--
j.gedearka <[email protected]>
https://www.antaranews.com/berita/1849480/tgb-politisasi-agama-untuk-menangi-kontestasi-politik-berbahaya
TGB: Politisasi agama untuk menangi kontestasi politik berbahaya
Kamis, 19 November 2020 22:12 WIB
Ketua Umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) TGB (Tuan
Guru Bajang) Muhammad Zainul Majdi. (HO)
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang
Indonesia TGB Muhammad Zainul Majdi mengingatkan bahwa politisasi agama semata
untuk mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestasi politik akan berdampak
buruk dan berbahaya.
"Menurut saya, politisasi agama bentuk paling buruk dalam hubungan agama dan
politik. Sekelompok kekuatan politik menggunakan sentimen keagamaan untuk
menarik simpati kemudian memenangkan kelompoknya. Menggunakan sentimen agama
dengan membuat ketakutan pada khalayak ramai. Menggunakan simbol agama untuk
mendapatkan simpati," katanya, saat webinar Moya Institute bertema "Gaduh
Politisasi Agama", Kamis.
TGB memaknai politisasi agama merupakan pemanfaatan agama semata untuk
mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestasi politik, atau agama jadi
instrumen untuk mendapatkan hasil politik.
Namun, kata Ketua Umum Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW)
itu, politisasi agama juga bisa baik kalau nilai-nilai mulia agama menjadi
prinsip dalam berpolitik, sebagaimana yang dilakukan para pendiri bangsa ini.
"Maka politik menjadi hidup dan bagus karena ada nilai agama," kata mantan
Gubernur Musa Tenggara Barat itu.
Melihat kejadian akhir-akhir ini, TGB menilai ada kelompok tertentu
mempolitisasi agama dengan tujuan politik, murni untuk mencapai kekuasaan.
"Kita perlu literasi, perlu penegasan bahwa politik bagian dari muamalah,
politik bukan akidah," tegas TGB.
Intelektual Muhammadiyah yang juga Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam
Addaruqutni mencontohkan apa yang dilakukan Rizieq Shihab merupakan bagian dari
politisasi agama.
"Kalau Rizieq mungkin mengatakan bukan (politisasi agama). Tapi kalau kita
mengatakan iya," kata Imam.
Masih dalam forum yang sama, intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) Muhammad
Cholil Nafis mengatakan apa yang terjadi akhir-akhir ini bukan karena kegagalan
NU dan Muhammadiyah dalam membimbing umat, tetapi lebih pada kegagalan orang
yang ingin membawa isu liberal.
"Liberal ini melahirkan radikalisme. Yang kita hadapi ini buah dari proses
liberalisasi. Jadi, jangan sampai kita menepi menjadi radikalisme. Bagaimana
memasyarakatkan moderasi Islam agar orang tidak menepi ke kanan dan ke kiri,"
ujar Cholil.
Sedangkan Direktur Moya Institute Hery Sucipto menegaskan bahwa negara harus
hadir dan tegas melindungi segenap warganya termasuk menindak tegas kelompok
yang memanfaatkan agama untuk kepentingan provokasi.
"Negara tidak boleh kalah," tegasnya.
Ia mengatakan munculnya konservatisme dan militansi juga akibat adanya
pembiaran terhadap kelompok intoleran yang dibungkus dakwah provokatif, padahal
dakwah itu harus santun, tidak boleh mencaci, dan melukai pihak lain.
Selain itu, kata dia, kerumunan massa yang dibungkus kegiatan keagamaan
beberapa hari lalu tidak boleh terulang lagi karena berbahaya bagi penanganan
COVID-19.
Baca juga: PBNU: Reuni 212 jangan politisasi agama
Baca juga: Pengamat ingatkan jangan politisasi agama dalam Pemilu 2019
Baca juga: Pengamat: Pilpres harus bebas isu politisasi agama
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2020
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201119164601.d89db5cc66cc850b05c1a854%40upcmail.nl.