Kerumunan HRS Bentuk Kompromi Jokowi?F63 - Monday, November 16, 2020 19:18
https://www.pinterpolitik.com/kerumunan-hrs-bentuk-kompromi-jokowi
 
Habib Rizieq Shihab di Tengah Kerumunan (CNN Indonesia)
7 min read

Serangkaian kerumunan massa dan simpatisan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) 
Habib Rizieq Shihab (HRS) menimbulkan sentimen minor publik. Masyarakat menilai 
pemerintah tak tegas dalam menegakkan protokol kesehatan di tengah pandemi 
Covid-19. Apa sebenarnya yang menyebabkan pemerintah terkesan tak berbuat 
banyak terhadap fenomena ini?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Sejak kepulangannya yang fenomenal ke Indonesia, pemberitaan mengenai Imam 
Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS) tak henti-hentinya 
menghiasi headline-headline media massa nasional. Bagaimana tidak? Setiap 
gerak-gerik sang Habib memang selalu mengundang perhatian lantaran kerap 
diikuti oleh kerumunan massa dalam jumlah yang tak sedikit.

Usai kerumunan di Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta yang 
sempat menyebabkan ratusan penerbangan mengalami keterlambatan, HRS kembali 
mendapat sorotan setelah simpatisannya menyemut di acara Maulid Nabi yang 
dihadirinya. Saking padatnya, acara tersebut bahkan sampai membuat Jalan Tebet 
Raya sempat mengalami kemacetan yang cukup parah.

Pun begitu dengan acara resepsi pernikahan putri HRS yang digelar di 
kediamannya di bilangan Petamburan, akhir pekan lalu. Banyaknya massa yang 
antusias terhadap acara ini membuat sebagian ruas Jalan KS Tubun sempat ditutup.

Rangkaian kerumunan yang terjadi berturut-turut di tengah pandemi Covid-19 ini 
akhirnya membuat publik mulai gerah. Kekesalan itu pun diluapkan warganet lewat 
#IndonesiaTerserah yang kembali memuncaki trending topic di media sosial 
Twitter beberapa waktu lalu.

Tak hanya warganet, fenomena munculnya kerumunan ini pun tak luput dari 
sentimen minor para ahli kesehatan dan epidemiolog. Mereka menyoroti 
ketidaksigapan pemerintah dalam mengantisipasi munculnya kerumunan simpatisan 
HRS yang sangat kontraproduktif terhadap penanganan pandemi.

Dokter sekaligus influencer, dr Tirta Mandira Hudhi juga menyuarakan hal 
serupa. Ia bahkan sampai meminta pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang 
saat ini masih diterapkan di Ibu Kota dicabut lantaran menilai pemerintah, baik 
Provinsi DKI Jakarta maupun pusat, memiliki standar ganda dalam penerapannya.


Ia menyoroti sikap kedua belah pihak yang terkesan “mendukung” terjadinya 
kerumunan, seperti kunjungan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke kediaman 
HRS saat seharusnya Ia menjalani masa karantina mandiri, maupun bantuan 20 ribu 
masker oleh Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 untuk acara pernikahan 
putri HRS.

Lembeknya sikap pemerintah dalam mengatasi kerumunan yang disebabkan oleh massa 
HRS pun menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa pemerintah yang biasanya tak 
ragu menggunakan cara-cara represif dalam membubarkan massa, kini malah 
terkesan tak berdaya ketika harus berhadapan dengan para simpatisan HRS?

Lack of Skin in The Game
Luapan kemarahan kepada pemerintah yang dinilai tak tegas terhadap kerumunan 
HRS bisa jadi disebabkan karena adanya kecemburuan di tengah-tengah masyarakat. 
Pernyataan dr.Tirta yang meminta penerapan PSBB dicabut pun merupakan bentuk 
kekecewaan karena pemerintah dianggap gagal dalam mengeksekusi kebijakan yang 
setara untuk semua orang.

