Ma’ruf Bertemu HRS, Gentarkan Siapa?J61 - Tuesday, November 24, 2020 18:30
https://www.pinterpolitik.com/maruf-bertemu-hrs-gentarkan-siapa
 
KH Ma'ruf Amin dan Habib Rizieq Shihab jelang aksi 212 pada 2016 silam. (Foto: 
gelora.co)
7 min read

Wacana pertemuan antara Wapres Ma’ruf Amin dengan Habib Rizieq Shihab mendapat 
sambutan positif. Akan tetapi, Jubir Wapres menegaskan belum ada agenda 
pertemuan tersebut. Lantas, apakah rencana pertemuan kedua tokoh akan urung 
terlaksana karena hambatan yang bersifat politis?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Sejak mengemuka pada akhir pekan lalu, wacana pertemuan antara Wakil Presiden 
(Wapres) Ma'ruf Amin dan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq 
Shihab (HRS) menjadi sesuatu yang diharapkan.

Rencana itu sendiri terlontar dari Juru Bicara (Jubir) Wapres, Masduki 
Baidlowi. Dirinya menyebut bahwa Ma’ruf terbuka atas gagasan pertemuan dengan 
Habib Rizieq. Ini setelah berbagai pihak, termasuk para pengamat politik 
melempar gagasan agar terjadi pertemuan antara kedua tokoh secara empat mata 
untuk membahas persoalan bangsa.

Gagasan tersebut dinilai cukup positif sebagai respons atas dinamika dan 
kegaduhan yang berkembang belakangan ini dan melibatkan HRS. Ekspektasi untuk 
meredam hiruk pikuk narasi yang saling silang pun seketika menyeruak.

Kemarin, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, 
misalnya, menilai bahwa jika dapat berlangsung, pertemuan itu adalah langkah 
yang baik. Mu’ti juga mendorong agar persoalan yang saat ini mengemuka 
sebaiknya diselesaikan secara dialog dan musyawarah.

Sementara ihwal senada diutarakan Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, yang 
mengatakan bahwa pertemuan RI-2 dan HRS sangat penting untuk menguatkan NKRI, 
plus agar bersama-sama dapat fokus menangani pandemi Covid-19.

Politisi PKS itu berharap pertemuan dua tokoh besar tersebut bisa melahirkan 
kebaikan. Peran Ma'ruf Amin sebagai Wapres sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama 
Indonesia (MUI) disebutnya bisa dijadikan sebagai penengah terkait polemik 
antara FPI dengan TNI saat ini.

Akan tetapi, pertemuan itu agaknya sulit terlaksana dalam waktu dekat ketika 
Jubir Wapres menegaskan jika Wapres belum memiliki rencana, agenda, maupun 
inisiatif untuk bertemu Imam Besar FPI.


Lantas, di balik narasi yang mengiringi wacana pertemuan itu sendiri, mengapa 
Ma’ruf Amin dianggap menjadi sosok yang pada konteks polemik HRS menjadi 
penting? Selain itu, apakah penegasan dari Jubir Wapres mengindikasikan adanya 
latar belakang politis dari kemungkinan terhalangnya pertemuan kedua tokoh?



Ma’ruf Paling Mengerti HRS?
Walaupun berada di kubu pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang 
seringkali dikritisi Habib Rizieq, Ma’ruf Amin tampaknya menjadi satu-satunya 
sosok yang bisa berada dalam satu frekuensi dengan sang Imam Besar FPI.

Selain karakteristik inheren sebagai seorang ulama besar yang disegani, Ma’ruf 
Amin dinilai juga memiliki garis perjuangan yang serupa namun tak sama dengan 
HRS dalam sejumlah isu. Mengingat keduanya juga cukup lantang dan prominen 
dalam diskursus mengenai berbagai konteks politik nasional.

