Ada laporan soal kera di Afrika... Sebelum. Fast food masuk.. Kera bagung pagi 
jam 6-7....Setelah Fastfood masuk... Bangun jam 9an...Ga usah cari makan... 
Langsung ke tong sampah sisa Makanan... 
Setelah 5-10 tahun... Kera mulai kena diabetes... Arteri mempet.. Komplikasi.. 
Umur pendek... Lalu pabrik obat masuk... Ini mirip Indonesia..... Banyak yang 
koma... Diabetes.. Gagal ginjal... Jantung.... Dsb.. 
Barusan dapet berita.. 
[11-29, 5:22 a.m.] M Ucup: Mhn doa untuk boy agar dia Bisa bangun Dan sadar 
kembali dari koma[11-29, 5:32 a.m.] Billy: Yang lalu berita ya sudah sadar...?
Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Sun., Nov. 29, 2020 at 7:37 p.m., Chan CT<[email protected]> wrote:   
Artikel

Jurus Bulog Sultra menjaga ketahanan pangan di saat pandemi

Oleh Sarjono  Senin, 30 November 2020 07:31 WIB
 
Panen padi di sentra produksi Kecamatan Amonggedo, Kabupaten Konawe, Sulawesi 
Tenggara (ANTARA/sarjono)
 Tiga tips yang dianut Bulog Sultra agar serapan beras petani maksimal, 
percepatan pembayaran beras terhadap mitra, peningkatan kapasitas tampung 
gudang dan ketiga percepatan pelayanan bongkar beras saat mitra tiba di 
gudang.Kendari (ANTARA) - Pandemi Coronavirus Disease atau COVID-19 telah 
memporak-porandakan seluruh sektor kehidupan manusia di seluruh belahan dunia. 
Tamu tak diundang bernama Virus Corona  ini masuk Indonesia sekitar Februari 
tahun 2020. 

Awalnya sejumlah negara tidak terlalu serius menghadapi pandemi ini. Namun 
ketika korban meninggal dunia akibat Corona semakin merebak di negara-negara di 
Asia, Eropa, Amerika, barulah terlihat upaya serius untuk mengatasinya. 
Termasuk mengantisipai dampaknya yang meluas terhadap ekonomi global.

Kebijakan politik ekonomi negara berubah drastis. Semua terintegrasi untuk 
perang melawan Corona. Tidak satu pun negara yang menyatakan sanggup mengatasi 
dampak pandemi ini. Akibatnya, telah terjadi lonjakan pengangguran, angka 
kemiskinan meningkat, dari sisi bahan pangan diperkirakan mengalami gangguan, 
sektor-sektor jasa dan produksi tersendat mulai dari pertanian hingga industri 
manufaktur.

Setiap orang diminta tetap tinggal dirumah sebagai strategi memutus rantai 
penyebaran virus yang diketahui mencuat di Wuhan, Tiongkok. Politisi, ekonom 
dan pemangku kepentingan di negeri ini meramu jurus melawan Corona.

Ketersediaan pangan untuk mememuhi kebutuhan penduduk Indonesia sekitar 270 
juta jiwa penduduk Indonesia menjadi modal utama melawan bencana non alam yang 
sulit diprediksi kapan berakhir.

Badan Usaha Milik Negara  Badan Urusan Logistik (Bulog) menjadi salah satu 
tumpuan untuk mengakomodir produksi hasil pertanian, khususnya beras.

Sesuai perannya, Bulog ditugasi menjaga tiga pilar ketahanan pangan melalui 
persediaan yang cukup, akses dan harga beras yang terjangkau oleh masyarakat 
dan melakukan stabilisasi harga.

Pengusaha penggilingan yang sudah mengakar di sentra-sentra produksi menjadi 
mitra strategis Bulog untuk mendulang pangan beras. Manajemen bisnis 
profesional yang memegang prinsip maju bersama petani ditunjukan Bulog Kantor 
Wilayah Sulawesi Tenggara.

Stok terjaga

Bulog Kantor Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara periode Januari hingga November 
2020 telah menyerap beras produksi petani sebanyak 27.000 ton atau melampui 
target pengadaan 2020 sebanyak 24.500 ton, bahkan realisasi serapan tersebut 
lebih tinggi dibanding realisasi penyerapan selama 5 tahun (2015-2019) yang 
rata-rata hanya sekitar 20.000 ton.

Sentra produksi andalan beras terdapat di Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, 
Kota Bau Bau, Kolaka Timur, Kolaka Timur dan Bombana.

