*.... Ada benarnya* dan kita kali ini tidak bicara soal Koruptor ( Mereka akan selalu hadir dalam Tata Sistem Administrasi Negara, tak terkecualinya dinegri awak dimana Korupsi Merajalela dan Para Koruptor bagaikan sebanyak jumlah Cicak ....yang kalau dipotong ekornya , akan tetap kembali tumbuh dan kembali Utuh .... > Harus dipotong dari Kepalanya ... ) >> dan Setiap Pemerintah Harus memfokuskan perhatiannya bukan saja hanya pada para Koruptor saja, melainkan justru pada MUTU dari SISTEM ADMINISTRASI DAN HUKUMNYA dan PENGAWASAN PELAKSANAAN -NYA * di satu pihak* >> dan MUTU, Karakter, Keseriusan dalam menjalankan Tugas dan Tanggung Jawab Profesional dari Para PELAKSANANYA (Subjectnya)* di pihak lain ....* *** JIKA Awak Tak pandai berjoget (berdansa) , Janganlah Lantai yang disalahkan..... 🤔😏 <https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail> Bez virů. www.avast.com <https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail> <#m_7045945388544798709_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>
On Sun, 29 Nov 2020 at 01:22, BILLY GUNADIE <[email protected]> wrote: > Saya mah bukannya belain Koruptor.... aturan Impport Export siapa yang > bikin? Departemen Perdagangan...? > Ngurus surat di Departemen Perindustrian bisa 30-38 meja... > > Kenapa ada perusahaan pegang IZIN IMPORT-EKSPORT tanpa ada KEGIATAN dalam > bidangnya... > Jadi terinagt zaman CUOTA GARMENT... ada perusahaan yang pegang QUOTA...? > Ada istilah BELI QUOTA mau untuk EKSPOR Garment,,,, > > Kedele susah, ada perusahaan yang pegang IZIN IMPORT KEDELAI.... harusnya > yang atur perbankan.. via LC... > tercantym semuanya, kalau kritarianya memenuhi syarat,,, izin import harus > di keluarkan pada importir.. > On Saturday, November 28, 2020, 7:11:21 p.m. EST, Chan CT < > [email protected]> wrote: > > > Edhy Ditangkap, Ada yang Bermain? > *R53 * <https://www.pinterpolitik.com/author/r53-203>*- Saturday, > November 28, 2020 21:30* > > https://www.pinterpolitik.com/edhy-ditangkap-ada-yang-bermain > *Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo (tengah) (foto: BBC)* > > *7 min read* > *Selaku sosok yang begitu dipercaya Prabowo Subianto, penangkapan MenKP > Edhy Prabowo agaknya begitu mengejutkan secara politik. Banyak yang menilai > penangkapan tersebut adalah sinyal Prabowo akan diganjal untuk maju di > Pilpres 2024. Lantas, mungkinkah terdapat pihak yang bermain di balik > penangkapan tersebut?* > ------------------------------ > > *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/a> > > Baru lima hari di Surabaya, atau tepatnya pada 30 Oktober 1945, pasukan > militer Inggris justru harus *kehilangan > <https://www.liputan6.com/news/read/2360571/misteri-kematian-jenderal-mallaby-yang-picu-pertempuran-surabaya>* > jenderalnya, yakni Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (AWS) > Mallaby. Padahal, dalam pertempuran melawan Jerman di Perang Dunia II, > kehilangan seperti itu tidak pernah dialami. > > Terbunuhnya sang jenderal kemudian memicu Inggris mengeluarkan ultimatum > pada 9 November. Mayor Jenderal EC Mansergh yang menjadi pengganti Mallaby > meminta pasukan Indonesia di Surabaya untuk menyerahkan senjata tanpa > perlawanan. Namun, seperti yang kita ketahui, ultimatum tersebut ditolak > keras, dan meletuslah pertempuran pada 10 November yang kini diperingati > sebagai Hari Pahlawan. > > Sedikit berspekulasi, pola