-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://finance.detik.com/energi/d-5276193/freeport-perusahaan-china-bakal-garap-proyek-smelter-rp-25-t?tag_from=wp_nhl_22





Freeport-Perusahaan China Bakal Garap Proyek Smelter Rp 25 T

Danang Sugianto - detikFinance

Senin, 30 Nov 2020 23:08 WIB
0 komentar
SHARE
URL telah disalin
Smelter
Ilustrasi smelter/Foto: detikcom
Jakarta -

Rencana PT Freeport Indonesia (PTFI) membangun pabrik peleburan (smelter) di 
Indonesia menemukan titik terang. Freeport akan bekerja sama dengan perusahaan 
asal China, Tsingshan Steel untuk mewujudkannya.

Melansir Asia Times, Senin (30/11/2020), PTFI dan Tsingshan sepakat untuk 
membangun fasilitas smelter senilai US$ 1,8 miliar atau setara Rp 25,38 triliun 
(kurs Rp 14.100). Smelter itu akan dibangun di kompleks pengolahan nikel Teluk 
Weda di Halmahera, Indonesia timur.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam 
wawancara dengan Asia Times mengungkapkan bahwa kesepakatan itu diharapkan bisa 
ditandatangani sebelum Maret mendatang. "Kami senang dengan kesepakatan 
tersebut. Tetapi kedua belah pihak masih dalam pembahasan rinci," tutur Luhut, 
dikutip dari Asia Times.

Hingga saat ini, pilihan pembangunan smelter adalah memperluas pabrik peleburan 
tembaga Mitsubishi yang ada di Gresik, Jawa Timur, membangun peleburan baru 
yang jauh lebih mahal di kawasan industri terdekat, atau mengalihkan seluruh 
proyek ke Halmahera sebagai bagian dari pusat peleburan terintegrasi.
Baca juga:
Luhut Ungkap Freeport dan Perusahaan China Kerja Sama bikin Smelter

Luhut dan sumber lain yang mengetahui kesepakatan tersebut mengatakan, 
Tsingshan telah setuju untuk menyelesaikan pembangunan smelter dalam waktu 18 
bulan. Perusahaan juga berkomitmen untuk pembangunan kilang logam mulia di 
lokasi yang sama sekarang setelah izin ekspornya telah berakhir.

Sebelumnya Luhut mengatakan pembuatan smelter itu akan segera dimulai dengan 
target penyelesaian pada tahun 2023. Dia mengatakan smelter ini akan 
memproduksi sulfide yang menjadi bahan baku baterai lithium.

"Kami yakin smelter dapat beroperasi pada tahun 2023. mereka juga akan 
memproduksi sulfide yang bisa jadi bahan baku lithium battery," kata Luhut.

Dengan pembangunan smelter ini menurutnya Indonesia bisa menjadi pemain global 
pada industri baterai listrik.

"Pada tahun 2023 kami yakin kami dapat memproduksi baterai lithium dan 
Indonesia bisa menjadi bagian dari rantai pasok baterai listrik global," ungkap 
Luhut.
Baca juga:
RI Kejar Produksi Baterai Lithium di 2023
(das/hns)







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20201130181954.c14ac3bb8034d55c085e3710%40upcmail.nl.

Reply via email to