-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/opini/363344/konvensi-sepenuh-hati





Selasa 24 November 2020, 02:15 WIB 

Konvensi Sepenuh Hati 


Ahmad Baedowi Direktur Eksekutif Yayasan Sukma, Jakarta | Opini 

  Konvensi Sepenuh Hati Dok. MI GAGASAN tentang konvensi Partai NasDem, 
pertama kali mencuat dalam Kongres Kedua di tahun 2019. Kemudian, pada hari 
jadi ke 89 Partai NasDem, 11 November 2020, Ketua Umum Partai NasDem Surya 
Paloh mengulangi lagi keinginan partainya untuk melakukan proses konvensi pada 
tahun 2022 nanti, untuk dan dalam rangka menjaring fi gur dan calon pemimpin 
bangsa ke depan yang memiliki kapasitas, namun berada di luar partai. Penegasan 
Surya Paloh, bahkan lebih spesifik lagi, ketika memerincikualifikasi konvensi 
yang bisa dikatakan sebagai tujuan konvensi, yaitu, mengedepankan prinsip 
transparansi dan bottom up. Apa arti kedua prinsip ini bagi Partai NasDem? 
MI/Seno Ilustrasi MI Double-loop approach Dalam tradisi politik di Indonesia, 
konvensi memang bukan barang baru. Golkar dan Partai Demokrat pernah 
melakukannya. Golkar membuat konvensi dalam rangka mencari calon Presiden dan 
calon ketua umum yang, pada waktu itu, sangat berlebih sumber daya. Adapun, 
Demokrat melakukan konvensi dengan tujuan mencari calon presiden, namun dengan 
proses yang sedikit tertutup. Karena itu, wajar proses konvensi di Demokrat 
dilakukan tidak lebih dari sekadar menaikkan citra partai, namun urung 
mengumumkan kandidat mana yang dipilih dari proses konvensi tersebut. Bagi 
NasDem, timing dalam menentukan proses konvensi, diletakkan dari pembacaan 
situasi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Krisis kebangsaan dan 
krisis nasionalisme yang dirasakan berlakangan ini, tak dapat dilepaskan dari 
perubahan historis yang terjadi pada 1998. Demokratisasi dan desentralisasi 
menghadirkan realitas baru yang menuntut perumusan ulang kebangsaan Indonesia. 
Nyatanya, krisis kebangsaan terus bergerak sejalan dengan makin terbukanya 
ruang-ruang berpendapat, yang semakin bersifat kelompok dan individual. 
Indonesia ada, tetapi identitasnya diperebutkan oleh kelompok-kelompok berbeda, 
yang mengklaim sebagai yang paling benar “menjadi Indonesia”. Indonesia 
kemudian, menjadi Indonesia yang parsial, Indonesia yang terfragmentasi, karena 
siapa orang Indonesia hanyalah menjadi bagian dari klaim-klaim kelompokkelompok 
yang berbeda, tanpa melihatnya sebagai sebuah entitas seperti yang dulu 
diperjuangkan. Transformasi dan rekonfigurasi hubungan negara dan masyarakat 
membuat negara bukan lagi satusatunya agen strategis yang harus diperkuat 
(Jaffrey 2015; Panggabean et al 2014; Sassen 1996); Ada tuntutan untuk mencari 
jalan tengah antara dua kutub. Yaitu, antara kelompok yang berpikir pentingnya 
pendekatan hak/kekuatan, dan pendekatan kepentingan, peningkatan kapasitas 
negara, dan peningkatan kapasitas masyarakat, peningkatan kapasitas untuk 
menuntut hak, atau kapasitas untuk bekerjasama, dan lain sebagainya. Dari 
konteks ini, NasDem melihat perlunya proses konvensi yang terbuka dan diterima 
oleh semua lapisan masyarakat, untuk menguji pertentangan dua kutub kelompok 
masyarakat di atas. Dengan menggunakan analisis dan pendekatan pembelajaran dua 
putaran (doubleloop learning), konvensi versi NasDem harus dilakukan dalam 
rangka mendorong kedua kutub kelompok masyarakat, untuk saling bisa memberikan 
argumentasi yang elegan, dan, bisa diterima secara luas oleh semua kelompok. 
Pendek kata, konvensi yang akan diselenggarakan NasDem, harus mendorong 
perubahan dalam tata nilai yang ada, di tengah masyarakat, dengan mencoba 
memperbaiki asumsi, dan strategi yang ada di benak kedua kutub. Artinya, 
transformasi dan rekonfigurasi hubungan negara dan masyarakat, akan, 
dijembatani oleh proses konvensi yang terbuka. Terutama, untuk melihat asumsi, 
dan strategi yang berubah secara bersamaan, dengan, atau sebagai suatu 
konsekuensi perubahan di dalam nilai-nilai yang dianut. Pendekatan double-loop 
learning, memiliki aspek destruktif yang selalu mempertanyakan norma- norma, 
nilai-nilai dan asumsi-asumsi yang berlaku. Konvensi sebagai sebuah tool secara 
bersamaan, juga dapat menggali dan mempertanyakan kinerja Partai NasDem, yang 
akan berusaha menguji, dan mengoreksi asumsiasumsi dasar, yang menyokong 
visi-misi dan kebijakan Partai saat ini, dan ke depan. Konvensi dengan 
