Saya mah bukannya belain Koruptor.... aturan Impport Export siapa yang bikin? 
Departemen Perdagangan...?Ngurus surat di Departemen Perindustrian bisa 30-38 
meja...

Kenapa ada perusahaan pegang IZIN IMPORT-EKSPORT tanpa ada KEGIATAN dalam 
bidangnya...Jadi terinagt zaman CUOTA GARMENT... ada perusahaan yang pegang 
QUOTA...? Ada istilah BELI QUOTA mau untuk EKSPOR Garment,,,,

Kedele susah, ada perusahaan yang pegang IZIN IMPORT KEDELAI.... harusnya yang 
atur perbankan.. via LC...tercantym semuanya, kalau kritarianya memenuhi 
syarat,,, izin import harus di keluarkan pada importir..
    On Saturday, November 28, 2020, 7:11:21 p.m. EST, Chan CT 
<[email protected]> wrote:  
 
 
Edhy Ditangkap, Ada yang Bermain?
R53 - Saturday, November 28, 2020 21:30 
https://www.pinterpolitik.com/edhy-ditangkap-ada-yang-bermain Mantan Menteri 
Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (tengah) (foto: BBC)
7 min read

Selaku sosok yang begitu dipercaya Prabowo Subianto, penangkapan MenKP Edhy 
Prabowo agaknya begitu mengejutkan secara politik. Banyak yang menilai 
penangkapan tersebut adalah sinyal Prabowo akan diganjal untuk maju di Pilpres 
2024. Lantas, mungkinkah terdapat pihak yang bermain di balik penangkapan 
tersebut?

PinterPolitik.com

Baru lima hari di Surabaya, atau tepatnya pada 30 Oktober 1945, pasukan militer 
Inggris justru harus kehilangan jenderalnya, yakni Brigadir Jenderal Aubertin 
Walter Sothern (AWS) Mallaby. Padahal, dalam pertempuran melawan Jerman di 
Perang Dunia II, kehilangan seperti itu tidak pernah dialami.

Terbunuhnya sang jenderal kemudian memicu Inggris mengeluarkan ultimatum pada 9 
November. Mayor Jenderal EC Mansergh yang menjadi pengganti Mallaby meminta 
pasukan Indonesia di Surabaya untuk menyerahkan senjata tanpa perlawanan. 
Namun, seperti yang kita ketahui, ultimatum tersebut ditolak keras, dan 
meletuslah pertempuran pada 10 November yang kini diperingati sebagai Hari 
Pahlawan.

Sedikit berspekulasi, pola respons semacam itu yang mungkin membuat pengamat 
politik Rocky Gerung berspekulasi bahwa penangkapan Menteri Kelautan dan 
Perikanan (MenKP) Edhy Prabowo baru-baru ini akan melahirkan politik balasan 
dari Partai Gerindra.

Pasalnya, sama dengan Mallaby, Edhy juga dapat disebut sebagai jenderalnya 
Prabowo Subianto. Sudah menjadi rahasia umum apabila mantan Ketua Komisi IV DPR 
RI tersebut memiliki ikatan emosional yang begitu dekat dengan sang ketua 
partai kepala garuda.

Menariknya, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang 
Komarudin membandingkan penangkapan tersebut seperti penangkapan Presiden 
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan di era Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY). Menurutnya, penangkapan Luthfi bermotif politik karena dilakukan 
menjelang Pilpres 2014.

Pada kasus Edhy, meskipun Pilpres 2024 masih jauh, dengan masifnya corong 
politik menyorot Prabowo sebagai kandidat potensial, agaknya tidak sulit 
menyimpulkan bahwa konteks serupa juga terjadi saat ini.

Tambah Ujang, penangkapan tersebut juga merupakan sinyal ketidaksukaan 
pemerintah atas manuver Gerindra yang justru tetap mengkritik melalui Fadli 
Zon, meskipun telah diberikan dua kursi menteri. Apalagi, dengan tidak jelasnya 
kasus Harun Masiku yang merupakan kader PDIP, juga menambah kecurigaan Ujang 
bahwa penangkapan Edhy memang bermotif politis.

Lantas, jika spekulasi Ujang benar adanya, mungkinkah terdapat pihak yang 
bermain di belakang penangkapan tersebut?
  
