Kaum revisionis dan pendukung China kapitalis selalu membanggakan dan 
mengajukan argumentasi ratusan juta rakyat yang diangkat dari kemiskinan.  
Penghisapan dan penindasan sama sekali bukan masalah bagi mereka. Ma Shu bisa 
terhitung dalam  “rakyat” yang terangkat dari kemiskinan….Tapi bagaimana dia 
harus bekerja untuk “keluar” dari kemiskinan itu??? 
 
15 TAHUN KISAH PEREMPUAN MENJADI PELAJAR, SEORANG IBU, DAN PEKERJA PABRIK 
FOXCONN
BY: ADMINSEDANE 
 
ON: 24/11/2020 
 
IN: BURUH MENULIS, KAJIAN 
 
TAGGED: BUNUH DIRI, BURUH, FORCED LABOUR, FOXCONN, KERJA PAKSA, KONDISI KERJA 
 
 
Oleh, Ma Shu
Pekerja di Foxconn.Sumber foto: Industry Week
10 tahun sejak tragedi ‘bunuh diri pekerja Foxconn’, pekerja di China masih 
terus mengalami penindasan di tempat kerjanya
Sudah 10 tahun lamanya sejak tragedi ‘bunuh diri pekerja Foxconn’ terjadi pada 
2010. Ketika itu, 18 pekerja muda melakukan bunuh diri secara beruntun. 
Tindakan ini kemudian menguak kondisi kerja buruh di pabrik Foxconn dan 
mendapat perhatian media dan publik secara luas.
Namun, baik Foxconn (pabrik penerima order) dan Apple (perusahaan pemegang merk 
dan pemberi order produksi), termasuk miliarder Terry Guo pemilik Foxconn, dan 
para konsumen mulai melupakan tragedi bunuh diri tersebut. Sementara itu, 
praktek eksploitasi di pabrik Foxconn tidak betul-betul membaik. Nasib pekerja 
malah makin terpuruk.
Para pekerja pabrik berasal dari berbagai daerah pedesaan di daratan China. 
Meski mereka masuk dalam generasi ‘Milenial’ (lahir antara tahun 1990-1998an), 
namun para pekerja itu jauh dari pengertian ‘generasi baru’ yang seringkali 
dibangga-banggakan. Para pekerja itu pergi merantau dari kampung halamannya 
pada usia remaja untuk mencari nafkah. Sekarang ini, mereka telah memasuki usia 
paruh baya (30 tahunan).
Generasi pekerja ini kehilangan masa mudanya akibat rutinitas kerja di pabrik 
yang serba monoton dan membosankan. Kalangan pekerja ini tidak menjalani hidup 
yang diidam-idamkan. Malahan, mereka hidup dalam tekanan antara mengurus orang 
tuanya atau anaknya. Mereka benar-benar menjalani masa hidup yang suram.
Zhi Yinng (bukan nama sebenarnya), berusia 34 tahun, memulai perjalanannya 
sebagai pekerja pada Desember 2005. Titik keberangkatannya adalah ketika Ia 
dikirim oleh sekolahnya ke pabrik Foxconn. Ketika itu, Foxconn merupakan pabrik 
yang diidam-idamkan para pencari kerja.
Foxconn sebetulnya telah dikenal sebagai tempat kerja yang busuk, terutama 
setelah tragedi bunuh diri pekerja antara 2009 dan 2010. Selain itu, sejumlah 
laporan telah mengungkapkan praktek pendisiplinan oleh manajemen pabrik yang 
kasar dan amat termiliterisasi. Namun, Foxconn masih dianggap oleh banyak 
kalangan pencari kerja sebagai tempat yang lebih baik daripada pabrik-pabrik 
kecil yang membayar upah lebih rendah.
Posisi Foxconn sebagai tempat yang dianggap ‘lebih baik’ ini menguntungkan 
Foxconn itu sendiri, terutama untuk melakukan praktek pendisiplinan buruh.
“Setiap menjelang akhir tahun, kamu harus waspada dan bersiap-siap,’ kata Zhi. 
“Jika kamu tidak patuh atau dianggap tidak bekerja dengan baik, kamu akan 
dipecat saat Tahun Baru. Manajemen menyebutnya sebagai upaya ‘perbaikan’ 
produksi. Setiap tahun, sekitar 5% pekerja dibuang.”
“Beberapa tahun bekerja di Foxconn merupakan pengalaman menakutkan,” Zhi 
menambahkan. “Kamu selalu merasa ketakutan dipecat. Untuk diterima kerja, kamu 
harus mengeluarkan biaya besar. Saya direkrut melalui sekolah dan harus 