respons semacam itu yang mungkin membuat > pengamat politik Rocky Gerung *berspekulasi > <https://youtu.be/TDx2y2Vqfcw>* bahwa penangkapan Menteri Kelautan dan > Perikanan (MenKP) Edhy Prabowo baru-baru ini akan melahirkan politik > balasan dari Partai Gerindra. > > Pasalnya, sama dengan Mallaby, Edhy juga dapat disebut sebagai jenderalnya > Prabowo Subianto. Sudah menjadi rahasia umum apabila mantan Ketua Komisi IV > DPR RI tersebut memiliki ikatan emosional yang begitu dekat dengan sang > ketua partai kepala garuda. > > Menariknya, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang > Komarudin *membandingkan > <https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-011018005/menteri-kkp-edhy-prabowo-ditangkap-kpk-pengamat-sebut-penegak-hukum-tebang-pilih-berantas-korupsi?page=2>* > penangkapan tersebut seperti penangkapan Presiden Partai Keadilan > Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). > Menurutnya, penangkapan Luthfi bermotif politik karena dilakukan menjelang > Pilpres 2014. > > Pada kasus Edhy, meskipun Pilpres 2024 masih jauh, dengan masifnya corong > politik menyorot Prabowo sebagai kandidat potensial, agaknya tidak sulit > menyimpulkan bahwa konteks serupa juga terjadi saat ini. > > Tambah Ujang, penangkapan tersebut juga merupakan sinyal ketidaksukaan > pemerintah atas manuver Gerindra yang justru tetap mengkritik melalui Fadli > Zon, meskipun telah diberikan dua kursi menteri. Apalagi, dengan tidak > jelasnya kasus Harun Masiku yang merupakan kader PDIP, juga menambah > kecurigaan Ujang bahwa penangkapan Edhy memang bermotif politis. > > Lantas, jika spekulasi Ujang benar adanya, mungkinkah terdapat pihak yang > bermain di belakang penangkapan tersebut? > *Prabowo Ingin Jadi Lincoln?* > > Demi nama rekonsiliasi, Prabowo yang menjadi rival Joko Widodo (Jokowi) > dalam dua gelaran Pilpres terakhir secara mengejutkan bergabung ke dalam > koalisi pemerintah. Itu juga menjadi sejarah karena untuk pertama kalinya > Gerindra berada di jalur kekuasaan. > > Namun, apabila kita merujuk pada pernyataan Amien Rais pada Januari 2019 > lalu, bergabungnya Prabowo sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Saat itu, > Amien menuturkan bahwa Prabowo ingin berlaku seperti Presiden ke-16 Amerika > Serikat (AS) *Abraham Lincoln > <https://www.tribunnews.com/pilpres-2019/2019/01/15/amien-rais-sebut-prabowo-subianto-akan-seperti-abraham-lincoln>*. > Jika nantinya memenangkan Pilpres 2019, mantan Danjen Kopassus tersebut > akan membentuk “*team of rivals*” yang merangkul pihak oposisi dalam > kabinet pemerintahannya. > > Dalam Rapimnas Gerindra pada 16 Oktober 2019, Prabowo menyampaikan pidato > yang mengafirmasi pernyataan Amien. Seperti yang diungkap oleh Sandiaga > Uno, keputusan Prabowo untuk satu meja dengan Jokowi memang telah > menimbulkan gejolak internal dalam tubuh partai. > > Oleh karenanya, dalam *Rapimnas > <https://nasional.republika.co.id/berita/pzijly377/cerita-prabowo-soal-lincoln-hideyoshi-hingga-mao-zedong>* > tersebut, Prabowo mencoba meyakinkan anggota partainya dengan > menyampaikan pidato yang berisi teladan dari tiga pemimpin dunia yang > merangkul rival politiknya ke dalam pemerintahan. Mereka adalah Abraham > Lincoln dengan William H. Seward di AS, Hideyoshi dengan Tokugawa di > Jepang, dan Mao Zedong dengan Deng Xiaoping di Tiongkok. > > Di sini, kita mungkin dapat berspekulasi bahwa Prabowo benar-benar > berasumsi bahwa keputusannya untuk masuk ke dalam pemerintahan akan > memperbaiki iklim politik yang sedang terpecah-belah sekaligus memperbaiki > hubungan dengan Jokowi dan PDIP. > > Teruntuk PDIP, sebagaimana kita ketahui, Gerindra pernah begitu dekat > dengan partai banteng ketika mengusung duet Megawati-Prabowo di Pilpres > 2009. Dengan kata lain, Prabowo mungkin ingin mengembalikan hubungan baik > tersebut dengan keputusannya menjadi menteri Jokowi. > *Ilusi Kontrol?