Prabowo Ingin Jadi Lincoln?

Demi nama rekonsiliasi, Prabowo yang menjadi rival Joko Widodo (Jokowi) dalam 
dua gelaran Pilpres terakhir secara mengejutkan bergabung ke dalam koalisi 
pemerintah. Itu juga menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya Gerindra 
berada di jalur kekuasaan.

Namun, apabila kita merujuk pada pernyataan Amien Rais pada Januari 2019 lalu, 
bergabungnya Prabowo sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Saat itu, Amien 
menuturkan bahwa Prabowo ingin berlaku seperti Presiden ke-16 Amerika Serikat 
(AS) Abraham Lincoln. Jika nantinya memenangkan Pilpres 2019, mantan Danjen 
Kopassus tersebut akan membentuk “team of rivals” yang merangkul pihak oposisi 
dalam kabinet pemerintahannya.

Dalam Rapimnas Gerindra pada 16 Oktober 2019, Prabowo menyampaikan pidato yang 
mengafirmasi pernyataan Amien. Seperti yang diungkap oleh Sandiaga Uno, 
keputusan Prabowo untuk satu meja dengan Jokowi memang telah menimbulkan 
gejolak internal dalam tubuh partai.

Oleh karenanya, dalam Rapimnas tersebut, Prabowo mencoba meyakinkan anggota 
partainya dengan menyampaikan pidato yang berisi teladan dari tiga pemimpin 
dunia yang merangkul rival politiknya ke dalam pemerintahan. Mereka adalah 
Abraham Lincoln dengan William H. Seward di AS, Hideyoshi dengan Tokugawa di 
Jepang, dan Mao Zedong dengan Deng Xiaoping di Tiongkok.

Di sini, kita mungkin dapat berspekulasi bahwa Prabowo benar-benar berasumsi 
bahwa keputusannya untuk masuk ke dalam pemerintahan akan memperbaiki iklim 
politik yang sedang terpecah-belah sekaligus memperbaiki hubungan dengan Jokowi 
dan PDIP.

Teruntuk PDIP, sebagaimana kita ketahui, Gerindra pernah begitu dekat dengan 
partai banteng ketika mengusung duet Megawati-Prabowo di Pilpres 2009. Dengan 
kata lain, Prabowo mungkin ingin mengembalikan hubungan baik tersebut dengan 
keputusannya menjadi menteri Jokowi.
  
Ilusi Kontrol?

Jika benar demikian, patut dicurigai Prabowo telah terjebak dalam illusion of 
control atau ilusi kontrol. Ini adalah fenomena sosial yang terjadi ketika 
seseorang meyakini memiliki kendali atas situasi yang jelas berada di luar 
jangkauan pengaruhnya.

Simpulan tersebut setidaknya bertolak dari empat alasan. Pertama, dengan dalih 
rekonsiliasi, mungkin terdapat keyakinan bahwa pemerintah membutuhkan Gerindra 
untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan. Ihwal tersebut akan membuat Gerindra 
percaya diri dan berimbas pada tiga alasan berikutnya.

Kedua, Gerindra terlihat memainkan politik dua kaki. Di satu sisi Prabowo dan 
Edhy menjalankan misi sebagai pembantu presiden. Namun di sisi lain, juga 
menjalankan misi sebagai oposisi melalui Fadli Zon. Tidak tanggung-tanggung, 
Fadli bahkan terlihat seperti mengamankan dukungan dari kelompok Islam.

Ketiga, Prabowo terlihat memanfaatkan posisinya sebagai Menteri Pertahanan 
(Menhan) untuk mendulang atensi publik, misalnya dengan banyak melakukan 
diplomasi pertahanan. Ini praktis membuatnya menjadi salah satu pusat 
pemberitaan. Dan terbukti, dalam berbagai survei, publik menilai Prabowo 
sebagai menteri dengan kinerja paling memuaskan.

Keempat, terdapat dugaan bahwa Gerindra memanfaatkan dua jatah kursi menterinya 
untuk melakukan bisnis. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tempo 
mengungkap berbagai perusahaan eksportir benih lobster ternyata terafiliasi 
dengan Gerindra.