Menurut Greg Fealy, seorang Indonesianis dari Australian National University, 
Ma’ruf Amin adalah ulama paling kuat dan berpengaruh seantero negeri. Dalam 
Ma’ruf Amin: Jokowi’s Islamic defender or deadweight?, Ia menyebut bahwa Ma’ruf 
merupakan political ulama atau ulama politik, yang juga malang melintang pada 
sejumlah posisi penting di Nahdlatul Ulama (NU) maupun MUI.

Secara organisasi, kedua entitas tersebut tak jarang memiliki pandangan yang 
berbeda pada sejumlah kasus maupun isu.

Selain itu, Ma’ruf, di satu sisi memiliki paradigma Islam moderat yang identik 
dengan NU. Namun pada sisi berbeda, beliau juga dinilai merupakan sosok 
konservatif, yang sempat ditunjukkannya pada kasus mantan Gubernur DKI Jakarta 
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada tahun 2016 silam.


Disitulah letak kekuatan dan pengaruh dari seorang Ma’ruf Amin. Sosok political 
ulama yang dapat masuk ke dua segmen berbeda, yakni konservatif serta moderat, 
dengan tetap mendapat respect yang tinggi.

Dari kekuatan itu, tampaknya dapat sedikit tersingkap benang merah dari urgensi 
pertemuan Ma’ruf dan Habib Rizieq yang menjadi begitu diharapkan. Seperti yang 
telah disebutkan sebelumnya, kasus “terpeleset lidah” Ahok dianggap menjadi 
momentum sinergi yang lebih erat bagi kedua tokoh.

Ma’ruf mewakili MUI, sementara Habib Rizieq mewakili FPI, sama-sama tak tinggal 
diam dan merapatkan barisan ketika mungkin menganggap terdapat common enemy 
yang disebut menodai nilai Islam.


Baca Juga :Mahfud MD Pasti Didepak Jokowi?

Dalam keterangannya di pengadilan Ahok, Ma’ruf menguak hubungannya dan peran 
Habib Rizieq sebagai salah satu ahli MUI untuk membahas dan meneliti ucapan 
Ahok yang menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51.

Dari situ kemudian lahirlah sikap dan pendapat keagamaan MUI yang menyimpulkan 
bahwa ucapan Ahok mengandung penghinaan terhadap agama dan ulama, sekaligus 
secara tidak langsung mengimpresikan soliditas kedua tokoh.

Akan tetapi di luar kasus Ahok sendiri, Ma’ruf Amin dalam sebuah wawancara 
sebelum Pilpres 2019 menjelaskan bagaimana dirinya begitu mengenal Habib 
Rizieq. Eks anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu juga menyebut 
tidak pernah secara pribadi berbenturan dengan HRS.

Bahkan HRS dikatakan sempat mendukung dirinya dalam sikap membela Palestina 
yang diungkapkan secara langsung oleh Imam Besar FPI itu dari Arab Saudi. Meski 
memiliki tarekat atau metode berpikir yang berbeda, perjuangan keduanya Ia 
sebut tak jauh berbeda.

Hal ini diafirmasi pula dari sisi Habib Rizieq saat Sekretaris Umum DPP FPI, 
Munarman, yang mengatakan bahwa selama ini Habib Rizieq dengan Ma’ruf Amin 
memang kerap memiliki pandangan yang sama, bahkan saling bekerjasama.

Oleh karenanya, menjadi logis ketika harapan mengemuka bagi Ma’ruf Amin – yang 
merupakan perwakilan pemerintah – untuk dapat menunjukkan impresi pendekatan 
yang lebih sejuk dengan wacana pertemuannya dengan Habib Rizieq, di tengah 
dinamika, ketegangan, dan kegaduhan yang ada saat ini.

Tetapi jika dilihat pada elevasi berbeda bahwa pemerintah memiliki opsi 
pendekatan yang lebih tak membuat kegaduhan dalam menyikapi Habib Rizieq 
beserta polemiknya, mengapa pemerintah justru memilih pendekatan yang “keras”?


