-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://www.antaranews.com/berita/1849496/indonesia-china-dari-kemitraan-regional-menuju-ekonomi-digital





Artikel

Indonesia-China, dari kemitraan regional menuju ekonomi digital

Oleh M. Irfan Ilmie     Kamis, 19 November 2020 22:18 WIB

Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun (kiri) saat menemui delegasi 
bisnis China di bawah koordinasi Travis Liu dari MagicWe Technologies yang 
menyampaikan keinginannya berinvestasi di Indonesia. (ANTARA/M. Irfan Ilmie)
Wuhan (ANTARA) - Kalau saja tidak ada pandemi COVID-19, sepuluh pemuda berbakat 
dari Indonesia sudah bisa menerapkan ilmu pengetahuannya di bidang ekonomi 
digital di Tanah Air dengan gamblang dan praktis.

Pandemi telah membuyarkan rencana sepuluh pemuda yang masing-masing telah 
merintis perusahaan (start up) di Indonesia untuk belajar secara langsung di 
sejumlah perusahaan digital di China.

Kegiatan yang rencananya digelar pada awal 2020 itu merupakan bagian dari 
rangkaian peringatan 70 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-China.

Namun, hal itu bukan berarti kegiatan yang tentu sangat diharapkan oleh para 
pemuda itu untuk membuat program-program ekonomi digital di Indonesia menjadi 
terhenti.

Apalagi, pada 12 Juni lalu, Pehimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan 
China mencanangkan Tahun Kerja Sama Ekonomi Digital 2020. Dengan demikian, 
kerja sama di bidang ekonomi digital yang saling menguntungkan kedua belah 
pihak harus ditingkatkan lagi.

Selain itu, China saat ini sudah menjadi pemimpin di bidang jaringan teknologi 
telekomunikasi generasi kelima (5G) sehingga sangat mendukung perkembangan 
ekonomi digital.

Apalah arti sebuah ekonomi digital tanpa dukungan teknologi informasi dan 
komunikasi (TIK) yang memadai dan sesuai kebutuhan zaman.

Walaupun demikian, keunggulan China dalam mengembangkan teknologi berbasis 5G 
akan sia-sia belaka tanpa dukungan global.

Ingat, gara-gara 5G itu pulalah China berseteru dengan Kanada dan Amerika 
Serikat. Perseteruan China terkait jaringan 5G itu juga makin meluas hingga ke 
Eropa.

Perselisihan China dengan Kanada, AS, dan beberapa negara anggota Uni Eropa 
menjadikan hubungan dagang antarnegara terpuruk, bahkan terburuk, dalam 
beberapa tahun terakhir.

Untuk itu, satu-satunya cara bagi China adalah memperbaiki --kalau memang tidak 
bisa meningkatkan-- hubungan dengan ASEAN.

Terminologi "memperbaiki" lebih penting daripada "meningkatkan", apalagi kalau 
hanya sekadar basa-basi di meja diplomasi.

Kenapa memperbaiki hubungan lebih penting? Jawabnya, karena China masih punya 
masalah dengan beberapa negara anggota ASEAN terkait klaim tumpang tindih di 
wilayah perairan Laut China Selatan.

Tentu China sangat paham tentang pentingnya memperbaiki hubungan dengan ASEAN. 
Apalagi, China juga harus berupaya mengimbangi pengaruh Amerika Serikat 
nantinya di kawasan ASEAN saat AS berada di bawah pemerintahan Presiden 
terpilih Joe Biden.

Mitra Terpenting
Perseteruan China dengan AS dan Uni Eropa yang tidak ada tanda-tanda segera 
berakhir setidaknya telah memberikan dampak positif bagi ASEAN.

Perlahan tapi pasti, pada semester pertama 2019, ASEAN telah menggeser AS dari 
peringkat kedua mitra dagang terbesar China dengan nilai 2 triliun yuan atau 
13,5 persen dari total nilai perdagangan internasional China.

Lalu pada awal 2020, giliran Uni Eropa yang posisinya di peringkat pertama 
digeser oleh ASEAN karena pada Januari-Mei saja nilai perdagangan ASEAN-China 
sudah mencapai 1,7 triliun yuan.

Ada potensi lain yang dimiliki ASEAN dan tentu saja tidak akan disia-siakan 
oleh China, terutama dalam mengembangkan sayap teknologi 5G di kawasan itu.

"Ekonomi digital ASEAN akan meningkat dari 1,3 persen total PDB (produk 
domestik bruto) pada 2015 menjadi 8,5 persen PDB 2025," kata Sekretaris 
Jenderal ASEAN Lim Jock Hoi belum lama ini.

Ia melihat China berada di garis depan pengembangan infrastruktur digital 
sehingga menjadi mitra penting ASEAN dalam meningkatkan pembangunan ekonomi 
digital di kawasan.

Baca juga: ASEAN, China tingkatkan kerja sama ekonomi digital

Baca juga: Dubes: Konferensi Ekonomi Digital ASEAN-China harus beri nilai tambah

Lalu bagaimana dengan Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin ekonomi 
digital di ASEAN?

Klaim tersebut memang tidaklah berlebihan, mengingat di Indonesia ada empat 
perusahaan berskala "Unicorn", yakni Gojek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka.

Akan tetapi, empat perusahaan yang masing-masing memiliki valuasi di atas 1 
miliar dolar AS itu domisilinya di Jakarta.

