift or Keynes's 
Misinterpretation of Saving in the Classical Theory of Growth? lebih merinci 
kekurangan yang disebutkan oleh Chen. Menurut Ahiakpor, Keynes telah melakukan 
kekeliruan karena mereduksi saving money sebagai menimbun uang. Padahal, saving 
money juga penting untuk menjamin persediaan modal negara.

Ahiakpor misalnya mencontohkan kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Ronald 
Reagan pada awal tahun 1980-an yang justru memotong pajak dengan tujuan untuk 
mempromosikan penyimpanan uang karena menilai itu demi memperbaiki pertumbuhan 
ekonomi dalam jangka panjang.

Konteks yang disebutkan oleh Chen dan Ahiakpor dapat kita temui di Indonesia 
pada krisis ekonomi 1998. Saat itu, faktor yang semakin menenggelamkan ekonomi 
adalah terjadinya rush money atau penarikan uang besaran-besaran oleh 
masyarakat, sehingga bank tidak memiliki dana untuk diputar.


Middle Income Trap
Sampai di sini, dalam merespons saran Arya Sinulingga kita sepertinya dapat 
menjawab “iya”, sekaligus “tidak”. Iya, dalam artian peningkatan konsumsi 
memang dibutuhkan saat ini. Tidak, dalam artian, negara juga harus menjamin 
tersedianya uang yang cukup di bank. 

Artinya, saran Arya pada dasarnya tidak merujuk pada semua elemen masyarakat, 
melainkan khusus kepada golongan menengah ke bawah. Mengapa demikian? Karena 
setiap golongan masyarakat memiliki preferensi penggunaan uang dan tugas yang 
berbeda.

Pertama, terkait preferensi penggunaan uang. Berbeda dengan kelompok menengah 
ke atas yang cenderung berinvestasi, kelompok menengah ke bawah memiliki 
kecenderungan untuk langsung menggunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhan 
sehari-hari.

Temuan tersebut kemudian melahirkan asumsi dan kebijakan ekonomi bahwa subsidi 
seharusnya diberikan ke kelompok menengah ke bawah karena preferensi penggunaan 
uang mereka yang secara langsung meningkatan pertumbuhan ekonomi. 

Berbeda jauh dari kelompok atas yang jumlahnya hanya 0,5 persen, kelompok 
menengah (20 persen) dan menuju menengah (44,5 persen) yang jumlahnya mencapai 
64,5 persen dari total penduduk Indonesia, jelas merupakan penggerak ekonomi 
yang luar biasa.

Kedua, terkait tugas. Mengacu pada yang pertama, kita dapat memahami bahwa 
kelompok atas yang cenderung berinvestasi dan memiliki tabungan di bank adalah 
penjamin tersedianya aliran dana. Per Agustus 2019, sebanyak 274.153 rekening 
memiliki tabungan di atas Rp 2 miliar – dengan total Rp 3.312,87 triliun. Dana 
tiga ribu triliun tersebut tentu harus dijaga untuk menjamin ketersediaan modal.

Oleh karenanya, fokus pemerintah seharusnya untuk menjamin bagaimana kelompok 
menengah yang menjadi motor penggerak ekonomi tersebut memiliki disposable 
income atau pendapatan yang siap untuk dibelanjakan.

Indonesia, telah lama masuk ke dalam Middle Income Country (MIC) – sejak tahun 
1996. Namun, sampai saat ini belum mampu menggapai Upper Middle Income Country 
sehingga disebut berada di kondisi Middle Income Trap. Itu adalah kondisi 
ketika suatu negara telah berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah, namun 
stuck dan tertahan untuk berkembang menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Nah, di sini masalahnya. Situasi pandemi saat ini tidak hanya membuat kondisi 
ekonomi Indonesia semakin stuck, melainkan juga membuat kelompok menengah 
tersebut turun ke kelompok menuju menengah, rentan, bahkan ke miskin.

Tentu pertanyaannya, dari mana pemerintah mendapatkan uang untuk menjamin 
disposable income masyarakat sebanyak itu?

Chairman Financial Intelligence, Elvin G. Masassya memiliki saran yang layak 
dipertimbangkan atas masalah tersebut. Menurutnya, pemerintah bisa memanfaatkan 
kelompok masyarakat yang memiliki rekening di atas Rp 2 miliar untuk membeli 
surat utang pemerintah. Dana tersebut kemudian dapat digunakan untuk memberi 
bantuan terhadap mereka yang tidak mampu agar konsumsi dapat naik.

Praktiknya bukan dengan menggunakan tabungan mereka, melainkan mengalokasikan 
10 persen pendapatan  mereka untuk membeli surat utang secara progresif. 
Tabungan di atas Rp 2 miliar jelas memberi jaminan bahwa mereka dapat bertahan 
di tengah pandemi.

Sekarang kita hanya dapat menanti langkah konkret apa yang dilakukan oleh 
pemerintahan Jokowi untuk keluar dari jurang resesi ekonomi. Menarik untuk 
ditunggu kelanjutannya. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/F465762BB6004545B83567FD0E4A766B%40A10Live.

Reply via email to