Konfrontasi Demi Kepentingan?
Ben Stanley dalam Confrontation by Default and Confrontation by Design 
mengatakan bahwa penggunaan strategy of confrontation atau pendekatan yang 
bersifat konfrontatif dapat menjadi satu-satunya jalan yang masuk akal secara 
politik sebagai default response terhadap aktor-aktor tertentu.

Seperti yang telah diketahui, perkara kerumunan massa plus polemik baliho Habib 
Rizieq dianggap mempertontonkan penggunaan pendekatan yang cukup keras dan 
cenderung konfrontatif dari pemerintah. Justifikasi penegakan aturan bahkan 
menjadi pengejawantahan turun gunungnya militer untuk turut terlibat mengatasi 
persoalan.

Ketika opsi yang lebih konstruktif seperti pertemuan antara Ma’ruf Amin dan HRS 
eksis, menjadi pertanyaan tersendiri ketika justru pemerintah melakukan 
pendekatan konfrontatif seperti yang dikemukakan Stanley.

Kiranya terdapat sejumlah probabilitas yang meliputi persoalan tersebut. 
Pertama, pemerintah dalam hal ini koalisi politik Presiden Jokowi kemungkinan 
memang ingin meredam sejak awal potensi tekanan yang bisa saja terbentuk dari 
narasi kritik yang secara berangsur-angsur dibangun Habib Rizieq.

Gejala yang menyiratkannya adalah, Presiden Jokowi sampai saat ini masih 
bungkam dan tak memberikan respons apapun pada polemik HRS, kerumunan massa, 
dan baliho secara langsung.

Ini yang juga disayangkan oleh pengamat politik dari Universitas Al-Azhar 
Indonesia, Ujang Komaruddin, yang menilai suara Presiden Jokowi sesungguhnya 
sangat vital di tengah kegaduhan dan silang interpretasi saat ini.

Kedua, militer tampaknya juga sedang ingin menunjukkan sesuatu di atas 
“panggung” saat ini. Pada konteks baliho, pengamat militer Aris Santoso menilai 
bahwa TNI melakukan itu untuk menunjukkan bahwa HRS hanya sipil biasa.

Aris menilai jika Polri menganggap HRS “mahal” dengan memecat dua Kapolda. TNI 
tak menginginkan dan berlaku demikian. Selain itu, Aris berspekulasi bahwa hal 
tersebut juga merupakan "upaya pembersihan diri" sebab pendirian FPI didukung 
TNI AD melalui Wiranto di penghujung 90-an.

Ihwal ketiga, kemungkinan secara internal NU, tak ingin ada impresi bahwa 
Ma’ruf Amin “mendukung” Habib Rizieq. Hal ini mengingat sejumlah pihak di 
internal NU – yang notabene termasuk trah pendiri NU – dan mendukung HRS, juga 
lantang bersuara kritis kepada struktural NU yang dianggap melenceng dari 
marwah penghindaran politik praktis.

Probabilitas terakhir atas mengedepankan pendekatan konfrontatif dibandingkan 
opsi konstruktif seperti pertemuan Ma’ruf dan HRS ialah, kemungkinan adanya 
pihak yang memang menginginkan kegaduhan ini terpelihara untuk menutupi ihwal 
tertentu.

Bagaimanapun, di titik ini pemetaan secara politik tersebut hanya sebatas 
kemungkinan. Masih terbuka bagi Presiden Jokowi, yang belum bersikap lebih 
lanjut, untuk menghadirkan reaksi yang meneduhkan kegaduhan.

Lalu, akankah respons Presiden Jokowi berupa sokongan bagi pertemuan Ma’ruf 
Amin dan Habib Rizieq dapat teraktualisasi? Menarik untuk ditunggu 
kelanjutannya. (J61)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/693F93138B334012BF0A0071CAE8BF72%40A10Live.

Reply via email to