mengeluarkan biaya beberapa ratus ribu hingga jutaan Rupiah[1] agar bisa 
diterima kerja. Biaya itu belum termasuk ongkos transportasi dan biaya lainnya.”
“Dalam beberapa kasus, biaya masuk kerja tidak seberapa. Namun saya juga 
mendengar beberapa cerita di mana pekerja harus membayar jutaan hingga belasan 
juta Rupiah agar diterima kerja (upah minimum untuk operator pabrik ketika itu 
adalah 690 Yuan/ bulan (Rp. 1,5 juta).[2] Tidak mudah untuk bisa bekerja di 
Foxconn ketika itu. Mereka hanya menerima pekerja dengan usia di bawah 24 
tahun. Di atas itu, mereka tidak akan menerima.”
Zhi Ying mulai bekerja di Foxconn bersama dengan 19 teman sekelasnya waktu 
sekolah. Meski kelulusan resmi mereka masih 6 bulan lagi, namun pihak sekolah 
ingin segera mengirim murid-muridnya ke pabrik dan mendapatkan ‘uang komisi’, 
baik dari pabrik maupun murid.
Pihak sekolah tidak peduli maupun bertanggung jawab atas pendidikan muridnya. 
Bagi pihak sekolah, tidak soal meskipun pekerjaan murid-murid lulusan bekerja 
tanpa hubungannya dengan apa yang dipelajari dan didapatkan di sekolah.
Di sisi lainnya, pabrik Foxconn banyak merekrut ‘pekerja pelajar’[3]. Pekerja 
pelajar ini tidak hanya cerdas, namun juga penurut, mudah diatur dan murah. 
Apalagi pilihan terbaik bagi perusahaan untuk mencari orang untuk ditindas?
‘Saya tidak pernah mengalami penderitaan seperti ini sebelumnya’: pengalaman 
pertama bekerja di Foxconn
“Ketika pertama kali bekerja di Foxconn, setiap hari saya menangis,” kata Zhi. 
“Ketika di rumah, saya tidak pernah mengalami penderitaan seperti ini 
sebelumnya.” Ketika pertama kali masuk ke pabrik, Zhi ditempatkan di bagian 
produksi. Pergantian shift setiap 12 jam sekali, dari jam 8 pagi hingga 8 malam.
Selain jam istirahat makan siang selama setengah jam pada siang dan sore hari, 
Zhi harus berdiri sepanjang waktu. “Ketika pertama kali kerja, saya tidak punya 
bayangan apapun. Saya hanya membawa sepasang sepatu hak dari rumah. Setelah 
beberapa hari bekerja sambil berdiri, kaki saya mulai merasa sakit.”
“Di saat pulang kerja, saya masih harus berjalan kaki selama setengah jam untuk 
tiba di tempat tinggal. Saya memilih untuk berjalan tanpa menggunakan alas kaki 
(karena kaki sakit, pen). Setelah beberapa hari kerja, akhirnya saya punyai 
waktu luang untuk membeli sepatu kain. Di hari-hari itu, saya diharuskan 
bekerja sambil berdiri selama belasan jam. Di sore hari, saya sering merasa 
terkantuk-kantuk. Susah sekali menahannya, saya harus mencubit diri sendiri 
agar tidak tertidur.”
“Waktu berjalan sangat cepat sejak saya lulus sekolah. Rasanya seperti robot: 
berada di tempat yang sama setiap hari, mengulang-ulang gerakan tubuh ribuan  
kali. Selain makan dan ke toilet, waktumu habis untuk mempelototi barang-barang 
yang diproduksi. Ketika itu, pihak manajemen sangat ketat,” kata Zhi 
menjelaskan.
“Kamu tidak boleh memanjangkan kuku. Jika panjang sedikit saja, kamu akan kena 
tegur, entah itu seseorang dari bagian Quality Control, Pengawas, maupun 
Manajer Lini Produksi—semua orang, bahkan paman mereka mungkin akan menegurmu.”
Kantin pabrik seperti arena pertempuran. Kamu hanya puya waktu 30 menit. 
Sementara itu ada banyak sekali orang, dan banyak yang menyerobot antrian. 
Beberapa orang terkadang menjadi emosional, berkelahi dan akhirnya tidak punya 
waktu untuk makan siang”
Foxconn sering merekrut ‘pekerja pelajar’, yang tidak hanya cerdas, tapi juga 
penurut, mudah diatur dan murah. Apalagi pilihan terbaik bagi perusahaan untuk 
mencari orang untuk ditindas?