* > > Jika benar demikian, patut dicurigai Prabowo telah terjebak dalam *illusion > of control > <https://www.interaction-design.org/literature/topics/the-illusion-of-control>* > atau ilusi kontrol. Ini adalah fenomena sosial yang terjadi ketika > seseorang meyakini memiliki kendali atas situasi yang jelas berada di luar > jangkauan pengaruhnya. > > Simpulan tersebut setidaknya bertolak dari empat alasan. *Pertama*, > dengan dalih rekonsiliasi, mungkin terdapat keyakinan bahwa pemerintah > membutuhkan Gerindra untuk mendapatkan legitimasi kekuasaan. Ihwal tersebut > akan membuat Gerindra percaya diri dan berimbas pada tiga alasan berikutnya. > > *Kedua*, Gerindra terlihat memainkan politik dua kaki. Di satu sisi > Prabowo dan Edhy menjalankan misi sebagai pembantu presiden. Namun di sisi > lain, juga menjalankan misi sebagai oposisi melalui Fadli Zon. Tidak > tanggung-tanggung, Fadli bahkan terlihat seperti mengamankan dukungan dari > kelompok Islam. > > *Ketiga*, Prabowo terlihat memanfaatkan posisinya sebagai Menteri > Pertahanan (Menhan) untuk mendulang atensi publik, misalnya dengan banyak > melakukan diplomasi pertahanan. Ini praktis membuatnya menjadi salah satu > pusat pemberitaan. Dan terbukti, dalam berbagai *survei > <https://www.pinterpolitik.com/mengapa-kinerja-prabowo-dinilai-memuaskan-1>*, > publik menilai Prabowo sebagai menteri dengan kinerja paling memuaskan. > > *Keempat*, terdapat dugaan bahwa Gerindra memanfaatkan dua jatah kursi > menterinya untuk melakukan bisnis. Di Kementerian Kelautan dan Perikanan > (KKP), Tempo mengungkap berbagai perusahaan eksportir benih lobster ternyata > *terafiliasi > <https://nasional.tempo.co/read/1408571/kader-gerindra-di-seputar-ekspor-benih-lobster-menteri-edhy-prabowo/full&view=ok>* > dengan Gerindra. > > Lalu di proyek *food estate* atau lumbung pangan, dibentuk PT Agro > Industri Nasional (Agrinas) untuk mendukung program tersebut. Menariknya, > jabatan-jabatan penting di PT Agrinas belakangan diketahui ternyata *diisi > <https://www.law-justice.co/artikel/94820/elit-prabowo-kuasai-bisnis-pangan-baru-via-agrinas/>* > oleh orang-orang terdekat Menhan Prabowo dan Partai Gerindra. > > Sedikit berspekulasi, jika benar pernyataan Ketua Umum Jokowi Mania > (Jokman), Immanuel Ebenezer bahwa terdapat menteri berinisial P yang justru > sibuk berbisnis dan berpolitik merujuk pada Prabowo, konteks kritiknya > mungkin merujuk pada ekspor benih lobster dan *food estate*. > > Apalagi, kritik tersebut juga *direspons > <https://news.detik.com/berita/d-5228189/jokowi-mania-sentil-menteri-p-sibuk-bisnis-politik-gerindra-bela-prabowo/1>* > oleh juru bicara Partai Gerindra, Habiburokhman dan Ketua Harian Partai > Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad. > > Singkatnya, jika benar Prabowo mengalami ilusi kontrol alias merasa dapat > mengendalikan situasi politik, itu mungkin yang mengakibatkan Gerindra > dapat percaya diri melakukan manuver-manuver politik tersebut. > *Ada yang Bermain?