"Capaian pembelian beras petani 27.000 ton periode Januari hingga 12 November 
2020 sangat menggembirakan. Kualitas beras makin baik dan target serapan Bulog 
Sultra sudah melampaui," ujar Kepala Bulog Kanwil Sultra Ermin Tora.

Bulog Kanwil Sultra tahun 2020 ditargetkan membeli beras petani sebanyak 24.500 
ton atau meningkat dibandingkan tahun 2019 sebanyak 18.000 ton.

Bulog melalui mitranya di sentra-sentra produksi membeli beras petani 
berdasarkan keputusan pemerintah seharga Rp8.300/Kg, mengalami kenaikan 
dibanding tahun 2019 senilai Rp8.030/Kg.

Adapun standar kualitas beras pembelian Bulog, yakni kadar air paling tinggi 14 
persen, derajat sosoh paling sedikit 95 persen dan butir patah paling tinggi 20 
persen.

Bulog Sultra pun berperan nyata mendistribusikan 5.300 ton beras bantuan sosial 
bagi 118.932 keluarga penerima manfaat (KPM) yang terdampak pandemi di 17 
kabupaten/kota se-Sultra.

Bansos pangan beras adalah penugasan pemerintah melalui Kementrian Sosial yang 
ditujukan kepada Bulog untuk mengurangi beban masyarakat memenuhi kebutuhan 
pangan beras di tengah pandemi Corona.

Pemerintah mengucurkan JPS beras selama tiga bulan (Agustus, September dan 
Oktober). Setiap keluarga penerima manfaat dijatah 15 kilogram beras premium 
setiap bulan.

Adapun keluarga penerima manfaat (KPM) Kota Kendari tercatat 7.537, Konawe 
12.699, Kolaka 8.816, Kolaka Timur 6.994, Kolaka Utara 7.038, Konawe Selatan 
15.011 dan Kota Baubau 5.536 KPM.

Kabupaten Muna 13.430, Muna Barat 5.063, Wakatobi 4.847, Buton Tengah 5. 070, 
Buton Selatan 4.426, Buton 4.841, Bombana 8.026, Konawe Kepulauan 3.220 dan 
Konawe Utara 2.729.

Percepat pembayaran

Bulog Sultra meningkatkan pelayanan terhadap mitra sebagai kunci pencapaian 
pembelian beras petani berjalan lancar dan menciptakan rekor baru sampai 27.000 
ton hingga November 2020.

Tiga tips yang dianut Bulog Sultra agar serapan beras petani  maksimal, 
percepatan pembayaran beras terhadap mitra, peningkatan kapasitas tampung 
gudang dan ketiga percepatan pelayanan bongkar beras saat mitra tiba di gudang.

"Percepatan pembayaran bagi mitra sangat penting karena modal digunakan 
secepatnya lagi untuk membeli gabah petani," kata Ermin.

Jika mitra merasakan ada hambatan pelayanan dari Bulog pasti berpikir untuk 
menjual beras ditempat lain karena mitra menganut prinsip bisnis cepat dan 
menguntungkan.

Adapun standar kualitas beras pembelian Bulog, yakni kadar air paling tinggi 14 
persen, derajat sosoh paling sedikit 95 persen, butir patah paling tinggi 20 
persen dan butir menir paling tinggi 2 persen.

Data Badan Pusat Statistik Sultra menyebutkan luas panen dan produksi padi 2020 
(angka sementara) diperkirakan sebesar 132,99 ribu hektar, mengalami kenaikan 
sebanyak 0,64 ribu hektar atau 0,49 persen dibandingkan 2019 yang sebesar 
132,34 ribu hektar.

Produksi padi pada 2020 diperkirakan sebesar 539,35 ribu ton gabah kering 
giling (GKG), mengalami kenaikan sebanyak 19,65 ribu ton atau 3,78 persen 
dibandingkan 2019 yang sebesar 519,71 ribu ton GKG.

Jika potensi produksi padi pada 2020 dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi 
pangan penduduk, produksi beras pada 2020 diperkirakan sebesar 308,14 ribu ton, 
mengalami kenaikan sebanyak 11,22 ribu ton atau 3,78 persen dibandingkan 2019 
yang sebesar 296,92 ribu ton.
  
Oleh Sarjono
Editor: Royke Sinaga


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4D552D0BF2C740A487AB070A6C061B52%40A10Live.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1820381091.1627615.1606697046776%40mail.yahoo.com.

Reply via email to