Meskipun Zhi hanya selama beberapa bulan saja bekerja di bagian produksi, namun 
ingatannya tetap segar selama 15 tahun. Ingatan atas lingkungan kerja yang 
penuh tekanan, monoton, serta perasaan ketakutan luar biasa dari kontrol 
manajemen melekat kuat dalam ingatannya. “Saya sama sekali tidak ingin 
mengulangi bpengalaman itu. Bagi saya, lebih baik tidak punya banyak uang dan 
harus bekerja lebih keras di tempat lain daripada kembali ke pabrik itu.”
Di saat Foxconn tengah berkembang dengan pesat pada 2005-2006, tingkat 
keluar-masuk pekerja semakin banyak akibat semakin cepatnya lini produksi 
bekerja—seturut dengan kerja-kerja yang repetitif, monoton dalam ruangan yang 
makin sesak. Pada momen itu, Zhi Ying (yang ketika itu berusia 19 tahun), 
mendapat kenaikan pangkat. Berkat kerjanya yang cepat dan efisien, Zhi 
dipromosikan sebagai Manajer Lini Produksi.
Posisi yang lebih tinggi ini membuatnya lebih mempunyai kemandirian—Ia tidak 
lagi perlu menjadi ‘robot’ yang berdiri selama berjam-jam. Zhi dapat datang dan 
pergi untuk memeriksa lini produksi bekerja. Namun, hal ini juga berarti Zhi 
menanggung tanggung jawab lebih besar.
“Kamu harus menyelesaikan seluruh pekerjaan harian. Kamu harus menjaga 
penampilan dan mengikuti standar yang ketat. Tidak boleh ada satupun masalah 
terkait kualitas produksi. Jika ada pelanggan yang komplain akibat produk 
cacat, komplain itu akan tercatat. Kamu juga harus berteman dengan pekerja 
lainnya. Ketika pekerja tidak mengikuti perintah dan membuat masalah, hal itu 
akan menyulitkan.”
Sebagai pemain besar dalam industri manufaktur, Foxconn bergantung pada 
eksploitasi tenaga kerja sebesar-besarnya. Tidak hanya menambah jam kerja, atau 
memotong waktu makan siang dan pergi ke toilet, perusahaan juga merancang cara 
kerja yang lebih canggih dengan mendikte setiap gerak tubuh pekerja untuk 
mendapatkan tingkat efisiensi produksi yang maksimal. Perusahaann juga 
mengurangi upah melalui sistem pengupahan dan promosi yang rumit.
“Sebelumnya, kamu hanya perlu mengikuti satu tes untuk mendapat kenaikan gaji. 
Kenaikan gaji ketika itu tidak ditentukan oleh jabatan,” kata Zhi.
“Satu tahun pertama saya bekerja sebagai Manajer Lini Produksi, pihak 
perusahaan mengatakan bahwa saya tidak bisa mengikuti tes karena belum bekerja 
selama satu tahun penuh. Pada tahun kedua, saya tidak lulus tes. Pada tahun 
ketiga, hampir dipastikan kamu akan lulus tes. Saya kemudian mendapatan bonus 
500 Yuan dan upah pokok saya naik beberapa ratus Yuan.”
Singkatnya, selama dua tahun pertama Zhi bekerja sebagai Manajer Lini Produksi 
dengan berbagai tanggung jawabnya, Zhi tidak mendapat upah sesuai dengan 
posisinya.
Para pekerja ini mengalami tekanan yang semakin meningkat hanya untu masa depan 
yang suram.
“Saya masih ingat ketika tragedi bunuh diri sedang meningkat. Ketika itu, saya 
baru mulai bekerja sebagai Mandor dan sedang pergi ke gedung sebelah bersama 
rekan Mandor untuk merencanakan satu area gudang baru. Sesaat sebelum masuk ke 
ruangan, seorang pekerja sedang melompat dari atas asrama. Rekan Mandor melihat 
kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri. Kejadian itu sangat menakutkannya.”
Selama lima tahun pertama di Foxconn dan ketika diangkat sebagai Mandor, Zhi 
Ying kesulitan untuk memahami tekanan yang dialami oleh para pekerja. Zhi 
heran, mengapa pekerja tidak sanggup mengatasi pekerjaan yang monoton—tidak 
seperti posisi Zhi. “Jika kamu sanggup, maka kerjakan. Jika tidak bekerja (di 