* > > Ditangkapnya Edhy yang begitu dekat dengan Prabowo jelas begitu > mengejutkan secara politik. Ini jelas menjadi peringatan bagi Prabowo bahwa > pengaruhnya tidak cukup kuat untuk membendung peristiwa tersebut. > > Pengamat politik dari Universitas Nasional Jakarta, Saiful Anam dalam > wawancaranya bersama PinterPolitik menegaskan bahwa penangkapan tersebut > merupakan sinyal agar Prabowo hati-hati ke depannya. Ia juga menegaskan > bahwa itu mungkin adalah sinyal bahwa hubungan Gerindra dengan PDIP yang > selama ini disebut dekat kembali sejak rekonsiliasi, sepertinya tidak > demikian. > > Merujuk pada kasus masih tidak jelasnya kasus Harun Masiku, itu dinilai > oleh banyak pihak sebagai indikasi bagaimana kuatnya pengaruh dan kekuatan > politik PDIP saat ini. Artinya, penangkapan Edhy dapat dijadikan indikasi > bahwa partai banteng tidak memiliki upaya untuk membentengi Partai Gerindra. > > Di titik ini, mungkin kita dapat membuat deduksi untuk menentukan siapa > kira-kira yang mungkin bermain di balik penangkapan Edhy yang mengejutkan > ini. > > *Pertama*, itu mungkin adalah PDIP. Selaku partai yang ingin mengusung > kadernya di Pilpres 2024, PDIP jelas tidak ingin ada pihak lain yang > memperkecil peluangnya berkuasa lagi. Popularitas Prabowo saat ini jelas > menjadi ancaman tersendiri. Oleh karenanya, perlu ada fenomena politik yang > dapat menurunkan elektabilitas Partai Gerindra. > > *Kedua*, bisa jadi adalah Golkar. Alasannya sama, karena Airlangga > Hartarto juga digadang-gadang akan maju di Pilpres mendatang. > > *Ketiga*, ada kemungkinkan untuk menyebutkan Istana. Ini misalnya > diungkapkan oleh Rocky Gerung yang menyebutkan penangkapan Edhy sebagai > sinyal bahwa Istana *tidak lagi > <https://radartegal.com/edhy-prabowo-ditangkap-kpk-rocky-gerung-istana-sudah-tak-butuh-prabowo-subianto-lagi.9191.html>* > membutuhkan Prabowo. > > *Keempat*, ini mungkin hanya kesialan politik semata. Artinya, di luar > berbagai analisis yang mencoba mengungkap siapa pihak yang bermain di balik > penangkapan Edhy, mungkin saja ini hanyalah kesialan bagi Gerindra karena > menterinya justru tergiur melakukan korupsi. > > Pada akhirnya, tentu kita paham, sekelumit analisis yang ada hanyalah > asumsi atau deduksi semata. Tidak ada yang benar-benar mengetahui apa yang > terjadi sebenarnya. Saat ini kita hanya bisa mengapresiasi KPK karena telah > berhasil mengungkap kasus korupsi besar yang melibatkan pejabat Istana. > Bravo Novel Baswedan dan tim. (R53) > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/62D6EFBFE8EF451D9C7E6A86B0BA164B%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/62D6EFBFE8EF451D9C7E6A86B0BA164B%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1930242538.1492302.1606609365851%40mail.yahoo.com > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1930242538.1492302.1606609365851%40mail.yahoo.com?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > <https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail> Bez virů. www.avast.com <https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail> <#m_7045945388544798709_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2> -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAFz2%2Bm9-a85xF_T7qMgvofJg2hzi1qCYTGU3RyxdGYb08QGysA%40mail.gmail.com.
