Manuver Jokowi di Balik Wajah Baru MUI?F63 - Monday, November 30, 2020 20:00
https://www.pinterpolitik.com/manuver-jokowi-di-balik-wajah-baru-mui
 
Wakil Presiden Ma'ruf Amin (Kiri) Presiden Joko Widodo (Kanan) saat menghadiri 
peletakan batu pertama pembangunan Menara MUI, Ciracas, Jakarta Timur. (Foto: 
Tempo)
7 min read

Kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2020-2025 menuai polemik. 
Pasalnya sejumlah pemuka agama yang kerap kritis terhadap pemerintah tak lagi 
menjabat sebagai pengurus. Adakah manuver politik tertentu di balik terdepaknya 
mereka dari gerbong MUI?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “The faith and the crown are two pillars that hold up this world. One 
collapses, so does the other,” – Cersei Lannister, tokoh dalam serial Game of 
Thrones

Serial televisi Game of Thrones yang booming beberapa tahun lalu memang selalu 
punya cara untuk membuat para penggemarnya terkesima. Bagaimana tidak? Meski 
berlatar di dunia fantasi, namun konteks perebutan tahta dan intrik politik 
yang digambarkan dalam serial besutan HBO ini tak jarang punya relevansinya 
sendiri dengan keadaan di dunia nyata.

Contohnya ketika serial ini memasuki musim kelima penayangannya. Dikisahkan 
saat itu salah satu tokoh antagonis utama, Queen Cersei Lannister melakukan 
manuver politik dengan cara mempersenjatai The Faith Militant, sebuah 
organisasi religius yang dipimpin oleh seorang pemuka agama fanatik bernama 
High Sparrow.  

Dengan dalih ingin menegakkan kembali nilai-nilai agama ke dalam lingkungan 
kerajaan, Cersei sebenarnya hanya memperalat The Faith Militant untuk menyerang 
lawan-lawan politiknya. Meski awalnya berhasil, namun lama kelamaan strategi 
ini justru berbalik menyerang dirinya sendiri.

Di dalam kehidupan nyata, agama faktanya sulit dipisahkan dari politik. Relasi 
antar keduanya memang memiliki sejarah panjang yang kerap menjadi perdebatan 
sengit hingga kini, termasuk di Indonesia.

Diskursus mengenai relasi antara politik dan agama tersebut kembali mendapatkan 
signifikansinya usai Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengumumkan susunan 
kepengurusan yang baru beberapa waktu lalu. Yang membuat konteks ini menjadi 
menarik adalah terkait hilangnya sejumlah nama-nama ulama yang selama ini vokal 
mengkritik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dari daftar kepengurusan MUI.

Misalnya nama mantan Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin, mantan 
bendahara Yusuf Muhammad Martak, mantan Wasekjen Tengku Zulkarnain, dan mantan 
Sekretaris Wantim Bachtiar Nasir. Keempatnya dikenal sebagai tokoh yang keras 
mengkritik pemerintah melalui sejumlah gerakan, misalnya, melalui Koalisi Aksi 
Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dan Persaudaraan Alumni (PA) 212.


Terdepaknya nama-nama tersebut dari kepengurusan MUI kemudian menimbulkan 
banyak spekulasi. Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang 
Komarudin menilai fenomena ini membuktikan dominasi dan kekuatan Wakil Presiden 
Ma'ruf Amin di tubuh MUI. Ini juga sekaligus membuka dugaan adanya campur 
tangan pemerintah di organisasi yang merupakan payung besar para ulama tersebut.

Lantas benarkah ada manuver politik tertentu di balik susunan kepengurusan MUI 
yang baru diumumkan ini? Jika iya, apa kira-kira tujuannya?



Relasi Politik dan Agama
Meski kerap dihadap-hadapkan, agama dan politik sebenarnya sama-sama dapat 
digunakan untuk mencapai kekuasaan, namun keduanya menggunakan pendekatan yang 
cukup berbeda.