pendekatan double-loop learning, juga, sesungguhnya menyiratkan suatu keinginan 
untuk menengok kembali misi, sasaran, dan strategi Partai secara reguler. 
Sebagaimana Plato, dan Aristoteles yang selalu saling menggugat kebenaran 
ilmiah, berdasarkan aspek akademis dan persepsi yang berlaku secara natural. 
Pemahaman Plato selalu bersifat matematis. Sedangkan, pengertian Aristoteles 
bersifat ilmiah, didasarkan pada persepsi, observasi, dan penyelidikan. Meski 
demikian, kedua pemikir penting ini, mengajarkan bagaimana mengetahui dunia 
yang saat ini masih penting untuk kita telaah bersama. Lima aspek Konvensi 
menjadi penting bagi organisasi partai politik pembelajar seperti NasDem. 
Karena, NasDem merasakan bahwa perubahan konteks sosial politik selalu 
memunculkan kembali pertanyaan tentang keindonesiaan. Belakangan ini, bersamaan 
dengan meningkatnya tekanan dan persaingan sosial-politik, seperti yang muncul 
dalam pengalaman pertama Indonesia melaksanakan pilkada langsung (2015, 2017), 
dan masih lebarnya jurang antara kelompok-kelompok sosial ekonomi, ancaman bagi 
integrasi sosial terasa makin kuat, dan, kembali pertanyaan, tentang bagaimana 
Indonesia, sebagai sebuah bangsa dapat bertahan menjadi urgen kembali. Untuk 
itu, diperlukan beberapa kualifikasi yang harus disiapkan NasDem dalam 
menyelenggarakan hajat besar konvensi. Pertama, dari segi komposisi kepesertaan 
yang akan mengikuti konvensi, harus dipastikan bahwa NasDem memiliki cara untuk 
mengukur calon peserta dalam format keragaman secara kreatif (creative 
heterogenity). Prinsip pertama harus bisa mencerminkan pandangan 
non-diskriminatif NasDem, dalam balutan tatacara dan prosedur pendaftaran calon 
peserta. Kedua, NasDem harus bisa membuktikan, bahwa, setiap calon peserta bisa 
diuji kapasitas leadership-nya sedari awal. Indikator leadership yang bisa 
diuji secara permanen, adalah, aspek loyalitas, militansi dan penguasaan diri 
(personal mastery), baik tertulis maupun melalui proses FGD yang terukur. 
Proses ini, harus dirumuskan melalui serangkaian uji coba instrumen yang 
melibatkan banyak keahlian. Aspek ketiga, yang tak kalah pentingnya, adalah, 
bagaimana menelusuri rekam jejak calon peserta dalam konteks jejaring sosial 
yang dimilikinya. Memiliki jejaring ke masyarakat sipil, secara reguler dapat 
ditelusuri melalui rekam jejak digital calon peserta. Selain itu, potret 
concerns calon peserta juga bisa diklasififikasi berdasar minat, dan 
keberbakatan calon peserta secara sosial, tradisi dan budaya. Keempat, penting 
juga NasDem untuk mengukur aspek kepribadian calon secara klinis, dengan 
menggunakan psikoanalisis yang teruji, dan bisa dipertanggungjawabkan. 
Pendekatan psikologis dan medis diperlukan sejak awal, agar prinsipprinsip 
lainnya bisa diuji. Aspek kelima yang tak kalah pentingnya adalah, prinsip 
transparansi yang diucapkan dengan kuat oleh Surya Paloh. Prinsip transparansi 
bukan hanya berlaku bagi calon peserta yang tidak memiliki jiwa koruptif. 
Tetapi, bagi Partai NasDem, proses transparansi juga dimaksudkan untuk menguji 
tingkat keterbukaan informasi proses konvensi kepada publik. Dengan menggunakan 
skema terbuka dan tertutup, seluruh rangkaian dan proses konvensi harus 
diketahui secara publik. Terbayang oleh publik, calon peserta konvensi bisa 
diperoleh secara internal dan eksternal. Secara internal, bisa jadi tradisi 
yang dilakukan oleh Partai Republik dan Demokrat di Amerika bisa dijadikan 
acuan. Dimana, masing-masing pengurus DPW provinsi dapat melakukan proses 
konvensi awal, untuk menjaring calon yang sesuai dengan kriteria. Sedangkan, 
secara eksternal, para calon dari kalangan profesional, akademisi, dan tokoh 
masyarakat, bisa mendaftarkan diri secara langsung, melalui mekanisme yang akan 
ditentukan oleh Panitia Konvensi. Terakhir, penting bagi NasDem, untuk menyusun 
criteria of success proses konvensi, dengan penandatanganan pakta integritas 
calon peserta konvensi, terkait rencana pembangunan Indonesia semesta. Seluruh 
proses ini, baik secara tertutup maupun terbuka, harus dikemas dalam sebuah 
tujuan yang diterakan oleh Ketua Umum Partai NasDe
m, Surya Paloh, yaitu transparan dan bottom up. Wallahu a’lam bi al-sawab. 
Tulisan ini merupakan pendapat pribadi

Sumber: https://mediaindonesia.com/opini/363344/konvensi-sepenuh-hati








-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201124171523.854baf64dd0a31899a178c3e%40upcmail.nl.

Reply via email to