bawah tekanan, pen), kamu bisa pindah. Kenapa mereka malah memilih bunuh diri?” 
kata Zhi. “Ketika itu, saya tidak bisa memahaminya.”
Kenyataannya, banyak sekali pekerja yang tidak sanggup bekerja di bawah tekanan 
akhirnya memutuskan keluar. Termasuk rekan seangkatan Zhi—dari 19 teman 
sekelasnya, hanya dua orang yang bertahan hingga tahun pertama. Namun bagi 
sebagian pekerja, berhenti kerja bukanlah jalan keluar (atas kesulitan hidup). 
Dari sedikit sekali pilihan lapangan kerja, Foxconn masih menjadi pilihan yang 
relatif ‘lebih baik’.
Bagi pekerja bagian produksi yang setiap harinya kena ‘omelan’ akibat 
kesalahan-kesalahan kecil, harga dirinya semakin hari semakin tak berarti. 
Tubuhnya dan setiap gerak geriknya berada di bawah pengawasan ketat dari bagian 
Quality Control, Pengawas, Manajer Lini Produsi dan Mandor.
Para pekerja ini seolah-olah menjadi satu dengan setiap komponen-komponen bahan 
produksi, dan menyatu dalam irama mesin-mesin otomatis. Sebagai operator mesin 
produksi, emosi para pekerja, termasuk pengalamannya, rasa sakitnya—yang hingga 
mati rasa—tidak pernah satu pun orang tahu.
Para pekerja tanpa harga diri ini memutuskan untuk lompat dari atas 
gedung—bunuh diri. Kisah belasan korban ini tetap menjadi misteri hingga hari 
ini.
Ibu hamil dalam pabrik: lini produksi berputar tanpa peduli kamu hamil
Zhi Ying melahirkan pertama kali pada 2014. Seiring dengan cuti kehamilannya, 
Ia hamil untuk kedua kalinya. Lini produksi seharusnya bukan tempat yang cocok 
bagi tubuh perempuan yang sedang hamil.
“Setelah saya melahirkan Miao Miao, saya masih mengurus lini produksi. Namun 
ketika saya hamil lagi, sulit untuk mengurus produksi,” kata Zhi. “Departemen 
produksi sangat ketat. Ketika kamu berada di lapangan untuk melakukan 
pengawasan, banyak sekali debu dan suara bising.”
“Kamu harus mengatur pekerja. Jika ada kesalahan, kamu harus mengatasinya. Kamu 
harus memastikan target produksi tercapai sambil menjamin keselamatan pekerja. 
Setiap hari kamu harus berada di lapangan, berlari ke sana kemari. Namun ketika 
kamu sedang hamil, semua hal menjadi rumit. Situasinya sulit sekali, ditambah 
kamu harus sering izin untuk melakukan pemeriksaan kehamilan.”
Lini produksi tidak akan berhenti sekalipun seorang pekerja sedang hamil. 
Proses produksi tidak akan ditunda sementara jika seorang pekerja meminta izin 
untuk mengurus anaknya yang sakit. Tidak jarang pekerja bagian produksi yang 
meninggalkan pekerjaannya setelah melahirkan.
“Seseorang tidak akan bisa paham jika belum pernah punya anak,” kata Zhi. 
“Mereka hanya berpikir bahwa kamu sedang mengambil alih tempat orang lain. Dari 
apa yang saya lihat,dalam lini produksi, hampir tidak ada seorang pun yang akan 
membawa anaknya ke tempat kerja. Biasanya, hanya ada pekerja bagian kantor, 
atau mandor.”
‘Kamu seperti robot: berada di tempat yang sama setiap hari, mengulang-ulang 
gerakan tubuh ribuan  kali.’
Zhi tidak ingin nasib anaknya seperti mereka yang ditinggalkan oleh orang 
tuanya yang pergi merantau. Untuk itu, Zhi mengajukan perpindahan ke bagian 
kantor sebagai Manajer Produksi. Kebanyakan tugas kantoran di Foxconn ada di 
dalam Departemen Periferal—periferal di sini berarti tugas yang terbatas pada 
pengaturan kerja lembur, dengan upah yang lebih rendah. Semua hal telah 
dipertimbangkan Zhi, dan dia merasa bos barunya ‘cukup baik hati’.
“Terkadang saya meminta izin waktu, dan bos akan mengatakan ‘silakan’. Beberapa 
kali saya meminta izin beberapa jam untuk pergi, dan bos akan membiarkan saya 
