Mahfud Afirmasi Kritik Anies?F63 - Wednesday, November 25, 2020 17:00
https://www.pinterpolitik.com/mahfud-afirmasi-kritik-anies
 
Mahfud MD dan Anies Baswedan (Foto: Twitter Mahfud MD)
7 min read

Tak lama setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunggah foto sedang 
membaca sebuah buku berjudul How Democracies Die, Menteri Koordinator Bidang 
Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut bahwa 
demokrasi di Indonesia masih berkutat pada persoalan prosedural semata. Apakah 
pernyataan Mahfud tersebut merupakan sebuah pengakuan terhadap judul buku yang 
dibaca Anies?
PinterPolitik.com

  “If there were a people of gods, it would govern itself democratically. So 
perfect a form of government is not for men” – Jean-Jacques Rousseau, filsuf, 
penulis, dan komposer.

Minggu pagi lalu, Gubenur DKI Jakarta, Anies Baswedan menggemparkan publik 
lewat postingan di akun Instagram pribadinya. Bukan karena kebijakan atau 
pernyataan yang Ia lontarkan, melainkan karena fotonya yang sedang bersantai 
sambil membaca buku.

Sekilas memang terlihat tak ada yang perlu diributkan dari postingan tersebut. 
Namun jika diperhatikan lebih detail, yang menjadi pusat perhatian adalah judul 
buku yang dibaca Anies, yakni How Democracies Die karya dua profesor dari 
Universitas Harvard, yakni Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt.

Postingan tersebut tentu saja memantik tafsir dari publik dan sejumlah 
pengamat. Banyak yang melihat bahwa unggahan itu merupakan wujud sindiran halus 
kepada pemerintah.

Menariknya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko 
Polhukam) Mahfud MD sendiri beberapa waktu lalu mengakui kalau demokrasi di 
Indonesia hingga saat ini masih bersifat prosedural semata, atau belum memasuki 
demokrasi substansial. Hal itu disampaikan Mahfud saat meluncurkan buku capaian 
Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2019.


Sebenarnya ini bukan kali pertama Mahfud melontarkan kritik seputar kehidupan 
demokrasi. Beberapa waktu lalu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut 
juga pernah berkata bahwa demokrasi yang berkembang saat ini membuat posisi 
pemerintah menjadi serba salah.

Lalu pertanyaannya, apakah pernyataan Mahfud tersebut merupakan afirmasi 
terhadap judul buku yang dibaca Anies?



Demokrasi Hanya untuk Tuhan?
Dalam beberapa tahun terakhir, diskursus mengenai pudarnya nilai-nilai 
demokrasi memang gencar diperdebatkan. Tak hanya Levitsky dan Ziblatt, beberapa 
pemikir juga berpendapat demikian.

Francis Fukuyama, misalnya, mengatakan bahwa kebangkitan internet merupakan 
salah satu penyebab menurunnya kualitas demokrasi. Hal ini disebabkan karena 
internet khususnya media sosial merupakan pisau bermata dua yang dapat 
dimanfaatkan untuk mengamplifikasi nilai-nilai demokrasi, namun di saat yang 
sama bisa juga digunakan untuk memusuhi demokrasi itu sendiri.

Terlepas dari apa pun penyebabnya, tak dapat dipungkiri demokrasi memang 
merupakan konsep yang sangat rumit. Costica Bradatan dalam tulisannya di The 
New York Times bahkan sampai menyebut bahwa demokrasi hanya mampu dijalankan 
oleh Tuhan, sebab demokrasi adalah sesuatu yang langka dan sulit dicapai. 
Sekalipun tercapai, akan sangat rapuh.

Kendati demikian, Ia menilai bahwa gagasan inti demokrasi sebenarnya sangat 
sederhana, yakni sebagai anggota komunitas, kita harus memiliki suara yang sama 
tentang cara kita menjalani hidup bersama. Akan tetapi hal itu menjadi sangat 
rumit dikarenakan konsep tersebut dianggap bertentangan dengan sifat alamiah 
manusia.

Menurutnya, sifat dasar manusia memang tidak demokratis. Dia bahkan menyebut 
demokrasi sebagai sesuatu yang 'unnatural' bagi manusia.

Sebaliknya, hal yang paling natural bagi manusia, seperti halnya makhluk hidup 
lainnya, adalah berusaha untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Dan untuk 
tujuan itu, manusia kerap menegaskan diri, dan tanpa disadari, kejam terhadap 
orang lain. Manusia saling melangkahi, saling menggulingkan, atau bahkan saling 
menghancurkan jika perlu.


Inilah yang menurutnya menyebabkan kesetaraan suara dalam tatanan masyarakat  
tidak akan pernah terwujud, karena akan selalu ada pihak yang berusaha 
mengklaim lebih superior dari yang lain.

Atas dasar itu, Bradatan berkesimpulan bahwa pada kenyataannya demokrasi yang 
sesungguhnya memang sangat sulit ditemukan di dunia manusia. Oleh karenanya, 
ketika kita membicarakannya, pada dasarnya kita hanya mengacu pada cita-cita 
dan pandangan ideal yang jauh dari fakta sebenarnya.



The Iron Law of Oligarchy
Dalam konteks Indonesia, keberadaan oligarki kerap dipersalahkan sebagai biang 
terdegradasinya nilai-nilai demokrasi. Segelintir orang yang menguasai sebagian 
besar sumber daya inilah yang dituding membuat demokrasi di Indonesia yang 
semula bertujuan untuk memeratakan kekuasaan dan ekonomi malah justru berjalan 
ke arah sebaliknya.

