Saat Megawati Bicara Sejarah 1965 dan Sentil Nadiem
detikTV, dtv - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 06:21 WIB
https://news.detik.com/detiktv/d-5268672/saat-megawati-bicara-sejarah-1965-dan-sentil-nadiem?tag_from=wp_nhl_7

Jakarta -  Presiden Ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menilai 
materi pendidikan saat ini menghilangkan sejumlah catatan sejarah penting. 
Megawati menyindir politik desurkarnoisasi sejak masa pemerintahan Presiden 
Soeharto.

"Saya bicara pada Pak Nadiem karena beliau menteri pendidikan dan kebudayaan. 
Ya harus bagaimana ya? Apakah hal ini tidak boleh diajarkan?" ucap Megawati 
saat menjadi pembicara dalam diskusi virtual di akun Youtube Museum 
Kepresidenan Balai Kirti, Selasa (24/11/2020).

"Ada ratu ini, ada raja ini, tapi tahun '65 begitu menurut saya seperti sejarah 
itu dipotong, disambung, dan ini dihapus," sambungnya.

Dalam penjelasan lanjutannya, putri sulung Soekarno ini mengenang sosok ayahnya 
sebagai pendiri bangsa dan proklamator kemerdekaan RI. Ia menyayangkan banyak 
pihak yang justru menghapus kontribusi Soekarno bagi Indonesia dan juga 
reputasinya memperjuangkan kemerdekaan negara-negara Asia-Afrika.


"Orang-orang dibuat takut untuk membicarakan Sukarno, buku-buku karya Bung 
Karno dilarang untuk beredar," kata Megawati.

Ketua Umum PDI Perjuangan itu kemudian meminta Menteri Pendidikan dan 
Kebudayaan, Nadiem Makarim untuk mengkaji kembali materi pelajaran sejarah yang 
diajarkan di sekolah-sekolah. Mega mengkhawatirkan Indonesia menghasilkan 
banyak versi sejarah dari masing-masing yang berkepentingan.

"Saya hanya permintaan saya itu bahwa tidakkah bisa diluruskan kembali (sejarah 
tentang) seorang yang bisa memerdekakan bangsa ini?" kata Mega.

"Coba ayo Pak Nadiem, saya nyebut Anda karena tanggung jawab situ berat loh 
buat mendidik putra-putri bangsa Indonesia ini," tambahnya.

Megawati juga mengusulkan Nadiem memasukkan buku-buku Sukarno ke dalam 
kurikulum pendidikan Indonesia.

"Alangkah sayangnya maksud saya, dari pikiran-pikiran yang telah diserap oleh 
seorang Bung Karno, yang seharusnya kalau menurut saya Pak Nadiem, itu harus 
jadi salah satu kurikulum," pungkas Megawati.

(trw/trw)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/81451218003B4A21B14064CE6B6FECA0%40A10Live.

Reply via email to