Ali Mubarak dalam tulisannya yang berjudul Religion and Politics: Integration, 
Separation and Conflict mengatakan agama memobilisasi kepekaan religius 
masyarakat untuk mendapatkan dukungan. Sedangkan politik menggunakan intrik, 
diplomasi, dan berusaha memenangkan opini publik baik secara demokratis maupun 
otoriter.

Akibat disparitas tersebut, baik politik maupun agama berusaha untuk saling 
melemahkan dalam konteks perebutan kekuasaan. Jika agama memegang otoritas 
politik, akan berujung pada pemanfaatan kekuasaan untuk memenuhi misi-misi 
ketuhanan dan karena itu misinya dianggap suci untuk mereformasi masyarakat di 
bawah bimbingan spiritual.

Politik, sebaliknya, tidak memiliki nilai apapun. Politik akan cenderung 
mengarahkan orientasi kekuasaan pada kebutuhan masyarakat yang kemudian 
menyesuaikan hukum dan sistem pemerintahan agar sesuai dengan kebutuhan 
tersebut.

Ali menyebut secara umum ada tiga model yang dapat menggambarkan hubungan 
antara politik dan agama. Pertama, adalah model terintegrasi. Artinya agama dan 
politik sama-sama bersatu dalam upaya untuk memonopoli kekuasaan.

Kedua, politik lebih superior dari agama. Model ini terjadi ketika politik 
menundukkan agama, dan memanfaatkan nilai-nilainya untuk kepentingan kekuasaan.

Ketiga, politik dan agama benar-benar terpisah.. Dalam model ini keduanya juga 
saling berkonflik satu sama lain untuk memperebutkan dominasi.  Model ketiga 
ini bisa dibilang merupakan cikal bakal dari pemahaman sekularisme, kebebasan 
beragama, dan pluralisme agama.


Orde Baru dan MUI
Seperti yang sudah disinggung Ali sebelumnya, bahwa ada kalanya politik lebih 
superior dari agama. Hal ini lah yang sepertinya terjadi ketika MUI itu sendiri 
didirikan di zaman Orde Baru.

Petrik Matanasi dalam tulisannya yang berjudul Majelis Ulama Indonesia: Cara 
daripada Soeharto Mengatur Islam mengatakan bahwa MUI didirkan berangkat dari 
kesadaran rezim Soeharto akan besarnya kekuatan politik Islam. Saking besarnya, 
The Smiling General menyadari bahwa kekuatan politik tersebut terlalu kuat 
untuk disingkirkan.

Soeharto dan para pembantunya kemudian mencari ‘teman’ di kalangan umat Islam 
untuk diarahkan agar sejalan dengan kepentingan pemerintah. Dari sini kemudian 
muncul gagasan untuk menyatukan ulama dalam sebuah wadah.

Para ulama kemudian berkumpul di Jakarta dalam Musyawarah Nasional I Majelis 
Ulama yang menghasilkan sebuah piagam yang kemudian dikenal sebagai Piagam 
Berdirinya MUI pada Tanggal 26 Juli 1975. Hari itu kemudian dikenal sebagai 
tanggal berdirinya MUI. 

Mengutip pernyataan M.C. Ricklefs dalam bukunya Mengislamkan Jawa, Petrik 
mengatakan bahwa MUI selama masa kekuasaan Soeharto memang menjadi sebuah 
wahana bagi pemerintah untuk mengontrol Islam demi kepentingan Orde Baru. Hal 
ini sempat menjadi stigma dan bahkan membuat ketua pertama MUI, Hamka mundur 
dari jabatannya pada tahun 1981. MUI baru lah menjadi wadah yang benar-benar 
memperjuangkan kepentingan Islam pasca terjungkalnya rezim Orde Baru.

Fawaizul Umam dalam bukunya Kala Beragama Tak Lagi Merdeka mengatakan bahwa MUI 
tampak memainkan peran sebagai pemberi legitimasi teologis atas setiap 
kebijakan negara di masa reformasi. MUI berhasil memainkan peran sebagai 
lembaga kontrol yang menyaring dan menertibkan praktik-praktik ke-Islaman di 
masyarakat dengan memancang keyakinan mainstream sebagai tolok ukur utama.

