-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2172-dengung-konservatif-di-media-sosial





 Rabu 18 November 2020, 05:00 WIB 

Dengung Konservatif di Media Sosial 

Administrator | Editorial 

  Dengung Konservatif di Media Sosial MI/SENO . MEDIA sosial (medsos) telah 
menjadi pengeras suara untuk pendapat individu. Cukup dengan satu unggahan, 
pendapat akan terdengungkan ke sebanyak-ba­nyak­nya orang. Konektivitas medsos 
juga membuat dengung suara itu tidak ada putusnya karena terus beredar selama 
ada yang menyebarkan. Akibatnya ialah kebi­singan. Seolah suara segelintir itu 
mewakili suara banyak orang. Sejarah medsos sudah menunjukkan betapa fenomena 
noisy minority itu terjadi di berbagai hal. Itu bisa menciptakan dampak 
kemajuan ataupun seba­lik­nya. Noisy minority bisa semengagumkan gerakan 
lingkungan Greta Thunberg, tetapi juga bisa menciptakan keresahan sosial. Di 
dalam negeri, fenomena noisy minority juga terja­di dalam soal narasi 
keaga­ma­an. Penelitian bertajuk ‘Beragama di Dunia Maya: Media Sosial dan 
Pandangan Keagamaan di Indonesia’ yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam 
dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (PPIM UIN) menunjukkan jika narasi 
keagamaan di medsos didominasi narasi konservatif. Analisis dari data, yang 
mereka kumpulkan selama 2009-2019, menunjukkan bahwa dengung konservatisme 
mencapai 67,2%, menyusul narasi moderat (22,2%), liberal (6,1%), dan islamis 
(4,5%). Salah satu yang terlihat dari narasi keagamaan yang konservatif ialah 
pengabaian kese­taraan gender. Peran perempuan hanya terbatas sebagai anak, 
ibu, dan istri. Berlangsungnya fenomena noisy minority itu tentunya bukan 
menciptakan jurang di antara komunitas seagama. Ke depan, seperti yang 
dikhawatirkan peneliti, bangsa ini bisa mengalami transmisi konservatif 
antargenerasi. Tentunya ironis, jika kita justru mundur dari bangsa yang 
menghargai keberagaman menjadi bangsa yang intoleran. Padahal, penelitian juga 
menyebutkan, jika pengguna medsos yang berpaham moderat di Tanah Air 
sesungguhnya lebih besar. Namun, mereka cenderung diam atau merupakan silent 
majority. Berkaca pada berbagai fenomena di dunia, kelompok mayoritas tidak 
bisa lagi hanya diam. Sudah saatnya kelompok mayoritas menyadari jika 
keberadaannya tidak akan berguna tanpa bersuara. Meski begitu, harus disadari 
pula jika suara mayoritas tidak bisa diharapkan muncul begitu saja. Ini bukan 
sekadar pengaruh budaya, tetapi telah ada dalam riset dunia. Telah menjadi 
sifat alamiah manusia untuk takut atau malu berpendapat jika tidak yakin akan 
kesamaan dengan pen­da­pat publik. Para peneliti dunia menyebut sifat ini 
sebagai fear of isolation atau kekhawatiran dikucilkan. Dominasi kelas ataupun 
ras tetap tidak akan membuat orang begitu saja berani berkoar-koar di depan 
publik, sekalipun di platform maya. Pilpres yang baru berlangsung di AS menjadi 
bukti kesekian, yakni silent majority pendukung Trump di medsos pada akhirnya 
tidak membuahkan perio­de kedua pemerintahannya. Teori juga menyebutkan faktor 
fear of isolation bisa berlipat jika memperhitungkan banyaknya hubungan 
persauda­raan ataupun kekerabatan di dalam jaringan pertemanan di medsos 
tersebut. Dalam model pertemanan seperti itu, pengguna medsos akan lebih 
memen­tingkan kehar­monisan dan menghindari pendapat yang sensitif. Di kondisi 
inilah pentingnya tokoh agama dan masyarakat mengambil peran sebagai penggerak 
ataupun representatif suara mayoritas. Apalagi, noisy minority soal narasi 
keagamaan yang konservatif nyatanya digerakkan oleh akun-akun tertentu. Maka 
sangatlah naif jika kita tidak memperhitungkan adanya agenda setting yang 
diemban kelompok konservatif ini. Karena itu, penyeimbangan narasi keagamaan di 
medsos haruslah dipahami bukan hal yang sepele. Narasi keagamaan yang modern di 
medsos semestinya disadari menjadi tanggung jawab bersama.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2172-dengung-konservatif-di-media-sosial







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201118170838.b536c742a0ec50d93d997aef%40upcmail.nl.

Reply via email to