Padahal secara geografis, wilayah Indonesia sangat luas dan butuh pemerataan 
ekonomi agar tidak terpusat di Jakarta saja.

Bila dibandingkan dengan China, negara itu telah berhasil menjadikan Hangzhou 
sebagai pusat ekonomi digital. Tingkat pembangunan di Ibu Kota Provinsi 
Zhejiang itu kini boleh dibilang setara dengan Shanghai sebagai pusat keuangan, 
Guangzhou (pusat perdagangan), Shenzhen (pusat TIK), dan Beijing (pusat 
pemerintahan).

Sepatutnya, Indonesia perlu menjadikan Hangzhou sebagai model pembangunan pusat 
ekonomi digital di kota-kota lain di luar Jakarta dan sekitarnya.

Apalagi, Presiden Joko Widodo sendiri sudah pernah melihat langsung 
perkembangan Kota Hangzhou saat menghadiri KTT G20 pada 2016, dan saat itu 
Jokowi juga berkesempatan merasakan sensasi teknologi kereta cepat dalam 
perjalanan menuju Shanghai.

Hangzhou bukan satu-satunya pusat ekonomi digital di China. Masih ada lagi 
kota-kota lain, termasuk Fuzhou, Xiamen, bahkan Beijing dengan zona khususnya 
di Distrik Haidian.

Dengan makin banyaknya kawasan-kawasan ekonomi digital, maka manfaatnya sudah 
bisa dirasakan oleh masyarakat China. Para pelaku usaha di bidang ekonomi 
digital juga semakin bertambah.

Sayangnya, sampai saat ini Indonesia belum memiliki program pembangunan kawasan 
ekonomi digital untuk masa mendatang. Padahal, talenta-talenta sudah tersebar 
di mana-mana. Hal itu tercermin dengan semakin banyaknya start-up di berbagai 
daerah, belum lagi banyaknya vlogger, Youtuber, dan lainnya yang juga mengais 
rezeki dari gawai digital mereka.

Belum lama ini China meluncurkan program Digital Maritime Silk Road. Program 
itu menjadi kunci perubahan ekonomi digital di kawasan.

Dalam program tersebut, Indonesia menawarkan konektivitas internet di kawasan 
perdesaan, peningkatan kapasitas jaringan internet, membangun sistem navigasi 
berbasis internet, mendorong kolaborasi pelaku e-dagang dan usaha tradisional, 
berbagai pengetahuan di bidang teknologi kecerdasan tiruan (AI), data besar 
(big data), dan riset tingkah laku konsumen ekonomi digital.

Namun, usulan tersebut juga harus didukung sektor pendidikan sehingga nantinya 
makin banyak pelajar Indonesia yang menimba pengalaman di China.

China sendiri menganggap Indonesia sebagai mitra terpentingnya di kawasan ASEAN 
sehingga kedua negara bersepakat menjalin hubungan kerja sama strategis dan 
komperehensif sejak 2013.

"Melalui kerja sama dengan China, Indonesia akan mampu memaksimalkan 
pertumbuhan ekonomi digital hingga 100 miliar dolar AS pada tahun 2025," kata 
Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun dengan optimistis.

Gayung pun bersambut. Travis Liu selaku CEO MagicWe Technologies yang bergerak 
di bidang pemasaran digital dan e-dagang kreatif melihat peluang besar di pasar 
Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Indonesia sebagai satu-satunya negara di kawasan ini yang tergabung dalam G20 
memiliki pertumbuhan PDB yang stabil bahkan cenderung meningkat selama beberapa 
tahun ini terakhir.

Hal itu yang membuat dia dan para pengusaha dari China sangat tertarik 
berinvestasi di Indonesia.

Taiho, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi mekanik dan AI menawarkan 
kerja sama di bidang pembersihan dan penyortiran barang tambang.

Lalu ada juga The Passage yang ingin menjalin kerja sama di bidang penelitian 
teknologi di Indonesia, dan ada Lena yang ingin berinvestasi di Indonesia di 
bidang peralatan kecantikan.

Mihoteco yang bergerak di bidang lampu dan pengolahan limbah tertarik untuk 
membuka usaha di Indonesia dan berinvestasi di bidang pengolahan limbah plastik 
campuran menjadi plastik woven.

Para pengusaha tersebut awalnya merencanakan kunjungan ke Indonesia pada awal 
tahun 2020. Namun ditunda hingga situasi pandemi global agak mereda.

Jauh sebelum perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan minatnya, raksasa 
e-dagang Alibaba Group sudah berperan cukup signifikan dalam membina para 
pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia sehingga kelak mereka 
bisa menerapkan pola pemasaran dan penjualan secara digital.

Kalau Alibaba bisa menjadikan Hangzhou sebagai pusat ekonomi digital di China, 
mungkin saja nanti ada perusahaan asal Indonesia yang menyulap kota-kota lain 
di luar Jakarta menjadi pusat ekonomi digital.

Baca juga: Indonesia yakin mampu maksimalkan pertumbuhan digital Rp1,4 
kuadriliun

Baca juga: Wapres harap peningkatan ekonomi digital Indonesia-China

Oleh M. Irfan Ilmie
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201119165553.18fd08e4f927951666a500f6%40upcmail.nl.

Reply via email to