Adanya perbedaan perlakuan tersebut dapat dikaji melalui konsep Skin in The 
Game yang dikemukakan oleh seorang epistemolog berdarah Lebanon-Amerika, Nassim 
Nicholas Taleb. Dalam tulisannya yang berjudul What do I mean by Skin in the 
Game? My Own Version, Taleb mendefinisikan skin in the game ke dalam beberapa 
pengertian.

Pertama, skin in the game mengacu pada pilar utama berfungsinya sistem secara 
organik, baik sistem di manusia maupun di alam. Kedua, skin in the game bisa 
merujuk pada hubungan simetris yang mengatur keseimbangan antara insentif dan 
disinsentif. Ketiga, frasa tersebut juga bisa diartikan sebagai mekanisme atau 
sistem kolektif yang mengatur hal positif akan mendapatkan isentif 
(keuntungan), dan hal negatif akan mendapatkan disinsentif (kerugian).

Nathan Lusting dalam tulisannya yang berjudul Lack of Skin in The Game Is The 
Root of Our Problems kemudian memaparkan suatu kondisi di mana skin in the game 
itu tidak terjadi. Gejala yang Ia istilahkan sebagai lack of skin in the game 
itu dipercaya sebagai penyebab dari banyak persoalan yang dihadapi manusia, 
mulai dari krisis keuangan, rusaknya pemerintahan, hingga perang, korupsi, 
polusi, dan kelaparan.

Lusting mengatakan ketika manusia berbagi risiko dan keuntungan atas setiap 
keputusan yang diambil terhadap orang lain, maka mereka cenderung akan membuat 
keputusan yang baik. Ia juga mengafirmasi pernyataan Taleb yang menyebut bahwa 
skin in the game adalah keharusan moral yang menjadi dasar dalam masyarakat 
yang berfungsi dengan baik.

Singkatnya, skin in the game merupakan prinsip kesetaraan permainan. Ini adalah 
prinsip yang menekankan bahwa tidak boleh ada satu pihak yang diberi tanggung 
jawab, namun pihak lainnya justru tidak demikian.


Sebuah Kompromi?
Di bagian sebelumnya, kita sudah memahami mengapa pembiaran kerumunan HRS 
menuai banyak polemik di masyarakat melalui kaca mata konsep lack of skin in 
the game. Namun begitu, pertanyaan yang kiranya masih perlu dijawab lebih 
lanjut adalah mengapa fenomena lack of skin in the game itu bisa terjadi.

Untuk menjawab hal ini kita sepertinya bisa melihat kembali konteks 
perselisihan antara pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) terhadap HRS dan 
elemen-elemen pendukungnya, yang selama ini dianggap sebagai salah satu simbol 
kebangkitan politik Islam di Indonesia.

Tomáš Petrů dalam tulisannya di Central European Institute of Asian Studies 
mengatakan salah satu ciri terlemah dari kepemimpinan Jokowi adalah pragmatisme 
politiknya. Meski Jokowi adalah seorang Muslim, yang dikenal sering bekerja 
dengan non-Muslim, Ia disebut jarang berupaya mengekang pertumbuhan 
fundamentalisme Islam di Indonesia.

Sebaliknya, untuk memperkuat posisi kekuasaannya, Jokowi disebut tak 
segan-segan berkompromi dengan golongan fundamentalis Islam. Petrů mencontohkan 
hal ini terjadi ketika mantan Wali Kota Solo tersebut memilih Ma'ruf Amin 
sebagai Wakil Presidennya di Pilpres 2019 lalu.

Lalu berangkat dari sini, apakah ini artinya sikap pemerintah yang terkesan tak 
berbuat banyak terhadap munculnya kerumunan-kerumunan HRS merupakan bentuk 
kompromi Jokowi terhadap golongan Islam fundamentalis seperti massa FPI dan 
Persaudaraan Alumni (PA) 212?



