Tiongkok Yang Terus Terbuka Perluas Jaringan Pertemanan
2020-11-25 12:51:35  
http://indonesian.cri.cn/20201125/1a9a2ae0-5577-b3d5-d847-1b6216f33ae2.html

Baru-baru ini Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong sempat menerima 
wawancara eksklusif pemimpin redaktur Bloomberg, John Micklethwait. Dalam 
kesempatan itu Lee Hsien Loong secara terus terang mengatakan, hampir tiada 
negara yang rela bergabung dalam aliansi manapun tanpa adanya Tiongkok. Tiada 
negara yang mau terlibat dalam Perang Dingin. Di dunia yang pancaroba ini, 
semakin banyak negara menyadari bahwa ketimbang konfrontasi dalam bentuk 
bersekutu, kerja sama dan menang bersama dalam kerangka multilateral barulah 
jalan keluar yang tepat.



Dalam perihal kerja sama, Tiongkok selalu berpegang teguh pada sikap yang 
terbuka, inklusif dan menang bersama. Dalam pertemuan informal APEC yang 
berakhir belum lama lalu, Xi Jinping menyatakan, perekonomian Tiongkok sudah 
berintegrasi dengan ekonomi dunia secara mendalam. Tiongkok mutlak tidak akan 
menapak tilas jalan lama atau berbalik ke masa lampau, tidak akan mengusahakan 
“pemisahan hubungan ekonomi” atau pun mengusahakan “lingkaran kecil” yang 
eksklusif dan tertutup. Pada 15 November 2020, Tiongkok dan 14 negara lainnya 
menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP). 
Pencapaian ini diakui umum sebagai kemenangan multilateralisme dan perdagangan 
bebas. Perjanjian RCEP yang didominasi oleh ASEAN tersebut beranggotakan tiga 
negara Asia Timur yakni Tiongkok, Jepang dan Korsel serta dua negara yang 
menjadi sekutu AS alias Australia dan Selandia Baru. Selama perundingan yang 
berlarut 8 tahun itu, Tiongkok selalu berpendapat bahwa multilateralisme dan 
perdagangan bebas pasti akan mencapai kemenangan pada akhirnya, dan selalu 
mendukung ASEAN memainkan peran dominan dalam proses negosiasi. Berkontras 
tajam dengan India yang mundur dari negosiasi RCEP karena menganggap risikonya 
lebih besar daripada peluang, Tiongkok selalu berpandangan bahwa RCEP tidak 
boleh hanya dinilai dari risiko, melainkan juga dari peluang yang potensial. 
Hal ini memang sudah terbukti oleh kenyataan. Melalui RCEP, Tiongkok dan Jepang 
telah mendirikan hubungan ekonomi dan perdagangan bebas, yang terwujud dalam 
bentuk konsesi tarif bilateral. Pengaturan ini semacam ini adalah yang pertama 
kali terjadi antara Tiongkok dan Jepang, juga adalah pertama kali Tiongkok 
menandatangani kesepakatan perdagangan bebas dengan ekonomi yang berada di 
urutan 10 besar dunia. Dengan demikian, tingkat cakup perdagangan antara 
Tiongkok dan negara-negara mitra perdagangan naik menjadi 35 persen. Bagi 
negara-negara lain yang bergabung dalam RCEP, Tiongkok yang mempunyai pasar 
raksasa pasti akan membawa manfaat tak terhingga kepada perusahaan 
negara-negara lainnya. Ke depannya perusahaan yang berada di kawasan 
pemberlakuan RCEP akan mendapatkan lebih banyak manfaat karena kesepakatan 
tersebut. Rakyat di berbagai negara akan berkases menikmati barang-barang impor 
dengan harga yang lebih rendah. Baik konsumen maupun produsen sudah pasti akan 
memperoleh lebih banyak manfaat dari pencapaian kesepakatan RCEP.