Berangkat dari konteks sejarah ini, maka patut dicurigai bahwa terdepaknya 
kalangan oposisi dari tubuh MUI merupakan upaya untuk mengembalikan MUI menjadi 
organisasi keagamaan yang ‘manut’ dengan titah pemerintah.

Hal ini menjadi masuk akal jika kita mengingat bahwa salah satu tantangan 
terbesar bagi pemerintahan Jokowi adalah kekuatan politik Islam yang kini 
tengah digadang-gadang bangkit pasca kembalinya Imam Besar Front Pembela Islam 
(FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS).

Lantas jika memang skenario ini benar, mengapa kemudian menguasai MUI menjadi 
sesuatu yang sangat penting bagi pemerintah?


Arena Pertarungan Kelompok Islam?
Signifikansi kekuatan ulama dalam dinamika masyarakat Indonesia nyatanya tak 
bisa dilepaskan dari perannya sebagai pemegang otoritas keagamaan. Kendati 
begitu, layaknya kelompok-kelompok lain di masyarakat, ulama dan pemuka agama 
juga tak bisa dilepaskan dari fragmentasi.

Zulkifli dalam tulisannya yang berjudul The Ulama in Indonesia: Between 
Religious Authority and Symbolic Power mengatakan bahwa fragmentasi dalam 
otoritas keagamaan di Indonesia merupakan fenomena yang tidak ada habisnya, 
yang semakin diperparah dengan perkembangan media dan teknologi informasi. 

Hal tersebut kemudian memicu kompleksitas perjuangan dan persaingan di antara 
kelompok-kelompok ulama dan kelompok Muslim tertentu. Persaingan ini tak bisa 
dilepaskan dari faktor bahwa otoritas agama tidak akan berfungsi secara efektif 
tanpa kekuatan simbolis. Singkatnya, ulama tidak ditaati tanpa memegang 
kekuasaan simbolik.

Dari sini dapat dikatakan bahwa MUI sebagai payung besar yang menaungi ulama di 
Indonesia merupakan gelanggang pertarungan besar antara kelompok-kelompok 
keagamaan di Indonesia. Lalu dengan terancamnya pemerintahan Jokowi oleh 
kehadiran golongan Islam kanan, membuat penguasaan pemerintah terhadap MUI 
menjadi penting.

Apalagi dalam beberapa kesempatan, setiap fatwa yang dikeluarkan MUI punya 
konsekuensi yang cukup serius di dalam dinamika politik Indonesia, misalnya 
ketika MUI menerbitkan fatwa haram terhadap vaksin Measles Reubella pada 2018 
lalu, maupun fatwa penodaan agama yang berujung pada gerakan 212 untuk 
menjungkalkan eks Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) pada 2017 
lalu.

Kendati MUI sendiri telah membantah adanya unsur kesengajaan dan berjanji akan 
tetap kritis pada pemerintah, namun terdepaknya orang-orang yang kritis 
terhadap pemerintah dari gerbong MUI di tengah mulai bangkitnya kekuatan 
oposisi tetap saja memunculkan kecurigaan. Peneliti politik LIPI Siti Zuhro 
juga menilai fenomena ini merupakan upaya penyeragaman suara di MUI.

Sebaliknya, Ia berpendapat seharusnya kelompok-kelompok yang berbeda pandangan 
tidak didepak dari kepengurusan MUI. Hal ini lantaran MUI memang dibentuk untuk 
mewadahi berbagai ormas Islam.

Bagaimana pun, kiprah kepengurusan MUI yang baru tetaplah penting untung 
disimak. Mari berharap MUI di bawah kepemimpinan Miftachul Akhyar dapat 
menjalankan fungsinya dengan baik dan tak semata tunduk terhadap keinginan 
pemerintah. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya.  (F63)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/21A6B0870CD64202803B7C6733538B8E%40A10Live.

Reply via email to