Jawaban Pemerintah?
Kendati dianggap cenderung memiliki sikap pragmatis, namun bukan berarti Jokowi 
tak melakukan upaya apapun untuk menekan pertumbuhan fundamentalisme Islam di 
Indonesia sebagaimana diungkapkan Petrů sebelumnya. Sebaliknya, Ia justru 
disebut tak segan-segan menggunakan kekuatan aparat untuk menekan lawan-lawan 
politiknya itu.

Hasbi Anwar dalam tulisannya yang berjudul Destructing the Islamist In 
Indonesia: Joko Widodo Policy and Its Controversy mengatakan bahwa kebangkitan 
kekuatan Islamis dalam politik Indonesia dipandang sebagai ancaman terhadap 
kekuasaan Jokowi. Atas dasar itu, rezim Jokowi kerap memberlakukan hukuman yang 
berat kepada golongan-golongan tersebut. Ia mencontohkan pembubaran ormas 
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melalui instrumen Perppu untuk memperkuat 
argumennya itu.

Berangkat dari sini, maka rasanya tak mungkin pembiaran terjadinya kerumunan 
HRS merupakan bentuk kompromi pemerintah. Sebaliknya, sikap ini justru bisa 
menjadi pertanda bahwa pemerintah tengah menimbang-nimbang untuk mengambil 
langkah yang lebih tegas.


Asumsi ini semakin mendapatkan afirmasinya jika kita mengacu pada pernyataan 
Panglima TNI, Hadi Tjahjanto belum lama ini. Dalam sebuah video yang diunggah 
akun YouTube Pusat Penerangan TNI, Hadi didampingi pimpinan-pimpinan pasukan 
elite TNI, mengingatkan pentingnya persatuan dan kesatuan demi menjaga 
stabilitas nasional dari provokasi dan ambisi yang dibungkus dengan berbagai 
identitas.

Selain itu, Ia juga menegaskan prajurit TNI merupakan alat utama pertahanan 
negara yang bertugas melindungi bangsa. Oleh sebab itu, Ia menuturkan tidak 
boleh ada musuh yang dibiarkan. Terlebih musuh tersebut dianggap berupaya 
melakukan ancaman terhadap bangsa Indonesia.

Meski tak menyebut siapa musuh negara yang Ia maksud, namun konteks pernyataan 
Hadi ini sulit dipisahkan dari fenomena kepulangan HRS. Sebab, kepulangan HRS 
sendiri turut membawa narasi-narasi Revolusi Akhlak, sekaligus dianggap sebagai 
simbol perlawanan kekuatan oposisi terhadap pemerintah.

Dalam konteks kerumunan massa, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan 
(Menko Polhukam) Mahfud MD pun memberikan pernyataan yang tidak kalah kerasnya.

Dalam konferensi pers yang juga dihadiri oleh Hadi dan sejumlah kepala aparat 
keamanan negara, Mahfud menegaskan bahwa pemerintah akan menindak tegas 
siapapun yang melanggar protokol kesehatan Covid-19.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu bahkan tak segan-segan menyebut para 
pelanggar protokol kesehatan itu sebagai pembunuh para kelompok rentan terhadap 
Covid-19. Dengan memperhatikan hal tersebut, maka menjadi masuk akal jika 
pernyataan Hadi dan Mahfud MD dimaknai sebagai jawaban pemerintah atas 
kerumunan massa sekaligus respons terhadap kembalinya HRS ke kancah 
perpolitikan nasional.

Kendati begitu, sekelumit ulasan di atas hanyalah analisis teoritis semata yang 
belum tentu benar adanya. Namun yang jelas, pengumpulan massa, apapun 
bentuknya, merupakan tindakan yang kontraproduktif terhadap penanganan pandemi. 
Ketegasan pemerintah, selama masih dalam koridor hukum, memang diperlukan untuk 
memastikan protokol kesehatan dapat dipatuhi semua pihak demi mengakhiri 
pagebluk ini. (F63)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/9F56D75F13724FFCBF38761AAE138FD5%40A10Live.

Reply via email to