Dengan bergabung dalam RCEP yang merupakan perjanjian perdagangan terbesar di 
dunia, Tiongkok akan terus memperluas koneksi atau jaringan pertemanan di 
dunia. Dalam pertemuan informasi APEC kali ini, Xi Jinping dalam pidatonya 
menyatakan, Tiongkok akan aktif mempertimbangkan potensi masuk menjadi anggota 
Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP).



CPTPP yang beranggotakan 11 negara termasuk Jepang, Kanada dan Australia resmi 
diberlakukan pada 30 Desember 2018. Populasi yang tercakup perjanjian tersebut 
sebanyak 498 juta orang. Kesepakatan TPP merupakan pendahulu CPTPP. Pada 
permulaan TPP didominasi oleh AS dan Jepang. Perjanjian tersebut umumnya 
dipandang sebagai pengaturan yang khusus mengucilkan Tiongkok. Akan tetapi, 
semenjak Donald Trump naik panggung pada 2017, AS langsung mundur dari TPP. 
Setelah itu, Jepang secara inisiatif berperan dominan dalam proses perundingan 
TPP dan pada akhirnya mencapai kesepakatan CPTPP, yang membekukan 20 pasal yang 
sebelumnya diajukan oleh AS. Hal ini dilakukan dengan harapan AS dapat kembali 
ke perundingan pada masa kelak. Namun tiga tahun sudah lewat, AS masih belum 
menunjukkan sikap yang tegas terkait CPTPP. Malah yang terlebih dulu memberikan 
respons positif adalah Tiongkok, yang menyatakan akan mempertimbangkan 
kemungkinan bergabung dalam CPTPP.



Juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok Gao Feng baru-baru ini menyatakan, 
Tiongkok mendukung pengaturan perdagangan bebas kawasan yang terbuka, 
transparan dan saling menguntungkan. Bagi perjanjian perdagangan bebas kawasan 
mana pun, asal perjanjian itu sesuai dengan prinsip WTO, dan bersifat terbuka, 
inklusif, transparan serta menguntungkan globalisasi ekonomi dan integrasi 
ekonomi regional, maka Tiongkok akan bersikap terbuka. Menanggapi sinyal 
positif dari Tiongkok, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga menyatakan Jepang 
mendukung perluasan keanggotaan CPTPP.



Tiongkok tidak mengusahakan “pemisahan hubungan ekonomi” atau “lingkaran kecil” 
yang eksklusif. Tiongkok selalu menepati perjanjiannya. Pada lima tahun lalu 
Tiongkok mengusulkan pendirian Bank Investasi Infrastruktur Asia atau AIIB 
untuk mendorong perkembangan berkelanjutan ekonomi, memperbaiki konektivitas 
infrastruktur serta meningkatkan kemitraan kawasan. Sekarang anggota AIIB sudah 
meluas hingga 6 benua dengan anggotanya bertambah dari 57 menjadi 102. Di 
jaringan pertemanan AIIB ini, tidak hanya terdapat negara-negara berkembang, 
tapi juga terdapat negara-negara maju seperti Inggris, Perancis dan Jerman. 
Selama lima tahun ini, AIIB sudah menyediakan dana khusus infrastruktur 
sebanyak 20 miliar dolar AS kepada 24 negara anggota. Sejak wabah virus corona 
merebak di seluruh dunia, AIIB segera beraksi dan mendirikan dana rehabilitasi 
dengan skalanya 10 miliar dolar AS untuk mendukung para anggotanya mengatasi 
tekanan ekonomi, fiskal dan kesehatan publik akibat pandemi COVID-19. Dalam 
waktu 3 bulan sejak didirikannya, dana khusus penanggulangan pandemi tersebut 
sudah disalurkan ke 12 negara dan meningkatkan keyakinan negara-negara penerima 
dana untuk mengatasi kesulitan.



Memperluas kepentingan bersama melalu keterbukaan dan menikmati peluang melalui 
kerja sama. Tiongkok yang terbuka dan inklusif akan terus memperluas jaringan 
pertemanan dan koneksinya dengan dunia.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/919DA9C11C344AE787BC75CE4CF0000E%40A10Live.

Reply via email to