Lalu di proyek food estate atau lumbung pangan, dibentuk PT Agro Industri 
Nasional (Agrinas) untuk mendukung program tersebut. Menariknya, 
jabatan-jabatan penting di PT Agrinas belakangan diketahui ternyata diisi oleh 
orang-orang terdekat Menhan Prabowo dan Partai Gerindra.

Sedikit berspekulasi, jika benar pernyataan Ketua Umum Jokowi Mania (Jokman), 
Immanuel Ebenezer bahwa terdapat menteri berinisial P yang justru sibuk 
berbisnis dan berpolitik merujuk pada Prabowo, konteks kritiknya mungkin 
merujuk pada ekspor benih lobster dan food estate. 

Apalagi, kritik tersebut juga direspons oleh juru bicara Partai Gerindra, 
Habiburokhman dan Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad.

Singkatnya, jika benar Prabowo mengalami ilusi kontrol alias merasa dapat 
mengendalikan situasi politik, itu mungkin yang mengakibatkan Gerindra dapat 
percaya diri melakukan manuver-manuver politik tersebut.
  
Ada yang Bermain?

Ditangkapnya Edhy yang begitu dekat dengan Prabowo jelas begitu mengejutkan 
secara politik. Ini jelas menjadi peringatan bagi Prabowo bahwa pengaruhnya 
tidak cukup kuat untuk membendung peristiwa tersebut.

Pengamat politik dari Universitas Nasional Jakarta, Saiful Anam dalam 
wawancaranya bersama PinterPolitik menegaskan bahwa penangkapan tersebut 
merupakan sinyal agar Prabowo hati-hati ke depannya. Ia juga menegaskan bahwa 
itu mungkin adalah sinyal bahwa hubungan Gerindra dengan PDIP yang selama ini 
disebut dekat kembali sejak rekonsiliasi, sepertinya tidak demikian.

Merujuk pada kasus masih tidak jelasnya kasus Harun Masiku, itu dinilai oleh 
banyak pihak sebagai indikasi bagaimana kuatnya pengaruh dan kekuatan politik 
PDIP saat ini. Artinya, penangkapan Edhy dapat dijadikan indikasi bahwa partai 
banteng tidak memiliki upaya untuk membentengi Partai Gerindra.

Di titik ini, mungkin kita dapat membuat deduksi untuk menentukan siapa 
kira-kira yang mungkin bermain di balik penangkapan Edhy yang mengejutkan ini.

Pertama, itu mungkin adalah PDIP. Selaku partai yang ingin mengusung kadernya 
di Pilpres 2024, PDIP jelas tidak ingin ada pihak lain yang memperkecil 
peluangnya berkuasa lagi. Popularitas Prabowo saat ini jelas menjadi ancaman 
tersendiri. Oleh karenanya, perlu ada fenomena politik yang dapat menurunkan 
elektabilitas Partai Gerindra.

Kedua, bisa jadi adalah Golkar. Alasannya sama, karena Airlangga Hartarto juga 
digadang-gadang akan maju di Pilpres mendatang.

Ketiga, ada kemungkinkan untuk menyebutkan Istana. Ini misalnya diungkapkan 
oleh Rocky Gerung yang menyebutkan penangkapan Edhy sebagai sinyal bahwa Istana 
tidak lagi membutuhkan Prabowo.

Keempat, ini mungkin hanya kesialan politik semata. Artinya, di luar berbagai 
analisis yang mencoba mengungkap siapa pihak yang bermain di balik penangkapan 
Edhy, mungkin saja ini hanyalah kesialan bagi Gerindra karena menterinya justru 
tergiur melakukan korupsi.

Pada akhirnya, tentu kita paham, sekelumit analisis yang ada hanyalah asumsi 
atau deduksi semata. Tidak ada yang benar-benar mengetahui apa yang terjadi 
sebenarnya. Saat ini kita hanya bisa mengapresiasi KPK karena telah berhasil 
mengungkap kasus korupsi besar yang melibatkan pejabat Istana. Bravo Novel 
Baswedan dan tim. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/62D6EFBFE8EF451D9C7E6A86B0BA164B%40A10Live.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1930242538.1492302.1606609365851%40mail.yahoo.com.

Reply via email to