Pun begitu dengan judul buku yang dibaca Anies, sejumlah pengamat menilai buku 
tersebut ditujukan kepada kaum oligarki.

Kendati begitu, pernahkah kita bertanya dari mana asal para oligarki ini dan 
mengapa fenomena tersebut bisa muncul?

Fenomena kemunculan kaum oligarki ini pernah dijelaskan oleh seorang sosiolog 
berkebangsaan Jerman-Italia, Robert Michels dalam sebuah konsep yang Ia namakan 
The Iron Law of Oligarchy.

Dalam pemikirannya itu, Ia menilai bahwa munculnya kaum oligarki ini disebabkan 
oleh karakteristik organisasi yang mengharuskan adanya kepemimpinan yang 
kompeten, otoritas terpusat, dan pembagian tugas dalam birokrasi profesional. 
Keharusan ini dengan sendirinya memunculkan kasta pemimpin yang memiliki 
pengetahuan, keterampilan, dan status yang lebih superior.


Dengan kemampuan lebih tersebut, dan dikombinasikan dengan sistem kontrol yang 
hierarkis, telah memungkinkan mereka untuk mendominasi keanggotaan yang lebih 
luas. Singkatnya, dapat dikatakan dalam setiap organisasi, termasuk yang paling 
demokratis sekali pun, pada akhirnya akan menyerah pada aturan yang dibuat oleh 
segelintir elite.

Dengan adanya kecenderungan tersebut, maka dapat dikatakan selama sistem 
organisasi masih bersifat demikian, maka sekeras apa pun suatu negara 
demokratis berusaha untuk mengeliminir mereka, para oligark merupakan fenomena 
yang akan selalu ada.

Kendati penurunan kualitas demokrasi dan kemunculan kaum oligarki merupakan dua 
fenomena yang bisa dibilang natural, namun komitmen suatu negara untuk 
mempertahankan nilai-nilainya tetaplah patut untuk dipertanyakan. Lantas sejauh 
apa sebenarnya komitmen pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) terhadap nilai-nilai 
demokrasi?



Jokowi, The Middle-Class President
Jacqui Baker dalam tulisannya yang berjudul The Middle Class President menilai 
bahwa Jokowi adalah seorang pemimpin yang memiliki tendensi iliberal dan tak 
sabar dengan kompleksitas hukum dan ideologi. Ia menyebut hal ini tak bisa 
dilepaskan dari latar belakangnya yang berasal dari kalangan kelas menengah, 
bukan golongan elite.

Kendati reformasi telah menjadi salah satu slogan utama pemerintahannya, namun 
reformasi yang dimaksud lebih fokus pada pembenahan aspek-aspek ekonomi. Baker 
menilai pemerintahan Jokowi sama sekali tak memiliki fokus pada penguatan 
kualitas demokrasi di Indonesia.

Kemudian jika kita berkaca pada kebijakan-kebijakan Jokowi, asumsi yang 
dikemukakan Baker itu sepertinya memang benar adanya. Misalnya dalam pengesahan 
Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja 
(Ciptaker) beberapa waktu lalu.

Kebisuan Jokowi dalam menanggapi kritik keras dari publik memang cukup 
mencerminkan ambisi developmentalismenya di bidang ekonomi, dan di saat yang 
sama mengisyaratkan ketidakpeduliannya dengan nilai-nilai demokrasi.

Pengamat Politik Pemerintahan, Fiko Onga pernah menyebut bahwa demokrasi 
tidaklah dirancang untuk efisiensi, melainkan demi pertanggungjawaban. Dengan 
kata lain, sebuah pemerintahan yang demokratis, mungkin tidak bisa bertindak 
secepat pemerintahan diktator.

Maka dari itu, dalam negara demokrasi akan selalu muncul ketegangan dan 
pertentangan yang mensyaratkan ketekunan para penyelenggara negaranya agar 
demokrasi bisa berjalan optimal.

Ketekunan tersebut dinilai tak terlihat dari sosok Jokowi. Setidaknya itulah 
yang tercermin dari pernyataannya pada 2017 lalu yang justru menilai demokrasi 
di Indonesia terlalu kebablasan sehingga membuka peluang terjadinya artikulasi 
politik yang ekstrem.

Berangkat dari sini, setidaknya kita bisa menyimpulkan mengapa kehidupan 
demokrasi di Indonesia seolah menemui kebuntuan. Pertama, kerumitan dari konsep 
demokrasi itu sendiri. Kedua,  komitmen dari pemerintahan Jokowi untuk 
membenahi agenda-agenda demokrasi dinilai masih minim.

Dari sini, maka kiranya kita bisa merespons pernyataan Mahfud bahwa sampai 
kapanpun, sepertinya demokrasi di Indonesia akan selalu berkutat pada persoalan 
prosedural tanpa pernah menyentuh persoalan yang lebih substansial. Sehingga, 
pernyataan tersebut bisa saja dianggap sebagai afirmasi terhadap judul buku 
yang dibaca oleh Anies.

Bagaimana pun, sekelumit ulasan tersebut merupakan analisis teoretis semata 
yang masih bisa diperdebatkan kebenarannya. Namun yang jelas, betapapun 
rumitnya konsep demokrasi itu diterapkan, janganlah hal itu sampai menyurutkan 
semangat kita sebagai suatu entitas bangsa dalam mematangkan nilai-nilai 
tersebut. Bagaimana dinamika kehidupan demokrasi ke depan, tetaplah menarik 
untuk ditunggu kelanjutannya. (F63)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/ACB218C3D83148C18C5C654DA873A8CA%40A10Live.

Reply via email to