pergi tanpa menyaratkan surat izin dalam bentuk apapun.” Meski keleluasaan 
dalam bekerja ini membuat Zhi dapat sambil mengurus keluarganya, namun hal ini 
menghilangkan peluang promosi jabatan. “Saya katakan kepada suami, jika bukan 
demi anak, saya tidak akan meminta pindah ke posisi ini. Kamu seperti terjebak 
dalam satu posisi karena rasanya begitu membosankan dan tanpa kesempatan 
berkembang maupun jenjang karir profesional.”
Zhi Ying telah menjalani pekerjaan yang membosankan itu selama lima tahun. 
Kedua anaknya telah masuk ke sekolah dasar. Karena anak-anaknya tidak memenuhi 
syarat masuk ke sekolah negeri, Zhi Ying harus menghabiskan sebagian besar 
gajinya sebesar 6,000 Yuan untuk biaya masukk sekolah dan biaya sehari-hari.
Selama lima tahun terakhir, Zhi berupaya untuk mencari jalan keluar, hingga 
pada titik berharap Foxconn akan memecatnya. Dengan cara itu, Zhi bisa 
menggunakan uang pesangon untuk membawa keluarganya ke kampung halaman dan 
memulai usaha kecil.
Sebagai operator mesin produksi, emosi para pekerja, termasuk pengalamannya, 
rasa sakitnya—yang hingga mati rasa—tidak pernah satu pun orang tahu.
Zhi juga berusaha untuk berdagang sejumlah barang melalui media sosial, menjual 
segala macam mulai dari obat-obatan tradisional China hingga popok sekali pakai 
melalui berbagai platform dagang di WeChat.
Sadar akan tipuan iklan-iklan yang mengklaim bisa “menghasilan jutaan Yuan 
setiap  tahunnya dengan mempromosikan pada temanmu”, Zhi tidak menaruh uang 
terlalu besar pada skema itu—namun hanya satu kali. Namun, meski meragukan, 
perusahaan online, ini tetap menjadi salah satu pilihan terbaik dalam mimpinya 
untuk kehidupan yang lebih baik.
Selama sepuluh tahun terahir, Foxconn telah beranjak dari urutan ke-112 menjadi 
urutan ke-23 dalam ranking teratas 500 Fortune. Namun, generasi baru pekerja 
saat ini diupah lebih rendah daripada standar upah minimum. Mereka bergantung 
pada upah lembur untuk dapat memenuhi standar hidup minimum di kota.
Foxconn mendeskripsikan budaya perusahaannya sebagai tempat di mana “kamu 
mendapatkan apa yang kamu berikan.” Di saat yang sama, ratusan ribu pekerja 
seperti Zhi Ying, seorang pekerja yang dengan rajin dan sungguh-sungguh mencoba 
mencari nafkah selama lebih dari satu dekade, tetap tidak mempunyai waktu 
melihat anaknya tumbuh besar.
Apa yang ‘diberikan’ kepada perusahaan tidak lain curahan kerja, masa muda, dan 
waktu untuk bersama keluarga, dan juga harapan masa depan. Dibandingkan apa 
yang didapatkan oleh Terry Guo, para pekerja ini tidak mendapatkan apa-apa.
 
 
Catatan
[1] Catatan penerjemah, naskah berbahasa Inggris berbunyi “… and had to spend a 
couple hundred yuan to do so.” Untuk menyesuaikan dengan konteks pembaca 
Indonesia, “beberapa ratus Yuan” diinterpretasi menjadi beberapa ratus ribu 
hingga jutaan rupiah dengan asumsi 100 Yuan setara dengan sekitar Rp. 220 ribu, 
atau 500 Yuan setara dengan Rp. 1,1 juta.
[2] Nilai tukar yang digunakan adalah per 21 Oktober 2020. Sementara yang 
dirujuk dalam naskah adalah nominal yang berlaku pada tahun 2005. Singkatnya, 
penyesuaian konteks nominal 690 Yuan tidak sepenuhnya akurat, namun cukup untuk 
memberikan gambaran.
[3] Catatan penerjemah, dalam konteks Indonesia, istilah pekerja pelajar ini 
lebih dekat dengan pekerja magang)
Related Posts:


Sent from Mail for Windows 10

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5fbfb6bf.1c69fb81.a9ead.ea28SMTPIN_ADDED_MISSING%40gmr-mx.google.com.

Reply via email to